Dari Anak yang Diremehkan Menjadi Bos Es Teh

Table of Contents

Keputusan untuk Merantau

Dimas Anggara adalah seorang pemuda sederhana asal Mojokerto.

Sejak kecil, Dimas sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan. Ia tidak pernah merasakan kemewahan seperti anak-anak lain. Untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, ia harus berpikir berkali-kali. Bahkan untuk sekadar membeli makanan kesukaannya pun, Dimas harus mempertimbangkan kondisi keuangan keluarganya.

Pendidikan Dimas juga tidak tinggi.

Bukan karena ia malas belajar, melainkan karena keadaan keluargalah yang membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah sebagaimana yang ia inginkan.

Ayah dan ibunya hanyalah orang sederhana yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan yang mereka dapatkan hanya cukup untuk makan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dimas sering melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya menahan keinginan mereka demi anak-anaknya.

Setiap kali melihat ibunya menghitung uang receh di atas meja, hati Dimas terasa sesak.

Suatu malam, ketika keluarganya sedang makan dengan lauk seadanya, Dimas memandangi kedua orang tuanya.

“Mak…”

Ibunya menoleh.

“Iya, Dim?”

“Kalau Dimas pergi merantau, Emak sama Bapak gimana?”

Ibunya terdiam sebentar.

“Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?”

Dimas menundukkan kepala.

“Dimas pengin kerja, Mak. Dimas pengin bantu Bapak sama Emak.”

Ibunya tersenyum kecil.

“Kerja di sini juga bisa, Dim.”

“Sudah Dimas coba, Mak.”

Dimas menarik napas panjang.

“Kalau Dimas tetap di sini, Dimas takut cuma jadi beban.”

Kalimat itu membuat ibunya terdiam.

Bukan karena tidak setuju, tetapi karena seorang ibu pasti tahu bahwa anak yang berdiri di hadapannya sedang berusaha menyembunyikan rasa takut.

Beberapa hari kemudian, Dimas akhirnya memutuskan pergi merantau ke Jawa Barat.

Ia tidak membawa banyak barang. Hanya beberapa pakaian, sedikit uang tabungan, dan harapan yang sangat besar.

Sebelum berangkat, Dimas memeluk ibunya.

“Dimas pergi dulu, Mak.”

“Hati-hati, Nak.”

“Doakan Dimas.”

“Setiap hari Emak doakan.”

Dimas kemudian menyalami ayahnya.

Ayahnya hanya menepuk pundaknya.

“Jangan takut hidup di tempat orang.”

Dimas mengangguk.

“Kalau susah?”

Ayahnya tersenyum.

“Jangan langsung menyerah.”

Kalimat sederhana itu terus teringat di kepala Dimas selama perjalanan.

Namun, Dimas belum tahu bahwa kehidupan di tanah rantau tidak akan semudah yang ia bayangkan.

Hidup di Tanah Rantau

Sesampainya di Jawa Barat, Dimas mulai mencari pekerjaan.

Ia mendatangi berbagai tempat dengan membawa fotokopi identitas dan surat lamaran yang sederhana.

Namun, berkali-kali ia mendapatkan jawaban yang sama.

“Maaf, pendidikan kamu sampai mana?”

“SMA tidak selesai, Pak.”

Orang itu langsung melihat berkas Dimas.

“Pengalaman?”

“Belum banyak.”

“Kalau begitu kami belum bisa menerima.”

Dimas mengangguk.

“Iya, Pak. Terima kasih.”

Ia keluar dari tempat itu dengan senyum yang dipaksakan, padahal hatinya terasa hancur.

Hari demi hari berlalu.

Dimas akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja kebersihan dan pelayan.

Gajinya tidak besar, tetapi ia menerimanya dengan senang hati.

“Yang penting kerja,” gumamnya.

Dimas bekerja dengan disiplin. Ia datang lebih awal, pulang paling akhir, tidak pernah mencari masalah, dan tidak pernah ikut bergosip.

Namun, justru karena ia pendatang dan dianggap tidak memiliki siapa-siapa, Dimas sering menjadi sasaran orang-orang di tempat kerjanya.

