Misteri Kebo Bule
Penggembala yang Menjaga Kebo Bule
Di sebuah desa kecil yang berada di dekat lereng Gunung Merbabu, hiduplah seorang penggembala yang sudah dikenal secara turun-temurun oleh masyarakat sekitar.
Namanya adalah Mbah Karto.
Mbah Karto tinggal di dataran tinggi yang jauh dari keramaian kota. Sejak kecil, kehidupannya memang tidak pernah jauh dari hewan ternak.
Ia menggembala berbagai jenis hewan, mulai dari kerbau, kambing, hingga sapi.
Karena sudah puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai penggembala, banyak warga desa yang kemudian menjulukinya sebagai penggembala sakti.
Namun, bukan karena kemampuan menggembalanya saja Mbah Karto disebut demikian.
Ada satu hal yang membuat keberadaan Mbah Karto begitu berbeda dari penggembala lainnya.
Ia memiliki seekor kerbau yang tidak banyak orang pernah melihat atau bahkan memilikinya.
Kerbau tersebut sudah menjadi bagian dari keluarganya secara turun-temurun.
Sejak Mbah Karto masih kecil, ayahnya sudah memberikan amanat kepadanya untuk merawat dan membesarkan hewan tersebut.
Saat itu Mbah Karto baru berusia tujuh tahun.
Ayahnya berpesan agar ia selalu menjaga kerbau tersebut dengan baik.
Kerbau itu bukan kerbau biasa.
Kerbau yang oleh masyarakat setempat disebut kebo tersebut memiliki warna yang sangat berbeda.
Jika kebanyakan kerbau mempunyai warna hitam pekat, kerbau milik Mbah Karto justru memiliki warna putih.
Bukan hanya bulunya.
Seluruh tubuhnya berwarna putih.
Kukunya putih.
Bahkan tanduknya pun memiliki warna yang sama.
Keberadaan kerbau putih tersebut tentu saja menjadi pusat perhatian warga.
Namun, bukan hanya karena keunikannya.
Warga desa juga mengetahui asal-usul kerbau tersebut.
Mereka percaya bahwa kerbau putih itu bukanlah hewan biasa.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, kerbau tersebut merupakan penjaga desa.
Karena itulah sebagian warga justru memilih untuk menghormatinya dan tidak berani berbuat macam-macam.
Mereka percaya bahwa siapa pun yang menyakiti kerbau tersebut atau menyebarluaskan keberadaannya secara sembarangan akan membawa bencana bagi desa.
Mbah Karto sendiri sudah berusia sekitar tujuh puluh tahun.
Ia telah merawat kerbau putih itu sejak berumur tujuh tahun.
Namun, anehnya, Mbah Karto sendiri tidak pernah mengetahui secara pasti berapa usia kerbau tersebut.
Kerbau-kerbau lain yang pernah ia pelihara sudah banyak yang disembelih karena tubuhnya semakin tua.
Tetapi kerbau putih itu berbeda.
Tidak pernah terlihat menua.
Tidak pernah terlihat sakit.
Bahkan tubuhnya tetap gagah dan kuat.
Tatapannya pun terkadang membuat orang yang melihatnya merasa takut.
Mbah Karto tetap merawatnya dengan penuh ketelatenan dan kasih sayang.
Karena memiliki warna putih yang sangat berbeda dari kerbau lainnya, Mbah Karto kemudian memberinya nama:
Kebo Bule.
Nama tersebut akhirnya semakin dikenal oleh masyarakat.
Larangan yang Tidak Boleh Dilanggar
Semakin banyak orang mengetahui keberadaan Kebo Bule, semakin banyak pula orang yang penasaran.
Namun, ayah Mbah Karto dahulu sudah memberikan satu amanat penting.
Selain harus merawat Kebo Bule, Mbah Karto juga harus menjaga larangan yang berkaitan dengan kerbau tersebut.
Tidak boleh ada orang yang memotret Kebo Bule.
