Gamelan Gaib di Gunung Salak
Larangan Sebelum Mendaki
Tahun 2005, lima orang pendaki dari sebuah kota di Jawa Barat memutuskan untuk mencoba mendaki Gunung Salak.
Bagi mereka, perjalanan itu seharusnya menjadi pengalaman pertama sekaligus kesempatan untuk menghabiskan malam bersama di tengah alam. Mereka datang tanpa mengetahui banyak hal tentang Gunung Salak, termasuk berbagai cerita mistis yang selama bertahun-tahun beredar di kalangan pendaki.
Mereka tiba pada hari Kamis.
Malam harinya bertepatan dengan malam Jumat, waktu yang oleh sebagian masyarakat sekitar dianggap sebagai salah satu malam yang cukup sakral.
Sebelum memasuki jalur pendakian, kelima orang tersebut sempat mendapat beberapa pesan dari penjaga kawasan.
Ada beberapa aturan yang harus mereka patuhi.
Mereka tidak diperbolehkan membawa minuman beralkohol. Tidak boleh membawa pasangan yang bukan suami atau istri. Tidak boleh berbicara sompral, menghina, atau menantang sesuatu yang tidak terlihat.
Dan satu lagi yang paling ditekankan.
Mereka dilarang mengambil apa pun yang tumbuh di sepanjang gunung.
Buah, sayuran, tanaman, bahkan sesuatu yang terlihat sepele sekalipun.
Kelima pendaki itu mengangguk dan menyanggupi semua aturan tersebut.
Namun, dari kelimanya ada satu orang yang sejak awal justru menganggap semua peringatan itu sebagai sesuatu yang berlebihan.
Namanya Dimas.
Dimas memang dikenal sebagai orang yang tidak mudah percaya dengan cerita mistis.
Menurutnya, sebagian besar cerita tentang makhluk gaib hanyalah cerita yang dibesar-besarkan oleh masyarakat.
Ketika salah satu penjaga kembali mengingatkan agar mereka tidak berbicara sembarangan selama berada di gunung, Dimas bahkan sempat tertawa kecil.
"Tenang aja, Pak. Kita cuma camping. Bukan mau bikin masalah."
Salah satu temannya langsung menegur.
"Jangan ngomong begitu, Dim. Kita ikutin aja aturan yang ada."
Dimas hanya mengangkat tangan.
"Iya, iya. Gue ngerti."
Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Suara dari Bawah Gunung
Hari semakin gelap ketika kelima pendaki itu mulai memasuki jalur yang lebih sepi. Cahaya matahari perlahan menghilang di balik pepohonan. Suara burung dan serangga hutan mulai mendominasi suasana.
Karena sudah terlalu malam, mereka akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 3 Gunung Salak melalui jalur Cijeruk.
Setelah menemukan tempat yang dianggap cukup aman, mereka mulai memasang tenda.
Kayu-kayu kering dikumpulkan.
Api unggun dinyalakan.
Malam itu awalnya berjalan biasa saja.
Kelima orang tersebut duduk mengelilingi api sambil bercanda dan membicarakan perjalanan mereka.
Sampai tiba-tiba...
"Ting..."
"Tung..."
"Ting... tung..."
Semua percakapan langsung terhenti.
Dimas mengangkat kepalanya.
"Apa itu?"
Mereka saling memandang.
Beberapa detik kemudian suara itu terdengar lagi.
"Ting... tung... ting... tung..."
Gamelan.
Suara gamelan terdengar dari arah bawah gunung.
Awalnya samar.
Namun beberapa saat kemudian suaranya justru semakin jelas.
Bukan hanya gamelan.
Mereka mulai mendengar suara orang berbicara.
Tawa.
Suara pedagang.
Bahkan terdengar seperti ada pertunjukan dangdut yang sedang berlangsung.
"Ayo singgah dulu..."
"Satenya masih anget!"
"Mas, sini dulu..."
"Jangan lupa lihat dangdutan!"
Kelima pendaki itu terdiam.
Mereka mencoba memastikan apakah suara tersebut benar-benar berasal dari sebuah perkampungan.
