Tumbal Karung Terakhir
Fiksi HororWangi Kemenyan di Tengah Pasar
Pasar Tradisional Senen Lama tidak pernah benar-benar tidur. Di antara hiruk-pikuk pedagang dan bau amis ikan, ruko beras milik Pak Slamet dulunya adalah titik paling hidup. Selama sepuluh tahun, tokonya tidak pernah sepi. Karung-karung beras berton-ton datang dan pergi, menyisakan derit timbangan yang berirama konstan dengan suara uang logam yang bergemerincing masuk ke laci kasir.
Namun, roda nasib berputar ke jurang yang kelam. Memasuki bulan kesepuluh, ruko Pak Slamet mendadak mati. Bukan sekadar sepi, melainkan mati suri yang tidak wajar.
Tidak ada satu pun pembeli yang melangkahkan kaki ke dalam. Yang membuat bulu kuduk Pak Slamet meremang, para pelanggan setianya yang biasa menyapa setiap pagi kini berjalan cepat sambil menunduk. Mereka bahkan enggan melirik ke arah rukonya, seolah ada dinding tak kasat mata berbau bangkai yang membuat siapa pun ingin segera menjauh.
Awalnya ia mengira ini siklus tanggal tua. Tapi ketika ia keluar dan melihat pasar justru sedang berdesakan penuh pembeli, darahnya mendadak dingin. Para pelanggannya berkerumun padat, mengular panjang di depan sebuah ruko beras baru yang buka persis tiga petak di sebelah tokonya.
Pesaing Misterius dan Daging Busuk
Dua bulan berlalu dalam kesunyian yang mencekam. Ruko Pak Slamet kini lebih mirip kuburan tua. Di siang bolong yang terik, udara di dalam tokonya terasa pengap, dingin, dan berbau anyir yang aneh—mirip bau darah segar yang dibiarkan mengering di bawah terik matahari.
Suatu hari, rasa penasaran yang bercampur frustrasi mendorong Pak Slamet mendekati ruko pesaingnya itu. Ia mengintip dari kejauhan. Pemilik ruko baru itu tidak terlihat batang hidungnya, hanya ada seorang penjaga toko berwajah pucat pasi dengan mata melotot tajam tanpa pernah berkedip.
Yang membuat perut Pak Slamet mual, saat ia mendekati saluran air di belakang ruko tersebut, ia melihat lalat hijau mengerumuni tumpukan karung. Dari celah karung itu, menetes cairan kental berwarna merah kehitaman, mengeluarkan bau busuk yang menusuk ulu hati. Bukan bau beras... melainkan bau daging yang mulai membusuk.
Pak Slamet lari terbirit-birit kembali ke rukonya dengan kaki gemetar. Utang menumpuk, biaya sekolah anak mendesak, dan ancaman kebangkrutan menghimpit kewarasannya. Di titik terendah itulah, akal sehatnya putus.
Perjanjian di Malam Jumat Kliwon
Malam itu, ditemani gulita yang pekat, Pak Slamet nekat mendatangi sebuah gubuk reot di ujung makam cina keramat. Di sana ia menemui seorang dukun tua bermata putih legam yang menyeringai lebar menyambut kedatangannya.
"Kau ingin tokomu kembali laris dan harta berlimpah?" desis sang dukun dengan suara serak seperti gesekan ampelas.
"Syaratnya mutlak. Setiap malam Jumat Kliwon, letakkan sesajen lengkap dengan darah segar di atas karung beras terbesar di gudangmu. Jangan pernah berani melupakannya, atau nyawamu taruhannya."
Tanpa pikir panjang demi uang, Pak Slamet mengangguk cepat.
Tepat malam Jumat Kliwon berikutnya, ia menyiapkan sajian kembang kantil, dupa yang mengepulkan asap pekat berasap biru, dan mangkuk berisi darah ayam di atas tumpukan karung beras paling besar di sudut gudang belakang.
Keajaiban yang mengerikan terjadi keesokan paginya.
Baru saja ia membuka setengah pintu rolling door, jeritan histeris dari luar langsung memecah pagi. Puluhan orang berdesakan saling injak, merangsek masuk ke dalam rukonya dengan mata liar dan mulut berbusa.
"Pak! Berasnya! Cepat ambilkan seratus kilo! Saya mau semuanya!" teriak mereka berebut layaknya orang kesurupan.
Pak Slamet melayani mereka dengan tangan gemetar. Uang jutaan rupiah mengalir deras memenuhi laci. Namun, ada yang salah dengan para pembeli itu. Kulit mereka pucat pasi, mata mereka cekung, dan setiap kali mereka berbicara, tercium bau tanah kuburan dari mulut mereka. Pak Slamet menutup mata rapat-rapat, mengabaikan rasa ngerinya demi gepokan uang di tangan.