Tidak boleh merekamnya.
Apalagi menyebarluaskan foto atau rekamannya kepada orang lain tanpa izin.
Menurut kepercayaan yang diwariskan kepada Mbah Karto, jika larangan itu dilanggar, sesuatu yang buruk akan terjadi di desa.
Karena itulah Mbah Karto sering memberikan nasihat kepada warga maupun pendatang yang datang ke desanya.
"Kalau ingin melihat Kebo Bule, silakan."
"Tapi jangan mengambil gambar atau merekamnya."
"Jangan melanggar larangan yang sudah ada sejak dulu."
Mbah Karto tidak pernah bermaksud menakut-nakuti siapa pun.
Ia hanya ingin menjaga amanat yang telah diberikan ayahnya.
Sebab selama ini, masyarakat desa juga percaya bahwa keberadaan Kebo Bule berkaitan dengan keselamatan dan kemakmuran desa mereka.
Namun, tidak semua orang percaya dengan cerita tersebut.
Salah satunya adalah seorang anak kota yang datang ke desa pada tahun 2009.
Kedatangannya kemudian menjadi awal dari sebuah musibah.
Kedatangan Angga
Suatu hari, seorang pemuda dari kota datang ke desa tempat Mbah Karto tinggal.
Namanya Angga.
Begitu tiba di desa, Angga langsung memperkenalkan dirinya kepada beberapa warga.
"Halo..."
"Perkenalkan, nama saya Angga."
"Saya dari kota."
"Saya datang ke sini karena penasaran sekali dengan hewan aneh yang ada di desa ini."
"Boleh saya melihat hewannya?"
Beberapa warga yang mendengar perkataan Angga langsung saling berpandangan.
Mereka berkumpul melihat kedatangan anak kota tersebut.
Namun, bukannya menyambut dengan ramah, warga justru terlihat takut.
Mereka khawatir kedatangan orang baru akan kembali membawa masalah seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Tatapan warga kepada Angga terasa sinis.
Tidak ada yang tersenyum.
Tidak ada yang berani terlalu dekat.
Mbah Karto kemudian menghampiri Angga.
"Maaf sebelumnya..."
"Kamu datang jauh-jauh ke sini memang untuk melihat Kebo Bule saya, ya?"
Angga mengangguk.
Mbah Karto kemudian berkata,
"Boleh saja kalau ingin melihat."
"Saya memperbolehkan."
"Tapi dengan satu syarat."
Angga penasaran.
"Apa syaratnya, Mbah?"
Mbah Karto menjawab dengan tegas,
"Jangan mengambil gambar atau merekam hewan saya."
"Ini untuk keamanan warga desa dan kamu juga selama berada di sini."
Angga mengangguk.
"Iya, Mbah."
Namun beberapa warga langsung ikut memperingatkannya.
"Betul itu!"
"Awas saja kalau kamu tinggal sementara di desa kami lalu membuat masalah."
"Jangan sampai kamu menyakiti hewan Mbah Karto."
"Lihat saja nanti. Kami tidak akan diam."
Angga hanya tersenyum.
Di dalam hatinya, ia justru merasa tidak percaya.
"Orang kampung memang pikirannya juga kampung."
"Masa cuma kerbau saja dilebih-lebihkan seperti itu?"
Namun Angga tetap mencoba meyakinkan Mbah Karto.
"Iya, Mbah."
"Saya janji."
"Saya di sini cuma tiga hari."
"Saya ingin melihat bagaimana keseharian warga dan hewan Mbah Karto."
Mbah Karto yang tidak menaruh curiga akhirnya mengizinkan Angga tinggal di rumahnya.
Angga juga diperbolehkan melihat dan mengamati kehidupan Kebo Bule.
Angga Mulai Melanggar
Selama berada di desa, Angga mulai melihat-lihat kehidupan masyarakat.
Ia melihat warga bekerja di ladang.
Ia melihat aktivitas masyarakat di sawah.
