Arwah Syifa Mengungkap Misteri di Balik Kematian Tragisnya

Table of Contents

Tahun Ketika Semua Berubah

Tahun 2019 menjadi awal dari sebuah masa yang tidak pernah terlupakan oleh banyak orang.

Sebuah wabah penyakit datang secara tiba-tiba dan menggemparkan banyak manusia di Indonesia.

Banyak orang merasa ketakutan. Kehidupan yang sebelumnya berjalan bebas berubah secara drastis.

Pekerjaan dihentikan.

Aktivitas masyarakat dibatasi.

Orang-orang harus lebih banyak berada di rumah dan menjaga jarak satu sama lain.

Banyak bisnis yang hancur.

Usaha yang selama bertahun-tahun dibangun tiba-tiba kehilangan penghasilan.

Lapangan pekerjaan semakin sulit ditemukan.

Semua orang merasa takut dan stres karena tidak tahu bagaimana mereka akan menjalani kehidupan di tengah keadaan yang serba tidak pasti.

Hampir setiap waktu terdengar suara ambulans.

Rumah sakit dipenuhi pasien.

Pemeriksaan dan perawatan pun dilakukan dengan berbagai aturan yang membuat sebagian keluarga kesulitan mendampingi anggota keluarganya yang sedang sakit.

Dalam cerita ini, banyak pasien yang datang dengan berbagai keluhan kemudian dinyatakan positif COVID-19 dan harus menjalani perawatan serta isolasi.

Keluarga pasien tidak diperbolehkan mendekat ataupun menyentuh pasien.

Mereka hanya bisa menunggu dari kejauhan dan berharap orang yang mereka cintai mendapatkan pertolongan.

Namun, keadaan tersebut justru menimbulkan banyak ketakutan dan kecurigaan di antara keluarga pasien.

Mereka merasa tidak bisa melihat secara langsung bagaimana kondisi anggota keluarganya selama dirawat.

Tangisan dari Balik Pintu Rumah Sakit

Suatu hari, seorang anak tiba-tiba mengalami kondisi yang sangat buruk.

Tubuhnya kejang-kejang.

Orang tuanya yang berada di luar ruangan langsung panik.

Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan sambil memanggil dokter.

"Dokter... dokter!"

"Tolong anak saya!"

"Anak saya kejang-kejang, Dok!"

"Tolong periksa lebih benar!"

"Anak saya bukan COVID, Dok. Anak saya hanya sakit lambung!"

Ayah dan ibu anak itu menangis sambil memohon kepada dokter.

Namun, dokter dan perawat tetap menjalankan prosedur yang berlaku di rumah sakit tersebut.

Mereka mengenakan pakaian pelindung dan masker berlapis-lapis.

Keluarga pasien merasa tidak puas karena menurut mereka kondisi anaknya tidak mendapatkan penanganan seperti yang mereka harapkan.

Akhirnya, kemarahan membuat keluarga pasien nekat menerobos masuk ke ruangan.

"Awas!"

"Anak kami tidak COVID!"

Sambil membuka masker yang digunakannya, ayah pasien mendorong petugas yang berjaga.

"Cepat, Dok!"

"Anak saya membutuhkan penanganan!"

"Anak saya sudah kejang-kejang!"

"Jangan cuma dilihat!"

Namun dokter langsung marah dan meminta keluarga tersebut keluar dari ruangan.

"Keluar dulu!"

"Jangan dekat-dekat dengan pasien!"

Pintu ruangan kemudian ditutup kembali.

Keluarga pasien akhirnya hanya bisa berdiri di luar sambil menangis dan marah.

Mereka menunggu.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Hingga sekitar dua puluh menit kemudian, dokter dan perawat keluar dari ruangan.

Salah seorang dokter kemudian berkata kepada perawat,

"Suster, tolong siapkan peti."

"Persiapkan dengan rapi dan jangan sampai ada yang menyentuh pasien karena dikhawatirkan bisa menular."

Ayah pasien yang mendengar perkataan tersebut langsung terkejut.

"Dok..."

"Maksudnya apa?"

"Kamu bilang peti?"

"Anak kami kenapa?"

Ayahnya langsung menarik baju dokter dengan penuh emosi.

Dokter kemudian berkata,

"Maaf, Pak, Bu."

"Anak Bapak sudah tiada."

