Namaku Sri Wulandari. Di pundakku, melekat dua peran sekaligus: seorang ibu dan seorang ayah bagi buah hatiku. Takdir mempertemukanku dengan laki-laki tidak bertanggung jawab yang gagal memanusiakan manusia. Namun, aku memilih tegar. Aku harus kuat membesarkan anakku dengan sisa tenaga yang kumiliki, tanpa perlu mengemis belas kasihan dari seseorang yang jelas-jelas abadi dalam ketidakpeduliannya.
Namun, badai seakan tak pernah lelah mengujiku. Di tengah perjuanganku banting tulang menghidupi anak seorang diri, fitnah keji datang menghantam. Aku direndahkan oleh saudara sendiri, hingga akhirnya berujung pada pemecatan dari pekerjaan tempatku menggantungkan hidup selama bertahun-tahun.
Aku harus keluar tanpa membawa secercah pun kesalahan. Mereka yang iri dengan cara kerjaku bersekongkol menjatuhkanku, sementara atasanku memilih percaya pada bisikan-bisikan beracun itu. Aku dipecat secara tidak hormat. Kendati demikian, aku percaya satu hal: di balik kezaliman ini, Tuhan sedang menyiapkan pintu rezeki dan babak kehidupan baru untukku dan anakku.
Tanpa pekerjaan, kepanikan segera melanda. Tabungan menipis, dan persediaan susu anakku di rumah semakin kritis. Apapun jenis pekerjaannya, asal halal, akan kuterjang demi senyum buah hatiku. Aku tidak lagi peduli pada rasa malu atau lelah; yang ada di pikiranku hanya satu: anakku tidak boleh kelaparan.
Secercah harapan palsu datang ketika seorang teman menawariku pekerjaan di kota. Katanya, aku akan bekerja sebagai penyanyi di sebuah restoran besar dengan sistem inap karena jaraknya yang jauh. Demi anak, meski harus pertama kalinya berjauhan dengannya, aku mantap melangkah. Berbekal uang pas-pasan dan kereta ekonomi, aku berangkat seorang diri.
Setibanya di alamat yang ditujukan, aku langsung bertanya kepada sekelompok orang di sana:
"Maaf, Mbak... mau tanya, restoran besar di sekitar sini di sebelah mana ya? Saya mau cari Rini, yang menyuruh saya bekerja di sini. Mbak kenal?"
Salah seorang wanita menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum penuh arti.
"Restoran? Kamu Wulan, ya? Wah, kamu kena prank si Rini! Dasar anak itu. Justru akulah yang mencari orang untuk bekerja di tempatku... tapi bukan restoran, melainkan kafe. Kerjanya jadi LC—menemani tamu bernyanyi dan minum di sini."
Dunia seakan runtuh seketika. Aku terkejut, syok, dan dilanda kebingungan hebat. Aku baru menyadari bahwa aku telah dijebak oleh teman sendiri yang bahkan sudah pindah kerja hanya demi merekrut wanita lain ke tempat ini.
Sebagai seseorang yang seumur hidup tidak pernah menyentuh alkohol, hatiku menjerit menolak. Namun, ketika Mami—pemilik tempat itu—meyakinkanku bahwa pekerjaannya tidak harus minum, melainkan hanya menemani tamu bernyanyi, akupun tak punya pilihan. Kebutuhan perut anakku mendesak. Dengan air mata tertahan, aku mengangguk pasrah.
Hari-hari awal di dunia malam adalah neraka bagiku. Sering kali aku menangis sendirian di dalam kamar mandi. Bertemu dengan berbagai macam karakter laki-laki membuat ketakutan dan kecemasan menjadi menu harian. Jika mendapat tamu yang sopan dan menghargai wanita, aku bersyukur. Namun, jika berhadapan dengan tamu hidung belang, tubuhku mendadak gemetar hebat dan jantungku berdegup kencang.
Di tengah rasa jijik dan ketakutan itu, bayangan anakku yang tengah menunggu susu di rumah menjadi satu-satunya alasan aku bertahan. Aku menelan semua kepahitan ini dengan jiwa yang terpaksa, sembari berdoa agar segera terkumpul cukup uang untuk keluar dari tempat ini.
Setelah lima hari bertahan, Mami memindahkanku ke kafe barunya yang berada di pusat kota. Kafe lamanya tergolong kumuh dan biasanya hanya didatangi sopir atau pekerja kasar. Kali ini, tempatnya jauh lebih mewah dan elegan, didatangi oleh kalangan pengusaha.
Karena aku adalah LC termuda di sana, aku merasa sangat kecil dan tidak percaya diri. Melihat para LC lain yang begitu cantik, modis, dan terbiasa dengan botol-botol minuman asing membuat nyaliku ciut. Aku takut tidak mendapat tamu, tapi aku jauh lebih takut jika dipaksa menenggak minuman beralkohol.
Tiba-tiba, suara Mami membuyarkan lamunanku:
"Wulan... Sini, Neng..."
Jantungku copot. "Hah, aku dipanggil? Jangan-jangan aku langsung dikasih tamu..." batinku panik.
Aku digiring menuju Meja Bar No. 7.
"Bang, ditemenin anak baru Mami, ya..." ujar Mami dengan gaya khasnya.
Aku duduk dengan kikuk di sebelah seorang tamu laki-laki. Dengan suara sekecil angin, aku mencoba membuka percakapan:
"Mmm... A, mau pesan lagu apa?"
