Lewati ke konten
Kutukan Mata Ketiga: Persahabatan Mantili dan Yanti

Kutukan Mata Ketiga: Persahabatan Mantili dan Yanti

0Dibaca 0Bab
Mulai Baca

Sinopsis

Sejak kecil, Mantili memiliki kemampuan melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat kebanyakan orang.

Kemampuan itu membuat masa kecilnya penuh kesepian. Anak-anak lain takut berteman dengannya karena menganggap Mantili aneh dan percaya bahwa dirinya dapat melihat makhluk dari dunia lain.

Namun kedua orang tuanya justru memilih mendukungnya. Ayahnya mengajarkan Mantili untuk memahami kemampuan tersebut dan membantunya ketika menghadapi orang-orang yang mengalami gangguan spiritual.

Sebuah perjalanan ke Kepulauan Seribu kemudian mempertemukan Mantili dengan seorang anak perempuan yang telah meninggal dunia. Sosok itu bernama Yanti dan ternyata memiliki alasan sendiri untuk terus berada di dunia manusia.

Awalnya Mantili takut dan tidak ingin berteman dengannya.

Namun sebuah kejadian pada malam hari membuat Mantili menyadari bahwa Yanti justru bisa menjadi sahabat yang tidak pernah ia miliki selama ini.

Kemampuan yang Membuatku Berbeda

Persahabatan bukan sekadar kata.

Bagiku, persahabatan adalah rasa percaya kepada seseorang dan kesediaan untuk tetap berada di sisinya ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Namaku Mantili.

Aku lahir dari keluarga sederhana pada era 1990-an.

Sejak kecil, kehidupanku jauh dari kemewahan.

Namun ada satu hal yang membuat masa kecilku berbeda dari anak-anak lainnya.

Aku bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh kebanyakan orang.

Sesuatu yang seharusnya tidak terlihat oleh mata manusia.

Sejak kecil, aku sering melihat sosok-sosok aneh di sudut rumah, halaman, bahkan di tempat-tempat yang menurut orang lain kosong.

Awalnya aku mengira semua anak bisa melihat hal yang sama.

Aku baru sadar bahwa diriku berbeda ketika mulai menceritakannya kepada orang lain.

Saat anak-anak seusiaku bermain bersama, aku justru sering berbicara sendiri.

Kadang aku tertawa.

Kadang aku menoleh ke sudut ruangan seolah sedang memperhatikan seseorang.

Padahal menurut orang lain, tidak ada siapa pun di sana.

Keadaan itu membuat banyak anak takut mendekatiku.

Beberapa orang tua bahkan melarang anak mereka bermain denganku.

Mereka khawatir aku membawa sesuatu yang buruk.

Akhirnya aku tumbuh dalam kesendirian.

Hari-hariku lebih banyak ditemani benda-benda mati, suasana sunyi, dan sesekali sosok asing yang muncul tanpa diundang.

Ada kalanya aku merasa sangat lelah.

Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri:

Kenapa harus aku?

Kenapa aku tidak bisa seperti anak-anak lainnya?

Pada masa paling gelap dalam hidupku, aku bahkan pernah merasa ingin menyerah.

Namun waktu perlahan mengubah cara pandangku.

Aku mulai menerima keadaan.

Aku mulai memahami bahwa mungkin kemampuan yang kumiliki bukanlah sebuah kutukan.

Ayah Mengajariku untuk Tidak Takut

Kedua orang tuaku selalu mendukungku.

Mereka mengatakan bahwa keluarga kami memiliki pengetahuan spiritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pengetahuan itu digunakan untuk membantu orang-orang yang mengalami gangguan spiritual maupun kejadian yang tidak mampu mereka pahami.

Ayah kemudian mulai membimbingku.

Setiap libur sekolah, aku sering diajak mendampinginya ketika membantu orang yang mengalami kesurupan atau gangguan yang dipercaya berasal dari makhluk tak kasatmata.

Dari sana aku mulai belajar.

Aku belajar mengendalikan rasa takut.

Aku belajar memahami bahwa tidak semua yang terlihat harus langsung membuatku panik.

Aku juga belajar untuk tidak sembarangan mengganggu sesuatu yang tidak kupahami.

Tetapi semua pengalaman tersebut ternyata belum cukup mempersiapkanku untuk kejadian yang terjadi pada tahun 2008.

