Mitos Pemandian Ci Panas: Larangan Mandi Berdua Menjelang Petang
Pemandian Air Panas di Kaki Gunung Tangkuban Perahu
Di kaki Gunung Tangkuban Perahu terdapat sebuah pemandian air panas yang dikenal masyarakat dengan nama Ci Panas. Tempat ini memiliki suasana yang indah dan alami. Air hangatnya mengalir jernih dari sumber mata air dengan aroma belerang yang cukup kuat.
Bagi sebagian pengunjung, berendam di air panas menjadi cara untuk melepas penat setelah menjalani aktivitas sehari-hari. Bahkan, banyak yang percaya bahwa air panas di tempat tersebut dapat membantu meredakan rasa pegal dan membuat tubuh menjadi lebih rileks.
Namun, di balik keindahannya, Ci Panas menyimpan sebuah cerita yang membuat sebagian masyarakat percaya bahwa tempat itu bukan sekadar pemandian biasa.
Larangan yang Tidak Boleh Dilanggar
Ada satu larangan yang sejak dulu dipercaya tidak boleh dilanggar.
Jangan mandi berdua menjelang petang.
Larangan tersebut bukan tanpa alasan.
Menurut cerita yang beredar dari mulut ke mulut, kawasan Ci Panas memiliki seorang penunggu. Sosok itu dipercaya sebagai arwah seorang wanita yang meninggal secara tragis jauh sebelum kawasan tersebut menjadi tempat pemandian.
Kisah Wanita yang Hilang di Ci Panas
Konon, wanita itu datang ke lereng gunung bersama dua orang temannya. Namun, entah karena persoalan apa, kedua temannya justru menghabisi nyawanya. Jasad wanita tersebut kemudian dibuang ke kawasan sumber air panas.
Sejak saat itu, jasadnya tidak pernah ditemukan.
Pencarian telah dilakukan oleh keluarga dan masyarakat. Namun, tidak pernah ada kepastian mengenai keberadaan jasad tersebut. Bahkan tulang-belulangnya pun tidak pernah diketahui di mana rimbanya.
Keluarganya akhirnya mencoba mengikhlaskan kepergiannya.
Meski begitu, rasa kehilangan tidak pernah benar-benar hilang.
Sesekali, keluarganya masih datang ke Ci Panas. Bukan untuk mencari jasadnya lagi, melainkan hanya untuk mengenang dan mengobati rasa rindu kepada seseorang yang tidak pernah kembali ke rumah.
Mitos yang Membuat Pengunjung Penasaran
Seiring berjalannya waktu, cerita tentang wanita tersebut semakin dikenal masyarakat.
Ada pengunjung yang percaya.
Ada pula yang menganggap semuanya hanya mitos.
Beberapa orang bahkan sengaja datang untuk membuktikan apakah cerita tentang penunggu Ci Panas itu benar atau tidak.
Padahal, di sekitar tempat pemandian sudah terpampang berbagai aturan dan larangan yang harus dipatuhi pengunjung.
Namun manusia tetaplah manusia.
Rasa penasaran terkadang membuat seseorang mengabaikan peringatan.
Begitu pula dengan dua perempuan asal kota bernama Wita dan Nina.
Kedatangan Wita dan Nina
Keduanya datang dari luar daerah dan sengaja mengunjungi Ci Panas pada sore hari.
Sejak kedatangan mereka, salah seorang penjaga sebenarnya sudah merasa ada sesuatu yang berbeda.
Keduanya tidak terlihat seperti pengunjung yang sekadar ingin menikmati air panas.
Mereka justru lebih banyak memegang ponsel, merekam keadaan sekitar, dan beberapa kali memperhatikan kawasan lereng yang mulai sepi.
Melihat tingkah mereka, seorang penjaga akhirnya menghampiri.
“Permisi, Mbak... Maaf, Mbak. Mau mandi atau ada keperluan lain?” tanya penjaga tersebut.
“Oh, iya, Mas. Saya mau mandi. Cuma nanti, nunggu agak malam sedikit,” jawab Wita santai.
