Lewati ke konten
Beranda Misteri Kehidupan Cinta Legenda Horor & Mistis News Event
Lensa Maut di Danau Ranu

Lensa Maut di Danau Ranu

📅 Agustus 11, 2026 Misteri
Mulai Baca
☰ Daftar Isi

    Isi Cerita

    zaman boleh semakin canggih, dan dunia modern mungkin membuat sebagian anak muda masa kini memandang sebelah mata segala bentuk mitos atau pamali. Yana adalah salah satunya. Pemuda asal kota ini sama sekali tidak percaya pada pantangan atau larangan leluhur.


    Kedatangannya ke sebuah desa terpencil di kaki gunung—tempat pamannya, Pak Joko, dan bibinya, Bu Marni, tinggal—hanya berniat untuk berlibur sekaligus mencari inspirasi fotografi yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.

    Keesokan paginya, Yana tiba di rumah pamannya dengan berjalan kaki sambil membawa tas ransel besar.

    "Assalamualaikum, Paman! Yana sudah datang!" sapa Yana penuh semangat.

    "Owalah, Le! Sudah sampai toh. Bagaimana di jalan, capek tidak? Jauh ya perjalanan ke sini," sambut Pak Joko hangat sambil merangkul keponakannya untuk masuk ke dalam rumah.

    Setelah meletakkan tas dan melepas penat sejenak, mata Yana langsung tertuju pada pemandangan luar yang asri. Jiwa mudanya langsung bergejolak untuk segera menjelajah dan mengambil foto. Di tengah perbincangan, rasa penasarannya terpancing oleh sebuah nama tempat yang sempat ia temukan di internet.

    "Oh iya, Paman... Danau Ranu itu sebenarnya di mana, sih? Aku lihat di internet, danau itu ada di sekitar sini, kan?" tanya Yana antusias.

    Mendengar pertanyaan itu, senyum di wajah Pak Joko mendadak lenyap. Wajahnya menegang, dan ia menjawab dengan nada ragu, "Mm... Memangnya kenapa, Le? Kenapa kamu menanyakan danau itu?"

    "Aku kan ke sini mau liburan, Paman, bukan cuma diam di rumah. Aku suka suasana yang berbeda. Ayo, Paman, antar aku ke sana!" pinta Yana memaksa.

    Karena terus didesak dan tak punya pilihan lain, Pak Joko akhirnya mengiyakan permintaan keponakannya. Namun, sebelum mereka berangkat, Pak Joko memberikan satu syarat mutlak dengan suara berbisik penuh kekhawatiran.

    "Dengar, Le. Kalau nanti Paman antar ke Danau Ranu, kamu harus berjanji satu hal pada Paman: jangan pernah bermain di sana sampai lewat pukul enam sore, apa lagi memotret pemandangan danaunya!"

    Yana justru tertawa renyah, menganggap ucapan pamannya sebagai lelucon kuno. "Hahaha... Dasar Paman, kolot banget pemikirannya! Mana ada zaman sekarang percaya hal begitu. Memangnya kenapa kalau memotret di jam segitu?"

    "Ihh, oalah, Le! Dengerin Paman! Kalau kamu sampai berani memotret di danau itu pada jam tersebut, kamu tidak akan selamat!" sergah Pak Joko memperingatkan dengan serius.

    Meski sudah diperingatkan berulang kali, Yana tetap mengabaikannya. Mengingat jarak dari rumah Pak Joko ke danau memakan waktu sekitar tiga puluh menit, mereka baru berangkat ketika jarum jam menunjuk pukul 05:30 sore.

    Setibanya di Danau Ranu, Yana langsung terpukau. Suasana di sana begitu sunyi, magis, dan menenangkan. Air danaunya yang tenang tampak bagaikan cermin raksasa yang memantulkan langit berwarna merah keunguan, berpadu dengan kabut tipis yang merayap di permukaan air. Tidak ada suara manusia sama sekali, hanya deru angin sore dan suara alam yang menyelimuti tempat itu.