Kengerian di Tengah Laut Kepulauan Seribu

Saat itu Ayah mengajakku pergi ke wilayah Kepulauan Seribu.

Kami hendak membantu seorang perempuan yang menurut keluarganya telah mengalami gangguan selama beberapa hari.

Ia sering mengamuk.

Berteriak.

Bahkan merusak barang-barang di rumah.

Untuk mencapai pulau tujuan, kami menggunakan sebuah perahu kecil.

Malam mulai turun.

Laut semakin gelap.

Yang terdengar hanya suara mesin perahu dan deburan ombak.

Aku duduk tidak jauh dari Ayah.

Awalnya perjalanan berlangsung biasa saja.

Namun semakin jauh kami meninggalkan daratan, tubuhku tiba-tiba terasa sangat dingin.

Bukan dingin biasa.

Bulu kudukku berdiri.

Aku memeluk kedua lenganku sendiri.

Ayah menatapku.

“Kamu merasakan sesuatu?”

Aku mengangguk.

“Di sini ada sesuatu, Yah.”

Ayah tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum kecil.

“Jangan takut.”

Belum sempat aku bertanya lagi, terdengar suara melengking dari arah laut.

“Heeeeeiiii...”

Aku membeku.

Suara itu terdengar semakin jelas.

“Mantiliiiii...”

Aku langsung menatap Ayah.

“Ayah dengar?”

Ayah dan pengemudi perahu saling berpandangan.

Namun Ayah tetap tenang.

“Mereka mungkin hanya ingin menyapa.”

Aku menelan ludah.

“Nyapa?”

Sebelum Ayah sempat menjelaskan, suara lain terdengar.

Kali ini lebih lirih.

Seperti suara seorang anak perempuan.

“Tolong...”

Aku merinding.

Suara itu kembali terdengar.

“Tolong...”

Tiba-tiba perahu kami berhenti.

Mesinnya masih menyala, tetapi perahu seperti tertahan oleh sesuatu.

Pengemudi mulai panik.

“Kenapa ini?”

Ia mencoba menjalankan mesin kembali.

Namun perahu tidak bergerak.

Kami semua mulai tegang.

Pengemudi kemudian memeriksa bagian bawah perahu.

Dan saat itulah suasana berubah menjadi mengerikan.

Di sekitar perahu terlihat jasad seorang bayi yang terbawa arus.

Kondisinya sudah sangat mengenaskan.

Aku langsung memalingkan wajah.

“Ya Allah...”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Penemuan itu kemudian dilaporkan kepada aparat setempat.

Beberapa warga datang membantu.

Namun di tengah kerumunan tersebut, mataku menangkap sesuatu yang membuatku kembali merinding.

Seorang anak perempuan berdiri tidak jauh dari sana.

Ia tidak melihat jasad tersebut.

Ia justru menatapku.

Kemudian tersenyum.

Tangannya melambai kepadaku.

Aku berkedip.

Sosok itu menghilang.

Saat itu aku yakin.

Dia bukan manusia biasa.

Sosok yang Mengikuti Kami

Setelah urusan di dermaga selesai, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah pasien.

Jaraknya masih cukup jauh.

Kami harus berjalan kaki melewati jalanan sepi dan kawasan yang masih dipenuhi pepohonan.

Perjalanan membuat kami kelelahan.

Perutku juga mulai terasa lapar.

Tiba-tiba beberapa buah kelapa dan pisang jatuh dari pohon di sekitar kami.

Ayah tersenyum.

“Mungkin ini rezeki.”

Kami memakannya sekadarnya untuk mengganjal perut.

Namun ketika aku hendak membuang kulit pisang, sosok anak perempuan yang kulihat di dermaga kembali muncul.

Aku langsung terkejut.

“Heh!”

Aku menunjuknya.

“Kamu yang tadi di dermaga, kan?”

Anak itu hanya tersenyum.

“Maaf kalau aku mengikuti kalian.”

Aku menatap Ayah.

Ayah kemudian mendekati anak tersebut.

“Siapa kamu?”

Anak itu menunduk.

“Aku hanya ingin berterima kasih.”

“Terima kasih untuk apa?”

“Kalian sudah membantu menemukan jasadku.”

Aku langsung merinding.

“Jadi kamu... arwah?”

Ayah segera menenangkanku.

“Jangan bicara seperti itu.”

Ia kemudian menatap anak tersebut.

“Dia bukan sesuatu yang perlu kamu takuti.”