Kesalahan kecil yang dilakukan orang lain sering diarahkan kepadanya.

“Dim, kenapa barang ini belum dibereskan?”

“Bukan saya, Pak. Tadi saya sudah bereskan.”

“Jangan banyak alasan!”

Dimas terdiam.

Ia memilih mengalah.

“Baik, Pak.”

Hari berikutnya, masalah kembali terjadi.

Kali ini Dimas dituduh mengambil uang, padahal ia sama sekali tidak menyentuh uang tersebut.

“Dimas, kamu tadi masuk ruangan itu, kan?”

“Iya, Pak. Tapi saya cuma membersihkan.”

“Terus uang di meja hilang!”

Dimas terkejut.

“Demi Allah, Pak, saya tidak mengambil.”

“Siapa yang bisa menjamin?”

Dimas tidak bisa menjawab.

Ia hanya menundukkan kepala.

Perlakuan seperti itu terus berulang sampai akhirnya Dimas benar-benar merasa lelah.

Ia kemudian mencoba pekerjaan lain, yaitu menjadi tukang bangunan.

Ia membawa ember, mengangkat semen, mengaduk pasir, dan melakukan pekerjaan berat lainnya.

Tangannya mulai kasar.

Punggungnya sering terasa sakit.

Namun, Dimas tetap bertahan.

“Kalau ini jalan rezekiku, aku harus jalani.”

Tetapi lagi-lagi masalah datang.

Ia kembali dituduh melakukan kesalahan yang tidak pernah dibuatnya.

Dimas akhirnya berdiri sendirian di pinggir jalan setelah keluar dari pekerjaannya.

Langit mulai gelap.

Ia menatap kedua tangannya, tangan yang penuh bekas luka dan selama ini ia gunakan untuk bekerja.

“Kenapa susah sekali, ya, Tuhan?”

Dimas tersenyum pahit.

“Dimas cuma mau kerja.”

“Dimas nggak pernah minta dikasihani.”

“Kenapa setiap kali Dimas berusaha, selalu ada yang menjatuhkan?”

Matanya mulai berkaca-kaca.

Namun, ia segera mengusapnya.

“Sudahlah…”

“Jangan nangis.”

“Kalau Dimas menyerah sekarang, siapa yang akan membantu Emak dan Bapak?”

Memulai Usaha Es Teh

Hari itu, Dimas pulang ke tempat tinggalnya dengan kepala penuh pikiran.

Ia menghitung uang yang tersisa.

Tidak banyak.

Kalau digunakan untuk bertahan hidup, mungkin uang itu hanya cukup untuk beberapa hari.

Dimas terdiam cukup lama.

Kemudian, sebuah pikiran muncul di kepalanya.

“Kalau kerja sama orang terus begini…”

“Kenapa aku nggak coba usaha sendiri?”

Ia mulai mengingat sesuatu.

Dimas pernah melihat banyak orang berjualan minuman di pinggir jalan. Ia juga pernah membantu membuat es teh ketika masih di kampung.

“Es teh…”

Dimas tersenyum tipis.

“Kenapa nggak coba jualan es teh?”

Besoknya, ia menggunakan sebagian uang yang tersisa untuk membeli perlengkapan sederhana.

Gelas plastik.

Es batu.

Teh.

Gula.

Sedotan.

Dan sebuah termos.

Tidak ada gerobak bagus.

Tidak ada toko.

Tidak ada tempat usaha.

Hanya perlengkapan sederhana yang bisa dibawanya dengan tangan.

Dimas sempat kebingungan mencari tempat berjualan. Lapak di pinggir jalan harus membayar sewa, sementara uangnya sudah hampir habis.

Akhirnya, ia memilih berjualan secara sederhana.

Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

“Es teh… Es teh…”

Tidak banyak yang membeli.

Tetapi Dimas tidak menyerah.

Satu gelas.

Dua gelas.

Lima gelas.

Sepuluh gelas.

Sampai sore hari, seluruh es tehnya habis.

Dimas menatap termos kosong.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tersenyum lebar.

