ZMedia Purwodadi

Pesan dari Nomor yang Hilang

Table of Contents

Keharmonisan yang Diuji Takdir

Bagi banyak orang, pasangan suami istri ini adalah lambang dari keharmonisan rumah tangga yang sempurna. Hubungan mereka begitu romantis dan selalu terlihat mesra di setiap keseharian, tanpa pernah sedikit pun terdengar adanya cekcok atau kerenggangan. Kebanyakan pasangan lain sering kali merasa iri dan menjadikan mereka contoh bagaimana hidup rukun dalam sebuah ikatan pernikahan.

Namun, di balik kerukunan itu, takdir ternyata telah menyiapkan cobaan yang sangat berat. Berbekal komitmen dan komunikasi yang luar biasa baik—di mana pun berada, mereka selalu saling mengingatkan dan memberi kabar dengan penuh kasih sayang—kebiasaan saling berkabar lewat chat ini telah menjadi rutinitas wajib setiap hari. Sang suami dikenal sangat bertanggung jawab, sementara sang istri, Reni, selalu setia mendampingi dalam suka maupun duka.

Hingga suatu ketika, cobaan itu datang menghantam. Suami Reni terjatuh sakit hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang memeriksanya datang dengan wajah berat dan berkata dengan penuh kehati-hati:

"Maaf sebelumnya, Bu... Kami sebagai dokter tidak bisa banyak membantu suami Ibu... Saya harap Ibu bisa menerima kenyataan untuk suaminya..."

Reni yang mendengar hal itu merasa bingung dan menolak mengerti.

"Jadi suami saya kenapa, Dok? Suami saya cuma kecapean, kan? Suami saya bukan sakit karena penyakit, kan? Coba tolong jelaskan dengan jelas, Dok!" tanya Reni dengan penuh emosi.

Dokter yang kebingungan akhirnya memilih pergi meninggalkan Reni agar ia sedikit tenang. Tak lama kemudian, seorang perawat datang menghampiri kamar tersebut.

"Permisi, Ibu... Atas nama Ibu Reni, benar, Bu?"

"Iyah betul, saya sus. Kenapa, Sus? Tolong bantu jelaskan, apa yang terjadi kepada suami saya?" tanya Reni dengan mulut bergetar.

Suster yang ikut bersedih lantas menjelaskan bahwa suami Reni mengidap penyakit mematikan dengan sedikit sekali kemungkinan untuk hidup. Jika ada bantuan medis pun, itu hanya mampu memperpanjang umur selama beberapa bulan saja.

Mendengar penjelasan itu, Reni tidak mampu menahan diri. Ia menangis sekencang-kencangnya, merasa tidak percaya bahwa suaminya yang tidak pernah mengecewakannya tega menyembunyikan penyakit separah itu selama bertahun-tahun hanya karena takut istrinya bersedih. Reni meratapi suaminya yang terbaring di kasur rumah sakit, menggenggam erat tangannya, dan merasa gagal menjadi seorang istri karena sama sekali tidak tahu penderitaan yang disembunyikan suaminya.

Hari demi hari berlalu tanpa ada kemajuan. Suaminya tak kunjung sadarkan diri, sementara segala upaya berakhir buntu. Reni akhirnya pasrah, mengikhlaskan, dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Singkat cerita, suaminya akhirnya menghembuskan napas terakhir. Reni yang sangat terpukul hanya bisa mengenang seluruh kebaikan dan kasih sayang yang pernah diberikan suaminya.

Teror Pesan di Hari Ketiga

Memasuki hari ketiga kepergian sang suami, Reni tenggelam dalam rindu yang begitu berat hingga ia kehilangan kewarasannya untuk hidup normal—sering berbicara sendiri dan merasa suaminya masih ada di dekatnya. Untuk mengobati rasa kangen, ia mengambil ponselnya untuk melihat riwayat chat semasa hidup. Ponsel yang biasanya tak pernah lepas dari tangan itu kini terasa hampa.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk:

"Sayang... aku kangen kamu..."

Pesan itu tertulis dari kontak "Husband" (suaminya).

Reni terkejut, gemetar, dan membisu. Ia mengira dirinya sedang berhalusinasi akibat terlalu merindukan suaminya. Namun, saat ia mengecek ulang, pesan itu benar-benar nyata berasal dari nomor suaminya. Reni tidak berani membalas karena setahunya ponsel suaminya telah hilang terjatuh saat suaminya jatuh sakit sebelum dirawat. Bagaimana mungkin di hari ketiga kepergiannya ada pesan masuk dari nomor tersebut?

