Misteri Pendakian Kawah Ratu Gunung Salak
Gunung Salak bukan sekadar gunung yang berdiri di antara Kabupaten Bogor dan Sukabumi, Jawa Barat.
Bagi para pendaki, gunung ini menawarkan keindahan alam, hutan yang lebat, udara yang sejuk, serta sejumlah puncak yang menjadi tujuan perjalanan.
Namun bagi sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Salak, gunung ini juga menyimpan cerita-cerita misteri yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Ada kisah tentang suara-suara aneh di tengah hutan.
Ada cerita mengenai sosok yang tiba-tiba muncul lalu menghilang.
Ada pula pantangan-pantangan yang dipercaya tidak boleh dilanggar ketika seseorang berada di kawasan tertentu.
Semua itu menjadi bagian dari cerita rakyat dan kisah mistis yang berkembang di sekitar Gunung Salak.
Salah satu kawasan yang paling sering disebut dalam berbagai cerita adalah Kawah Ratu.
Dan konon, ada satu pesan yang selalu diingat oleh mereka yang memahami cerita-cerita lama tentang gunung tersebut.
Jangan pernah menoleh ketika seseorang sudah memperingatkan untuk tidak melakukannya.
Kisah ini bermula dari empat orang anak muda yang datang dengan tujuan yang berbeda dari para pendaki pada umumnya.
Mereka datang bukan sekadar untuk menikmati pemandangan.
Mereka datang membawa sebuah niat yang sejak awal telah diperingatkan untuk tidak dilakukan sembarangan.
Gunung yang Menyimpan Banyak Cerita
Gunung Salak dikenal sebagai salah satu gunung api tua di Jawa Barat.
Gunung ini memiliki beberapa puncak dan sejumlah kawah. Kawah Ratu merupakan salah satu kawasan yang dikenal oleh para pendaki dan pencinta alam.
Namun, di luar fakta geografis dan vulkanologinya, masyarakat juga memiliki berbagai cerita mengenai kawasan tersebut.
Dalam sejumlah cerita yang beredar, Gunung Salak dahulu pernah disebut Sapto Argo.
Nama tersebut sering dikaitkan dengan makna tujuh puncak dalam cerita tradisional yang berkembang di masyarakat.
Sementara nama Salak sendiri bukan berasal dari buah salak.
Nama itu berkaitan dengan kata Sanskerta salaka yang berarti perak.
Seiring waktu, cerita mengenai gunung tersebut berkembang semakin luas.
Ada yang datang untuk mendaki.
Ada yang datang untuk menikmati keindahan alam.
Namun ada pula yang datang dengan niat yang tidak biasa.
Dan dalam kisah-kisah mistis yang berkembang, mereka yang datang dengan kesombongan atau meremehkan pantangan dipercaya bisa mengalami sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.
Salah satu kisah itu terjadi pada empat orang bernama Sinta, Rama, Dava, dan Dena.
Empat Orang dengan Niat yang Berbeda
Hari itu sudah sore ketika keempatnya tiba di salah satu pos penjagaan.
Mereka turun dari kendaraan dengan pakaian seadanya.
Tidak ada tas carrier.
Tidak ada perlengkapan mendaki.
Tidak ada peralatan keselamatan yang biasanya dibawa seorang pendaki.
Seorang penjaga pos memperhatikan mereka dari kejauhan.
Tatapannya berpindah dari wajah satu orang ke wajah lainnya.
Kemudian ia melihat tangan mereka.
Kosong.
Tidak ada perlengkapan yang menunjukkan mereka benar-benar akan melakukan pendakian.
Penjaga itu akhirnya bertanya.
"Kalian mau mendaki?"
Sinta mengangguk.
"Iya, Pak."
"Ke mana?"
"Kawah Ratu."
Penjaga itu masih memperhatikan mereka.
"Kalau mau mendaki, perlengkapannya mana?"
Keempatnya saling berpandangan.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Penjaga itu kemudian menghela napas.
"Saya sudah lama menjaga kawasan ini. Jangan bilang kalian datang untuk sesuatu yang lain."
Sinta mencoba tersenyum.
"Kami cuma ingin melihat-lihat, Pak."
Penjaga itu menggeleng.
"Jangan bohong."
Suasana langsung berubah.
Rama menundukkan kepala.
Dava terlihat gelisah.
Dena bahkan mulai memainkan jemarinya sendiri.
Penjaga itu akhirnya berkata dengan suara tegas.
