Gadis Cantik yang Berubah Menjadi Wewe Gombel

Table of Contents

Gadis Tercantik di Desa

Bertahun-tahun yang lalu, di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, hiduplah seorang gadis bernama Yuni.

Sejak kecil hingga beranjak dewasa, Yuni dikenal sebagai salah satu gadis paling cantik di desanya.

Kecantikannya bahkan sering menjadi bahan pembicaraan warga.

Kulitnya bersih, wajahnya rupawan, rambutnya panjang, dan senyumnya selalu membuat orang yang melihatnya terpana.

Yuni adalah putri semata wayang dari kepala desa.

Karena itu, sejak kecil kehidupannya cukup terjamin.

Apa pun yang dibutuhkan Yuni selalu berusaha dipenuhi oleh kedua orang tuanya.

Ketika beranjak dewasa, kecantikan Yuni semakin menjadi perhatian.

Banyak pemuda datang ke rumah kepala desa.

Ada yang sengaja membawa buah tangan.

Ada yang datang bersama keluarganya.

Bahkan beberapa laki-laki dari desa tetangga pernah datang untuk menyampaikan niat meminang Yuni.

Namun, Yuni justru semakin merasa dirinya istimewa.

Awalnya ia hanya merasa senang karena banyak orang menyukainya.

Lama-kelamaan, perasaan itu berubah menjadi kesombongan.

Ia mulai merasa tidak membutuhkan siapa pun.

“Untuk apa aku terburu-buru menikah?”

“Kalau menikah, nanti aku cuma sibuk mengurus suami dan anak.”

“Belum tentu juga aku mendapatkan laki-laki yang sepadan.”

Ucapan seperti itu sering keluar dari mulut Yuni.

Ibunya beberapa kali menasihati.

“Yuni, cantik itu pemberian Tuhan.”

“Jangan sampai pemberian itu membuat kamu lupa diri.”

Namun, Yuni hanya tertawa.

“Emak terlalu khawatir.”

“Yuni tahu kok menjaga diri.”

Sayangnya, Yuni tidak menyadari bahwa kecantikan yang membuatnya dikagumi perlahan telah membuat hatinya berubah.

Ia mulai menolak laki-laki dengan kasar.

Bukan hanya menolak.

Kadang ia sengaja mempermalukan mereka di depan orang lain.

“Maaf, saya tidak tertarik.”

“Laki-laki seperti kamu bukan selera saya.”

“Coba lihat diri sendiri dulu sebelum datang ke rumah saya.”

Banyak pemuda yang pulang dengan wajah tertunduk.

Beberapa merasa malu.

Sebagian lainnya sakit hati.

Namun, Yuni tidak peduli.

Baginya, selama dirinya masih cantik, ia merasa akan selalu memiliki banyak pilihan.

Ia tidak tahu bahwa kesombongan terkadang menjadi awal dari sebuah penyesalan yang panjang.

Aris yang Pulang Membawa Harapan

Di antara sekian banyak laki-laki yang mengagumi Yuni, ada satu orang yang memiliki perasaan berbeda.

Namanya Aris.

Aris adalah teman masa kecil Yuni.

Mereka tumbuh bersama.

Dulu, ketika masih kecil, Yuni dan Aris sering bermain di halaman rumah.

Mereka berlari bersama.

Bermain bersama.

Bahkan pernah saling berjanji dengan polos bahwa ketika dewasa nanti mereka akan menikah.

Janji itu mungkin hanya dianggap sebagai permainan anak-anak oleh Yuni.

Tetapi bagi Aris, perasaan itu tumbuh semakin besar.

Setelah dewasa, Aris memutuskan pergi ke kota untuk bekerja.

Ia bekerja keras.

Mengumpulkan uang.

Bukan hanya untuk dirinya sendiri.

Diam-diam, Aris memiliki satu tujuan.

Ia ingin pulang dengan keadaan yang lebih baik dan melamar Yuni.

Bertahun-tahun kemudian, Aris akhirnya kembali ke kampung.

