Kuda Hitam Penukar Kekayaan
Juragan Kuda yang Bangkrut
Di sebuah kampung yang masih dikelilingi persawahan dan hutan lebat, tinggallah seorang pria bernama Pak Darga.
Warga mengenalnya sebagai juragan kuda.
Di belakang rumahnya terdapat kandang yang cukup besar. Puluhan ekor kuda ia pelihara dengan harapan suatu hari nanti semuanya bisa dijual dengan harga tinggi.
Pak Darga memang menggantungkan hidupnya dari usaha tersebut.
Setiap hari ia mengeluarkan uang untuk membeli pakan, merawat kandang, serta memastikan kuda-kudanya tetap sehat dan terlihat gagah.
Namun ada satu masalah besar.
Tidak ada satu pun kudanya yang laku.
Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Bahkan berbulan-bulan, tidak ada pembeli yang benar-benar datang untuk membeli kuda miliknya.
Padahal uang yang dikeluarkan Pak Darga terus mengalir.
“Kalau begini terus, bagaimana nasib keluarga kita?” gumamnya suatu sore sambil melihat kandang-kandang kudanya.
Ia menghitung sisa uang yang dimilikinya.
Jumlahnya semakin sedikit.
Bukan hanya usaha kudanya yang mengalami kegagalan.
Ladang miliknya pun selalu gagal panen.
Kadang tanaman terserang hama.
Kadang hujan terlalu deras.
Kadang justru kemarau berkepanjangan.
Setiap kali musim panen tiba, harapan Pak Darga selalu berakhir dengan kekecewaan.
Harta yang tersisa kini hanya beberapa petak ladang dan puluhan ekor kuda yang tidak kunjung terjual.
Keadaan semakin sulit karena anak perempuan satu-satunya, Ayu, sedang sakit.
Tubuh Ayu beberapa hari terakhir terus mengalami demam.
Pak Darga yang melihat kondisi anaknya semakin lemah mulai merasa putus asa.
Malam itu ia duduk sendirian di depan rumah.
Kedua tangannya menopang kepala.
“Ya Allah... sampai kapan hidup kami seperti ini?”
Ia menatap kandang kudanya.
“Kalau memang kuda-kuda ini tidak bisa memberiku keuntungan, besok akan kujual semuanya.”
Pak Darga sudah tidak peduli lagi dengan harga.
Meskipun harus menjual dengan harga murah, yang penting ia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Namun lamunannya tiba-tiba terputus ketika terdengar suara istrinya dari dalam rumah.
“Mas!”
Pak Darga terkejut.
“Apaan, Bu? Kok teriak-teriak?”
“Cepat masuk! Ayu panas sekali badannya!”
Mendengar itu, Pak Darga langsung berdiri dan bergegas masuk.
Di dalam kamar, Ayu terlihat menggigil di atas tempat tidur.
“Panas, Bu... panas...”
Ayu merengek sambil menangis.
Istrinya mengusap dahi anak mereka dengan tangan yang gemetar.
“Mas, kita bawa Ayu ke rumah sakit.”
Pak Darga terdiam.
Ia tahu mereka membutuhkan biaya.
Namun uang di tangannya hampir tidak ada.
“Bu... bagaimana kita membawanya ke dokter?”
“Mas tahu sendiri, uang kita sudah hampir habis.”
Istrinya menatap Pak Darga dengan mata berkaca-kaca.
“Terus kita mau bagaimana? Masa anak kita dibiarkan begini?”
Pak Darga menunduk.
“Besok sebenarnya Bapak mau menjual semua kuda.”
“Kalau ada yang membeli, uangnya bisa kita gunakan untuk berobat.”
“Besok?”
“Iya.”
Pak Darga kemudian melihat kondisi Ayu.
“Tapi malam ini kita harus melakukan sesuatu.”
Ia teringat sebuah tanaman yang dipercaya warga dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk membantu meredakan demam.
“Bapak ke hutan dulu.”
“Hutan?”
“Iya. Bapak mau mencari daun obat.”
“Mas, jangan malam-malam begini.”
“Bapak tidak lama.”
Pak Darga berdiri.
“Setidaknya kita berusaha dulu malam ini. Besok kalau kuda sudah terjual, Ayu kita bawa ke dokter.”
Istrinya akhirnya mengangguk.
“Hati-hati, Mas.”
“Iya.”
Pak Darga kemudian mengambil senter dan pergi menuju hutan.
Ia tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Dan mungkin juga...
awal dari kehancuran keluarganya.
Kuda Putih dari Tengah Hutan
Hutan yang berada tidak jauh dari kampung sebenarnya jarang dimasuki warga ketika malam.
Pepohonannya lebat.
Jalannya gelap.
Bahkan pada siang hari pun suasana di dalam hutan terasa sunyi.
Namun malam itu Pak Darga tidak memikirkan rasa takut.
