Lensa Maut di Danau Ranu: Jangan Memotret Setelah Pukul Enam Sore

Table of Contents

Pemuda Kota yang Tidak Percaya Pamali

Zaman boleh semakin canggih. Teknologi semakin maju, dan kehidupan modern membuat sebagian anak muda mulai memandang sebelah mata berbagai mitos, pamali, maupun larangan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.

Bagi mereka, semua itu hanyalah cerita lama.

Begitu pula dengan Yana.

Pemuda asal kota itu sama sekali tidak percaya pada pantangan ataupun larangan leluhur. Baginya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara logika tidak perlu ditakuti.

Kedatangannya ke sebuah desa terpencil di kaki gunung sebenarnya hanya untuk berlibur.

Selain ingin menikmati suasana pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Yana juga membawa kamera dan ponsel karena ingin mencari objek fotografi baru.

Ia memang memiliki hobi memotret.

Baginya, semakin sepi dan semakin asing sebuah tempat, justru semakin menarik untuk diabadikan.

Ia memilih tinggal beberapa hari di rumah pamannya, Pak Joko, yang tinggal bersama istrinya, Bu Marni.

Keesokan paginya, Yana tiba di rumah tersebut dengan berjalan kaki sambil membawa sebuah ransel besar.

“Assalamualaikum, Paman! Yana sudah datang!”

Pak Joko yang sedang duduk di teras langsung menoleh.

“Waalaikumsalam. Owalah, Le! Sudah sampai toh.”

Pak Joko segera berdiri dan menghampiri keponakannya.

“Bagaimana perjalananmu? Capek? Jauh, kan, dari kota sampai ke sini?”

“Lumayan, Paman. Tapi seru. Udara di sini enak banget.”

Pak Joko tersenyum sambil merangkul Yana masuk ke dalam rumah.

“Ya sudah, istirahat dulu. Nanti kalau sudah enakan, baru jalan-jalan.”

Yana meletakkan tasnya di kamar.

Namun belum lama duduk, matanya sudah tertuju pada pemandangan dari jendela.

Pepohonan hijau membentang di kejauhan. Kabut tipis masih menggantung di lereng gunung. Udara terasa begitu sejuk.

Pemandangan itu membuat keinginan Yana untuk menjelajah semakin besar.

Di tengah perbincangan bersama pamannya, tiba-tiba ia teringat sebuah tempat yang sempat dilihatnya di internet.

“Oh iya, Paman.”

Pak Joko menoleh.

“Danau Ranu itu sebenarnya di mana, sih? Aku lihat di internet, katanya ada danau bagus di sekitar sini.”

Seketika ekspresi Pak Joko berubah.

Senyumnya perlahan menghilang.

“Danau Ranu?”

“Iya.”

Pak Joko terdiam beberapa detik.

“Memangnya kenapa kamu tanya soal tempat itu?”

Yana justru semakin penasaran.

“Ya karena aku mau liburan, Paman. Masa datang jauh-jauh cuma diam di rumah?”

Ia tertawa kecil.

“Aku lihat fotonya bagus banget. Cocok buat hunting foto.”

Pak Joko tidak ikut tertawa.

“Jangan ke sana.”

Yana mengernyit.

“Kenapa?”

“Pokoknya jangan.”

“Lho, memangnya kenapa, Paman?”

Yana terus mendesak.

“Ayo, Paman antar aku ke sana. Sekalian aku mau lihat langsung.”

Pak Joko menghela napas panjang.

Ia tahu sifat keponakannya.

Kalau sudah penasaran, semakin dilarang justru semakin ingin tahu.

Akhirnya Pak Joko mengalah.

“Ya sudah. Paman antar.”

Wajah Yana langsung cerah.

“Tapi...” lanjut Pak Joko.

Nada suaranya berubah serius.

“Ada satu syarat.”

Yana mengangguk.

“Apa?”

Pak Joko mendekat dan berbicara dengan suara lebih rendah.

“Kalau nanti sampai di Danau Ranu, jangan pernah berada di sana setelah pukul enam sore.”