Hari kepulangannya terasa begitu membahagiakan.

Ia mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya.

Di tangannya terdapat sebuah bingkisan.

Aris kemudian berjalan menuju rumah Yuni.

Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu.

Tidak lama kemudian, Yuni keluar.

Aris tersenyum.

“Yuni…”

Yuni menatapnya beberapa detik.

“Kamu…”

“Aris, ya?”

Aris tertawa kecil.

“Iya.”

“Kamu tambah cantik saja.”

Namun, bukannya tersenyum, wajah Yuni justru berubah.

“Kamu mau apa ke sini?”

Aris sedikit terkejut.

“Aku cuma mau bertemu kamu.”

“Tidak penting.”

Yuni berbalik.

“Aku sedang sibuk.”

Aris masih berdiri di depan pintu.

“Yun…”

“Aku datang bukan untuk mengganggu.”

“Aku cuma ingin ngobrol.”

Yuni menghela napas.

“Sudahlah, Ris.”

“Pulang saja.”

Aris mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Gadis kecil yang dahulu selalu menunggunya bermain kini berdiri di hadapannya seperti orang asing.

“Memangnya kalau aku datang ke sini, nggak boleh?”

Yuni menjawab dingin.

“Tidak perlu banyak bicara.”

“Pulang.”

Aris menatapnya dengan kecewa.

“Aku dari kecil selalu ada buat kamu.”

“Aku pernah melindungi kamu.”

“Bahkan aku pergi ke kota untuk bekerja karena aku ingin punya masa depan.”

Yuni tertawa kecil.

“Terus?”

Aris terdiam.

“Aku pikir…”

“Kita masih punya janji waktu kecil.”

Yuni langsung tertawa.

“Janji anak kecil?”

“Kamu masih percaya itu?”

Aris menunduk.

Yuni kemudian berkata dengan nada meremehkan.

“Aris, kamu mau kasih aku makan pakai apa?”

“Aku nggak mau hidup susah.”

“Kamu jangan mimpi terlalu tinggi.”

Kata-kata itu menghantam hati Aris.

Ia mengepalkan tangannya.

Namun, ia tidak membalas.

Aris hanya menatap Yuni untuk terakhir kalinya.

“Baik.”

“Aku pergi.”

Sebelum berbalik, Aris berkata,

“Tapi suatu hari nanti kamu akan menyesal.”

Yuni hanya tersenyum sinis.

Ia tidak tahu bahwa kalimat terakhir Aris akan menjadi awal dari sebuah tragedi.

Dendam yang Mengubah Segalanya

Sejak hari itu, Aris berubah.

Ia tidak lagi melihat Yuni sebagai gadis yang dahulu ia cintai.

Perasaan cinta berubah menjadi kebencian.

Harga dirinya terluka.

Setiap kali mengingat perkataan Yuni, emosinya semakin membesar.

“Kenapa dia harus mempermalukanku seperti itu?”

“Apa salahku?”

“Aku cuma ingin menikahinya.”

Aris mulai kehilangan kendali atas pikirannya.

Ia bahkan mulai memikirkan hal yang sangat buruk.

Ia ingin membuat Yuni merasakan penderitaan yang selama ini ia rasakan.

Aris kemudian mengajak dua orang temannya.

Mereka menyusun rencana untuk menghadang Yuni ketika pergi ke kota.

Beberapa hari kemudian, kesempatan itu datang.

Yuni pergi ke kota untuk membeli kain dan perlengkapan jahit.

Ia tidak mengetahui bahwa Aris diam-diam mengikutinya.

Karena terlalu sibuk memilih kain, Yuni tidak menyadari bahwa hari sudah mulai gelap.

Ketika perjalanan pulang semakin sepi, Aris dan kedua temannya menghadangnya.

Yuni terkejut.

“Aris?”

“Apa yang kamu lakukan?”

Aris tidak menjawab.

Yuni mulai merasa takut.

“Jangan macam-macam!”

Namun, semuanya terjadi begitu cepat.

Yuni tidak mampu melawan.

