Itok dikenal sebagai anak muda yang memiliki kemampuan melihat makhluk tak kasatmata. Anehnya, ia tidak pernah menganggap keberadaan mereka sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Bagi Itok, makhluk gaib maupun manusia sama-sama bisa merasa terganggu, sehingga selama tidak saling mengusik, semuanya seharusnya dapat berjalan dengan tenang.
Kemampuan itu membuat Itok sering dimintai bantuan ketika penyidik, dokter, atau warga menemukan kejadian yang sulit dijelaskan. Namun, sebuah kasus di ruang forensik membuatnya menghadapi teka-teki yang berbeda dari biasanya.
Saat berkomunikasi dengan sosok perempuan yang berkaitan dengan sebuah kasus lama, Itok mendapatkan petunjuk penting yang membantu penyidik mengungkap fakta tersembunyi. Setelah itu, muncul pula makhluk lain yang terus mencoba menakut-nakutinya. Namun justru sikap tenang dan polos Itok membuat makhluk tersebut menyerah.
Anak Muda yang Bisa Melihat Makhluk Tak Kasatmata
Ada sebuah kisah tentang seorang anak muda bernama Itok yang sejak kecil mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat kebanyakan orang.
Ia sering melihat sosok yang muncul di tempat-tempat tertentu.
Namun, berbeda dari orang lain, Itok sama sekali tidak mudah merasa takut.
Baginya, keberadaan makhluk tak kasatmata bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Ia justru lebih penasaran.
"Kalau mereka muncul, ya dilihat saja."
Begitu cara Itok berpikir.
Di tempat tinggalnya, Itok dikenal sebagai seseorang yang sering membantu warga yang mengalami kejadian aneh.
Ketika ada seseorang merasa diganggu atau ingin mengetahui sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara langsung, Itok terkadang diminta membantu berkomunikasi.
Ia menjadi semacam perantara.
Namun Itok bukan seseorang yang mudah dibujuk dengan uang.
Banyak orang sebenarnya ingin memanfaatkan kemampuannya demi mendapatkan keuntungan.
Tetapi Itok memiliki prinsip sederhana.
Kalau ia tidak ingin membantu, sebesar apa pun imbalannya, ia tetap akan menolak.
Sebaliknya, jika merasa perlu membantu, ia akan melakukannya tanpa terlalu memikirkan imbalan.
Sifat polos itulah yang membuat orang-orang sulit menjadikannya alat untuk kepentingan pribadi.
Itok Mulai Dikenal oleh Penyidik
Semakin lama, kemampuan Itok mulai diketahui lebih banyak orang.
Beberapa penyidik dan tenaga medis kemudian meminta bantuannya ketika menemukan perkara yang menyisakan banyak tanda tanya.
Itok juga tidak mudah merasa jijik atau gugup ketika harus berada di lingkungan rumah sakit atau menangani kasus yang bagi orang lain terasa berat.
Menurutnya, semua itu hanyalah bagian dari tugas.
"Kalau kita mau membantu, jangan terlalu memikirkan rasa takut."
Ia juga memiliki pemikiran yang cukup unik.
Menurut Itok, makhluk tak kasatmata tidak selalu harus dianggap jahat.
"Mereka juga bisa merasa terganggu."
"Manusia saja tidak suka diganggu. Jadi makhluk lain juga begitu."
Karena pola pikir tersebut, Itok sering menghadapi situasi aneh dengan tenang.
Namun suatu hari, ia mendapat tugas yang berbeda.
Kejanggalan di Ruang Forensik
Itok diminta datang ke sebuah ruang forensik.
Di sana terdapat sejumlah jenazah yang sedang diperiksa karena identitas dan penyebab kematiannya belum sepenuhnya diketahui.
Ada beberapa kejanggalan yang membuat penyidik kesulitan menemukan jawabannya.
Mereka berharap kemampuan Itok dapat membantu menemukan petunjuk yang selama ini tidak terlihat.
Ketika memasuki ruangan, Itok berdiri sambil memperhatikan salah satu jenazah.
Ruangan itu sunyi.
Beberapa petugas tampak serius melakukan pemeriksaan.
Tiba-tiba terdengar suara lirih.
"Heii..."
"Itok..."
Itok berhenti.
Ia menoleh ke sekeliling.
Kemudian melihat ke arah belakang.