"Tolong ikhlaskan dan ikuti peraturan rumah sakit."

Mendengar anaknya meninggal, kedua orang tua tersebut langsung menangis histeris.

Mereka tidak bisa menerima begitu saja kabar tersebut.

Ayah dan ibu pasien kemudian berusaha masuk untuk melihat kondisi anaknya.

"Awas!"

"Awas, kami orang tuanya!"

"Kami ingin melihat anak kami!"

Ayahnya berteriak dengan suara penuh kemarahan.

Saat selimut yang menutupi tubuh anaknya dibuka, kedua orang tua tersebut terdiam.

Tubuh anaknya terlihat sudah membiru.

Matanya terbuka lebar seperti menahan rasa sakit.

Pada bagian leher juga terlihat bekas suntikan yang tampak membiru.

Pemandangan itu membuat kedua orang tuanya semakin terpukul.

Mereka merasa ada sesuatu yang janggal.

Ayahnya kemudian kembali mencari dokter yang menangani anaknya.

Ia berteriak meminta penjelasan dan keadilan.

Namun ternyata, keluarga tersebut bukan satu-satunya keluarga yang sedang marah dan kecewa.

Keluarga yang Sama-Sama Kehilangan

Di sekitar rumah sakit, terdengar banyak keluarga menangis.

Ada yang memanggil nama anggota keluarganya.

Ada yang terduduk lemas.

Ada pula yang berteriak karena tidak menerima kenyataan bahwa orang yang mereka bawa ke rumah sakit akhirnya meninggal dunia.

Sebagian dari mereka merasa bahwa anggota keluarganya datang dengan keluhan yang mereka anggap biasa.

Namun setelah diperiksa, pasien dinyatakan positif COVID-19 dan harus menjalani perawatan.

Bagi keluarga mereka, keadaan tersebut terasa sangat menyakitkan.

Mereka tidak hanya kehilangan orang yang mereka cintai.

Mereka juga merasa tidak mendapatkan kesempatan untuk mendampingi dan melihat secara langsung kondisi keluarganya selama dirawat.

Dalam cerita ini, muncul pula dugaan dari keluarga-keluarga tersebut mengenai adanya kejanggalan pada kondisi pasien yang meninggal.

Beberapa jenazah terlihat memiliki luka lebam dan mata yang terbuka lebar.

Hal itu membuat sebagian keluarga semakin curiga terhadap proses penanganan yang dilakukan.

Mereka mempertanyakan tindakan yang diberikan kepada pasien.

Mereka juga mempertanyakan berbagai suntikan dan tindakan medis yang mereka dengar dari cerita pasien lain.

Semua itu membuat suasana rumah sakit semakin penuh dengan ketakutan dan pertanyaan.

Banyak orang yang awalnya hanya datang untuk berobat akhirnya harus kehilangan anggota keluarganya.

Dan dari sekian banyak kisah tersebut...

ada satu keluarga yang mengalami kehilangan paling berat.

Keluarga Syifa.

Syifa, Gadis Berusia Lima Belas Tahun

Syifa adalah seorang gadis berusia lima belas tahun.

Awalnya, Syifa hanya mengalami tubuh meriang dan kelelahan.

Keluarganya tidak pernah menyangka bahwa sakit yang terlihat sederhana itu akan membawa Syifa ke rumah sakit.

Namun setelah diperiksa, Syifa dinyatakan positif COVID-19.

Ia kemudian harus menjalani perawatan dan karantina selama satu minggu.

Keluarganya hanya bisa menunggu dari luar.

Mereka berharap Syifa segera sembuh dan kembali pulang.

Namun kenyataan berkata lain.

Belum genap satu minggu menjalani perawatan, Syifa meninggal dunia.

Keluarganya sangat terpukul.

Lebih menyakitkan lagi, ketika mereka melihat kondisi tubuh Syifa, terdapat sejumlah luka dan lebam yang membuat mereka semakin bertanya-tanya.

Mengapa anak mereka yang awalnya hanya meriang dan kelelahan bisa meninggal dalam waktu begitu singkat?

Apa yang sebenarnya terjadi selama Syifa berada di dalam ruangan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui keluarganya.

Ayah dan ibu Syifa tidak pernah benar-benar bisa mengikhlaskan kepergian anak mereka.

Mereka berusaha mencari keadilan.