Ia kemudian dibawa ke sebuah gubuk tua yang jauh dari permukiman.

Di tempat itulah hidup Yuni berubah untuk selamanya.

Malam yang Menjadi Awal Kutukan

Ketika Yuni membuka mata, tubuhnya sudah terikat.

Ia berada di dalam sebuah gubuk tua.

Lampunya redup.

Udara terasa lembap.

Tidak ada seorang pun di sekitar selain Aris dan kedua temannya.

Yuni mulai menangis.

“Aris…”

“Tolong lepaskan aku.”

“Aku minta maaf.”

“Aku salah.”

“Aku tidak akan pernah menghina kamu lagi.”

Namun, Aris sudah dikuasai amarah.

“Sekarang kamu baru takut?”

“Dulu waktu menghina aku, kamu nggak pernah berpikir perasaanku.”

Yuni menangis semakin keras.

“Aku minta maaf…”

“Aku benar-benar minta maaf.”

Namun, permintaan maaf itu tidak menghentikan kebencian Aris.

Malam itu, Yuni mengalami kekerasan dan penghinaan yang sangat kejam.

Tidak perlu waktu lama sampai tubuhnya kehilangan tenaga.

Ia hanya bisa menangis dan berharap seseorang datang menyelamatkannya.

Namun, tidak ada seorang pun yang datang.

Setelah itu, Aris meninggalkan Yuni dalam keadaan tidak berdaya.

Sebelum pergi, ia memberikan sesuatu yang membuat keadaan Yuni semakin parah.

Beberapa saat kemudian, tubuh Yuni mulai gemetar.

Napasnya semakin berat.

Pandangan matanya mulai kabur.

“Aris…”

“Tolong…”

Namun, tidak ada jawaban.

Ketiga laki-laki itu telah pergi.

Meninggalkan Yuni sendirian di dalam gubuk tua.

Ia berpikir malam itu akan menjadi akhir hidupnya.

Namun, ternyata bukan.

Malam itu justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Perjanjian dengan Penghuni Kegelapan

Ketika Yuni hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba terdengar suara aneh dari luar gubuk.

Angin yang sebelumnya tenang mendadak berembus kencang.

Daun-daun bergesekan.

Pintu gubuk bergerak sendiri.

Kreeeek…

Yuni membuka matanya.

Di luar gubuk berdiri sebuah bayangan hitam yang sangat besar.

Wujudnya tidak jelas.

Namun, dua mata merah terlihat menatap langsung ke arah Yuni.

Sebuah suara berat terdengar.

“Yuni…”

Yuni ketakutan.

“Siapa kamu?”

“Aku bisa menyelamatkanmu.”

“Tapi ada syaratnya.”

Yuni menggigil.

“Syarat apa?”

“Berikan hidupmu kepadaku.”

“Dan aku akan memberimu kesempatan untuk hidup kembali.”

Yuni hampir tidak mampu berpikir.

Tubuhnya semakin lemah.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Suara itu kembali terdengar.

“Setiap tahun, kau harus membawa gadis-gadis yang memiliki kesombongan seperti dirimu.”

“Ambil mereka.”

“Bawa ke tempatmu.”

“Dan serahkan kehidupan mereka kepadaku.”

Yuni terdiam.

Ia tahu tawaran itu bukanlah sesuatu yang baik.

Namun, ketakutan terhadap kematian membuatnya tidak mampu berpikir panjang.

“Aku setuju…”

Begitu kata itu keluar dari mulut Yuni, angin di dalam gubuk tiba-tiba berputar.

Suara tertawa terdengar dari kejauhan.

Kemudian semuanya menjadi gelap.

Yuni yang Tidak Lagi Sama

Keesokan harinya, warga menemukan gubuk tua itu dalam keadaan kosong.

Tidak ada Yuni.

Tidak ada Aris.

Tidak ada siapa pun.

Keluarga Yuni kemudian melaporkan kehilangan anak mereka.

Berhari-hari pencarian dilakukan.

Namun, Yuni tidak pernah ditemukan.

