Aku Bercerita Kepada Senja
Wanita yang Datang Menemui Senja
Dua pekan yang lalu, aku melihat seorang wanita berdiri sendirian di ujung sebuah jembatan.
Tidak ada seorang pun bersamanya.
Ia hanya berdiri memandang jauh ke arah langit yang perlahan berubah warna.
Matahari mulai turun.
Cahaya keemasan menyelimuti langit, sementara angin sore berembus perlahan melewati rambutnya.
Namun dari cara wanita itu memandang senja, aku merasa ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.
Wajahnya memang terlihat tenang.
Tetapi sorot matanya tidak.
Seolah-olah ada begitu banyak cerita yang ingin ia keluarkan, tetapi tidak pernah menemukan seseorang yang bersedia mendengarkannya.
Ia berdiri cukup lama.
Tidak bergerak.
Hanya menatap senja.
Kemudian perlahan ia tersenyum.
“Indah sekali...”
Senyumnya terlihat sederhana.
Tetapi setelah itu, matanya justru berkaca-kaca.
“Aku boleh cerita sesuatu?”
Tentu saja tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang berembus.
Namun wanita itu tetap berbicara.
Baginya, senja adalah tempat paling aman untuk menitipkan rahasia.
Rahasia yang tidak sanggup ia ceritakan kepada manusia.
Senja yang Menjadi Tempat Curhat
Sejak saat itu, wanita tersebut sering datang ke tempat yang sama.
Setiap kali sore mulai tiba, ia akan berdiri di sana dan menunggu matahari perlahan tenggelam.
Kadang ia tersenyum sendiri.
Kadang ia berbicara seperti sedang berbincang dengan seseorang.
“Senja... kamu tahu tidak?”
“Aku sebenarnya sedang lelah.”
Ia berhenti sejenak.
Kemudian kembali menatap langit.
“Aku capek berpura-pura baik-baik saja.”
Angin sore berembus.
Rambutnya bergerak perlahan.
Ia kembali tersenyum.
“Untung ada kamu.”
Entah mengapa, ia merasa senja selalu mau mendengarkannya.
Tidak pernah memotong pembicaraan.
Tidak pernah menghakimi.
Tidak pernah bertanya mengapa ia menangis.
Senja hanya datang.
Menemani.
Kemudian perlahan pergi ketika malam tiba.
Mungkin karena itulah wanita tersebut merasa nyaman.
Baginya, senja bukan sekadar perubahan warna langit.
Senja adalah tempat untuk menyimpan semua perasaan yang tidak mampu ia sampaikan kepada siapa pun.
Aku Mengikuti Senja karena Rindu
Suatu sore, wanita itu kembali datang.
Ia berdiri sambil tersenyum.
“Senja... aku selalu menunggumu.”
Ia kemudian tertawa kecil.
“Bodoh, ya?”
“Setiap hari aku datang hanya untuk melihatmu.”
Ia terdiam.
Kemudian berkata pelan,
“Tapi kamu selalu pergi.”
Tatapannya mengikuti cahaya matahari yang semakin redup.
“Aku tahu kamu memang harus pergi.”
“Kamu tidak pernah bisa tinggal lebih lama.”
Wanita itu menarik napas panjang.
“Kalau kamu bisa mengalah kepada malam, mungkin aku juga harus belajar mengalah kepada rasa rinduku.”
Air matanya perlahan jatuh.
Namun kali ini ia tidak menghapusnya.
Ia membiarkannya.
Karena mungkin ada beberapa perasaan yang memang tidak harus dilawan.
Ada rasa yang cukup diterima.
Ada rindu yang cukup disimpan.
Dan ada seseorang yang cukup dikenang tanpa harus dimiliki.
Senja Mengajarkan Arti Menerima
Semakin sering wanita itu datang, semakin banyak hal yang ia pelajari.
Ia mulai memahami bahwa senja tidak pernah berusaha menjadi matahari.
Senja tahu waktunya singkat.
Ia tahu sebentar lagi akan menghilang.
Tetapi sebelum pergi, ia tetap memberikan keindahan.
Dari sana wanita itu mulai belajar.
Bahwa hidup tidak harus selalu menjadi yang paling sempurna.
Tidak harus selalu menjadi yang paling terang.
Tidak harus selalu mendapatkan apa yang diinginkan.