Yana terdiam sebentar.

“Kenapa?”

“Dan satu lagi.”

Pak Joko menatap mata Yana.

“Jangan memotret danau itu ketika waktu sudah mendekati pukul enam.”

Yana malah tertawa.

“Hahaha... Paman ini masih percaya begituan?”

“Le...”

“Zaman sekarang, Paman. Mana ada hantu cuma gara-gara foto?”

Pak Joko terlihat semakin serius.

“Dengar baik-baik.”

“Kalau kamu sampai berani memotret danau itu setelah pukul enam sore, kamu bisa celaka.”

Yana menggeleng sambil tersenyum.

“Ah, paling juga mitos warga sini.”

Pak Joko tidak menjawab.

Ia hanya memandang Yana dengan wajah penuh kekhawatiran.

Perjalanan Menuju Danau Ranu

Karena perjalanan dari rumah Pak Joko menuju Danau Ranu membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit, mereka akhirnya berangkat sore hari.

Jam menunjukkan pukul 17.30.

Sepanjang perjalanan, Pak Joko lebih banyak diam.

Sementara Yana justru sibuk memperhatikan pemandangan dari atas kendaraan.

Semakin jauh mereka pergi, rumah-rumah penduduk semakin jarang terlihat.

Pepohonan semakin rapat.

Jalan semakin sempit.

Dan udara terasa semakin dingin.

“Paman.”

“Hm?”

“Kenapa tempatnya sepi banget?”

“Memang begitu.”

“Kalau bagus begini, kenapa tidak banyak wisatawan?”

Pak Joko tidak langsung menjawab.

“Karena tidak semua orang mau datang ke sana.”

Yana tersenyum.

“Karena cerita hantu itu?”

Pak Joko kembali diam.

Yana hanya tertawa kecil.

Keindahan yang Menyimpan Kengerian

Begitu tiba di Danau Ranu, Yana langsung terdiam.

Pemandangan di hadapannya benar-benar jauh lebih indah daripada foto yang pernah ia lihat di internet.

Air danau begitu tenang.

Permukaannya seperti cermin besar yang memantulkan langit sore berwarna merah keunguan.

Kabut tipis perlahan turun dan menyentuh permukaan air.

Pepohonan di sekitar danau berdiri tinggi dan rapat.

Tidak ada suara manusia.

Hanya suara angin yang sesekali melewati dedaunan.

Yana tersenyum lebar.

“Gila... bagus banget!”

Ia langsung mengambil kameranya.

Pak Joko memperhatikannya.

“Jangan terlalu dekat.”

“Iya, Paman.”

“Dan ingat pesan Paman.”

Yana mengangguk.

“Iya, iya. Sebelum jam enam kita pulang.”

Pak Joko kemudian memilih menunggu di dekat jalan.

Sementara Yana turun menuju tepi danau untuk mencari sudut pengambilan gambar terbaik.

Ia berjalan perlahan.

Sesekali ia jongkok untuk mencari komposisi yang menurutnya sempurna.

Namun waktu terus berjalan.

Tanpa terasa, jarum jam sudah menunjukkan pukul 17.55.

Yana masih sibuk mencari sudut foto.

Lima menit lagi menuju pukul enam.

Tiba-tiba angin berhenti.

Suasana yang sebelumnya hanya sunyi mendadak terasa sangat hening.

Yana mengangkat kepalanya.

“Aneh...”

Ia melihat sekeliling.

Tidak ada apa-apa.

“Ah, paling cuma perasaanku.”

Ia kembali mengangkat ponselnya.

Layar kamera diarahkan ke danau.

Saat itulah tangannya tiba-tiba terasa dingin.

Entah kenapa, jari-jarinya sedikit gemetar.

Yana melihat jam.

17.59.

“Sebentar lagi enam.”

Ia tersenyum kecil.

“Sekali foto saja.”

Jarinya mulai mengatur fokus.

Namun saat kamera berhasil menangkap pemandangan di depannya, senyum Yana perlahan menghilang.

