Lewati ke konten
No Cover

Feni: Di Balik Larangan Orang Tua

0Dibaca 0Bab
Mulai Baca


Sinopsis

Feni tumbuh sebagai anak dari dua orang tua yang bekerja di dunia politik. Kehidupan keluarganya berkecukupan, tetapi pekerjaan kedua orang tuanya membuat mereka harus lebih berhati-hati dalam menjaga keselamatan keluarga.

Berbagai larangan membuat Feni merasa hidupnya tidak bebas. Ia merasa tidak bisa menikmati masa kecil seperti teman-temannya. Sampai suatu hari, perkataan orang lain membuatnya menuduh kedua orang tuanya dengan sesuatu yang belum ia pahami.

Ketika Feni pergi tanpa izin dan kemudian mengalami sebuah kejadian berbahaya, ia akhirnya menyadari alasan di balik semua aturan yang selama ini dianggap sebagai bentuk kekangan.

Hidup yang Tidak Bebas

Feni adalah seorang anak perempuan yang sejak kecil hidup dengan banyak aturan.

Banyak hal yang tidak boleh ia lakukan.

Banyak pula keputusan yang harus mengikuti arahan kedua orang tuanya.

Feni lahir dari keluarga yang berkecukupan. Namun, pekerjaan ayah dan ibunya membuat kehidupan mereka berbeda dari keluarga lainnya.

Kedua orang tuanya bekerja di dunia politik.

Karena pekerjaan tersebut, kehidupan keluarga mereka tidak selalu tenang.

Terkadang ada komentar yang menyakitkan.

Ada orang yang tidak menyukai mereka.

Bahkan sesekali muncul hal-hal yang membuat kedua orang tua Feni merasa perlu meningkatkan kewaspadaan.

Itulah sebabnya Feni sering dibatasi.

Ia tidak selalu diperbolehkan pergi ke tempat yang diinginkannya.

Teman-teman yang ingin ia dekati terkadang juga membuat orang tuanya khawatir.

Bahkan tempat tinggal mereka beberapa kali harus berpindah mengikuti kondisi pekerjaan kedua orang tuanya.

Namun, Feni masih terlalu kecil untuk memahami semua itu.

Baginya, kehidupan terasa berbeda dari anak-anak lain.

Ketika teman-temannya bermain bersama, Feni lebih sering berada di rumah.

Ketika teman-temannya pergi ke berbagai tempat, ia justru mendengar kata-kata yang sama.

"Jangan."

"Tidak boleh."

"Jangan pergi ke sana."

"Beritahu Ayah dan Ibu dulu."

Lama-kelamaan Feni mulai merasa lelah.

Ia merasa kedua orang tuanya terlalu mengatur hidupnya.

Perasaan itu semakin kuat ketika ia mulai mendengar berbagai perkataan dari orang-orang di sekitarnya.

Tanpa benar-benar memahami kebenarannya, perkataan tersebut perlahan tertanam di dalam pikirannya.

Sampai akhirnya, Feni tidak mampu lagi menahan emosinya.

"Ayah dan Ibu Koruptor?"

Suatu hari, Feni mendatangi kedua orang tuanya dengan wajah penuh amarah.

Tanpa berpikir panjang, ia melontarkan kata-kata yang selama ini ia dengar dari orang lain.

"Pantas Ayah dan Ibu selalu melarang Feni dekat dengan teman-teman!"

Kedua orang tuanya langsung terdiam.

Feni melanjutkan,

"Karena Ayah dan Ibu itu koruptor, kan?"

Suasana mendadak sunyi.

Ibu Feni terlihat terkejut.

"Nak, kenapa kamu berkata seperti itu?"

"Ibu tidak pernah mengajarkan perkataan tersebut kepadamu."

Ayahnya kemudian mendekat.

"Dengarkan Ayah, ya."

"Apa yang kamu katakan tadi adalah tuduhan yang serius. Jangan mengatakan sesuatu hanya karena mendengar dari orang lain."