Keesokan harinya, Reni berusaha berpikir positif dan melupakan kejadian malam itu. Namun, sebuah notifikasi kembali berbunyi:

"Kamu kok gak bales chat aku...? Apa kamu udah gak sayang sama aku...?"

Reni yang ketakutan langsung melemparkan ponselnya ke lantai, terdiam pucat.

"Kenapa pesan chatnya atas nama suamiku lagi? Sebenarnya ada apa ini? Siapa yang kirim pesan kepadaku...?"

Karena tidak masuk akal, Reni lantas menelepon customer service operator seluler untuk mengecek status nomor suaminya yang hilang. Hasilnya mengejutkan: nomor tersebut masih aktif, namun tidak terlacak. Pertanyaan besar pun menghantuinya: Jika nomor itu aktif, di mana ponsel mendiang suaminya berada, dan siapa orang usil yang berani mengirim pesan mengatasnamakan suaminya?

Kecurigaan pada Sang Adik Ipar

Beberapa hari kemudian, teror pesan itu terus berulang setiap pukul 12.00 malam. Isi pesannya bahkan menceritakan hal-hal detail yang hanya diketahui oleh Reni dan mendiang suaminya, membuat Reni sempat ragu dan mengira bahwa yang mengirim pesan benar-benar arwah suaminya.

Di tengah kebingungan itu, keluarga mendiang suaminya datang berkunjung untuk menjenguk dan membawakan makanan. Reni mendadak menaruh curiga pada Rafli, adik kandung mendiang suaminya, karena gerak-geriknya yang mencurigakan dan tatapannya yang seolah sedang mencari sesuatu di rumah tersebut.

"Rafli, kamu kayaknya bolak-balik di depan kamar kakakmu terus... Kamu lagi cari apa?" tanya Reni.

Rafli mendadak pucat dan tampak ketakutan. Sikap itu membuat Reni teringat bahwa sebelum suaminya meninggal, Rafli pernah menunjukkan gelagat menyukai dirinya sebagai kakak ipar. Reni mulai yakin bahwa orang yang selama ini menerornya bukanlah arwah, melainkan Rafli. Namun, Reni masih bingung mengapa Rafli bisa tahu detail privasi rumah tangganya sedalam itu.

Untuk memastikannya, Reni membuat rencana. Ia menyuruh Rafli pergi ke suatu tempat yang cukup jauh dan mengharuskannya bermalam di sana. Reni kemudian menyusul dan ikut menginap di dekat lokasi Rafli untuk memata-matainya, yakin bahwa sang adik ipar akan mengirimkan teror pada jam yang sama.

Kebenaran di Balik Layar Ponsel

Malam pun tiba. Tepat di jam yang sama, pesan misterius itu kembali masuk ke ponsel Reni. Tanpa buang waktu, Reni mendatangi kamar penginapan tempat Rafli berada.

Brakkk! Suara hantaman pintu terdengar keras saat Reni membukanya.

"Owhhh... jadi selama ini yang neror itu kamu, mengatasnamakan suamiku!"

"Maksud kamu apa, dan kenapa kamu tahu semua tentang privasi rumah tanggaku?!" cecar Reni dengan penuh kekesalan.

Rafli yang tertangkap basah tidak bisa mengelak lagi. Dengan wajah malu dan gugup, ia mengaku:

"Maaf, Mbak... Aku ngelakuin ini karena adanya pesan dari kakakku sebelum dia meninggal... Cuman, aku yang malah terbawa suasana, merasa nyaman, dan ingin memiliki Mbak..."

Reni yang murka langsung melayangkan tamparan keras ke pipi adik ipar tersebut.

"Kamu benar-benar bukan manusia! Kamu itu adiknya, kakakmu baru saja meninggal 10 hari yang lalu, kamu diberikan amanat malah mencari kesempatan lain!"

Dengan emosi meluap, Reni merebut ponsel mendiang suaminya dan memeriksa seluruh isi chat yang tersimpan. Ternyata, pesan-pesan tersebut bukanlah teror jahat dari arwah, melainkan pesan terjadwal yang sengaja disiapkan oleh suaminya semasa hidup—termasuk rencana perayaan ulang tahun Reni dan kata-kata perpisahan yang disusun rapi di setiap tanggalnya karena suaminya tahu umurnya tidak akan lama.

Membaca rangkaian pesan terakhir penuh ketulusan itu, Reni merasa sangat terpukul sekaligus bangga. Ia menangis haru menyadari bahwa suaminya pergi bukan karena ketidaksengajaan, melainkan telah menyiapkan semuanya demi menguatkannya. Di akhir kesedihannya, Reni berjanji dalam hati bahwa ia tidak akan pernah membuka hatinya atau mencintai pria lain selain mendiang suaminya tercinta.

Posting Komentar