Penjaga itu mengangguk.
“Oh, iya, boleh. Tapi Mbaknya sudah membaca panduan dan larangan yang ada di sini, kan?”
“Sudah, dong, Mas. Tenang saja. Saya ke sini cuma mau mandi. Bukan mau macam-macam,” jawab Wita sambil tersenyum.
Penjaga tersebut akhirnya meninggalkan mereka dan kembali menjalankan tugasnya.
Namun setelah penjaga itu pergi, Wita justru tertawa kecil.
“Dasar kampung... Mitos saja dipercaya,” gumamnya.
Nina ikut tersenyum.
“Memangnya ada hantu di sini?”
Wita mengangkat bahu.
“Entahlah. Makanya kita cari tahu.”
Mereka Sengaja Menunggu hingga Petang
Keduanya kemudian melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Menjelang malam, satu per satu pengunjung mulai meninggalkan kawasan Ci Panas.
Suasana yang sebelumnya ramai perlahan berubah menjadi sepi.
Suara percakapan pengunjung menghilang.
Yang tersisa hanya suara air, hembusan angin dari lereng gunung, dan kepulan uap dari kolam air panas.
Para penjaga sebenarnya masih memperhatikan Wita dan Nina.
Namun karena keduanya terlihat tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan, para penjaga mengira mereka akan segera pulang.
Ternyata dugaan itu salah.
Begitu tidak ada lagi pengunjung di sekitar mereka, Wita dan Nina mulai melakukan sesuatu yang sejak awal memang menjadi tujuan kedatangan mereka.
Mereka ingin membuktikan mitos Ci Panas.
Rekaman di Dalam Kolam Air Panas
Nina kemudian berjalan menuju kolam.
Sementara Wita mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam.
“Nanti kalau ada apa-apa, kita bisa lihat lagi videonya,” kata Wita.
Nina tertawa.
“Kalau benar ada hantunya, lumayan buat konten.”
Nina kemudian masuk ke dalam kolam.
Wita berdiri beberapa meter dari sana sambil mengarahkan kamera ponselnya.
“Nih, Nina lagi berendam di Ci Panas sendirian,” ucap Wita ke arah kamera.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresi wajahnya berubah.
Wita melihat layar ponselnya.
Di sana terlihat Nina.
Tetapi bukan sendirian.
Ada sosok lain berdiri sangat dekat di belakangnya.
Wita mengernyitkan dahi.
“Hah...?”
Ia menurunkan ponselnya.
Dengan mata telanjang, Nina terlihat sendirian di dalam kolam.
Tidak ada siapa pun di belakangnya.
Wita kembali melihat layar.
Sosok itu masih ada.
Seorang wanita dengan rambut panjang terurai.
Wajahnya pucat.
Bajunya putih dan tampak basah.
Wajahnya terlihat mengerikan, seperti kulitnya mengelupas dan membusuk.
Wita menelan ludah.
“Enggak mungkin...”
Ia mengangkat wajah dan kembali melihat Nina.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika kamera kembali diarahkan ke kolam, sosok itu muncul lagi di layar.
Bahkan kali ini jaraknya jauh lebih dekat.
Sosok Misterius di Belakang Nina
Wita mulai gemetar.
“Wita, lihat aku!”
Nina tertawa dari dalam kolam.
Tetapi Wita tidak menjawab.
Matanya terpaku pada layar ponsel.
Sosok wanita itu kini terlihat tepat di belakang Nina.
Perlahan, kepala sosok tersebut seperti bergerak mendekati kamera.
Wita refleks mundur.
“Haaaaaagghhh!”
Jeritannya memecah kesunyian.
Nina langsung terkejut.
“Woy, Wita! Kenapa kamu?! Berisik tahu!”
Wita tidak menjawab.
Tangannya gemetar hebat.
Ia langsung menghentikan rekaman.
“Nina... naik sekarang!”
“Kenapa?”
“Naik! Sekarang!”
Nada suara Wita berubah menjadi panik.