Di kepalanya hanya ada satu hal.
Ayu.
“Bapak harus mendapatkan daun itu.”
Ia terus berjalan sambil membawa senter.
Suara jangkrik terdengar dari berbagai arah.
Burung malam sesekali mengeluarkan suara panjang.
Angin berembus melewati pepohonan.
Pak Darga mempercepat langkah.
Setelah cukup jauh masuk ke dalam hutan, ia akhirnya menemukan tanaman yang dicarinya.
“Nah... ini.”
Ia jongkok dan mulai memetik beberapa helai daun.
Namun baru saja ia berdiri...
Kutupak... kutupak... kutupak...
Terdengar suara langkah.
Pak Darga terdiam.
Suara itu semakin dekat.
Kutupak... kutupak... kutupak...
Seperti suara kaki kuda.
Pak Darga perlahan menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Ia mengarahkan senter ke belakang.
Kosong.
“Hanya perasaanku.”
Pak Darga mencoba kembali berjalan.
Namun suara itu terdengar lagi.
Kali ini tepat dari belakangnya.
KUTUPAK... KUTUPAK... KUTUPAK...
Pak Darga membalikkan tubuh.
Seketika tubuhnya membeku.
Di antara pepohonan berdiri seekor kuda putih berukuran sangat besar.
Bulu tubuhnya putih bersih.
Namun keempat kukunya terlihat seperti bara api.
Matanya merah menyala.
Uap seperti asap keluar dari hidungnya.
Pak Darga mundur beberapa langkah.
“Apa... apa itu?”
Kuda tersebut berjalan mendekat.
Kutupak...
Setiap langkahnya membuat tanah seperti bergetar.
Lalu tiba-tiba terdengar suara.
“Manusia...”
Pak Darga membeku.
Matanya membelalak.
Suara itu berasal dari kuda tersebut.
“Jangan takut.”
Pak Darga tidak mampu menjawab.
Kuda putih itu menatapnya tajam.
“Aku tahu apa yang kamu inginkan.”
Pak Darga menelan ludah.
“Apa... apa maksudmu?”
“Kamu ingin menjadi kaya.”
Pak Darga terdiam.
Kuda itu semakin dekat.
“Aku bisa membantumu.”
Pak Darga menatapnya dengan ketakutan sekaligus rasa penasaran.
“Benarkah?”
“Tentu.”
“Tapi semua ada harganya.”
Suasana hutan tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Tidak ada suara jangkrik.
Tidak ada suara burung.
Bahkan angin pun seolah berhenti.
“Apa yang harus aku lakukan?”
Kuda itu mengangkat kepalanya.
“Bawa aku pulang.”
Pak Darga terdiam.
“Bawa aku ke kandangmu.”
“Setelah itu, setiap malam Jumat...”
Mata kuda tersebut semakin merah.
“...kau harus menyediakan satu ekor ayam cemani.”
Pak Darga mengernyit.
“Untuk apa?”
“Bawa ayam itu ke atas pohon bambu yang tumbuh di tengah hutan ini.”
Pak Darga merasa semakin aneh.
“Dan setelah itu?”
Kuda tersebut mendekat hingga wajahnya berada hanya beberapa langkah dari Pak Darga.
“Jangan pernah melupakan perjanjian kita.”
“Jika kau melanggar...”
Suara kuda itu berubah berat.
“...anakmu yang akan menjadi gantinya.”
Pak Darga langsung teringat Ayu.
Wajah anaknya yang sedang sakit terbayang dalam pikirannya.
Ia mengepalkan tangan.
“Kalau aku setuju... Ayu akan sembuh?”
Kuda itu tidak menjawab.
Ia hanya berkata,
“Besok hidupmu akan berubah.”
Pak Darga terdiam cukup lama.
Ia tahu apa yang sedang dilakukannya.
Namun dalam keadaan terdesak, manusia terkadang rela melakukan apa pun demi keluarganya.
Akhirnya ia mengangguk.
“Aku setuju.”
Kuda itu meringkik keras.
HIIIIIIIIIIIIIIII...!
Suara ringkikannya menggema ke seluruh hutan.
Pak Darga memejamkan mata.
Ketika ia membukanya kembali...
Kuda putih itu sudah tidak ada.
Yang tersisa hanya jejak kuku yang terlihat seperti terbakar di tanah.
Pak Darga berdiri terpaku.
Namun setelah beberapa saat, ia menguatkan hati.
“Yang penting Ayu.”
Ia kemudian membawa daun yang sudah dipetik dan pulang.
Tanpa mengetahui bahwa sejak malam itu...
sebuah perjanjian gaib telah mengikat hidupnya.
Kekayaan yang Datang Terlalu Cepat
Keesokan paginya, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan Pak Darga terjadi.
Seorang pedagang dari kota datang ke rumahnya.
“Pak, saya dengar Bapak punya kuda untuk dijual?”