“Habis…”

Ia tertawa kecil.

“Benar-benar habis.”

Dimas menghitung uang hasil jualannya.

Jumlahnya tidak besar, tetapi uang itu terasa sangat berharga. Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan uang dari sesuatu yang ia bangun sendiri.

Malam itu, Dimas duduk sendirian sambil memandangi uang hasil jualannya.

“Kalau hari ini bisa habis…”

“Berarti besok aku harus bikin lebih banyak.”

Senyumnya semakin lebar.

Usaha yang Mulai Berkembang

Sejak saat itu, Dimas mulai serius berjualan.

Ia tidak lagi malu berjalan dari tempat ke tempat. Tidak peduli ada yang menertawakan. Tidak peduli ada yang menganggapnya tidak akan berhasil.

Ia terus menjajakan es tehnya.

Pelan-pelan, pelanggan mulai mengenal Dimas.

“Mas, es tehnya satu.”

“Siap, Pak.”

“Besok jualan di sini lagi?”

“Insyaallah.”

“Enak juga ternyata.”

Dimas tersenyum.

“Terima kasih, Pak.”

Dari satu pelanggan menjadi dua.

Dua menjadi sepuluh.

Sepuluh menjadi puluhan.

Dimas mulai mencari tempat yang lebih strategis.

Ia menyewa sebuah tempat kecil.

Tidak mewah.

Hanya warung sederhana dengan meja dan beberapa kursi.

Di bagian depan, ia memasang tulisan sederhana:

ES TEH DIMAS

Awalnya, orang-orang hanya penasaran.

Namun, setelah mencoba, banyak yang kembali.

“Mas, es tehnya dua!”

“Mas, lima!”

“Mas, sepuluh buat dibawa ke kantor!”

Dimas mulai kewalahan.

Ia akhirnya meminta bantuan dua orang.

“Kalau kalian mau kerja sama saya, saya bayar sesuai kemampuan usaha.”

Salah seorang bertanya,

“Mas yakin usaha ini bisa berkembang?”

Dimas tersenyum.

“Belum tahu.”

“Tapi saya yakin kalau kita kerja keras, pasti ada hasilnya.”

Kesuksesan Dimas

Beberapa bulan kemudian, nama Es Teh Dimas mulai dikenal.

Video pelanggan yang mengantre panjang mulai tersebar di media sosial.

Orang-orang penasaran.

Apa yang membuat es teh sederhana itu begitu ramai?

Dimas sendiri tidak pernah menyangka.

Warung kecilnya berubah menjadi tempat yang selalu dipenuhi pelanggan. Bahkan, orang-orang dari luar daerah mulai berdatangan.

Dimas akhirnya membuka cabang kedua.

Kemudian cabang ketiga.

Lalu cabang berikutnya.

Usaha yang dulu hanya dimulai dari satu termos kecil kini berkembang menjadi bisnis dengan banyak karyawan.

Dimas pun mulai memikirkan keluarganya.

Ia tidak melupakan orang-orang yang dahulu selalu mendukungnya.

Ia membelikan rumah yang lebih layak untuk orang tuanya.

Ia memenuhi kebutuhan mereka.

Dan ketika usahanya benar-benar berhasil, Dimas melakukan sesuatu yang selama ini hanya menjadi impian keluarganya.

Ia memberangkatkan kedua orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji.

Saat mendengar kabar itu, ibunya menangis.

“Dim…”

“Iya, Mak?”

“Emak nggak pernah membayangkan bisa sampai ke sana.”

Dimas memegang tangan ibunya.

“Dulu Emak bilang, jangan takut hidup di tempat orang.”

“Sekarang giliran Dimas yang bilang…”

“Emak jangan takut punya mimpi.”

Air mata ibunya jatuh.

Dimas memeluknya.

Untuk pertama kalinya, ia merasa semua perjuangannya terbayar.

Bertemu Orang yang Pernah Merendahkan

Usaha Dimas semakin besar.

Hampir sepuluh cabang telah berdiri.

Namun, Dimas tetap berusaha mengingat bagaimana dirinya dahulu. Ia tidak ingin menjadi orang yang lupa daratan.

