Jembatan Besi dan Sosok Tanpa Kepala
Awal Kejadian
“Aku kira itu ibu-ibu lagi duduk...”
“Pas aku sorot lampu motor, kok gak ada kepalanya....”
Hari Minggu, awal kejadian itu bermula. Ada seorang pegawai pabrik bernama Dicky yang bekerja hingga larut malam karena sering mendapatkan lembur. Dicky adalah anak pendatang yang datang ke kota untuk mencari rezeki dan bekerja di perantauan.
Niatnya datang jauh-jauh dari kampung adalah untuk membantu perekonomian orang tuanya. Setiap hari Dicky harus pulang pergi dari tempat kerjanya menuju kos yang jaraknya cukup jauh.
Dicky tinggal di sebuah kos yang menurutnya merupakan tempat paling dekat dibandingkan dengan kos teman-temannya yang lain. Namun, akses jalan menuju kos tersebut bukanlah jalan yang mudah untuk dilalui.
Jalan menuju tempat tinggalnya membutuhkan tenaga, keberanian, bahkan mental yang cukup kuat. Bukan hanya jalannya yang rusak dan dipenuhi batu, tetapi jalan tersebut juga melewati semak-semak belukar yang benar-benar terlihat seperti hutan.
Jalan Pulang yang Sepi dan Menyeramkan
Bukan hanya itu. Setiap hari Dicky juga harus melewati sebuah jembatan besi yang sudah sangat tua, rapuh, dan sedikit menyeramkan.
Besi-besi jembatan tersebut sudah terlihat tua dan keropos. Setiap kali melewatinya, ban motor harus benar-benar berhati-hati agar tidak mengalami masalah.
Dicky selalu memperlambat laju motornya ketika mendekati jembatan tersebut. Ia harus memastikan terlebih dahulu apakah kondisi besi jembatan masih aman untuk dilewati atau tidak.
Jembatan itu juga terkenal sangat sepi. Jarang sekali ada kendaraan yang melintas, terutama ketika malam sudah semakin larut.
Suasana yang sepi, semak belukar di sekitar jalan, serta jembatan tua yang penerangannya sangat minim membuat jalur tersebut semakin terasa mistis dan menyeramkan.
Namun bagi Dicky, hanya jalan itulah yang dianggap paling dekat untuk menuju kosnya.
Pilihan yang Dianggap Paling Hemat
Menurut Dicky, sebagai anak rantau, lebih baik melewati jalur yang menakutkan daripada harus mengambil jalan yang jauh dan menghabiskan banyak bensin.
Ia merasa bahwa melewati jembatan besi dapat menghemat pengeluaran. Jika menggunakan jalan yang lebih bagus dan ramai, Dicky harus memutar cukup jauh.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, menghemat bensin menjadi hal yang cukup penting baginya.
Mau tidak mau, setiap hari dan setiap malam Dicky tetap melewati jalur tersebut meskipun sebenarnya ia sering merasa takut.
Selama dua minggu melewati jembatan besi itu, semuanya berjalan baik-baik saja. Tidak pernah sekalipun Dicky melihat sesuatu yang aneh atau mengalami kejadian yang membuatnya benar-benar curiga.
Karena itulah Dicky semakin terbiasa menggunakan jalur tersebut.
Beberapa rekannya sebenarnya sudah sering memperingatkan Dicky agar tidak melewati jembatan itu pada malam hari. Namun Dicky tidak pernah merasa terlalu takut.
Baginya, jalur tersebut tetap menjadi pilihan paling hemat untuk pulang.
Malam yang Berbeda
Biasanya Dicky pulang sekitar pukul 20.30 malam. Namun malam itu berbeda.
Karena adanya keterlambatan pekerjaan dan lembur, Dicky baru selesai bekerja sekitar pukul 23.30 malam.
Waktu pulang yang semakin larut membuat Dicky mulai memikirkan jalan mana yang akan ia lewati.
Di satu sisi, ia tahu bahwa jalan melewati jembatan besi lebih dekat. Namun di sisi lain, suasana malam itu membuat perasaannya sedikit tidak nyaman.
Dicky masih berpikir sambil melamun ketika beberapa temannya menghampirinya.
“Hei, Dicky, ayo pulang. Bareng kita. Kita lewat jalan kota.”
“Sekarang malam banget. Jangan lewat jembatan besi, bahaya, tau...”
“Banyak kejadian di situ. Mending kamu sekali ini lewat jalan yang sama bareng kita.”
Teman-teman Dicky berusaha memberikan saran.
Namun Dicky tetap merasa yakin untuk pulang melalui jembatan besi. Ia menolak ajakan teman-temannya dan memilih menggunakan jalur yang selama ini dianggapnya paling dekat.
Perjalanan Menuju Jembatan Besi
Akhirnya Dicky berangkat pulang menuju jembatan besi.
Sepanjang perjalanan, angin malam terasa lebih kencang dari biasanya. Udara yang menerpa tubuhnya terasa dingin dan membuat suasana semakin tidak nyaman.