Tamu itu hanya menunduk, sibuk dengan layar ponselnya tanpa basa-basi sedikit pun. Merasa canggung dan takut mengganggu, aku memilih diam. Namun beberapa saat kemudian, ia berkata tanpa menoleh:
"Mau pesan makanan apa? Ambil aja. Rokok juga ambil kalau mau." "Emm... terserah Aa aja deh. Nanti gampang saya ambil," jawabku canggung.
Ia kemudian memintaku bernyanyi berdua. Karena aku memang memiliki hobi dan kemampuan bernyanyi, keraguanku sedikit mencair. Di luar dugaan, ia tampak menikmati suaraku. Sikapnya sama sekali tidak melecehkan atau merendahkan martabatku, membuatku merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.
Menjelang kepulanganku ke kos, ia tiba-tiba memanggilku:
"Heh, sini. Makan dulu di depan sana." "Enggak usah, A, sudah capek mau istirahat," tolakku halus. "Ayo buruan makan, biar tidurnya nyenyak."
Karena dipaksa dengan cara yang perhatian, aku akhirnya menuruti ajakannya. Kami makan bersama, diselingi obrolan ringan, sebelum akhirnya aku pulang ke kosan.
Keesokan harinya, sesampainya aku di kafe, Mami langsung menyambutku dengan tergesa-gesa:
"Wulan, cepet masuk! Kamu ditungguin tamu di dalam, dari tadi nyariin kamu!"
Aku terkejut. Padahal jam kerjaku masih lama, dan para LC lain yang sudah berdandan rapi pun tidak dipanggil sepagi itu. Dengan pakaian seadanya tanpa sempat berganti baju, aku melangkah masuk menemui tamu tersebut.
Ternyata, ia adalah pria yang menemaniku semalam.
"Eh... kirain siapa yang nunggu," sapaku sambil tersenyum canggung. "Tumben siang banget, A? Saya izin ganti baju dulu ya..." "Ngapain ganti baju sih? Udah, itu aja bagus," jawabnya dengan nada jutek khasnya. "Memang nemenin jadi LC harus kelihatan seksi dan menor banget, ya?"
Aku terdiam, merasa serba salah. Niatku ingin tampil rapi justru dikomentari. Ia lalu menyuruhku duduk, memesan minuman, dan bernyanyi seperti biasa.
Di malam kedua kebersamaan kami, ia mulai menunjukkan ketertarikan pada privasiku. Merasa suasananya sudah cair, aku menceritakan sebagian besar liku-liku hidupku dan alasan mengapa aku terdampar di tempat ini. Mendengar kisahku, ekspresinya berubah. Ada sorot iba dan simpati di matanya.
"Nanti kenalin aku sama anak kamu ya... Atau kalau enggak, bawa anak kamu ke sini, kita jalan-jalan liburan," ucapnya lembut.
Hatiku bergetar hebat. Dari sekian banyak laki-laki yang kutemui, baru kali ini ada seorang pria asing yang menunjukkan kepedulian tulus kepada anakku—meskipun niat dan tujuannya belum sepenuhnya aku pahami saat itu.
Hari demi hari berlalu, intensitas pertemuan kami semakin tinggi. Kami bertukar nomor ponsel dan sering menghabiskan waktu bersama. Namun, seiring kedekatan itu, sikapnya mulai berubah menjadi protektif—bahkan cenderung posesif.
Ia mulai sering melarangku ini-itu, mulai dari caraku berpakaian hingga caraku melayani tamu lain di tempat kerja. Hal itu membuatku serba salah dan sering kali memicu perdebatan di antara kami. Karena takut terjebak dalam perasaan sendiri (kegeeran), aku pun menuntut kejelasan tentang posisinya di hidupku.
Hingga pada suatu hari, ia jujur mengenai perasaannya. Ia mengaku merasa sangat nyaman dan nyambung denganku. Tanpa diduga, ia mengutarakan niat yang membuatku terperanjat:
"Besok, kamu keluar kerja dari sini," ucapnya dengan tatapan sangat serius.
"Hah? Kenapa?" tanyaku kaget.
"Udah, enggak usah kerja lagi kayak gini. Kamu diam saja di rumah, biar aku yang kerja," ujarnya sambil menggenggam jemariku erat.
"Maksudnya gimana? Aku kan belum punya pekerjaan lain. Kalau aku berhenti, gimana nasib anakku?" protesku di ambang kebingungan dan emosi.
"Besok, bawa aku ke rumahmu. Aku mau minta kamu ke orang tuamu," ucapnya santai. "Hah? Mau ngapain?" "Aku mau melamar kamu. Jadi, enggak usah banyak komen."
Mendengar kata "melamar" dari seorang pria yang baru beberapa hari mengenalku di tempat seperti itu rasanya bagaikan mimpi yang absurd. Awalnya aku ragu, merasa aneh, bahkan takut. Namun, ketulusan dan keyakinan di matanya berhasil meruntuhkan pertahanan hatiku perlahan-lahan.
Di ujung malam yang panjang itu, aku merasa takdir akhirnya tersenyum padaku melalui cara yang paling tak terduga.
Tags
Download Aplikasi
Daftar Bab
Ulasan Saya
—
★★★★★
Belum ada ulasan
Komentar
Posting Komentar