Sampai suatu hari, ketika Dimas turun dari mobil di depan salah satu cabangnya, seseorang tiba-tiba memanggil namanya.

“Dimas?”

Dimas berhenti.

Ia menoleh.

Seorang pria sedang duduk bersama beberapa orang lainnya.

“Dimas Anggara?”

Dimas memperhatikan wajah pria itu.

Rafli.

Teman lama yang dahulu sering merendahkannya.

Rafli berdiri.

“Walah…”

“Beneran kamu, Dim?”

Dimas hanya tersenyum tipis.

“Iya.”

Rafli melihat mobil yang baru saja ditinggalkan Dimas.

“Mobil siapa itu?”

Dimas diam.

“Mobil bos kamu?”

Beberapa orang di meja itu tertawa.

Rafli kemudian berkata sambil bercanda,

“Dim, ajakin gue kerja dong.”

“Biar gue bisa naik mobil bagus juga kayak kamu.”

Dimas menatapnya.

Ada luka lama yang tiba-tiba muncul kembali.

Ia masih ingat bagaimana Rafli dahulu sering mengatakan dirinya bodoh, tidak becus bekerja, dan tidak akan pernah sukses.

Dimas akhirnya menjawab dengan tenang.

“Rafli…”

“Iya?”

“Kamu masih ingat nggak dulu pernah bilang aku orang paling bodoh?”

Rafli tertawa.

“Ah, bercanda doang.”

Dimas mengangguk.

“Oh…”

“Berarti sekarang kamu sedang minta pekerjaan kepada orang yang dulu kamu bilang bodoh?”

Suasana langsung berubah.

Rafli tersenyum kecut.

“Ya kan kita teman.”

Dimas menatapnya.

“Teman?”

Dimas tertawa kecil.

“Kapan kita pernah jadi teman?”

Rafli mulai terdiam.

Dimas melanjutkan,

“Dulu setiap kali aku datang, kalian cuma memanfaatkan aku.”

“Kalau kalian mau makan, aku yang disuruh bayar.”

“Kalau kalian butuh bantuan, aku yang dicari.”

“Tapi setelah itu aku dihina.”

Dimas menghela napas.

“Aku masih ingat semuanya.”

Rafli mulai tidak nyaman.

Namun, bukannya meminta maaf, ia malah kembali meremehkan Dimas.

“Sudahlah, Dim.”

“Jangan sok sukses.”

“Paling kamu cuma beruntung.”

“Dulu saja kamu kerja jadi tukang bangunan nggak becus.”

Dimas memilih masuk ke dalam.

Ia tidak ingin memperpanjang masalah.

Pembuktian Diri

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang menghampiri Rafli dan teman-temannya.

“Mas, mohon maaf.”

“Mejanya sudah ada yang menunggu.”

“Kalian sudah cukup lama di sini.”

Rafli langsung emosi.

“Maksud lu ngusir gue?”

“Bukan begitu, Mas.”

“Kalau mau makan ya makan saja.”

“Tapi tempatnya sedang penuh.”

Rafli berdiri.

“Panggil bos kalian!”

“Sekarang!”

Pelayan itu kemudian masuk.

Beberapa detik kemudian, Dimas keluar.

“Ada apa?”

Rafli langsung menunjuk.

“Gue minta bosnya, bukan elu!”

Pelayan itu kebingungan.

“Ini bos kami, Mas.”

Rafli terdiam.

“Bos?”

“Iya.”

Dimas menatap Rafli tanpa berkata apa-apa.

Rafli kemudian tertawa.

“Jangan bercanda, Dim.”

“Lu cuma mantan tukang bangunan.”

“Sekarang ngaku-ngaku jadi bos?”

Dimas tidak menjawab.

Ia hanya meminta salah seorang karyawan mengambil dokumen kepemilikan usaha.

Dokumen itu diletakkan di atas meja.

Nama yang tertulis di sana jelas.

DIMAS ANGGARA.

Rafli membaca dokumen itu berkali-kali.

Wajahnya perlahan berubah.

