Lewati ke konten
Beranda Misteri Kehidupan Cinta Legenda Horor & Mistis News Event
Datang nya Tetangga Biangkerok

Datang nya Tetangga Biangkerok

📅 Agustus 14, 2026 Misteri
Mulai Baca
☰ Daftar Isi

    Isi Cerita

    Ilustrasi

     Sri yang tinggal di perumahan hidupnya sangat tenang dan damai. Hidup yang sangat hangat dengan di beri 2 Anak dalam rumah tangganya, ia hidup bahagia damai tanpa masalah. 

    Kehidupan yang penuh dengan canda tawa, kehangatan bahkan kebahagiaan yang tidak terganti oleh uang. Namun itu semua sirna tempat yang nyaman,aman berubah menjadi tempat yang sangat amat tidak nyaman, tempat yang hening berubah menjadi kekacawan. 

    Suara yang tadinya hanya tangisan anak kecil, Berubah menjadi Suara anak anak yang beranjak dewasa dengan Nada yang keras bahkan membuat semua merasa kaget. 
    "  Dasar Anj*ng, Tol*l, Anak gak tau diri "
    Teriakan tetangga baru di pinggir rumah, Kata kata yang tidak enak di dengar bahkan sangat mengganggu kenyamanan. 

    Bab 1: Datang nya badai

    Saat itu ada satu keluaga yang datang ke perumahan kami, membawa barang barang dari mobil yang berhenti di sebelah rumah.
    Saat di lihat, ternyata itu tentangga baru yang pindah ke perumahan. 

    Awal nya kita masih menyapa dan berkenalan, Bahka saya yang sering kali menanya tidak pernah sedikit pun kurang ngajar kepadanya. 

    Masih tegur sapa, bercanda namun hanya sekedar biasa saja. Karena aku yang tidak bisa seperti orang lain yang bisa nimbrung banyak mengbrol dengan siapapun.

    Hanya bisa sekedarnya saja, dan sewajarnya saja. Tentangga baru ku dari awal datang hingga 3 bulan lamanya. Memang sering marah marah terdengar sedang memarahi anaknya, Namun kata kata yang terlontar itu seriNg kali membuat kami para orang tua bingung.

    Bahkan takut, anak anak di rumah mendengar dan mengikuti, Karena kata kata kasar yang terlontar dengan nada yang sangat kencang tegas membuat itu sangat sangat jelas. 


    Bab 2 : Awalnya kita maklumi

    Semakin hari anak tetanggaku yang di bilang banyak sangat sering membuat aku sedikit kesal, Namun pertama nya aku masih menganggap dia anak kecil ya memaklumi segala yang ia lakukan. 

    Mungkin sekali dua kali saya bisa maklumi, tapi semakin hari kok semakin menjadi jadi.
    Dari anak yang kecil sampai anak yang Sudah Sekolah Menengah pertama, Kenapa di perhatikan ko semakin bandel. 

    Bahkan di peringati pun tidak masuk, Malah seolah olah mengejek dan tidak mendengar. Anak yang sudah Masuk di masa Dewasa menurut ku harus nya sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. 

    Tapi semuanya ia anggap jika apa yang ia lakukan itu Benar. Seolah olah orang lain tidak merasa terganggu oleh nya, 

    Yang bermain bola di arah kan ke jendela rumah ku. Menendang Anakku yang sedang main di halaman rumah, Bahkan sempat yang paling parah Masuk kerumah ku dengan membawa Besi yang panjang nya 20 Meter kurang lebihnya. 

    Aku yang setiap harinya sebagai ibu rumah tangga yang selalu di tinggal suami kerja. Hanya di rumah bertiga dengan anak anak saja, Bila ada seseorang masuk otomatis takut dan marah. 

    Karena kaget dan hamir si besi yang ia bawa mau menusuk anak Bayi di rumah tamu Membuat ku sangat marah dan sangat kesal dengan apa yang mereka lakukan.

    Rasanya Kesabaran ku habis , Bahkan sudah merasa tidak bisa di diam kan lagi. Bukan hanya soal bermain tapi bagai mana dia tahu tentang adanya Adab kesopanan. 

