Lewati ke konten
No Cover

Aku Tidak Pernah Siap Kehilangan: Rindu kepada Ayah dan Ibu

0Dibaca 0Bab
Mulai Baca

Sinopsis

Saya pernah berpikir bahwa waktu masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk membahagiakan Ayah dan Ibu, membuat mereka bangga, dan membalas semua ka

Namun, waktu tern

Ayah pergi lebih dulu. Enam belas tahun telah berlalu, namun kehilangan itu masih meninggalkan luka. Dua tahun yang lalu, Ibu pun menyusul. Sejak saat itu, aku harus belajar menj

Di antara rasa kehilangan, penyesalan, da

Waktu yang Kukira Masih Panja

Panjang sekali.

Begitu pikirku dahulu.

Saya merasa masih memiliki banyak waktu.

Cukup untuk memperbaiki semuanya.

Cukup untuk membahagiakan Ayah dan Ibu.

Cukup untuk menjadi anak yang dapat mereka banggakan.

Dulu saya berpikir bahwa waktu selalu tersedia.

Aku mengira masih ada hari esok.

Masih ada kesempatan untuk pulang.

Masih ada kesempatan untuk duduk bersama.

Masih ada kesempatan untuk mengatakan bahwa aku menyayangi mereka.

Ternyata aku salah.

Waktu tidak pernah benar-benar lama.

Ia hanya terlihat panjangnya sampai suatu hari seseorang yang kita cintai pergi dan tidak pernah kembali.

"Ayah sudah tidak ada..."

Kalimat itu masih teringat jelas di dalamnya

Saat pertama kali mendengarnya, rasanya seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.

Namun dunia tetap berjalan.

Orang-orang tetap beraktivitas.

Kendaraan tetap berlalu.

Langit

Hanya aku yang merasa sebagian dari hidupku ikut hilang.

Enam Belas Tahun Tanpa Ayah

Sudah lebih dari enam belas tahun Ayah pergi.

Enam belas tahun.

Waktu yang bagi sebagian orang mungkin terasa sangat lama.

Namun, kehilangan itu tidak pernah benar-benar selesai.

Aku memang sudah bisa menjalani kehidupan.

Aku sedang bekerja.

Aku tertawa.

Aku berbicara dengan orang lain.

Aku bahkan bisa terlihat baik-baik saja.

Tetapi ada bagian dari diriku yang tetap menyimpan kerinduan kepada Ayah.

Pada malam-malam tertentu, ketika semuanya sudah sunyi, aku masih sering teringat padanya.

"Ayah..."

"Aku capek."

Kalimat sederhana itu terkadang keluar begitu saja.

Dulu, ketika lelah, aku masih bisa pulang dan melihat Ayah.

Masih bisa mendengar suaranya.

Masih bisa merasakan kehadirannya.

Sekarang semuanya hanya tinggal kenangan.

Aku hanya bisa berbicara dalam hati.

Dan berharap doa-doa yang kukirimkan sampai kepada Tuhan.

Lalu Ibu Pergi

Aku pernah berpikir kehilangan Ayah adalah kesedihan terbesar yang akan kurasakan.

Ternyata aku kembali salah.

Dua tahun lalu, Ibu menyusul.

Saat mendengar kabarnya, aku seperti kehilangan pijakan untuk kedua kalinya.

"Tuhan..."

"Jangan ambil Ibu juga."

"Aku masih membutuhkan Ibu."

Namun apa pun yang kupanjatkan tidak dapat mengubah kenyataan.

Aku berdiri di dekat Ibu yang telah terbaring tenang.

Saat itu, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa sendirian.

Tidak ada lagi Ayah.

Ibu tidak ada lagi.

Dua orang yang selama ini menjadi bagian terbesar dalam kehidupanku telah pergi.

Aku hanya bisa menangis.

Aku hanya bisa mengingat.

Dan aku hanya bisa menerima perlahan-lahan sesuatu yang sebenarnya belum siap kuterima.

Penyesalan yang Datang Terlambat

Yang paling menyakitkan dari kehilangan ternyata bukan hanya perpisahan.

Namun penyesalan.

Penyesalan karena ada begitu banyak hal yang dahulu terasa kecil, namun kini justru terasa sangat berarti.

Aku mulai mengingat semuanya.

Saat Ayah berbicara, tetapi aku tidak benar-benar mendengarkan.

Saat Ibu memanggil, tetapi aku menjawab dengan nada yang kurang baik.

Saat aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri.

Saat aku memilih berada di luar rumah daripada duduk sebentar menemani mereka.

Dulu semua terasa biasa.

Sekarang semuanya terasa begitu berharga.

Aku sering bertanya kepada diriku sendiri,

“Kenapa dulu aku tidak lebih sering meluangkan waktu?”

“Kenapa aku tidak lebih banyak mendengarkan?”

"Kenapa aku baru memahami semuanya setelah mereka pergi?"

Tidak ada jawaban yang mampu mengembalikan waktu.

Dan itulah bagian yang paling sulit untuk diterima.

Aku Terlihat Baik-Baik Saja

Di depan orang lain, aku tetap menjalani kehidupan seperti biasa.

Aku tertawa.

Aku sedang bekerja.

Aku bertemu orang-orang.

Saya berbicara seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Namun ketika sendirian, semua perasaan yang selama ini bertahan kembali muncul.

Aku duduk diam.

Mengingat wajah mereka.

Mengingat suara mereka.

Mengingat rumah yang dahulu terasa begitu ramai.

"Sebenarnya aku masih belum kuat."

Kalimat itu sering kuucapkan dalam hati.

Lalu muncul pertanyaan yang sama.

"Kalau Ayah dan Ibu melihatku sekarang, apakah mereka akan bangga?"