Mereka ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada Syifa.

Namun luka kehilangan itu ternyata tidak hanya dirasakan oleh ayahnya.

Ibu Syifa mengalami trauma yang sangat dalam.

Sejak kejadian tersebut, ia tidak mau lagi dibawa ke rumah sakit.

Ia takut sesuatu yang sama akan terjadi kepadanya.

Ketika sakit, ia memilih dirawat di rumah menggunakan obat-obatan yang dibelinya sendiri.

Namun sejak ibu Syifa mulai sakit, kejadian-kejadian aneh mulai terjadi di rumah tersebut.

Suara Syifa di Tengah Malam

Awalnya hanya suara anak menangis.

Suara itu terdengar pada malam hari.

Kadang terdengar dari dalam rumah.

Kadang dari halaman.

Kemudian muncul suara seperti seseorang sedang menyapu halaman ketika malam sudah sangat larut.

Tidak hanya itu.

Beberapa anggota keluarga juga mengaku pernah melihat sosok seorang wanita di sekitar rumah Syifa.

Namun keluarga Syifa berusaha berpikir positif.

Mereka menganggap mungkin itu adalah almarhumah Syifa yang sedang merindukan orang tuanya.

Karena itulah mereka berusaha tidak terlalu memikirkannya.

Sampai suatu malam...

kejadian yang jauh lebih aneh terjadi.

Ibu Syifa tiba-tiba kerasukan.

Tubuhnya bergetar.

Kemudian terdengar suara tangisan.

"Huuuhuuu..."

"Huuuhuuu..."

Ayah Syifa yang melihat keadaan istrinya langsung panik.

"Kenapa, Bu?"

"Bu... kenapa?"

Namun ketika perempuan itu berbicara, suara yang keluar bukan lagi suara ibu Syifa.

"Yah..."

Ayah Syifa terdiam.

"Maafin aku, Yah..."

"Aku sudah banyak merepotkan Ayah."

"Aku mau Ayah bahagia..."

"Dan Ibu juga..."

Ayah Syifa mulai menyadari sesuatu.

Ia mengenal suara itu.

Suara tersebut adalah suara anaknya.

"Syifa?"

Air mata ayahnya langsung jatuh.

"Anakku..."

"Syifa..."

"Nak..."

"Kamu datang, Sayang?"

"Ayah kangen kamu, Nak..."

Ayah Syifa kemudian menangis sambil merangkul tubuh istrinya.

"Kamu tidak pernah bikin Ayah dan Ibu repot, Sayang."

"Ayah cuma ingin mencari keadilan buat kamu."

"Ayah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadamu."

Pesan Syifa untuk Ayahnya

Tidak lama kemudian, anggota keluarga lainnya berkumpul karena mendengar suara ayah Syifa yang menangis.

Mereka semua menyaksikan ibu Syifa yang diyakini sedang dirasuki oleh arwah Syifa.

Suara Syifa kembali terdengar.

"Ayah..."

"Sudah, Yah."

"Jangan cari keadilan lagi."

"Syifa sudah tenang."

"Syifa sudah bahagia di sini."

"Biarkan orang yang jahat menanggung semuanya nanti."

Ayah Syifa masih menangis.

Namun suara Syifa terdengar semakin lembut.

"Syifa cuma ingin melihat Ibu sehat."

"Syifa mau sembuhkan Ibu."

"Tolong ya, Yah..."

"Jaga Ibu baik-baik."

"Karena Ibu adalah orang yang paling Syifa sayang."

Kemudian terdengar suara seperti tertawa kecil.

"Ayah juga Syifa sayang."

"Walaupun Ayah sering tidak ada di rumah..."

Ayah Syifa menundukkan kepala.

Tangisnya semakin deras.

"Maafin Ayah, ya, Nak."

"Karena Ayah jarang punya waktu buat kamu."

"Hanya Ibumu yang selalu ada bersamamu."

Suara Syifa kembali menjawab.

"Ayah sibuk buat kebaikan Syifa juga, kan?"

Ayahnya mengusap air mata.

"Iya, Nak."

"Ya sudah..."

"Ayah janji tidak akan mencari keadilan lagi."

"Ayah juga akan menjaga Ibu."

"Tapi Ayah minta satu jawaban dari kamu."

"Boleh?"

Suasana rumah mendadak menjadi sangat sunyi.