Namun Feni masih dikuasai emosi.

"Aku tahu!"

"Jangan bohongi aku!"

"Katanya pekerjaan Ayah mengambil uang orang lain!"

"Katanya Ibu juga mengambil hak orang miskin!"

Air mata mulai mengalir di wajah Feni.

"Aku malu!"

"Pantas saja kalian selalu melarang aku!"

"Pantas saja aku tidak bisa hidup seperti teman-temanku!"

Setelah berkata demikian, Feni langsung berlari meninggalkan kedua orang tuanya.

"Feni!"

Ayahnya berusaha memanggil.

Namun Feni terus pergi.

Ibunya hanya bisa menangis.

"Bagaimana ini, Yah?"

"Apa yang harus kita lakukan?"

Ayah Feni berusaha menenangkan istrinya.

"Dia masih kecil."

"Suatu hari nanti dia akan memahami bahwa selama ini kita hanya berusaha melindunginya."

Namun, saat itu Feni sudah terlanjur merasa kecewa.

Ia menganggap orang tuanya hanya ingin membatasi kehidupannya.

Sejak saat itu, ia mulai semakin sering mengabaikan nasihat mereka.

Feni Pergi Tanpa Izin

Beberapa waktu kemudian, Feni semakin sulit dinasihati.

Ia mulai merasa bahwa dirinya sudah cukup besar untuk menentukan semuanya sendiri.

Suatu hari, ketika kedua orang tuanya sedang sibuk bekerja, Feni pergi bermain tanpa meminta izin.

Awalnya ia hanya berniat keluar sebentar.

Namun, karena terlalu asyik, ia tidak menyadari waktu telah berlalu.

Ia bahkan pergi lebih jauh dari biasanya.

Sementara itu, kedua orang tuanya mulai mencari keberadaannya.

Tak lama kemudian, ponsel ibu Feni berdering.

"Halo?"

Suara seorang tetangga terdengar tergesa-gesa.

"Bu, maaf. Saya melihat Feni tadi."

Ibu Feni langsung berdiri.

"Feni di mana?"

"Tadi dia terlihat bersama seseorang yang tidak saya kenal. Setelah itu saya tidak melihatnya lagi."

Wajah ibu Feni langsung berubah.

"Ya Allah..."

Ia segera menghubungi suaminya.

Keduanya kemudian berusaha mencari Feni dan meminta bantuan pihak yang berwenang.

Kekhawatiran yang selama ini ingin mereka hindari akhirnya benar-benar terjadi.

Sementara itu, Feni berada jauh dari rumah dan tidak tahu bagaimana keluarganya sedang mencarinya.

Feni Terjebak dalam Situasi Berbahaya

Feni akhirnya berada di sebuah tempat yang tidak dikenalnya.

Ia menyadari bahwa dirinya telah dibawa jauh dari lingkungan yang biasa ia kenal.

Feni mulai ketakutan.

"Aku di mana?"

Ia mencoba mencari jalan keluar.

"Tolong..."

Namun tidak ada yang mendengar.

Seseorang kemudian datang menghampirinya.

"Tenang. Jangan membuat keributan."

Feni mundur dengan wajah penuh ketakutan.

"Aku mau pulang."

Orang tersebut menjelaskan bahwa Feni sedang digunakan untuk menekan keluarganya.

Feni mulai menyadari bahwa situasi yang dihadapinya sangat serius.

Ia menangis sambil teringat pada ayah dan ibunya.

Semua larangan yang selama ini membuatnya kesal tiba-tiba kembali muncul dalam pikirannya.

Jangan pergi sendirian.

Jangan memberi tahu orang asing tentang keluarga.

Jangan keluar tanpa izin.

Saat itulah Feni mulai memahami sesuatu.

Mungkin selama ini orang tuanya tidak bermaksud mengekangnya.

Mereka hanya takut sesuatu terjadi kepadanya.

Feni menyesal.

"Ayah..."

"Ibu..."