Nina akhirnya menurut.
Nina Menghilang dari Dalam Kolam
Namun ketika Wita mengalihkan pandangan ke kolam, tubuh Nina sudah tidak terlihat.
Kolam itu kosong.
Yang tampak hanya uap putih yang mengepul dari permukaan air.
Tidak ada suara cipratan.
Tidak ada riak air.
Tidak ada tanda-tanda Nina baru saja berada di sana.
Wita membeku.
“Nina...?”
Ia mendekati kolam.
“Nina?”
Tidak ada jawaban.
“Nina, jangan bercanda!”
Wita mulai mencari ke sekeliling.
“Nina! Kamu di mana?”
Jantungnya berdetak semakin kencang.
Bulu kuduknya berdiri.
Udara di sekitar terasa jauh lebih dingin dibanding beberapa menit sebelumnya.
Wita berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Dia pasti sembunyi... Pasti cuma bercanda...”
Namun suara hatinya sendiri mulai bergetar.
“Ya Allah... jangan sampai terjadi apa-apa.”
Wita terus berjalan sambil memanggil nama Nina.
“Nina!”
Jeritan dari Arah Lereng
Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari arah lereng.
“ARGHHHHHH!”
Wita terdiam.
Suara itu sangat dikenalnya.
Itu suara Nina.
Wita langsung berlari menuju sumber suara.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu di atas batu-batu lereng.
“Nina!”
Nina berada di antara bebatuan.
Tubuhnya terjepit dan penuh luka. Darah terlihat mengalir dari beberapa bagian tubuhnya.
Wita langsung menjerit histeris.
“Toloooong!”
Ia menangis sambil mundur beberapa langkah.
“Tolong! Tolonggg!”
Penjaga Berusaha Menyelamatkan Nina
Jeritannya akhirnya terdengar oleh para penjaga.
Tidak lama kemudian beberapa penjaga datang berlari membawa perlengkapan untuk mengevakuasi Nina.
Mereka langsung berusaha mengeluarkannya dari antara bebatuan.
“Cepat! Angkat pelan-pelan!”
“Jangan sampai kepalanya terbentur!”
Wita hanya bisa berdiri gemetar.
Air matanya terus mengalir.
Ia masih tidak mengerti bagaimana Nina bisa tiba-tiba berada di atas lereng.
Beberapa menit sebelumnya, Nina masih berada di dalam kolam.
Dan tidak ada seorang pun yang melihatnya keluar.
Peringatan dari Penjaga Ci Panas
Salah seorang penjaga kemudian memandang ke arah kolam.
Wajahnya berubah serius.
Ia seperti sudah memahami sesuatu.
“Sudah saya bilang dari awal...” gumamnya pelan.
Wita menatapnya.
“Maksud Bapak apa?”
Penjaga itu tidak langsung menjawab.
Matanya tetap tertuju pada kolam yang dipenuhi uap.
“Di tempat ini ada aturan yang harus dihormati.”
Ia menarik napas panjang.
“Bukan karena kami ingin menakut-nakuti pengunjung.”
“Tapi karena sudah terlalu banyak kejadian aneh yang terjadi setelah orang-orang mengabaikan larangan.”
Wita terdiam.
Sosok dalam Rekaman
Ia kemudian melihat kembali ponselnya.
Rekaman tadi ternyata masih tersimpan.
Dengan tangan gemetar, Wita membuka video tersebut.
Awalnya hanya terlihat Nina sedang berendam.
Namun beberapa detik kemudian, di belakang Nina tampak sosok wanita berambut panjang.
Wita langsung menutup layar.
Ia tidak sanggup melihatnya lagi.
Mitos atau Kenyataan?
Sejak malam itu, Wita tidak pernah lagi menganggap cerita tentang Ci Panas sebagai sekadar mitos.
Sebab ada satu hal yang terus menghantuinya.
Jika sosok wanita itu memang hanya legenda, lalu siapa yang berdiri di belakang Nina dalam rekaman tersebut?

Posting Komentar