Orang tuanya hancur.

Mereka tidak tahu bahwa putri mereka telah mengalami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar kehilangan.

Sementara itu, jauh dari desa, Yuni perlahan membuka matanya.

Ia masih hidup.

Namun, dirinya telah berubah.

Tubuhnya menjadi jauh lebih besar.

Wajah yang dahulu cantik berubah menyeramkan.

Rambutnya panjang dan kusut.

Kukunya memanjang.

Kulitnya terlihat pucat.

Dan kecantikan yang dahulu menjadi kebanggaannya telah menghilang.

Yuni berdiri di depan sebuah genangan air.

Ia melihat bayangannya sendiri.

“Aku…”

“Ini aku?”

Yuni menyentuh wajahnya.

Air matanya jatuh.

Namun, kemudian ia tersenyum.

“Aku masih hidup.”

“Kalau begitu…”

“Aku belum selesai.”

Sejak saat itu, Yuni bukan lagi manusia.

Ia menjadi sosok yang hidup di antara dunia manusia dan dunia gaib.

Dan di dalam dirinya tumbuh sebuah dendam.

Bukan hanya kepada Aris.

Tetapi kepada semua orang yang pernah membuatnya merasa bahwa kecantikan adalah segalanya.

Teror di Desa

Tidak lama setelah Yuni menghilang, berbagai kejadian aneh mulai terjadi.

Warga mendengar suara perempuan menangis di malam hari.

Ada yang melihat bayangan besar berjalan di antara pepohonan.

Ada pula yang mengaku mendengar suara anak kecil tertawa di dekat pemakaman.

Namun, kejadian paling mengerikan terjadi ketika seorang warga pulang menjelang magrib.

Dari kejauhan, ia melihat sosok perempuan berdiri di bawah pohon.

Tubuhnya tinggi besar.

Rambut panjang menutupi wajah.

Pakaiannya compang-camping.

Kukunya panjang.

Dan matanya merah menyala.

Warga itu berlari pulang.

“Jangan keluar!”

“Kenapa?”

“Ada sesuatu di luar!”

“Apa?”

“Perempuan besar…”

“Matanya merah!”

“Rambutnya menutupi wajah!”

Sejak malam itu, warga mulai percaya bahwa desa mereka telah didatangi makhluk gaib.

Mereka menyebutnya…

Wewe Gombel.

Para orang tua kemudian melarang anak perempuan keluar rumah menjelang malam.

“Kalau sudah magrib, jangan berkeliaran.”

“Jangan pergi sendirian.”

“Dan jangan pernah menjawab kalau ada yang memanggil namamu dari luar.”

Namun, tidak semua orang percaya.

Salah satunya adalah Lastri.

Lastri adalah adik Aris.

Ia dikenal sebagai gadis yang cantik, rajin, dan pemberani.

Baginya, cerita tentang Wewe Gombel hanyalah takhayul.

“Ah, itu cuma cerita orang kampung.”

“Aku dari kecil tinggal di sini dan baik-baik saja.”

“Kenapa harus takut?”

Ibunya berkali-kali mengingatkan.

“Lastri, jangan keluar kalau sudah malam.”

“Iya, Bu.”

“Tapi jangan cuma iya.”

Lastri hanya tersenyum.

“Tenang saja.”

Namun, suatu malam, Lastri sedang menjahit sendirian di kamar.

Jam sudah cukup larut.

Tiba-tiba…

Tok…

Tok…

Tok…

Lastri berhenti menjahit.

Ia menoleh ke arah jendela.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Lastri kembali menjahit.

Tok…

Tok…

Tok…

Kali ini ketukannya lebih keras.

Lastri mulai merasa tidak nyaman.

“Paling cuma ranting.”

Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju jendela.

Perlahan, ia membuka tirai.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya halaman rumah yang gelap.

Lastri menghela napas.

“Tuh, kan…”

Ia hendak menutup tirai.

Namun tiba-tiba…

TOOOK!

Ketukan keras terdengar tepat di kaca.

Lastri membeku.

