Sinopsis
Dicky adalah seorang pekerja pabrik yang merantau ke kota demi membantu perekonomian keluarganya. Karena jarak antara tempat kerja dan kos cukup jauh, ia memilih sebuah jalur pintas yang melewati jembatan besi tua di tengah kawasan yang sepi.
Selama hampir dua minggu, perjalanan itu berjalan biasa saja. Dicky tidak pernah mengalami kejadian aneh meskipun beberapa teman telah mengingatkannya agar tidak melewati jembatan tersebut pada malam hari.
Sampai suatu malam, Dicky pulang jauh lebih larut karena lembur. Saat tiba di jembatan, ia melihat seseorang duduk di penghujung jalan. Ia mengira orang tersebut sedang beristirahat dan mencoba meminta izin untuk lewat.
Namun, ketika sosok itu akhirnya berbicara dan Dicky menoleh kembali, apa yang dilihatnya membuat pemuda tersebut langsung meninggalkan jalur itu.
Sejak kejadian tersebut, Dicky tidak pernah lagi melewati jembatan besi itu pada malam hari.
Awal Kejadian
"Aku kira itu ibu-ibu lagi duduk..."
"Pas aku sorot lampu motor, kok jadi kelihatan aneh?"
Begitulah awal cerita yang dialami seorang pegawai pabrik bernama Dicky.
Dicky merupakan anak rantau yang datang ke kota untuk bekerja. Tujuannya sederhana: mendapatkan penghasilan sekaligus membantu orang tuanya di kampung.
Setiap hari ia harus pulang dari tempat kerja menuju kos yang cukup jauh.
Dicky memilih kos yang menurutnya paling dekat dengan tempat kerja.
Namun, ada konsekuensinya.
Jalur menuju kos bukanlah jalan yang mudah.
Sebagian jalan masih dipenuhi batu dan permukaannya tidak terlalu baik. Di sepanjang perjalanan juga terdapat semak belukar yang membuat suasana semakin sepi, terutama ketika malam.
Bagi Dicky, jalur tersebut tetap menjadi pilihan karena lebih dekat dibandingkan jalan utama.
Jembatan Besi yang Sepi
Di tengah perjalanan, terdapat sebuah jembatan besi tua.
Jembatan itu sudah terlihat lama.
Beberapa bagian besinya mulai berubah warna dan kondisinya tidak lagi terlihat seperti jembatan baru.
Karena itu, Dicky selalu memperlambat motornya ketika hendak melewatinya.
Ia memastikan jalur di depannya benar-benar aman.
Pada malam hari, keadaan menjadi jauh lebih sepi.
Jarang ada kendaraan yang melintas.
Penerangannya pun sangat minim.
Semak belukar di sekitar jalan membuat suasana terasa semakin sunyi.
Meski demikian, Dicky tetap melewati jembatan tersebut hampir setiap hari.
Bukan karena berani.
Ia hanya merasa jalur itu paling praktis.
Pilihan Paling Hemat
Sebagai perantau, Dicky harus mengatur pengeluaran dengan hati-hati.
Kalau menggunakan jalan utama, ia harus memutar cukup jauh.
Itu berarti waktu perjalanan lebih lama dan bensin lebih banyak.
Karena itu, Dicky memilih jalan pintas melewati jembatan besi.
Beberapa teman kerjanya sebenarnya telah mengingatkan.
"Jangan lewat situ malam-malam."
"Kalau pulang larut, mending lewat jalan kota."
Namun Dicky menganggap kekhawatiran mereka berlebihan.
Selama dua minggu menggunakan jalur itu, tidak pernah ada kejadian aneh yang dialaminya.
Karena itu ia semakin terbiasa.
Sampai suatu malam, keadaan berubah.
Pulang Lebih Larut dari Biasanya
Biasanya Dicky pulang sekitar pukul 20.30.
Namun malam itu pekerjaan di pabrik belum selesai.
Ia mendapatkan lembur.
Baru sekitar pukul 23.30 Dicky meninggalkan tempat kerja.
Sebelum pulang, beberapa temannya kembali mengingatkan.
"Hei, Dicky, pulang bareng kita saja."
"Kita lewat jalan kota."
"Sudah malam banget."
"Jangan lewat jembatan besi."
Dicky sempat mempertimbangkan saran tersebut.
Namun akhirnya ia memilih jalur yang biasa dilaluinya.
"Biar lewat sana saja."
"Lagipula aku sudah biasa."
Teman-temannya hanya bisa mengingatkan sekali lagi.
"Hati-hati."
Dicky mengangguk.
Kemudian ia menyalakan motor.
Jalan yang Terasa Berbeda
Sepanjang perjalanan, Dicky mulai merasakan suasana yang sedikit berbeda.
Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.
Jalanan juga jauh lebih sepi.
Tidak ada kendaraan lain.
Tidak ada orang berjalan kaki.
Dicky berusaha mengabaikan perasaan tersebut.
Ia hanya ingin cepat sampai di kos.
Ketika mendekati jembatan, ia mulai memperlambat motor.
Lampu depan diarahkan ke jalur di depannya.
Semuanya tampak normal.
Sampai beberapa meter kemudian...
Dicky melihat seseorang.