"Apa itu, Yah?"

Suara Syifa terdengar seperti biasanya.

Lembut dan sedikit manja.

Ayahnya menarik napas panjang.

"Ayah ingin tahu luka di tubuhmu itu kenapa, Nak."

"Syifa saat itu diapakan oleh dokter?"

"Ayah boleh tahu?"

"Setelah itu Ayah akan ikhlas."

"Ayah tidak akan dendam lagi."

Pengakuan Syifa

Untuk beberapa saat, ibu Syifa terdiam.

Kemudian suara Syifa kembali terdengar.

"Oh, itu, Yah..."

"Syifa disuntik paksa tiga kali."

"Tidak diberi jeda."

"Syifa sempat berontak."

"Tapi perawat langsung memegang leher Syifa dengan kencang."

"Syifa tidak bisa bergerak."

Ayahnya mendengarkan dengan penuh kesedihan.

Suara Syifa terus bercerita.

"Dokter juga menutupi mulut Syifa dengan bantal supaya Syifa tidak berteriak."

"Tapi Syifa masih sakit."

"Syifa masih kejang karena efek suntikan."

"Rasanya sakit sekali, Yah..."

"Syifa sampai refleks menjambak tangan perawat dengan kencang karena tidak kuat menahan rasa sakit."

Ayah Syifa menutup wajahnya.

Air matanya kembali mengalir.

Kemudian suara Syifa melanjutkan.

"Syifa tidak sengaja, kok, Yah."

"Tapi perawat itu disuruh dokter untuk mencabut selang yang ada di hidung Syifa."

"Setelah itu Syifa tidak bisa bernapas lagi."

"Dan akhirnya..."

"Syifa ada di tempat yang nyaman ini."

Semua orang yang mendengar cerita tersebut hanya bisa menangis.

Tidak ada yang mampu berkata-kata.

Mereka membayangkan bagaimana jika mereka sendiri yang berada di posisi Syifa.

Namun anehnya, suara Syifa tidak terdengar penuh kemarahan.

Tidak terdengar seperti seseorang yang ingin membalas dendam.

Justru terdengar tenang.

Seolah-olah Syifa sudah menerima apa yang terjadi kepadanya.

Keikhlasan yang Terlambat

Semua keluarga Syifa menangis setelah mendengar cerita tersebut.

Namun Syifa yang masih begitu muda justru terdengar lebih tenang daripada orang-orang yang masih hidup.

Ia tidak lagi berbicara tentang rasa sakit.

Ia tidak meminta keluarganya membalas dendam.

Ia hanya ingin ibunya sehat.

Ia hanya ingin ayahnya berhenti menyimpan kemarahan.

Hal itu membuat keluarganya merasa malu.

Seorang anak yang masih begitu muda ternyata mampu berdamai dengan keadaan.

Sementara orang-orang dewasa masih terus terjebak dalam kemarahan dan kesedihan.

Ayah Syifa akhirnya tersenyum di tengah air matanya.

"Maafin Ayah, Nak."

"Ayah sudah terlalu lama marah."

"Ayah janji akan menjaga Ibu."

"Ayah akan mencoba mengikhlaskan kamu."

Suara Syifa terdengar semakin lembut.

"Syifa sayang Ayah."

"Syifa juga sayang Ibu."

"Jangan sedih lagi, Yah."

Setelah itu, suasana rumah perlahan kembali tenang.

Keluarga Syifa akhirnya mencoba menerima kenyataan bahwa anak yang sangat mereka cintai telah pergi.

Mereka mengikhlaskan kepergiannya.

Mereka juga berusaha berdamai dengan takdir yang telah merenggut nyawa Syifa.

Sejak malam itu, suara tangisan yang selama ini terdengar di rumah mulai menghilang.

Tidak ada lagi suara anak menangis.

Tidak ada lagi suara sapu di halaman pada tengah malam.

Dan sosok wanita yang sering terlihat di sekitar rumah pun tidak pernah muncul lagi.

Mungkin Syifa akhirnya benar-benar pergi.

Bukan karena ia melupakan keluarganya.

Tetapi karena ia tahu...

orang-orang yang paling ia cintai akhirnya sudah belajar melepaskannya.

Dan untuk pertama kalinya sejak kepergiannya...

Syifa bisa pergi dengan tenang.

Posting Komentar