Pak Darga hampir tidak percaya.
“Iya... ada.”
Pedagang itu melihat beberapa ekor kuda.
“Berapa harganya?”
Pak Darga menyebutkan harga yang sangat murah.
Namun pedagang tersebut justru menggeleng.
“Saya beli semuanya.”
Pak Darga terkejut.
“Semuanya?”
“Iya.”
“Dengan harga yang Bapak minta?”
“Bahkan saya bayar empat kali lipat.”
Pak Darga terdiam.
Ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Dalam satu hari, semua kudanya habis terjual.
Uang yang selama ini ia tunggu akhirnya datang.
Namun keajaiban belum berhenti.
Beberapa minggu kemudian, ladang Pak Darga yang selama bertahun-tahun selalu gagal panen tiba-tiba menghasilkan panen berlimpah.
Padi tumbuh subur.
Sayuran memenuhi lahan.
Hasil panennya bahkan berkali-kali lipat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dalam waktu singkat, kehidupan Pak Darga berubah.
Dari seorang juragan kuda yang hampir bangkrut...
Ia berubah menjadi orang terkaya di kampung.
Rumah sederhana miliknya direnovasi menjadi rumah besar.
Kendaraan mulai memenuhi halaman.
Orang-orang yang dulu jarang menyapanya kini datang untuk bersilaturahmi.
Pak Darga hidup serba berkecukupan.
Ia tidak lagi memikirkan harga beras.
Tidak lagi memikirkan biaya pakan.
Tidak lagi memikirkan kegagalan panen.
Setiap pagi ia hanya duduk santai di teras.
Secangkir kopi berada di tangannya.
Kakinya diayun-ayunkan.
“Beginilah hidup kalau punya uang,” katanya sambil tersenyum.
Namun setiap malam Jumat, Pak Darga tidak pernah lupa.
Ia selalu membeli seekor ayam cemani.
Menjelang tengah malam, ia membawanya ke hutan.
Kemudian ayam itu diletakkan di atas pohon bambu seperti yang diperintahkan kuda putih.
Tidak pernah sekalipun ia berani melanggar.
Selama bertahun-tahun, perjanjian itu terus berjalan.
Sepuluh Tahun Kemudian
Sepuluh tahun berlalu.
Pak Darga masih hidup dalam kemewahan.
Namun kekayaan ternyata membawa perubahan lain.
Bukan hanya kepada dirinya...
Tetapi juga kepada Ayu.
Ayu yang dulu adalah anak sederhana dan pendiam kini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Ia mulai terbiasa hidup mewah.
Pakaian mahal.
Ponsel terbaru.
Kendaraan bagus.
Uang untuk bersenang-senang.
Lama-kelamaan Ayu berubah menjadi anak yang sombong.
Ia tidak lagi mengenal kesederhanaan yang dulu pernah dijalani keluarganya.
Bahkan kepada kedua orang tuanya pun sikapnya mulai berubah.
Suatu sore, Ayu pulang dengan wajah kesal.
“Pak!”
Pak Darga yang sedang menikmati kopi menoleh.
“Ada apa, Yu?”
“Ayu butuh uang.”
“Untuk apa?”
“Mau pergi sama teman-teman.”
Pak Darga tersenyum.
“Berapa?”
“Lima juta.”
Pak Darga langsung terdiam.
“Lima juta?”
“Iya.”
“Untuk jalan-jalan?”
Ayu mengangguk santai.
“Memangnya kenapa?”
Pak Darga menarik napas.
“Jangan terlalu boros, Yu.”
Ayu langsung memasang wajah kesal.
“Bapak sekarang kaya karena siapa?”
Pak Darga terdiam.
“Dulu kita susah. Sekarang sudah punya uang, kenapa harus pelit?”
“Ayu cuma mau menikmati hidup.”
Perkataan itu membuat hati Pak Darga terasa sakit.
Ia menatap anaknya.
Dalam hati ia bertanya-tanya.
Apakah semua kekayaan ini benar-benar membuat keluarganya bahagia?
Sebab semakin banyak harta yang mereka miliki...
Semakin jauh pula Ayu dari sifatnya yang dulu.
Dan tanpa disadari Pak Darga...
sepuluh tahun telah berlalu sejak perjanjian itu dibuat.
Sementara janji dengan kuda putih tersebut belum pernah berakhir.
Bahkan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, terdengar suara aneh dari arah kandang kosong di belakang rumah.
Kutupak...
Pak Darga yang sedang duduk di ruang tengah langsung terdiam.
Kutupak... kutupak...
Suara langkah kuda.
Padahal...
tidak ada satu pun kuda di kandang itu.
Pak Darga perlahan menoleh ke arah jendela.
Wajahnya mendadak pucat.
Ia baru menyadari satu hal yang selama ini mungkin ia lupakan.
Perjanjian dengan kuda putih itu ternyata belum selesai.

Posting Komentar