“Jadi…”

“Ini benar-benar punya kamu?”

Dimas mengangguk.

“Iya.”

Rafli mulai gugup.

“Dim…”

“Maaf ya.”

“Tadi kita cuma bercanda.”

Dimas menatapnya.

“Bercanda?”

Rafli mengangguk.

“Iya.”

Dimas menarik napas panjang.

“Kalau begitu sekarang aku juga mau bercanda.”

Rafli terdiam.

“Bayar semua makanan dan minuman kalian.”

Rafli terkejut.

“Dim…”

“Dan meja yang kalian rusakkan.”

“Ganti.”

Rafli mulai marah.

“Gila lu!”

“Teman sendiri kok disuruh bayar begitu?”

Dimas tersenyum pahit.

“Teman?”

“Teman kapan?”

Dimas menatap satu per satu orang yang duduk di hadapannya.

“Kalian masih ingat nggak dulu?”

“Kalian bilang aku bodoh.”

“Kalian bilang aku nggak akan jadi apa-apa.”

“Kalian bilang aku nggak becus kerja.”

“Bahkan ketika aku membeli makanan dengan uangku sendiri hanya karena ingin dianggap sebagai teman…”

Dimas berhenti.

Suaranya mulai bergetar.

“Ternyata aku cuma dimanfaatkan.”

Suasana menjadi hening.

Dimas melanjutkan,

“Aku pergi dari Mojokerto bukan karena aku ingin menjadi orang kaya.”

“Aku pergi karena aku ingin membantu orang tuaku.”

“Aku bekerja apa saja.”

“Jadi pelayan.”

“Jadi tukang bangunan.”

“Membersihkan tempat orang.”

“Dihina.”

“Dituduh.”

“Difitnah.”

“Tapi aku tetap bekerja.”

Dimas menatap kedua tangannya.

“Tangan ini dulu kalian bilang tangan orang bodoh.”

“Tapi tangan ini yang membangun usaha ini.”

“Bukan karena aku pintar.”

“Bukan karena aku punya modal besar.”

“Bukan karena aku punya keluarga kaya.”

Dimas menatap Rafli.

“Karena aku tidak berhenti ketika semua orang menyuruhku menyerah.”

Rafli hanya diam.

Dimas kemudian berkata dengan suara lebih pelan,

“Jadi kalau sekarang kalian melihat aku berhasil…”

“Jangan bilang aku beruntung.”

“Karena kalian nggak pernah tahu berapa banyak malam yang aku habiskan sendirian sambil bertanya…”

“Besok aku makan apa?”

“Besok aku kerja di mana?”

“Besok aku harus dapat uang dari mana?”

Dimas menghela napas.

“Aku bukan membalas hinaan kalian.”

“Aku cuma ingin kalian tahu…”

“Orang yang kalian anggap bodoh juga bisa berhasil.”

“Bahkan bisa berdiri lebih tinggi dari yang kalian bayangkan.”

Rafli dan teman-temannya hanya terdiam.

Tidak ada lagi tawa.

Tidak ada lagi ejekan.

Yang tersisa hanyalah rasa malu.

Dimas kemudian berbalik meninggalkan mereka.

Namun, sebelum masuk ke ruangannya, ia berhenti sebentar.

Ia menoleh.

“Kalau kalian benar-benar ingin berubah…”

“Jangan malu bekerja.”

“Karena pekerjaan apa pun itu tidak pernah membuat seseorang menjadi rendah.”

“Yang membuat seseorang rendah adalah ketika dia merendahkan orang lain.”

Setelah berkata demikian, Dimas pergi.

Untuk pertama kalinya, orang-orang yang dahulu menertawakannya hanya bisa terdiam.

Dan Dimas?

Ia kembali bekerja.

Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain, tetapi untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa semua hinaan yang pernah ia terima tidak akan menentukan masa depannya.

Karena Dimas akhirnya mengerti satu hal.

Kadang-kadang, orang yang paling sering diremehkan justru sedang dipersiapkan untuk menunjukkan bahwa dirinya jauh lebih kuat daripada yang orang lain kira.

Posting Komentar