Aku Menyesal Terlambat, Ayah & Ibu Pergi Saat Aku Masih Sibuk dengan Dunia
Faqih Aksa Kahfi
📅 Agustus 10, 2026
Kehidupan
Mulai Baca
☰ Daftar Isi
Isi Cerita
Aku Tidak Pernah Siap Kehilangan… Tapi Kehilangan Datang Juga
Panjang sekali.Cukup untuk memperbaiki semuanya.
Cukup untuk membahagiakan Ayah dan Ibu.
Cukup untuk menjadi anak yang mereka banggakan.
Dulu aku pikir… waktu itu panjang.
Tapi aku salah.
Waktu tidak pernah panjang.
Ia hanya terlihat panjang… sampai semuanya diambil begitu saja.
“Ayah sudah tidak ada…”
Kalimat itu seperti menghantam dadaku tanpa ampun.
Aku masih ingat jelas detik itu.
Dunia tidak berhenti.
Langit tidak runtuh.
Orang-orang tetap berbicara seperti biasa.
Hanya aku… yang rasanya ikut mati sebagian.
16 Tahun Berlalu… Tapi Aku Tidak Pernah Sembuh
Sudah lebih dari enam belas tahun Ayah pergi.
Enam belas tahun.
Seharusnya cukup untuk membuatku kuat.
Tapi kenyataannya… aku tidak pernah benar-benar sembuh.
Aku hanya belajar menyembunyikan luka.
Malam-malam tertentu, saat semua orang tertidur, aku masih berbicara sendiri.
“Ayah… aku capek…”
Suaraku lirih.
Kalimat yang dulu ingin sekali aku ucapkan saat pulang ke rumah…
saat aku lelah… saat aku butuh dipeluk…
Tapi sekarang… tidak ada lagi tempat untuk pulang seperti dulu.
Lalu Ibu Pergi… dan Aku Benar-Benar Hancur
Aku pikir kehilangan Ayah adalah rasa paling sakit yang pernah ada.
Ternyata aku salah lagi.
Dua tahun lalu… Ibu menyusul.
Dan saat itu… aku tidak lagi kuat berpura-pura.
“Tuhan… jangan…”
Aku masih ingat bagaimana aku memohon.
“Jangan ambil Ibu juga… aku masih butuh…”
Tapi doa itu tidak menghentikan apa pun.
Aku berdiri di samping tubuh Ibu yang terbaring tenang…
dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku benar-benar merasa sendirian.
Penyesalan Itu Datang… Saat Tidak Ada yang Bisa Diperbaiki
Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan.
Tapi… penyesalan.
Penyesalan yang datang terlambat.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…”
Kalimat itu seperti menghantamku setiap hari.
Aku mulai mengingat semuanya.
Hal-hal kecil yang dulu aku anggap biasa:
Saat Ayah berbicara, tapi aku tidak benar-benar mendengarkan
Saat Ibu memanggil, tapi aku menjawab dengan nada kesal
Saat aku lebih sibuk dengan dunia sendiri… dibanding duduk bersama mereka“Kenapa aku seperti itu…?”
Aku bertanya pada diriku sendiri.
Tapi tidak ada jawaban yang bisa mengubah masa lalu.
Aku Berpura-Pura Kuat… Tapi Sebenarnya Hancur
Di depan orang lain, aku terlihat baik-baik saja.
Aku tertawa.
Aku bekerja.
Aku menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi saat sendiri…
Aku runtuh.
“Aku sebenarnya tidak kuat…” bisikku.
Aku duduk di lantai, memeluk lutut, mencoba menahan sesuatu yang terus ingin keluar.
“Kalau Ayah dan Ibu lihat aku sekarang… mereka bangga tidak ya…?”
Pertanyaan itu menghantui.
Dan aku… terlalu takut untuk menjawabnya.
Ada Banyak Kata yang Tidak Pernah Sempat Terucap
Ini yang paling menyiksa.
Hal-hal yang tidak pernah sempat aku katakan.
“Ayah… maaf aku sering membantah…”
“Ibu… maaf aku belum jadi anak yang baik…”
Aku menutup wajahku.
“Aku kangen… aku kangen banget…”
Suaraku pecah.
Tapi semua itu… sekarang tidak sampai ke mana-mana.
Hanya berputar… di dalam dadaku sendiri.
Aku Pernah Marah pada Tuhan… dan Itu Menyakitkan
Ada masa di mana aku marah.
Sangat marah.
“Tuhan… kenapa Kau ambil mereka sebelum aku siap?!”
Aku berteriak dalam diam.
“Kenapa Kau tidak beri aku waktu sedikit lagi?!”
Air mataku tidak berhenti.
“Kenapa harus mereka…?”
Aku bahkan pernah berpikir…
“Kenapa bukan aku saja…?”
Dan setelah semua itu… yang tersisa hanya rasa bersalah.
Karena aku tahu… aku sedang mempertanyakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami.
Ikhlas Itu Tidak Pernah Benar-Benar Terjadi Seketika
Orang-orang berkata: “Ikhlaskan.”
Seolah itu mudah.
Seolah itu mudah.
Penuh jatuh.
Penuh tangis.
Penuh pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Seolah hati ini bisa langsung menerima.
Padahal kenyataannya…
Ikhlas adalah proses yang panjang.
Aku tidak pernah benar-benar selesai dengan rasa kehilangan ini.
Aku hanya… belajar hidup dengannya.
Sekarang, Aku Merindukan Mereka dengan Cara yang Berbeda
Dulu aku menangis keras.
Sekarang… aku menangis diam-diam.
Dulu aku berteriak.
Sekarang… aku berdoa.
“Ya Allah…”
“Tolong jaga Ayahku…”
“Tolong jaga Ibuku…”
“Maafkan aku… yang belum sempat membuat mereka bahagia…”
Air mata jatuh lagi.
Tapi kali ini… ada sesuatu yang berbeda.
Ada keikhlasan… meski kecil.
Aku Belum Selesai Menjadi Anak Mereka
Aku berdiri di depan cermin.
Menatap diriku sendiri.
“Aku belum jadi anak yang mereka harapkan…”
Aku menarik napas dalam.
“Tapi aku belum selesai…”
Aku masih hidup.
Masih diberi waktu.
Masih diberi kesempatan.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Untuk Ayah.
Untuk Ibu.
Untuk cinta yang mereka tinggalkan.
Rindu Ini Akan Aku Bawa Sampai Mati
Kehilangan ini tidak akan pernah hilang.
Rindu ini tidak akan pernah selesai.
Dan mungkin… memang tidak seharusnya selesai.
“Ayah…”
“Ibu…”
“Aku masih di sini…”
“Masih berusaha…”
“Masih belajar…”
“Dan masih merindukan kalian… setiap hari…”
Sampai suatu hari nanti…
Saat aku dipertemukan kembali dengan kalian…
Aku ingin berkata, dengan air mata dan senyum:
“Aku tidak sempurna… tapi aku tidak berhenti mencoba.”
LANJUTAN CERITABaca cerita selanjutnya
Baca Selanjutnya →