Di sana berdiri seorang perempuan yang tidak terlihat oleh orang lain.
Itok justru menghela napas.
"Apa lagi?"
Sosok perempuan itu memandangnya.
"Aku ingin berbicara denganmu."
Itok mendekati meja pemeriksaan.
"Aku sedang mencari tahu siapa kamu."
Salah seorang penyidik yang berada di dekatnya kebingungan.
"Kamu bicara dengan siapa?"
Itok menunjuk ke sebuah kursi.
"Itu. Dia duduk di sana."
Penyidik tersebut langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Wajahnya mulai berubah.
"Jangan bercanda."
Itok mengerutkan dahi.
"Aku tidak bercanda."
Beberapa detik kemudian, kursi yang ditunjuk Itok bergeser sedikit dengan sendirinya.
Penyidik tersebut langsung mundur.
"Itok!"
Ia buru-buru keluar ruangan.
Itok hanya menggeleng.
"Kalau takut, jangan ikut mendekat."
Sosok Perempuan yang Ingin Didengar
Itok kembali menghadap sosok perempuan tersebut.
"Jadi, kamu siapa?"
Perempuan itu terlihat sedih.
"Aku adalah orang yang sedang mereka cari."
Itok mengamati keadaan jenazah di depannya.
"Kenapa kamu masih di sini?"
"Aku ingin kebenaran tentang kematianku diketahui."
Itok kemudian diam dan mendengarkan.
Sosok perempuan itu menceritakan bahwa kematiannya berkaitan dengan orang-orang terdekatnya.
Ia juga mengatakan bahwa sebelum meninggal, dirinya mengalami peristiwa buruk dan tubuhnya kemudian dibuang ke sungai.
Itok tidak mengejek cerita tersebut.
Kali ini ia benar-benar memperhatikan.
"Ada petunjuk lain?"
Sosok itu mengangguk.
"Ada bagian tubuhku yang belum ditemukan."
"Itu terjatuh di sekitar sungai tempat aku dibuang."
Itok mengangguk perlahan.
Kemudian ia bertanya lagi.
"Siapa yang bertanggung jawab?"
Perempuan itu menyebut ayahnya sendiri dan seseorang yang dikenal oleh keluarganya.
Itok kemudian mendapatkan beberapa petunjuk mengenai percakapan yang pernah terjadi serta seseorang yang mengetahui kejadian tersebut.
Petunjuk yang Membantu Penyidikan
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Itok segera memanggil para penyidik.
"Mbak, Pak, saya sudah mendapatkan beberapa informasi."
Para penyidik kembali mendekat.
"Saya menemukan petunjuk mengenai bagian tubuh yang belum ditemukan."
"Lokasinya berada di sekitar sungai dekat tempat kejadian."
"Sebaiknya segera dilakukan pencarian."
Para penyidik mencatatnya.
Itok melanjutkan,
"Ada hal lain."
"Korban mengatakan bahwa orang yang bertanggung jawab adalah ayahnya sendiri bersama seseorang yang dekat dengan keluarganya."
"Selain itu, ada bukti percakapan di telepon yang diduga masih dapat ditemukan meskipun sebelumnya sudah dihapus."
"Pihak penyidik juga perlu mencari seorang saksi bernama Firman, tetangga korban."
"Menurut korban, orang tersebut mengetahui sesuatu mengenai kejadian itu."
Para penyidik saling berpandangan.
Informasi tersebut cukup spesifik untuk ditindaklanjuti.
"Baik, Itok. Terima kasih."
Itok mengangguk.
"Sudah. Tinggal kalian periksa."
"Saya pulang dulu."
Makhluk yang Tidak Pernah Berhasil Menakuti Itok
Sejak membantu kasus tersebut, Itok kembali menjalani kehidupannya seperti biasa.
Namun, beberapa kejadian aneh sering terjadi setelah ia meninggalkan rumah sakit atau tempat-tempat yang berkaitan dengan kasus.
Kadang ia melihat sosok yang hanya berdiri di kejauhan.
Kadang ada suara yang memanggil namanya.
Itok tidak terlalu mempedulikannya.
Namun suatu hari, muncul makhluk yang berbeda dari biasanya.
Makhluk itu terus datang.
Hari pertama, ia hanya terdengar tertawa.
Hari kedua, ia muncul dari sudut ruangan.
Hari berikutnya, ia mencoba menunjukkan wujud yang lebih menakutkan.