Dimas justru terlihat paling penasaran.
Dia berdiri dan mengambil senter.
"Woy, sini kalian!"
Teman-temannya mendekat.
"Dengar, kan? Di bawah kayaknya ada kampung. Rame banget."
Salah satu temannya langsung membuka peta.
Dia memperhatikan lokasi mereka.
Kemudian wajahnya berubah.
"Dim..."
"Apa?"
"Di bawah sini nggak ada kampung."
Dimas tertawa.
"Ya mungkin petanya nggak lengkap."
"Enggak mungkin."
Temannya menunjuk peta.
"Kalau lihat jalurnya, di bawah sana cuma hutan sama tebing."
Dimas tidak peduli.
Suara gamelan kembali terdengar.
Kali ini jauh lebih jelas.
"Ting... tung... ting... tung..."
Dimas semakin yakin ada keramaian di bawah.
"Woy, gue turun sebentar."
"Jangan!"
Temannya langsung menahan.
"Jangan turun, Dim."
"Kenapa?"
"Lu sadar nggak? Di bawah itu tebing. Jangan sampai lu tersesat."
Dimas melepaskan tangannya.
"Tenang aja. Gue cuma lihat sebentar."
Dia kemudian berjalan menuruni jalur.
Keempat temannya hanya bisa melihat dari atas.
"Dimas! Jangan jauh-jauh!"
Dimas tidak menjawab.
Pasar Malam yang Tidak Pernah Ada
Semakin jauh dia berjalan, suara gamelan semakin jelas.
Anehnya, semakin dekat dengan sumber suara, suasana hutan justru semakin sunyi.
Dimas terus turun.
Sekitar dua ratus meter dari tempat camping, suara teman-temannya sudah tidak terdengar lagi.
Namun suara keramaian di depannya semakin jelas.
Suara orang tertawa.
Suara pedagang menawarkan makanan.
Suara musik.
Dan yang paling aneh...
Bau sate yang sedang dibakar.
Dimas berhenti.
Dia mengendus udara.
"Wah..."
Perutnya yang sejak tadi lapar seakan langsung merespons aroma tersebut.
Tidak lama kemudian, di balik pepohonan, Dimas melihat cahaya.
Banyak sekali cahaya.
Lampu-lampu kecil seperti lampu minyak terlihat menerangi sebuah tempat yang ramai.
Dimas semakin mempercepat langkah.
Ketika keluar dari balik pepohonan, dia terdiam.
Di depannya terlihat seperti sebuah pasar malam.
Ada pedagang makanan.
Ada orang yang sedang makan.
Ada pembeli yang berlalu-lalang.
Ada lampu-lampu tempel.
Dan di tengah keramaian itu terdengar suara sinden menyanyikan lagu tradisional.
Dimas tersenyum.
"Kan bener..."
Dia mulai merasa lega.
Dalam pikirannya, mungkin memang ada perkampungan yang tidak tercantum di peta.
Dimas berjalan mendekati salah satu pedagang minuman.
"Permisi, Pak..."
Tidak ada jawaban.
Dimas mengira suara musik terlalu keras.
Dia kembali memanggil.
"Pak... beli minum."
Pedagang itu tetap diam.
Dimas mendekat.
"Pak?"
Tidak ada reaksi.
Akhirnya Dimas mengulurkan tangannya dan mencoba menyentuh bahu pedagang tersebut.
Namun...
Tangannya tidak menyentuh apa pun.
Dimas terdiam.
Pedagang itu tiba-tiba tidak ada.
Keramaian yang tadi memenuhi tempat tersebut juga menghilang.
Dimas mengarahkan senter ke sekeliling.
Cahaya senter menyapu pepohonan.
Satu per satu.
Tidak ada manusia.
Tidak ada warung.
Tidak ada lampu.
Tidak ada panggung.
Tidak ada pembeli.
Tidak ada pedagang.
Tidak ada apa-apa.
Hanya pepohonan yang berdiri rapat dan beberapa batu besar di tanah.
Dimas mulai gemetar.
"Ini..."
Perempuan Pembawa Bunga Tujuh Rupa
Dimas mundur perlahan.