Sosok di Penghujung Jembatan
Di ujung jembatan terlihat seorang perempuan sedang duduk.
Dicky sedikit terkejut.
Karena posisinya berada di jalur yang akan dilewati, Dicky tidak bisa langsung meneruskan perjalanan.
Ia membunyikan klakson.
"Tin... tin..."
Tidak ada gerakan.
Dicky membunyikan klakson sekali lagi.
"Tin... tin..."
Tetap tidak ada jawaban.
Dicky kemudian berkata,
"Bu, maaf. Saya mau lewat."
Sosok tersebut tetap diam.
Dicky mulai berpikir mungkin perempuan itu sedang kelelahan dan tidak mendengar suara motornya.
Ia pun memutuskan turun.
Perlahan ia berjalan menuju penghujung jembatan.
Mencoba Meminta Jalan
Setelah berada cukup dekat, Dicky mencoba berbicara.
"Bu..."
"Maaf mengganggu."
"Saya mau lewat."
Sosok tersebut tidak menjawab.
Dicky mendekat sedikit.
"Bu, bisa bergeser sebentar?"
Tetap tidak ada respons.
Ia kemudian memperhatikan perempuan tersebut.
Posisinya sedikit membungkuk.
Wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena suasana sangat gelap.
Dicky kembali memanggil.
"Bu?"
Tidak ada jawaban.
Dicky mulai merasa tidak nyaman.
Ia akhirnya berpikir lebih baik kembali ke motor dan mencari jalan lain.
Namun ketika ia hendak berbalik...
Suara dari Belakang
Angin tiba-tiba berembus lebih kuat.
Daun-daun di sekitar jembatan bergerak.
Suara air di bawah jembatan terdengar semakin jelas.
Jangkrik pun terdengar dari berbagai arah.
Kemudian muncul sebuah suara.
"Mas..."
Dicky berhenti.
Ia mendengarkan.
"Jangan balik lagi..."
Dicky merasa bingung.
Sosok yang tadi duduk di depan akhirnya berbicara.
Beberapa detik kemudian, suara itu kembali terdengar.
"Biar aku saja yang balik lagi..."
Dicky terdiam.
Dalam pikirannya, mungkin perempuan tersebut akhirnya berdiri.
Ia hanya ingin melihat dan memastikan.
Perlahan Dicky menoleh.
Sosok yang Tidak Seperti Dugaan
Saat melihat ke arah penghujung jembatan, Dicky langsung membeku.
Sosok yang sebelumnya terlihat seperti seorang perempuan ternyata tidak dapat dikenali dengan jelas.
Bagian atas tubuhnya tertutup bayangan.
Cahaya lampu motor tidak memberikan gambaran yang wajar seperti orang yang sedang duduk.
Dicky mundur beberapa langkah.
Untuk sesaat, ia tidak mampu berkata-kata.
Semua keberaniannya hilang.
Ia kemudian melihat sesuatu yang membuatnya semakin panik.
Sosok tersebut berdiri tanpa memperlihatkan wajah.
Dicky langsung teringat cerita teman-temannya tentang jembatan itu.
Ia tidak menunggu lebih lama.
Dicky berlari menuju motornya.
Memilih Jalan yang Lebih Jauh
Sesampainya di motor, Dicky buru-buru menyalakan mesin.
Tangannya masih gemetar.
Ia tidak berani melihat ke belakang.
Motor kemudian melaju meninggalkan jembatan.
Kali ini Dicky tidak peduli lagi dengan jarak.
Ia memilih jalan utama meskipun lebih jauh dan membutuhkan bensin lebih banyak.
Yang ada di pikirannya hanya satu.
Ia tidak ingin kembali melewati jembatan itu malam itu.
Setelah beberapa saat, Dicky akhirnya sampai di kawasan yang lebih ramai.
Barulah ia merasa sedikit tenang.
Tidak Lagi Melewati Jembatan Itu
Sejak malam tersebut, Dicky benar-benar mengubah kebiasaannya.
Ia tidak lagi menggunakan jembatan besi sebagai jalan pulang ketika malam sudah larut.
Meskipun harus menempuh perjalanan lebih jauh, ia memilih jalan yang lebih ramai dan terang.
Ketika teman-temannya bertanya tentang kejadian malam itu, Dicky hanya menjawab singkat.
"Aku tidak tahu apa yang kulihat."
"Yang jelas, aku tidak mau lewat sana lagi."
Teman-temannya pun tidak memaksa.
Bagi Dicky, pengalaman tersebut sudah cukup menjadi pelajaran.
Jalan pintas memang bisa menghemat waktu dan biaya.
Namun, ketika kondisi tidak memungkinkan, memilih jalur yang lebih aman tetap menjadi keputusan yang lebih penting.
Dan setiap kali Dicky melewati kawasan tersebut pada siang hari, ia selalu teringat pada malam yang aneh itu.
Jembatan besi masih berdiri seperti biasa.
Tidak ada seorang pun duduk di ujungnya.
Tidak ada suara aneh.
Semuanya terlihat normal.
Namun Dicky tetap memiliki satu pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Siapa sebenarnya sosok yang ia lihat di penghujung jembatan malam itu?