Tetapi Itok tetap tenang.
"Apa lagi?"
Makhluk itu semakin kesal.
"Kenapa kamu tidak takut?"
Itok menjawab santai.
"Memangnya aku harus takut?"
Makhluk tersebut mencoba berbagai cara.
Suara keras.
Bayangan yang tiba-tiba muncul.
Pintu yang bergerak sendiri.
Namun Itok tidak pernah menunjukkan kepanikan.
Justru ia terlihat terganggu karena makhluk tersebut terus mengganggu waktu istirahatnya.
Raja Jin yang Kehilangan Kesabaran
Suatu malam, makhluk itu akhirnya menunjukkan wujud yang menurutnya paling menakutkan.
Tubuhnya besar.
Suaranya menggelegar.
Ia tertawa panjang.
"Hahahaha!"
"Aku adalah penguasa bangsa jin!"
"Aku datang untuk menakutimu!"
Itok hanya memandangnya.
Beberapa detik.
Lalu ia berkata,
"Sudah?"
Makhluk tersebut terdiam.
Itok menguap.
"Berisik sekali."
"Aku mau tidur."
Makhluk itu semakin bingung.
"Kenapa kamu tidak takut?"
"Itu saja?"
"Tolong jangan ganggu saya. Kalau mau datang, besok saja."
Makhluk tersebut mulai kehilangan kesabaran.
"Aku bisa membuatmu takut!"
Itok malah menarik selimut.
"Ya sudah. Coba saja besok."
Makhluk itu terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, mungkin baru kali ini ia menemukan manusia yang sama sekali tidak tertarik pada usaha menakut-nakutinya.
Makhluk yang Akhirnya Menyerah
Malam itu, makhluk tersebut justru merasa frustrasi.
Ia telah mencoba berbagai cara.
Tetapi tidak satu pun berhasil.
Akhirnya ia bertanya dengan suara hampir putus asa,
"Apakah kamu benar-benar tidak takut melihat wajahku?"
Itok menjawab dari tempat tidurnya.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena kamu tidak melakukan apa-apa selain berisik."
Makhluk itu terdiam.
Kemudian suaranya berubah.
"Aku capek."
Itok membuka matanya.
"Ya sudah, jangan ganggu manusia lagi."
Makhluk tersebut terdiam cukup lama.
Lalu berkata,
"Mungkin kamu benar."
"Aku berhenti."
Itok kembali berbaring.
"Bagus."
"Akhirnya bisa tidur tenang."
Makhluk itu kemudian menghilang.
Sejak malam tersebut, ia tidak pernah lagi muncul mengganggu Itok.
Pesan Itok tentang Rasa Takut
Bagi Itok, kejadian tersebut bukan sekadar pengalaman aneh.
Ia justru mendapatkan sebuah pelajaran.
Rasa takut sering kali menjadi semakin besar ketika terus dipelihara.
Menurutnya, seseorang tidak harus hidup dalam keresahan hanya karena menghadapi sesuatu yang tidak dipahami.
"Kalau tidak mengganggu, kenapa harus takut?"
"Kalau bisa membantu, ya bantu."
"Kalau memang tidak bisa, jangan membuat keadaan semakin buruk."
Itok juga percaya bahwa makhluk apa pun sebaiknya tidak langsung dianggap jahat hanya karena wujudnya berbeda.
Manusia dapat marah ketika diganggu.
Begitu pula makhluk lain.
Yang terpenting adalah bagaimana seseorang bersikap.
Sejak saat itu, Itok tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Ia masih dimintai bantuan.
Masih bertemu dengan berbagai sosok aneh.
Dan masih masuk ke tempat-tempat yang membuat orang lain merasa tidak nyaman.
Namun bagi Itok, semuanya hanyalah bagian dari kehidupan.
Ia tidak merasa menjadi seseorang yang paling berani.
Ia juga tidak merasa memiliki kemampuan yang luar biasa.
Baginya, ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar.
Membantu ketika dibutuhkan.
Mendengarkan ketika ada yang ingin bercerita.
Dan tidak membiarkan rasa takut menguasai pikirannya.
Karena pada akhirnya, menurut Itok,
ketenangan membuat kita mampu melihat sesuatu dengan lebih jernih, sementara ketakutan yang berlebihan justru sering membuat kita kehilangan arah.