Namun suara gamelan masih terdengar.
Bukan lagi dari kejauhan.
Suara itu seperti berputar di dalam kepalanya.
"Ting..."
"Tung..."
"Ting..."
"Tung..."
Dimas menutup kedua telinganya.
"Berhenti..."
Namun suara itu tidak berhenti.
Bahkan semakin keras.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba...
Tep!
Sesuatu menepuk pundaknya.
Dimas membeku.
Napasnya tertahan.
Perlahan dia menoleh.
Di belakangnya berdiri seorang perempuan tua.
Rambutnya putih panjang dan menjuntai hingga menutupi sebagian wajah.
Tubuhnya kurus.
Di tangannya terdapat sebuah nampan.
Di atas nampan itu tersusun bunga tujuh rupa.
Dimas tidak mampu bergerak.
Perempuan tua itu tersenyum.
Kemudian bertanya dengan suara pelan.
"Mas... sedang mencari apa?"
Dimas menatap wajahnya.
Senyum perempuan itu semakin lebar.
Dan saat itulah Dimas melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya terasa lemas.
Gigi perempuan tua itu terlihat runcing.
Di sela-selanya terdapat cairan merah seperti darah.
Dimas langsung mundur.
Perempuan itu tetap tersenyum.
"Mas..."
Dimas berteriak.
"AAAAAA!"
Dia berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Tidak lagi peduli dengan jalur.
Tidak peduli dengan batu.
Tidak peduli dengan ranting yang menghantam tubuhnya.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Kembali ke tenda.
Di belakangnya, suara gamelan masih terdengar.
"Ting... tung..."
"Ting... tung..."
Dimas terus berlari.
Namun karena panik, kakinya tersandung akar pohon.
Tubuhnya terjatuh keras.
Kepalanya terbentur.
Setelah itu semuanya menjadi gelap.
Dimas Ditemukan
Di atas Pos 3, keempat temannya mulai panik.
Sudah cukup lama Dimas pergi.
Mereka mencoba memanggil namanya berkali-kali.
"Dimas!"
Tidak ada jawaban.
"Dimas! Balik!"
Tetap tidak ada jawaban.
Sampai akhirnya mereka mendengar suara seperti seseorang sedang berlari dari arah bawah.
Mereka mengambil senter.
Cahaya diarahkan ke jalur.
Beberapa saat kemudian terlihat tubuh Dimas tergeletak di antara pepohonan.
Mereka langsung berlari menghampirinya.
"Dimas!"
Tubuh Dimas ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya dingin.
Namun yang membuat teman-temannya semakin ketakutan adalah kondisi Dimas yang seperti orang kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Mereka membawa Dimas kembali.
Setelah berhasil turun dari gunung, Dimas langsung dibawa ke rumah sakit.
Pemeriksaan dilakukan.
Dokter tidak menemukan penyakit serius atau luka yang dapat menjelaskan kondisinya.
Namun Dimas tetap tidak sadarkan diri.
Hari berganti.
Minggu berganti.
Hingga hampir satu bulan lamanya Dimas berada dalam kondisi seperti orang tidur.
Tidak ada penyakit yang ditemukan.
Tidak ada gangguan fisik yang jelas.
Pesan Setelah Sadar
Namun ketika akhirnya Dimas sadar, dia hanya mengatakan satu hal kepada teman-temannya.
"Jangan pernah kembali ke tempat itu."
Sejak kejadian tersebut, keempat temannya tidak pernah lagi menganggap remeh cerita tentang larangan dan pantangan di Gunung Salak.
Mereka percaya bahwa malam itu Dimas memang melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat manusia.
Sesuatu yang menyerupai sebuah perkampungan.
Sebuah keramaian.
Dengan gamelan, pedagang, makanan, dan manusia yang ternyata tidak pernah ada.
Dan hingga bertahun-tahun kemudian, masih ada satu pertanyaan yang tidak pernah bisa mereka jawab.
Jika tempat itu memang tidak pernah ada, lalu siapa yang menepuk pundak Dimas malam itu?

Posting Komentar