Aku tidak tahu jawabannya.

Tapi aku berharap mereka bangga.

Bukan karena aku telah menjadi manusia yang sempurna.

Melainkan karena aku masih berusaha menjalani kehidupan sebaik mungkin.

Ada Banyak Kata yang Tidak Sempat Terucap

Ada begitu banyak kata yang terlambat kusampaikan.

"Ayah, maafkan aku."

"Maaf karena dulu aku sering membantah."

"Ibu, maaf."

"Maaf karena dulu aku menjawab dengan kesal."

"Aku sayang kalian."

"Aku kangen."

Kalimat-kalimat itu sekarang hanya bisa kusampaikan melalui doa.

Saya tidak lagi memiliki kesempatan untuk mengutarakan secara langsung.

Oleh karena itu, saya semakin memahami betapa berharganya sebuah kesempatan.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa bahwa waktu bersama orang tua juga merupakan sebuah bentuk keberuntungan.

Aku Pernah Bertanya kepada Tuhan

Ada masa ketika aku begitu sedih sampai tidak tahu harus menyalahkan siapa.

Aku bertanya kepada Tuhan,

"Kenapa mereka harus pergi ketika aku belum siap?"

“Kenapa aku tidak diberi lebih banyak waktu?”

"Kenapa semuanya harus berakhir?"

Aku menangis.

Aku kecewa.

Aku bingung.

Namun semakin lama, saya mulai memahami bahwa tidak semua hal dalam kehidupan dapat kita pahami saat itu juga.

Ada peristiwa yang hanya bisa kita terima perlahan.

Ada kehilangan yang membutuhkan waktu lama untuk dipahami.

Dan ada pertanyaan yang mungkin memang tidak memiliki jawaban yang bisa memuaskan hati.

Yang bisa kulakukan hanyalah belajar menerima.

Ikhlas Ternyata Sebuah Proses

Orang sering berkata,

"Sudah, ikhlaskan."

Dulu saya mengira ikhlas berarti berhenti menangis dan melupakan.

Ternyata tidak begitu.

Ikhlas bukan berarti aku harus berhenti merindukan mereka.

Ikhlas juga tidak berarti aku harus melupakan semua kenangan.

Bagiku, ikhlas adalah belajar menerima bahwa mereka telah pergi tanpa harus menghapus cinta yang pernah ada.

Ada hari ketika aku bisa tersenyum mengingat mereka.

Ada juga hari ketika kenangan tertentu masih membuat menangis.

Dan itu tidak apa-apa.

Aku mulai memahami bahwa kesedihan adalah bagian dari proses mencintai seseorang yang telah pergi.

Aku tidak harus memaksakan diri agar segera sembuh.

Aku hanya perlu terus berjalan.

Sekarang Aku Merindukan Mereka dengan Cara Berbeda

Dulu, ketika rindu datang, aku menangis keras.

Sekarang aku lebih sering diam.

Dulu aku banyak bertanya.

Sekarang aku lebih banyak berdoa.

"Ya Allah..."

"Tolong jaga Ayahku."

"Tolong jaga Ibuku."

"Maafkan aku jika selama mereka masih ada, aku belum menjadi anak yang cukup baik."

Air mata terkadang masih jatuh.

Namun sekarang ada sesuatu yang berbeda.

Aku mulai bisa menerima bahwa mereka memang tidak akan kembali.

Aku tidak lagi menunggu suara pintu terbuka.

Tidak lagi berharap mereka tiba-tiba masuk ke rumah.

Aku hanya menyimpan mereka dalam ingatan.

Dan , dalam set

Aku Masih Memiliki Kesempatan

Suatu hari aku berdiri di depan cermin.

Aku melihat diriku sendiri cukup lama.

Kemudian berkata,

"Aku memang belum menjadi anak yang sempurna."

Namun setelah itu aku tersenyum.

"Tapi aku masih memiliki waktu."

Aku masih hidup.

Masih memiliki kesempatan.

Masih bisa berbuat baik.

Masih bisa membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarku.

Saya tidak dapat kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahan.

Tetapi saya dapat membawa pelajaran dari masa lalu untuk menjalani hari ini dengan lebih baik.

Untuk Ayah.

Untuk Ibu.

Untuk semua cinta yang telah mereka berikan padaku.

Aku ingin menjalani kehidupan dengan menjadi manusia yang lebih baik.

Rindu yang Akan Selalu Tinggal

Kehilangan mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.

Begitu pula rindu.

Namun kini aku tidak lagi ingin melawannya.

Aku memilih.

"Ayah..."

"Ibu..."

"Aku masih di sini."

"Masih berusaha."

"Masih belajar."

“Masih menjalani kehidupan yang kalian tinggalkan.”

"Dan masih merindukan kalian."

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan melakukannya

Namun selama masih diberi waktu, saya ingin menggunakannya dengan lebih baik.

Aku ingin lebih banyak mendengar.

Lebih banyak menghargai.

Lebih banyak sayang.

Dan tidak lagi menahan kata-kata baik kepada orang-orang yang masih ada di sisiku.

Karena sekarang aku tahu satu hal.

Kita tidak pernah benar-benar siap kehilangan seseorang yang kita cintai.

Tetapi ketika kehilangan itu datang, kita masih bisa memilih untuk meneruskan cinta yang mereka tinggalkan.

Dan suatu hari nanti, ketika waktuku tiba untuk kembali kepada Tuhan, aku ingin membawa satu keyakinan sederhana:

Aku mungkin tidak sempurna, tapi aku tidak berhenti berusaha menjadi anak yang lebih baik.

Tags

Bagikan Cerita

Ulasan Saya

Pendapat kamu tentang cerita ini0/500
Belum ada ulasan

Daftar Bab