Malam harinya, saat ia hendak mengambil karung di gudang, ia terperanjat hebat. Gudang yang tadi sore kosong kini penuh sesak oleh tumpukan karung beras yang menggunung hingga menyentuh langit-langit.
Ia mendekati salah satu karung, merobeknya sedikit, lalu mencicipi butirannya.
Kreeek... kreeek...
Butiran beras itu berdarah saat dikunyah. Rasanya amis, dingin, dan berbau busuk. Namun, ketamakan telah membutakan matanya. Ia tertawa lebar, merasa akan menjadi orang terkaya di kota itu.
Lalai Berbuah Petaka
Memasuki bulan keempat, kesombongan meracuni pikiran Pak Slamet. Ia merasa bisnisnya sudah kuat dan tidak lagi membutuhkan "upeti" mingguan. Ketika malam Jumat Kliwon tiba, ia malas menyiapkan sesajen. Ia memilih tidur pulas di kamar lantai atas sambil memeluk koper berisi uang hasil penjualan.
Pagi menjelang. Dengan senyum lebar, ia membuka rolling door rukonya, bersiap menyambut antrean pembeli.
Namun, tidak ada siapa pun di luar. Sepi. Hanya angin malam yang berbisik membawa bau busuk yang teramat sangat.
Tiba-tiba, seorang pelanggan wanita berjalan mendekat dengan langkah menyeret. Wajahnya biru lebam, matanya melotot menatap tajam ke arah Pak Slamet. Wanita itu melemparkan sebuah karung beras ke lantai kasir.
"Pak... beras apa ini...?" suara wanita itu terdengar parau, bergetar keluar dari tenggorokan yang seolah kering kerontang. "Anak saya muntah darah setelah makan nasi ini... di dalam karungnya penuh dengan belatung dan... dan potongan kuku manusia!"
Pak Slamet menjerit histeris. Ia melihat isi karung yang dilempar itu bergerak-gerak hidup, dipenuhi ribuan belatung putih yang menggeliat di atas tumpukan beras berlumur darah hitam.
Belum sempat ia bernapas, lampu di dalam ruko mendadak padam total. Suasana berubah menjadi gelap gulita, sedingin es.
Bab 5: Tagihan Sang Penguasa Malam
"Aku kerja keras mati-matian menarik pembeli untukmu... tapi kenapa aku tidak kau beri makan malam ini?"
Sebuah bisikan dingin yang berbisik tepat di lubang telinga belakang membuat sekujur darah Pak Slamet membeku seketika. Suara itu begitu dekat, bernapas tepat di tengkuknya yang basah oleh keringat dingin.
Pak Slamet tidak berani menoleh. Kakinya terpaku di lantai semen yang mendadak berubah menjadi lumpur hisap yang berdarah.
"Hihihihi... hihihihi..."
Sosok tinggi besar dengan rambut panjang menjuntai hingga menyentuh lantai melayang turun dari loteng gudang. Wajahnya hancur sebelah, memperlihatkan tulang tengkorak yang terkoyak dengan mata bernyala merah darah di dalam kegelapan. Itulah entitas mengerikan yang selama ini memberinya kekayaan.
"Kamu pikir perjanjian kita bisa diputus begitu saja, Pak Slamet...?" cicit suara itu merayap meremukkan saraf. "Kau ingkar janji. Maka sekarang, bayar utangmu dengan nyawamu!"
Pak Slamet merangkak histeris, menembus kegelapan menuju brankas besi di sudut kamar untuk mengambil seluruh uangnya sebagai penebusan. Tangannya yang gemetar hebat mengetik angka sandi sambil menangis meraung-raung.
Begitu pintu brankas terbuka lebar dengan bunyi derit logam yang memekakkan telinga, ia merogoh ke dalam dengan penuh harapan.
Namun, tidak ada selembar pun uang di sana. Yang ia genggam hanyalah segenggam tanah kuburan yang basah, dipenuhi belatung menggeliat dan potongan kuku manusia yang membusuk.
"Hihihihi... harta sesungguhnya milikmu ada di sini, di dalam pelukanku..."
Sembari jeritan terakhirnya menggema memecah malam, ruangan itu mendadak gelap total. Keesokan harinya, ruko beras itu ditemukan terkunci rapat dari dalam. Ketika warga memaksa mendobrak pintunya, Pak Slamet ditemukan terbujur kaku di atas lantai gudang—dengan tubuh kurus kering tak berdarah, dan mulutnya dipenuhi oleh butiran beras berlumur tanah kuburan.