Dicky mulai merasa sedikit takut dan canggung dengan suasana yang berbeda malam itu.
Namun ia berusaha tetap tenang sambil mengendarai motornya.
Ketika jaraknya tinggal sekitar satu meter dari jembatan besi, Dicky mulai memperlambat kecepatan motornya.
Ia menyorotkan lampu motor ke arah jembatan untuk memastikan tidak ada kendaraan lain yang melintas dan memastikan kondisi besi jembatan masih aman.
Namun saat itulah sesuatu terlihat di ujung jembatan.
Sosok di Penghujung Jembatan
Di penghujung jembatan besi terlihat seseorang sedang duduk.
Dicky sedikit terkejut. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri.
Karena orang tersebut duduk tepat di jalur yang akan dilewatinya, Dicky tidak bisa langsung meneruskan perjalanan.
Ia kemudian mencoba membunyikan klakson agar orang tersebut menyingkir sebentar.
“Tin... tin... tin... tin...”
Dicky kemudian sedikit berteriak.
“Pak, maaf ya. Saya mau lewat. Mundur sebentar ya, Pak.”
Namun orang yang duduk di sana tidak bergerak sedikit pun.
Tidak ada jawaban.
Dicky kembali membunyikan klakson.
“Tin... tin...”
Tetapi tetap tidak ada respons.
Dicky mulai berpikir.
“Apa orang itu ketiduran di jembatan? Sampai tidak mendengar suara klakson dan omonganku?”
Karena penasaran, Dicky akhirnya memutuskan untuk mendekati orang tersebut.
Motor tidak mungkin melewati orang yang duduk di tengah jalan. Terpaksa Dicky turun dari motornya dan berjalan kaki menuju penghujung jembatan.
Mencoba Membangunkan Sosok Misterius
Setelah sampai di dekat orang tersebut, Dicky mencoba membangunkannya.
“Pak... Pak... maaf mengganggu. Bisa pindah dulu sebentar saja, Pak? Saya mau lewat. Kalau saya sudah lewat, boleh deh Bapak duduk di sini lagi.”
Sambil berbicara, Dicky mencoba menyentuh bagian punggung orang tersebut.
Namun tidak ada pergerakan sedikit pun.
Orang itu tetap diam dalam posisi sedikit membungkuk dan seperti sedang melihat ke bawah.
Dicky semakin bingung.
Ia kembali mencoba meminta tolong dan memanggil orang tersebut.
“Pak... Pak...”
Tetap tidak ada jawaban.
Dicky kemudian berpikir mungkin orang tersebut sedang kelelahan setelah bekerja mencari barang bekas.
Karena merasa tidak ingin mengganggu, Dicky akhirnya berniat kembali ke motornya dan memilih untuk putar balik.
Suara dari Belakang
Saat Dicky hendak membalikkan badan, tiba-tiba angin kencang berhembus.
Suara air yang berjatuhan terdengar semakin jelas.
Suara jangkrik juga terdengar ramai di tengah kesunyian malam.
Kemudian terdengar sebuah suara dari belakangnya.
“Mas... jangan balik lagi...”
Dicky terdiam.
Suara itu kembali terdengar.
“Biar aku saja yang balik lagi...”
Dicky berpikir orang tersebut akhirnya sudah bangun.
Ia kemudian berniat menoleh ke belakang untuk mengucapkan terima kasih.
“Oh, ternyata sudah bangun...”
Namun ketika Dicky membalikkan badannya...
Kebenaran yang Membuat Dicky Ketakutan
Dicky seketika terkejut.
Sosok yang sejak tadi duduk di ujung jembatan itu ternyata bukan manusia seperti yang ia kira.
Saat membuka bagian atas bajunya, Dicky melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya terasa lemas.
Sosok itu tidak memiliki kepala.
Dicky sangat ketakutan.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung berlari kembali menuju motornya.
Ia segera menyalakan motor dan memilih untuk putar balik.
Malam itu Dicky rela mengambil jalan yang jauh dan menghabiskan lebih banyak bensin daripada harus kembali melewati jembatan besi tersebut.
Kapok Melewati Jembatan Besi
Sejak kejadian tersebut, Dicky benar-benar kapok.
Ia tidak pernah lagi mau melewati jembatan besi itu pada malam hari, meskipun jalurnya lebih cepat dan lebih hemat.
Jalan yang dahulu dianggap sebagai jalan pintas kini justru menjadi jalan yang paling ingin ia hindari.
Dicky akhirnya menyadari bahwa tidak semua jalan yang terlihat paling dekat harus dipilih.
Ada kalanya keselamatan jauh lebih penting daripada menghemat waktu, jarak, ataupun bensin.
Dan sejak malam itu, setiap kali melihat jembatan besi tersebut dari kejauhan, Dicky selalu teringat pada sosok yang pernah ia kira hanya seorang ibu-ibu yang sedang duduk di penghujung jalan.
Karena ternyata, ketika lampu motor menyorot tubuhnya...
yang terlihat bukanlah wajah.
Melainkan tubuh tanpa kepala.

Posting Komentar