"Feni ingin pulang."

Ayah Mencari Feni

Ayah dan ibu Feni terus berusaha mencari keberadaan anak mereka.

Dengan bantuan pihak kepolisian, informasi mengenai lokasi Feni akhirnya berhasil ditemukan.

Ayahnya segera menuju tempat tersebut bersama petugas.

Sesampainya di sana, mereka mencari Feni dengan hati-hati.

Tidak lama kemudian terdengar suara dari sebuah bangunan.

"Ayah!"

Ayah Feni langsung mengenali suara anaknya.

"Feni!"

Ia berusaha mendekat.

"Tenang, Nak. Ayah datang."

Feni menangis lega ketika melihat ayahnya.

Namun, keadaan belum sepenuhnya aman.

Orang yang membawa Feni berusaha mempertahankan dirinya dengan menjadikan Feni sebagai penghalang.

"Jangan mendekat!"

Ibu Feni yang ikut berada di lokasi hanya bisa memohon.

"Tolong jangan sakiti anak kami."

"Kami akan mengikuti proses hukum. Yang penting lepaskan anak kami."

Pihak kepolisian kemudian berusaha menenangkan situasi.

Mereka meminta pelaku menyerah dan melepaskan Feni.

Setelah beberapa saat yang menegangkan, kesempatan akhirnya terbuka.

Petugas berhasil mengamankan Feni dan menangkap pelaku tanpa membuat Feni mengalami cedera serius.

Begitu terbebas, Feni langsung berlari menuju kedua orang tuanya.

Feni Mengerti

Feni memeluk ibunya sambil menangis.

"Ibu..."

"Maafkan Feni."

"Feni salah."

Ibunya memeluknya erat.

"Yang penting kamu selamat, Nak."

Feni kemudian menatap ayahnya.

"Ayah..."

"Maaf."

"Aku sekarang mengerti."

Ayahnya mengusap kepala Feni.

"Mengerti apa?"

"Kenapa selama ini Ayah dan Ibu selalu melarang aku."

"Kenapa aku tidak boleh pergi sembarangan."

"Kenapa aku harus selalu memberi tahu kalian kalau ingin ke mana-mana."

Air mata Feni kembali mengalir.

"Aku kira Ayah dan Ibu tidak percaya sama aku."

"Aku kira Ayah dan Ibu hanya ingin membuat hidupku tidak bebas."

"Ternyata kalian cuma takut kehilangan aku."

Ayahnya memeluk Feni.

"Kami memang ingin kamu bisa menikmati hidup seperti anak-anak lain."

"Tapi kami juga harus memastikan kamu tetap aman."

Feni menundukkan kepala.

Tentang tuduhan yang sebelumnya ia lontarkan, kini ia merasa sangat menyesal.

Ia sadar bahwa mendengar perkataan orang lain tidak berarti dirinya boleh langsung mempercayainya tanpa memahami keadaan sebenarnya.

Sejak hari itu, sikap Feni perlahan berubah.

Ia mulai belajar berdiskusi dengan kedua orang tuanya.

Kalau ada aturan yang tidak ia pahami, ia bertanya.

Kalau ingin pergi, ia meminta izin.

Dan ketika merasa tidak setuju, ia menyampaikan perasaannya tanpa harus marah.

Feni akhirnya memahami bahwa menjadi anak dari orang tua yang sangat sibuk dan berada dalam lingkungan yang penuh perhatian publik memang memiliki tantangan tersendiri.

Namun satu hal yang kini ia yakini:

Tidak semua larangan lahir dari keinginan untuk mengekang.

Terkadang, larangan datang dari rasa takut kehilangan seseorang yang sangat dicintai.

Dan bagi Feni, orang-orang yang paling sering mengatakan "jangan" kepadanya justru adalah orang-orang yang selama ini paling ingin menjaganya.

Tags

Bagikan Cerita

Ulasan Saya

Pendapat kamu tentang cerita ini0/500
Belum ada ulasan

Daftar Bab