Kadang...
menjadi diri sendiri dan memberikan yang terbaik pada waktunya sudah cukup.
“Senja,” katanya suatu sore,
“mungkin selama ini aku terlalu banyak menuntut kehidupan.”
Ia tersenyum.
“Aku ingin semuanya sempurna.”
“Aku ingin semua orang mengerti aku.”
“Aku ingin orang yang aku sayangi selalu tinggal.”
Ia kembali menatap langit.
“Tapi ternyata tidak semuanya bisa seperti itu.”
Senja perlahan berubah warna.
Seolah menjawab bahwa segala sesuatu memang memiliki waktunya sendiri.
Kekaguman Tidak Selalu Berarti Memiliki
Wanita itu kemudian menyadari sesuatu.
Mengagumi seseorang tidak berarti kita akan selalu memilikinya.
Menyayangi seseorang juga tidak menjamin seseorang itu akan tinggal selamanya.
Bahkan sesuatu yang sangat indah pun pada akhirnya memiliki waktu untuk pergi.
Seperti senja.
Ia datang dengan keindahannya.
Kemudian perlahan menghilang.
Tetapi hilangnya senja tidak membuat langit menjadi buruk.
Karena setelah senja pergi, malam akan datang.
Dan setelah malam berlalu...
matahari akan kembali terbit.
Begitulah kehidupan.
Ada pertemuan.
Ada perpisahan.
Ada kebahagiaan.
Ada kesedihan.
Semuanya datang silih berganti.
Wanita itu tersenyum.
“Mungkin aku juga harus belajar seperti kamu.”
“Belajar menerima ketika sesuatu harus pergi.”
“Belajar bersyukur ketika sesuatu masih diberikan.”
Tidak Ada yang Benar-Benar Sempurna
Senja selalu terlihat indah.
Namun wanita itu sadar, keindahan senja tidak berdiri sendiri.
Ada matahari yang memberikan cahaya.
Ada langit yang menjadi tempatnya menghias warna.
Ada bumi yang menjadi tempat manusia menyaksikannya.
Bahkan bulan dan bintang yang datang setelahnya memiliki keindahan masing-masing.
Tidak ada satu pun yang benar-benar sempurna sendirian.
Dari sana ia belajar bahwa manusia juga demikian.
Tidak ada manusia yang sempurna.
Kita memiliki kekurangan.
Kita memiliki luka.
Kita pernah melakukan kesalahan.
Kita pernah mengecewakan seseorang.
Namun semua itu tidak membuat kita menjadi manusia yang tidak berharga.
Yang terpenting adalah bagaimana kita belajar memperbaiki diri.
Bagaimana kita belajar menerima kekurangan.
Dan bagaimana kita tetap bersyukur atas apa yang masih kita miliki.
Terima Kasih, Senja
Sore itu, wanita tersebut kembali berdiri di tempat yang sama.
Namun kali ini wajahnya terlihat berbeda.
Tidak ada kesedihan seperti sebelumnya.
Ia hanya tersenyum sambil memandangi langit.
“Terima kasih, Senja.”
“Selama ini kamu sudah menjadi tempatku bercerita.”
“Aku tahu kamu tidak pernah benar-benar menjawab.”
“Tapi setiap kali melihatmu, aku merasa sedikit lebih tenang.”
Cahaya senja semakin redup.
Wanita itu kemudian menarik napas panjang.
“Aku akhirnya mengerti.”
“Tidak semua yang indah harus dimiliki.”
“Tidak semua yang pergi harus dikejar.”
“Dan tidak semua kehilangan harus disesali.”
Ia tersenyum.
“Mungkin hidup memang seperti senja.”
Indah karena kita tahu ia tidak akan berlangsung selamanya.
Senja akhirnya menghilang.
Namun wanita itu tidak lagi merasa kehilangan.
Ia berjalan meninggalkan jembatan dengan langkah perlahan.
Karena kini ia tahu...
yang harus ia bawa pulang bukanlah senjanya, melainkan pelajaran yang diberikan oleh senja.
Tentang menerima.
Tentang melepaskan.
Tentang mencintai.
Dan yang paling penting...
tentang bersyukur atas setiap keindahan yang Tuhan izinkan hadir, meskipun hanya untuk sementara.

Posting Komentar