Bukan Maling! Uang Warga Suka Maju Dicuri Makhluk Gundul
Table of Contents
Teror Tanpa Wujud di Kampung Suka Maju
Kampung Suka Maju sedang di ambang kehancuran mental. Bukan oleh longsor atau wabah penyakit, melainkan oleh teror tak kasat mata yang merayap setiap tengah malam: wabah pencurian uang secara gaib.
Hampir setiap hari, ratapan putus asa terdengar dari rumah ke rumah. Bukan lembaran merah atau biru yang hilang, melainkan uang-uang pecahan kecil yang disembunyikan di bawah kasur, di dalam celengan kaleng, hingga di dalam laci warung. Bagi warga Suka Maju yang hidupnya pas-pasan, kehilangan uang sepuluh atau dua puluh ribu rupiah adalah malapetaka—itu adalah jatah beras untuk bertahan hidup sehari penuh.
Pencurinya bukan manusia. Desas-desus mengerikan menyebar dengan cepat: tuyul. Makhluk gundul berwajah bayi tua itu berkeliaran setiap malam, menghisap keringat warga tanpa suara.
Korban paling tragis dari teror ini adalah Nenek Rasmi. Di usianya yang renta, ia hidup sebatang kara di gubuk reot nyaris rubuh. Setiap hari, punggungnya yang bungkuk dipaksa memikul beban berat demi mengais daun kelapa kering di hutan untuk dijual di pasar. Hasilnya? Hanya beberapa koin receh.
Namun, malam-malam sial itu membuat Nenek Rasmi nyaris kehilangan akal sehat. Beberapa kali, uang satu-satunya hasil menjual daun kelapa mendadak raib dari dalam cangkir tempat penyimpanannya. Tidak ada pintu yang dicongkel, tidak ada jendela yang terbuka.
"Ya Allah... buat makan besok saja tidak ada... kenapa tega mengambil hak nenek tua ini..." isak Nenek Rasmi di atas balai-balai bambu yang dingin, memeluk perutnya yang keroncongan menahan lapar karena tak punya sisa uang barang secupak beras.
Kecurigaan yang Membakar
Warga yang sudah kehilangan kesabaran mulai mengawasi gerak-gerik tetangga. Di tengah rasa curiga yang meracuni pikiran sekampung, perhatian tertuju pada satu rumah di ujung desa: milik Pak Jaja dan Bu Sarah.
Dulu, keluarga ini dikenal paling melarat di kampung. Pak Jaja adalah pengangguran kronis yang kerjanya hanya tidur dan melamun, sementara Bu Sarah hanya duduk berpangku tangan. Hidup mereka serba kekurangan, bahkan sering meminjam beras ke tetangga.
Namun, dalam dua bulan terakhir, kejanggalan luar biasa terjadi. Rumah reyot mereka mendadak direbok megah, berdinding tembok kokoh, dan berlantai keramik. Setiap hari, bau wangi kemenyan tipis kerap menguar dari balik jendela dapur mereka di waktu magrib. Dari mana datangnya uang sebanyak itu? Pak Jaja tidak pernah bekerja, dan Bu Sarah tidak punya warisan.
Puncak kecurigaan pecah pada suatu malam Jumat. Beberapa warga yang memata-matai secara diam-diam melihat pasutri itu berjalan keluar kampung menuju pantai karang keramat. Dengan mata kepala sendiri, warga melihat Bu Sarah menaburkan kembang kantil tujuh warna dan sebotol susu sapi segar ke gulungan ombak laut selatan, sambil melafalkan bisikan-bisikan mantra pemujaan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Dalang di balik teror tuyul yang menyengsarakan kampung akhirnya tertangkap basah.
Jebakan Darah dan Asap Dupa
Meski sudah melihat ritual itu, warga belum memiliki bukti fisik untuk menggrebek. Pak RT akhirnya mengambil langkah ekstrem dengan mendatangkan seorang paranormal sepuh yang terkenal sakti mandraguna.
Malam itu, rumah salah satu warga dijadikan umpan. Di tengah ruangan yang gelap gulita, sang dukun meletakkan selembar uang kertas bernilai besar yang telah direndam minyak khusus dan dibacakan mantra pengunci. Semua lampu dimatikan. Warga bersembunyi di balik dinding dengan napas tertahan.
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 malam. Suasana mendadak menjadi sangat dingin, menusuk hingga ke sumsum tulang.
Sreeek... sreeek...
Suara langkah kaki kecil yang diseret terdengar mendekat dari arah pintu depan. Bayangan hitam kerdil, botak, dengan perut buncit dan mata melotot merah menyala, merangkak masuk melintasi lantai. Makhluk itu langsung mendekati lembaran uang yang tergeletak di tengah ruangan.
"Kurang ajar... kena kau!" bentak sang dukun sambil melemparkan jaring gaib ke arah lantai.
BARRR!
Suara jeritan melengking yang memekakkan telinga meledak di dalam ruangan. Makhluk gundul itu meronta-ronta hebat, berusaha melepaskan diri sebelum akhirnya tubuh gaibnya hancur berkeping-keping terbakar oleh api gaib yang ditiupkan sang dukun. Bersamaan dengan hancurnya si tuyul, energi hitam itu memantul balik, melesat lurus menembus dinding menuju rumah Pak Jaja dan Bu Sarah!
Siksaan Neraka di Kamar Mandi
AAARGHHH! JERRRITAN MAUT!
Dari arah rumah Pak Jaja dan Bu Sarah, jeritan kesakitan yang melampaui batas suara manusia mendadak memecah keheningan malam. Warga berhamburan keluar membawa obor, mengepung rumah mewah pasutri tersebut.
Di dalam rumah, neraka dunia sedang terjadi. Bu Sarah berteriak histeris sambil mencakar-cakar wajahnya sendiri. Kulit di sekujur tubuhnya mendadak melepuh hebat, meletup-letup mengeluarkan gelembung darah seolah tersiram air mendidih dari dalam pori-pori kulitnya.
Tak lama kemudian, Pak Jaja menyusul keluar dari kamar dengan kepala botak plontos dan sekujur tubuh yang menghitam legam. Keduanya meraung-raung kepanasan, mencengkeram dada mereka yang terasa seperti terbakar bara api pijar.
"Panas...! Ya Allah, panas...! Kulitku copot...! Arrrghh!" teriak Bu Sarah terguling-guling di lantai keramik.
Didorong kepanikan luar biasa, pasutri itu berlari pontang-panting menerobos pintu kamar mandi. Mereka membuka keran air selebar-lebarnya, menyiramkan air dingin ke seluruh tubuh untuk memadamkan rasa sakit yang membakar.
Namun, itu adalah kesalahan fatal.
Begitu air dingin menyentuh kulit mereka yang terkutuk oleh balik pantangan gaib, sekujur tubuh mereka justru meledak-ledak kecil. Daging mereka meleleh seketika, mengelupas dari tulang, mengeluarkan bau busuk daging panggang dan kemenyan yang sangat menyengat hingga membuat warga yang menonton muntah massal.
Dalam waktu kurang dari lima menit, jeritan itu perlahan melemah. Pak Jaja dan Bu Sarah terkapar bersimbah darah dan nanah di lantai kamar mandi, tewas dengan kondisi tubuh hancur lebur mengenaskan—balasan kontan atas keserakahan mereka yang menjual iman demi harta iblis.

Posting Komentar