    Merasa ini adalah momen paling langka yang belum pernah ia temukan di kota, Yana meminta pamannya menunggu di atas jalan sementara ia turun mendekati tepi air untuk mencari sudut foto terbaik.

    Saat waktu kian mendekati pukul 06:00 sore, Yana mengangkat ponselnya. Tangannya tiba-tiba terasa sedikit gemetar tanpa ia sadari. Layar ponsel menyala, mengarah tepat ke sudut terindah danau tersebut. Namun, saat lensa kamera fokus menangkap pemandangan, napas Yana mendadak tercekat.

    Di dalam layar ponselnya, terlihat jelas sosok berambut panjang yang berdiri kaku di sudut sepi danau, menatap tajam ke arah kamera.

    Seketika itu juga, bulu kuduk Yana berdiri. Ia membalikkan badan dan menoleh ke belakang, tetapi di sana sama sekali tidak ada siapa-siapa. Tempat itu kosong melompong.

    Rasa takut yang luar biasa menghantam dadanya. Tanpa pikir panjang, Yana berbalik dan berlari sekuat tenaga menaiki jalan setapak menuju tempat pamannya berada. Jantungnya berdegup kencang, kakinya terasa lemas seolah kehilangan seluruh tenaga untuk berlari.

    Begitu sampai di jalan utama, ia langsung mencegat ojek desa dan meluncur pulang ke rumah pamannya dengan napas memburu. Setibanya di rumah, Yana langsung menerjang masuk dan memeluk Pak Joko erat-erat sambil menangis histeris.

    "Hiks... hiks... Paman! Tolong aku, Paman!"

    Pak Joko yang kebingungan langsung merangkul dan menenangkan keponakannya. "Ada apa, Le? Kenapa kamu menangis separah ini? Cerita ke Paman..."

    Dengan bibir yang masih bergetar hebat dan air mata berlinang, Yana bersuara, "Paman... maafkan Yana. Yana menyesal tidak mendengarkan omongan Paman. Tadi di danau... Yana melihat wanita menyeramkan di layar ponsel saat mau memotret..."

    Mendengar pengakuan itu, wajah Pak Joko memucat pasi. "Ya Gusti... kan Paman sudah bilang, jangan gegabah, Le! Tapi... kamu tidak sempat mengambil fotonya, kan?" tanyanya penuh ketakutan.

    "Tidak, Paman! Aku keburu kabur... Aku tidak berani lagi. Aku benar-benar percaya sekarang... aku percaya cerita-cerita itu!" ucap Yana dengan keyakinan penuh bahwa larangan orang tua bukanlah sekadar dongeng kosong.

    Mendengar Yana tidak sempat menekan tombol kamera, Pak Joko menghela napas panjang, merasa sedikit lega, lalu mulai menceritakan rahasia kelam di balik Danau Ranu.

    Dahulu kala, tempat itu bukanlah bernama Danau Ranu, melainkan Danau Damai. Tempat itu sangat ramai dikunjungi wisatawan dan menjadi surga bagi para pecinta fotografi alam.

    Namun, semua berubah setelah sebuah tragedi mengerikan terjadi. Seorang model wanita yang sering dijadikan objek foto dibunuh secara sadis, dan jasadnya dibuang di dasar danau tersebut. Konon, perempuan malang itu dihabisi tepat pada pukul 06:00 sore.

    Semenjak hari itu, tempat tersebut menjadi pusat malapetaka. Siapa pun yang berani mengambil gambar atau memotret di sekitar danau pada pukul enam sore diyakini akan menarik perhatian arwah penasaran sang korban, dan sebagian besar dari mereka berujung hilang secara misterius.

    Karena ketakutan warga yang begitu mendalam, nama Danau Damai akhirnya diganti menjadi Danau Ranu. Hingga kini, keangkeran tempat itu tidak pernah luntur, karena arwah sang korban diyakini telah menyatu dengan air danau, terperangkap dalam kepedihan abadi yang takkan pernah menemukan kata damai.
    LANJUTAN CERITABaca cerita selanjutnya
    Baca Selanjutnya