    Tahu mana rumah orang lain dan rumah mereka, Aku yang merasa marah akhirnya menegur mereka dan mengadukannya kepada ibunya. 

    Kedua anak ku menangis ketakutan, Karena baru pertama kali.mengalami Orang asing masung yang ingin melukainya. Membuat nya sangat trauma bahkan gemetar, Aku yang langsung menenangkan sambil menelpon suami untuk segera pulag karena aku pun merasa trauma dan kaget. 


    Namun tiba tiba Ibunya marah marah datang Kerumah ku. Bahwa dia tidak terima dengan apa yang aku ucap kan kepada anaknya, Malah seolah olah anaknya itu tidak salah. Aku dan anak anakku menjadi korban Malah seolah olah menjadi Pelaku. 

    Karena merasa Aku sudah tidak mau Samanya dengan orang yang jelas jelas tidak merasa salah. Aku anggap biar kan saja, Dan anggap tidak terjadi kejadian itu kepada aku dan anak anakku. 

    Suami yang sudah marah bahkan gemetar kesal melihat nya benar benar sudah menelan kekesalan itu untuk sekedar Mengalah. 

    Singkat cerita tiba tiba Terjadi lagi.untuk kesekian kalinya, bahkan dengan orang lain pun sama seperti itu orang tua yang bukannya mendidik anaknya dengan baik. Malah menyudutkan orang lain yang jelas tidak salah. 

    Bab 3 Anakku Semakin Trauma 

    Saat kejadian itu Anak ku terus merasa ketakutan, Bahkan bukan berhenti di situ anakku yang main damai bersama teman temanya sering kali di ganggu bahkan sampai ia menakuti anakku menggunakan Sajam Agar anakku pulang tidak lagi main bersama teman temannya. 

    Anak ku yang menangis pulang setiap mainnya hanya ketakutan lari, gemetar seluruh badannya. anakku yang Awalnya main biasa berbaur, akhirnya tidak berani keluar mengurung diri di kamar dan menye diri. 

    Aku sebagai ibu sangat sedih, marah bahkan dendam kepada mereka.  Bukan hanya sakut hati tapi capek batinku sampai mental anak anak ku yang tertekan oleh orang yang tidak punya adab .

     Rumah sendiri yang tadinya aman menjadi tidak aman, Awalnya rumah yang di tinggalkan berapa hari pun tidak pernah kehilangan. Tiba tiba rumah ku ke bobol an Semua barang mainan anakku di ambil oleh maling, lamanya aku hidup di perumahan itu tidak pernah adanya maling yang masuk kerumah. 

    Dan lebih sakitnya maling yang masuk itu adalah anak anak tetanggaku. Yang membuat onar bahkan masalah, rasanya aku sudah muak bahkan benci kepada mereka. 


    Anak yang sudah menjadi korban , Bahkan truma,Kita harus mengalah juga demi kewarasan. Seolah olah keadilan itu tidak ada rasanya malah di telan dengan kepahitan. 

    Bab 4 : Luka yang di Bawa Pergi

    Jiwa yang sudah merasa gila dan rasa sabar yang sudah susah adanya. Membuat aku merasa memutuskan demi kewarasan dan kepulihan trauma anakku. Aku harus meninggalkan rumah yang sangat banyak sekali suka duka bahkan kenangan yang banyak. 

    Dengan berat hati kami sekeluarga harus meninggal kan rumah ternyaman kami cuma untuk sekedar mengalah. Tapi kami bukan kalah dan takut, kami orang tua hanya berjuang demi kebaikan anak anak dan kebahagiaan anak anak. 

    Rumah yang harus aku korbankan Tidak sebanding jika anak ku nanti akan sakit mental karena terus diam di rumah yang dekat dengan tetangga yang tak waras . 

    Sampai kapan pun dendam ini akan aku simpan di dalam isi kepala ku, kejadian yang tidak pernah aku lupakan. sampai mati pun akan ku cari dan akan ku tagih rasa sakit ku.






    LANJUTAN CERITABaca cerita selanjutnya
    Baca Selanjutnya