Anak perempuan itu lalu menceritakan kisahnya.

Menurut ceritanya, ia meninggal ketika masih sangat kecil.

Ia merasa tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya.

Setelah meninggal, ia merasa masih terjebak di wilayah tersebut.

Ia juga mengaku sering diganggu oleh entitas lain yang menurutnya ingin memanfaatkannya untuk kepentingan pesugihan.

Mendengar ceritanya, aku mulai merasa iba.

Ayah kemudian bertanya,

“Namamu siapa?”

Anak itu menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Ayah terdiam sejenak.

Kemudian berkata,

“Kalau begitu, mulai sekarang kamu punya nama.”

Anak itu menatap Ayah.

“Nama apa?”

“Yanti.”

Wajah anak perempuan itu berubah.

Ia tersenyum.

“Yanti...”

Untuk pertama kalinya aku melihatnya benar-benar bahagia.

Ia kemudian meminta izin untuk ikut bersama kami.

Aku langsung protes.

“Ayah, jangan!”

Ayah tersenyum.

“Kenapa?”

“Dia nanti malah bikin masalah.”

Yanti menjulurkan lidah kepadaku.

Aku langsung kesal.

Sejak saat itu, hubungan kami justru seperti kucing dan anjing.

Amukan Siluman Buaya

Sesampainya di rumah pasien, suasananya jauh dari tenang.

Seorang perempuan sedang mengamuk.

Tangannya bergerak liar.

Suaranya berubah menjadi suara berat yang terdengar berbeda dari suara manusia.

Keluarganya menangis ketakutan.

Mereka mengaku sudah mencoba berbagai cara untuk mencari kesembuhan.

Ayah kemudian maju.

Dengan tenang ia mendekati perempuan tersebut.

Setelah melakukan beberapa tindakan, perempuan itu tiba-tiba jatuh pingsan.

Beberapa saat kemudian ia membuka mata.

Wajahnya terlihat kebingungan.

Namun masalah ternyata belum selesai.

Udara di dalam rumah mendadak terasa berat.

Aku merasakan sesuatu muncul.

Kemudian terdengar suara menggelegar.

“Berani kau mengusikku!”

Aku menoleh.

Dalam pengalaman yang kualami saat itu, sosok tersebut dipercaya sebagai siluman buaya.

Ia marah karena gangguan yang selama ini menguasai perempuan tersebut mulai diusir.

“Aku akan terus mengganggunya!”

Ayah berdiri tegak.

“Kenapa kau mengganggu manusia?”

Makhluk itu tertawa.

“Aku tidak takut padamu.”

Ayah menjawab tenang.

“Aku juga tidak takut kepadamu.”

Ia kemudian membaca ayat-ayat suci.

Suasana rumah semakin tegang.

Aku hanya bisa berdiri di belakang Ayah.

Suara makhluk itu semakin keras.

Namun perlahan, suara tersebut melemah.

Hingga akhirnya gangguan itu berhenti.

Perempuan tersebut kembali sadar.

Keluarganya menangis lega.

Malam itu, masalah yang mereka hadapi akhirnya berakhir.

Persahabatan yang Dimulai dari Ketakutan

Karena tidak ada kapal yang beroperasi pada malam hari, kami memutuskan untuk menginap.

Keluarga pasien menjamu kami dengan makanan.

Namun Yanti terus menggangguku.

“Yanti, jangan ganggu aku!”

Ia malah tertawa.

Aku akhirnya keluar rumah.

Aku duduk di sebuah balai bambu yang menghadap laut.

Malam itu sangat gelap.

Aku ingin sendiri.

Namun beberapa menit kemudian, Yanti datang.

“Mantili...”

“Apa lagi?”

“Aku mau berteman.”

Aku mendengus.

“Aku tidak membutuhkan teman.”

Yanti terlihat sedih.

Aku bahkan sempat membentaknya.

“Pergi! Jangan ganggu aku!”

Yanti akhirnya pergi.

Aku kemudian berjalan menyusuri pantai.

Namun beberapa saat kemudian, sesuatu bergerak di sekitar kakiku.

Satu.

Dua.

Lalu semakin banyak.

Kecoa.

Aku langsung membeku.

Jumlahnya semakin banyak.

Ribuan kecoa seolah muncul dari berbagai arah.

Aku menjerit.

“Yanti!”

Aku mencoba berlari, tetapi kakiku terasa lemas.