Bahkan hampir semua kegiatan yang menarik perhatiannya direkam menggunakan kameranya.
Para warga yang merasa tidak nyaman beberapa kali memperingatkan Angga.
Namun Angga tetap keras kepala.
Ia tidak merasa takut.
Ia juga tidak terlalu mempedulikan perasaan warga.
Semakin lama berada di desa, perhatian Angga justru semakin tertuju kepada kehidupan Mbah Karto sebagai penggembala.
Ia melihat bagaimana Mbah Karto menggembalakan sapi, kambing, dan tentu saja Kebo Bule.
Hal tersebut membuat sebagian warga semakin curiga.
Mereka takut Angga melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.
Beberapa warga akhirnya menemui Mbah Karto.
"Mbah..."
"Bagaimana ya?"
"Saya takut kalau anak itu melanggar."
"Saya sering melihat dia mengeluarkan gelagat aneh kalau tidak ada warga yang memperhatikannya saat menggembalakan Kebo Bule."
Mbah Karto mulai merasa khawatir.
Ia pun bersama beberapa warga mendatangi tempat Angga menggembalakan hewan-hewan tersebut di atas gunung.
Ketika sampai di sana, mereka melihat sesuatu yang membuat Mbah Karto langsung marah.
Angga ternyata sedang memotret Kebo Bule.
Bukan hanya sekali.
Ia bahkan mengambil gambar Kebo Bule dari berbagai pose.
Lebih parah lagi, Angga memberikan selendang dan topi kepada kerbau putih tersebut hanya untuk mendapatkan foto yang menurutnya menarik.
Mbah Karto langsung berteriak.
"Woy!"
"Angga!"
"Dasar kamu tidak tahu diuntung!"
"Kan saya sudah bilang, jangan ambil gambar hewan saya!"
"Saya sudah baik mengizinkan kamu tinggal di kampung ini."
"Saya bahkan memberikan tempat dan memperbolehkan kamu melihat Kebo Bule saya."
"Tapi seenaknya kamu melanggar aturan kampung kami!"
Angga hanya bisa terdiam.
Ia tertangkap basah.
Mbah Karto kemudian meminta warga mengusir Angga dari desa.
Akhirnya, para warga menyeret Angga keluar.
Kali ini Angga tidak bisa melawan.
Ia benar-benar telah melanggar larangan yang sudah diperingatkan berkali-kali.
Kebo Bule Menghilang
Keesokan harinya, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Pagi-pagi sekali terdengar suara Mbah Karto berteriak meminta pertolongan.
"Tolong!"
"Tolonggg!"
"Kebo aku hilang!"
"Di mana kamu, Bule?"
"Kok bisa hilang?"
Para warga yang mendengar teriakan tersebut langsung berbondong-bondong datang.
Mereka ikut mencari Kebo Bule.
Namun kerbau putih itu benar-benar menghilang.
Tidak ada di kandang.
Tidak ada di sekitar tempat biasanya digembalakan.
Tidak ada pula di tempat-tempat yang biasa didatanginya.
Warga desa mulai panik.
Mereka sangat percaya bahwa Kebo Bule bukanlah kerbau biasa.
Bagi mereka, kerbau putih itu adalah penjaga desa sekaligus simbol rezeki dan kemakmuran.
Jika Kebo Bule menghilang, mereka percaya sesuatu yang buruk akan datang.
Hari demi hari berlalu.
Kebo Bule belum juga ditemukan.
Mbah Karto mencari ke mana-mana.
Ia bahkan hampir tidak tidur.
Setiap malam ia menunggu dengan harapan Kebo Bule akan kembali.
Namun kerbau putih tersebut tidak kunjung muncul.
Kabar Kematian Angga
Suatu malam, sebuah kabar mengejutkan sampai kepada kepala desa.
Anak kota yang datang ke desa beberapa waktu sebelumnya, Angga, dikabarkan mengalami musibah.
Orang tua Angga meninggal dunia setelah mengalami kejadian tragis.