Ada sesuatu di dalam layar.

Sesuatu yang tidak terlihat oleh matanya secara langsung.

Di salah satu sudut danau, berdiri seorang wanita.

Rambutnya panjang.

Tubuhnya kurus.

Bajunya tampak putih dan basah.

Ia berdiri membelakangi danau.

Namun wajahnya menghadap tepat ke arah kamera.

Yana membeku.

“Siapa itu?”

Ia langsung menurunkan ponselnya.

Matanya menatap tempat tersebut.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Yana kembali mengangkat ponselnya.

Sosok wanita itu masih ada.

Kali ini lebih dekat.

Yana menelan ludah.

“Enggak mungkin...”

Ia mengucek matanya.

Sosok itu tetap berada di layar.

Bahkan kali ini, wajah wanita tersebut terlihat semakin jelas.

Kulitnya pucat.

Rambut basah menutupi sebagian wajah.

Dan kedua matanya menatap lurus ke arah Yana.

Yana mundur satu langkah.

Kemudian ia melihat jam.

18.00.

Tepat pukul enam sore.

Seketika layar ponselnya berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu kamera seperti bergerak sendiri.

Yana panik.

“Ya Allah...”

Ia langsung membalikkan badan.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun dari arah danau terdengar suara seperti bisikan.

Pelan.

Sangat pelan.

“Jangan...”

Yana terdiam.

Kemudian terdengar lagi.

“...foto aku.”

Tubuh Yana langsung merinding.

Ia tidak berani menoleh ke belakang.

Tanpa pikir panjang, Yana berlari sekuat tenaga menuju jalan tempat pamannya menunggu.

“Paman!”

Pak Joko yang melihat Yana berlari langsung berdiri.

“Yana! Ada apa?!”

“Pulang, Paman!”

Wajah Yana pucat.

“Ayo pulang sekarang!”

Pak Joko langsung menyadari sesuatu telah terjadi.

“Kamu memotret?”

Yana tidak menjawab.

Ia hanya terus berlari.

Kepanikan di Rumah Pak Joko

Setibanya di jalan utama, Yana langsung mencari kendaraan.

Ia akhirnya menemukan ojek desa yang kebetulan melintas.

Tanpa banyak bicara, Yana segera meminta diantar pulang.

Sepanjang perjalanan, wajahnya pucat.

Tangannya terus menggenggam ponsel.

Ia bahkan tidak berani membuka aplikasi kamera.

Sesampainya di rumah, Yana langsung menerobos masuk.

“Paman!”

Pak Joko yang baru tiba beberapa saat kemudian terkejut melihat keponakannya menangis.

Yana langsung memeluknya.

“Hiks... hiks... Paman... tolong aku!”

Pak Joko menepuk punggungnya.

“Tenang, Le. Tenang dulu.”

“Ada apa?”

Yana menangis semakin keras.

“Paman... aku salah.”

“Aku seharusnya dengar kata-kata Paman.”

Pak Joko mulai panik.

“Kamu melihat sesuatu?”

Yana mengangguk.

“Tadi di danau...”

Napasnya tersengal.

“Aku melihat wanita.”

Pak Joko langsung pucat.

“Wanita?”

“Iya.”

“Di mana?”

“Di layar ponselku.”

Pak Joko terdiam.

Kemudian bertanya dengan suara pelan.

“Kamu sempat memotretnya?”

Yana menggeleng cepat.

“Tidak.”

Pak Joko menghela napas lega.

“Syukurlah...”

Namun Yana tiba-tiba terdiam.

“Ada apa?” tanya Pak Joko.

Yana melihat ponselnya.

“Paman...”

“Apa?”

“Tapi aku tidak tahu apakah kameranya sempat menyimpan sesuatu atau tidak.”

Pak Joko langsung menatap ponsel tersebut.

“Jangan dibuka.”

Yana mengangkat wajah.

“Kenapa?”

“Jangan buka galeri.”

Wajah Pak Joko semakin serius.

“Ada alasan kenapa Paman melarangmu memotret tempat itu.”