“Yanti! Tolong!”

Yanti muncul dari kejauhan.

Ia menatapku.

“Katanya tidak membutuhkan teman?”

Aku hampir menangis.

“Yanti! Tolong aku!”

Yanti masih tersenyum.

Aku akhirnya memohon.

“Aku janji akan berteman denganmu!”

Barulah Yanti mendekat.

Dengan caranya sendiri, ia membuat gangguan itu berhenti.

Aku terengah-engah.

Aku menatapnya.

“Huuuh... lama banget!”

Yanti tertawa.

“Sudah ditolong masih marah.”

Aku terdiam.

Kemudian akhirnya berkata,

“Ya... terima kasih.”

Yanti tersenyum.

“Nah, begitu dong.”

Malam itu menjadi awal dari sebuah persahabatan yang tidak pernah kubayangkan.

Sahabat dari Dunia yang Berbeda

Sejak malam itu, hubungan kami berubah.

Yanti tidak lagi kuanggap sebagai sosok yang harus kutakuti.

Ia menjadi sahabatku.

Aku mulai memahami bahwa rasa takutku selama ini tidak selalu berhubungan dengan dirinya.

Aku hanya terbiasa menutup diri.

Aku terbiasa sendirian.

Dan ketika seseorang mencoba mendekatiku, aku justru takut akan kembali disakiti atau kehilangan mereka.

Yanti berbeda.

Ia tidak datang untuk meminta sesuatu dariku.

Ia hanya ingin berteman.

Aku bahkan kemudian mengenalkannya kepada ibuku.

Ibuku tidak menertawakanku.

Ia justru mengajarkanku untuk tetap menghormati Yanti sebagai sosok yang menurut kami membutuhkan ketenangan.

Seiring waktu, Yanti juga banyak belajar.

Tentang kebaikan.

Tentang kesopanan.

Tentang agama.

Dan tentang arti memiliki seseorang yang peduli.

Aku pun mulai memahami kemampuan yang sejak kecil sempat kuanggap sebagai kutukan.

Kemampuan itu mungkin bukan diberikan untuk membuatku takut.

Mungkin aku hanya perlu belajar menggunakannya dengan benar.

Kutukan yang Berubah Menjadi Pelajaran

Bertahun-tahun aku mengira kemampuan melihat sesuatu yang tidak kasatmata hanya membawa kesedihan.

Aku dijauhi.

Aku dianggap aneh.

Aku sering bermain sendiri.

Aku bahkan pernah bertanya kenapa harus aku yang mengalami semua itu.

Namun perjalanan ke Kepulauan Seribu mengubah cara pandangku.

Aku bertemu Yanti.

Aku melihat bahwa sosok yang awalnya membuatku takut justru menjadi seseorang yang memberikan arti baru dalam hidupku.

Yanti mengajarkanku bahwa persahabatan tidak selalu membutuhkan kesamaan.

Tidak harus berasal dari tempat yang sama.

Tidak harus memiliki kehidupan yang sama.

Yang dibutuhkan adalah ketulusan.

Dulu aku melihat kemampuan yang kumiliki sebagai kutukan.

Sekarang aku tidak lagi memandangnya seperti itu.

Mungkin justru melalui kemampuan tersebut aku bisa bertemu orang-orang yang tidak akan pernah kutemui dengan cara biasa.

Dan mungkin...

di balik semua kejadian menyeramkan yang pernah kulalui, ada pelajaran yang ingin kuterima.

Bahwa tidak semua yang terlihat menakutkan akan berakhir buruk.

Dan tidak semua yang tidak bisa kita pahami harus langsung kita benci atau jauhi.

Yanti mungkin tidak dapat dilihat oleh semua orang.

Tetapi bagiku, ia adalah sahabat yang pernah mengajariku arti keberanian, ketulusan, dan rasa menerima.

Aku tidak tahu berapa lama persahabatan itu akan bertahan.

Namun satu hal yang pasti.

Aku tidak lagi sendirian.

Dan mungkin itulah hadiah terbesar yang pernah datang dari sebuah kemampuan yang dulu kuanggap sebagai kutukan.

Karena terkadang, sesuatu yang kita anggap sebagai kutukan justru membawa kita kepada orang yang paling kita butuhkan.

Bagikan Cerita

Ulasan Saya

Pendapat kamu tentang cerita ini0/500
Belum ada ulasan

Daftar Bab