Kabar yang beredar menyebutkan bahwa mereka meninggal karena dibunuh ketika sedang dalam perjalanan pulang.
Namun kematiannya menyimpan kejanggalan.
Kondisi tubuhnya tidak seperti korban pembunuhan biasa.
Ada bagian tubuh yang terlihat seperti telah digerogoti oleh hewan.
Kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Mbah Karto.
Mbah Karto langsung terdiam.
Dalam pikirannya hanya ada satu kemungkinan.
Ia yakin bahwa hewan yang telah menyerang keluarga Angga adalah Kebo Bule miliknya.
Belum sempat Mbah Karto mengatakan apa-apa, tiba-tiba dari balik semak-semak di dekat pohon bambu terdengar suara.
"Mooooooo..."
"Mooooooo..."
Mbah Karto langsung mengenali suara tersebut.
Matanya membelalak.
"Kebo Bule?"
Suara itu kembali terdengar dari dalam hutan.
"Mooooooo..."
Mbah Karto langsung berlari mencari sumber suara tersebut.
Beberapa warga ikut menyusul.
Dan benar saja.
Di tengah gelapnya hutan, mereka akhirnya melihat sosok Kebo Bule.
Kerbau putih itu berdiri diam.
Ia menatap Mbah Karto.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Matanya terlihat merah menyala.
Tatapannya tidak seperti biasanya.
Mbah Karto perlahan mendekatinya.
"Bule..."
"Kamu dari mana saja?"
Kebo Bule hanya diam.
Kemudian sesuatu yang tidak pernah dibayangkan oleh Mbah Karto maupun warga terjadi.
Kerbau putih itu berbicara.
"Aku telah kembali."
Semua orang langsung terdiam.
Tidak ada satu pun yang berani bergerak.
Suara Kebo Bule kembali terdengar.
"Aku tidak akan membuat desamu menjadi kutukan tentangku lagi."
"Suatu saat jika ada orang yang ingin tahu tentang aku dan melanggar larangan..."
"Akan aku cari sendiri."
"Tanpa harus melibatkan warga desamu."
Mbah Karto dan warga yang mendengar perkataan tersebut hanya bisa berdiri terpaku.
Untuk pertama kalinya, mereka mendengar Kebo Bule berbicara.
Penjaga Desa
Sejak kejadian tersebut, kepercayaan warga terhadap Kebo Bule semakin kuat.
Mereka percaya bahwa kerbau putih tersebut benar-benar memiliki kekuatan yang berbeda.
Selama ini, setiap kali ada orang yang melanggar larangan yang berkaitan dengan Kebo Bule, selalu saja muncul kejadian aneh.
Ada sumber air yang tiba-tiba mengering.
Ada sawah yang gagal panen.
Ada tanaman yang mati.
Bahkan sumber makanan masyarakat pernah berkurang hingga tidak tersisa.
Semua kejadian tersebut membuat warga semakin percaya bahwa Kebo Bule memiliki hubungan dengan kehidupan desa mereka.
Namun setelah Kebo Bule kembali, keadaan desa perlahan kembali tenang.
Tidak ada lagi gangguan.
Tidak ada lagi bencana yang tiba-tiba datang.
Warga pun kembali menjalani kehidupan dengan damai dan tenteram.
Mbah Karto tetap merawat Kebo Bule seperti amanat yang diberikan ayahnya sejak dahulu.
Ia tidak pernah lagi membiarkan siapa pun sembarangan memotret atau merekamnya.
Bagi warga desa, Kebo Bule bukan sekadar seekor kerbau putih.
Ia adalah penjaga.
Ia adalah bagian dari kehidupan desa.
Dan selama larangan yang diwariskan sejak dahulu tetap dihormati...
warga percaya Kebo Bule akan terus menjaga desa mereka.
Karena di balik tubuh putihnya yang gagah...
tersimpan sebuah misteri yang sampai sekarang tidak pernah benar-benar terungkap.

Posting Komentar