Yana akhirnya duduk.

“Ceritakan semuanya, Paman.”

Pak Joko menghela napas panjang.

Ia tahu, sekarang sudah tidak ada gunanya menyembunyikan cerita tersebut.

Rahasia Kelam Danau Ranu

“Dulu, tempat itu bukan bernama Danau Ranu.”

Yana diam mendengarkan.

“Namanya Danau Damai.”

“Dulu tempat itu ramai. Banyak orang datang. Banyak fotografer mengambil gambar di sana.”

Pak Joko menatap kosong ke arah jendela.

“Sampai suatu hari terjadi pembunuhan.”

Yana menelan ludah.

“Seorang wanita dibunuh di sana.”

“Dia seorang model yang sering menjadi objek foto.”

Pak Joko melanjutkan.

“Tidak ada yang tahu pasti siapa pelakunya. Tapi yang jelas, wanita itu dibunuh secara sadis.”

“Jasadnya kemudian dibuang ke dasar danau.”

Yana terdiam.

“Yang lebih mengerikan...”

Pak Joko menatap Yana.

“Pembunuhan itu terjadi tepat pukul enam sore.”

Yana langsung teringat layar ponselnya.

18.00.

Pak Joko melanjutkan.

“Sejak kejadian itu, berbagai kejadian aneh mulai terjadi.”

“Orang-orang yang datang untuk memotret danau menjelang pukul enam sering mengaku melihat sosok wanita di dalam hasil kamera mereka.”

“Sebagian menganggap itu hanya gangguan kamera.”

“Tapi beberapa orang kemudian menghilang.”

Yana semakin pucat.

“Dan tidak pernah ditemukan?”

Pak Joko menggeleng.

“Tidak semuanya.”

“Sebagian ditemukan dalam keadaan mengenaskan.”

“Sebagian lainnya tidak pernah kembali.”

Yana menatap ponselnya.

“Lalu kenapa namanya diganti menjadi Danau Ranu?”

Pak Joko menjawab pelan.

“Karena warga takut.”

“Nama Danau Damai dianggap tidak lagi pantas untuk tempat yang menyimpan begitu banyak kematian.”

“Sejak saat itu, masyarakat menyebutnya Danau Ranu.”

Pak Joko menarik napas panjang.

“Warga percaya arwah wanita itu tidak pernah pergi.”

“Katanya, ia masih berada di sana.”

“Terperangkap di dalam air danau.”

Yana terdiam.

“Lalu kenapa dia muncul di kamera?”

Pak Joko tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian ia berkata,

“Konon, dia tidak ingin wajahnya diabadikan lagi.”

“Karena dulu... sebelum dibunuh, wanita itu memang sedang dipotret.”

Yana merinding.

“Jadi orang yang memotret...”

“Bisa menjadi orang berikutnya yang diperhatikan olehnya.”

Ruangan mendadak terasa sangat sunyi.

Yana menggenggam ponselnya semakin erat.

Ia kemudian teringat satu hal.

“Paman...”

“Apa?”

“Tadi aku tidak sempat menekan tombol kamera.”

Pak Joko mengangguk.

“Itu sebabnya kamu masih bisa pulang.”

Yana menghela napas lega.

Namun belum sempat ia berbicara lagi...

Foto yang Tidak Pernah Diambil

Ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar.

Satu notifikasi muncul di layar.

Yana menatapnya.

Wajahnya langsung berubah pucat.

Sebuah foto baru saja tersimpan di galeri.

Padahal ia yakin...

Ia tidak pernah menekan tombol kamera.

Dan ketika foto itu terbuka, yang terlihat bukan pemandangan Danau Ranu.

Melainkan wajah wanita berambut panjang yang tadi ia lihat di layar.

Kali ini sosok itu tidak berada di kejauhan.

Wajahnya memenuhi seluruh layar.

Dan di bawah foto tersebut terdapat satu tulisan yang membuat darah Yana terasa berhenti mengalir:

“Kamu sudah memotret aku.”

Posting Komentar