Tangannya gemetar.

Ia menatap kaca jendela.

Perlahan, sebuah bayangan besar muncul di balik jendela.

Dua mata merah menatapnya.

Lastri tidak mampu bergerak.

Sosok itu tidak berkata apa-apa.

Hanya tersenyum.

Kemudian…

Lampu kamar Lastri padam.

Lastri Menghilang

Keesokan paginya, rumah Lastri mendadak dipenuhi kepanikan.

“Lastri!”

“Lastri!”

Ibunya membuka pintu kamar.

Kosong.

Tempat tidur masih rapi.

Pakaian Lastri masih ada.

Peralatan menjahitnya masih berada di atas meja.

Namun, Lastri tidak ada.

Yang membuat keluarga semakin curiga adalah jendela kamar dalam keadaan terbuka.

Warga segera membantu melakukan pencarian.

Namun, tidak ada satu pun jejak Lastri.

Ketika mendengar kabar itu, Aris langsung merasa tubuhnya lemas.

Ia teringat Yuni.

“Jangan-jangan…”

“Yuni?”

Aris berdiri.

Ia keluar rumah dan berteriak di tengah malam.

“Yuni!”

“Kalau kamu dengar aku…”

“Keluar!”

“Aku tahu kamu yang mengambil adikku!”

Aris semakin keras berteriak.

“Kalau kamu marah kepadaku, marahlah kepadaku!”

“Jangan sentuh Lastri!”

“Dia tidak punya salah!”

Hening.

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara perempuan tertawa.

“Hahahahahaha…”

Aris membeku.

Suara itu terdengar dari belakangnya.

Namun, ketika ia berbalik…

Tidak ada siapa-siapa.

“Yuni?”

Tawa itu kembali terdengar.

“Hahahahahaha…”

Aris mulai gemetar.

“Yuni!”

“Di mana adikku?”

“Bawa dia kembali!”

Tawa itu berhenti.

Suasana mendadak sunyi.

Angin pun seakan berhenti bertiup.

Aris menatap ke segala arah.

Kemudian…

Brukkk!

Sesuatu jatuh dari atas pohon.

Sebuah bungkusan kain putih jatuh tepat beberapa meter di depan Aris.

Bau busuk langsung memenuhi udara.

Aris perlahan mendekat.

Tangannya gemetar saat membuka kain tersebut.

Dan ketika kain itu terbuka…

Aris langsung jatuh terduduk.

Di dalamnya terdapat tubuh Lastri.

Tubuhnya telah berubah sangat mengerikan.

Wajahnya sulit dikenali.

Aris menutup mulutnya.

“Lastri…”

Air matanya langsung jatuh.

“Tidak…”

“Tidak mungkin…”

Ia memeluk tubuh adiknya sambil menangis.

Saat itulah terdengar suara Yuni dari kejauhan.

“Sekarang…”

“Kamu sudah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kamu cintai.”

Aris menatap kegelapan.

“Yuni…”

“Maafkan aku…”

Namun, suara Yuni hanya terdengar semakin jauh.

“Penyesalanmu…”

“Tidak akan menghidupkan mereka kembali.”

Sejak malam itu, Aris berubah menjadi manusia yang dihantui rasa bersalah.

Ia sadar bahwa semua kejadian mengerikan tersebut bermula dari kebenciannya sendiri.

Ia ingin menghukum Yuni.

Namun, tanpa disadarinya, ia justru telah membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Dan sejak saat itu, warga desa percaya bahwa setiap tahun, menjelang malam tertentu, Wewe Gombel akan kembali.

Mencari gadis berikutnya.

Mencari korban berikutnya.

Dan mencari mereka yang memiliki kesombongan yang sama seperti Yuni dahulu.

Sementara di tengah hutan yang gelap, sebuah sosok perempuan bertubuh besar berdiri di antara pepohonan.

Rambutnya menutupi wajah.

Matanya merah.

Dan di bibirnya tersungging senyum tipis.

Yuni masih ada.

Dan kutukannya belum berakhir.

Posting Komentar