"Kalian datang untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pesugihan?"
Tidak ada jawaban.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Sinta akhirnya mengangguk.
"Iya, Pak."
Penjaga itu menatap mereka satu per satu.
"Saya sudah menduga."
Ia menghela napas panjang.
"Kalau memang itu tujuan kalian, saya tidak akan banyak bertanya. Tapi kalian harus mengikuti semua yang saya katakan."
Keempatnya mengangguk.
Mereka belum tahu bahwa perjalanan yang mereka pikir akan menjadi perjalanan singkat justru akan berubah menjadi malam paling mengerikan dalam hidup mereka.
Pesan Sang Guru Kunci
Penjaga itu kemudian berjalan lebih dulu.
Keempatnya mengikuti dari belakang.
Tidak lama setelah meninggalkan pos, sang penjaga berhenti.
Ia menoleh.
"Dengarkan baik-baik."
Keempatnya diam.
"Mulai sekarang, jangan berhenti sembarangan."
Mereka mengangguk.
"Jangan menoleh ke kanan atau kiri."
Mereka kembali mengangguk.
"Dan satu lagi."
Penjaga itu menatap mereka dengan serius.
"Kalau mendengar sesuatu dari belakang, jangan sekali-kali menoleh."
Dava bertanya,
"Kenapa, Pak?"
Penjaga itu tidak langsung menjawab.
"Karena tidak semua yang kalian dengar berasal dari manusia."
Mereka saling berpandangan.
Sinta justru tersenyum kecil.
Dalam hati ia merasa penjaga itu hanya sedang menakut-nakuti mereka.
Mereka kemudian kembali berjalan.
Semakin jauh dari pos, hutan semakin rapat.
Suara langkah kaki mereka bercampur dengan suara dedaunan yang tertiup angin.
Matahari mulai tenggelam.
Cahaya semakin redup.
Dan kemudian...
HUUUUUAAAKKKK...
Suara aneh terdengar dari belakang.
Langkah keempatnya langsung melambat.
Rama menelan ludah.
"Apa itu?"
Penjaga tidak menjawab.
Ia hanya berkata,
"Terus jalan."
Suara itu kembali terdengar.
HUUUUUAAAKKKK...
Kali ini lebih dekat.
Dena mulai ketakutan.
"Pak..."
"Jangan bicara. Terus jalan."
Namun Sinta justru semakin penasaran.
Ia merasa tidak mungkin ada sesuatu yang aneh.
Mungkin hanya binatang hutan.
Mungkin hanya suara burung.
Atau mungkin suara pohon yang terkena angin.
Ia ingin membuktikannya sendiri.
Jangan Menoleh
Penjaga tiba-tiba berkata keras.
"Sinta!"
Sinta terkejut.
"Jangan menoleh!"
Sinta berhenti.
"Pak, saya cuma..."
"Jangan!"
Namun rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.
Perlahan Sinta memutar kepala.
Awalnya ia hanya melihat kegelapan.
Pepohonan.
Kabut tipis.
Semak belukar.
Kemudian sepasang mata muncul dari balik pepohonan.
Sinta membeku.
Matanya membesar.
Tubuhnya mendadak kaku.
Di antara pepohonan berdiri seekor harimau putih berukuran sangat besar.
Hewan itu diam.
Menatap Sinta.
Sinta mundur satu langkah.
Kemudian dua langkah.
Wajahnya berubah pucat.
"Pa..."
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Penjaga langsung berteriak.
"JANGAN MENENGOK!"
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Sinta menjerit.
"AAAAAAAHHHH!"
Rama, Dava, dan Dena terkejut.
Mereka hampir saja menoleh.
"Jangan!" teriak penjaga.
"Kalau kalian ingin selamat, jangan lihat ke belakang!"
Tangisan dan jeritan Sinta terdengar beberapa detik.
Kemudian...
Hening.
Tidak ada lagi suara.
Rama mulai menangis.
"Sinta..."
Penjaga langsung membentak.
"Jangan panggil namanya!"
"Tapi teman kami..."
"Dia sudah tidak bersama kita."
Ketiga orang itu terdiam.
Tidak ada yang berani bertanya lagi.
Mereka hanya terus berjalan.
Tiga Orang Menuju Kawah Ratu
Perjalanan terasa semakin berat.
Rama berjalan dengan kaki gemetar.
Dava beberapa kali hampir jatuh.
Dena tidak berani mengangkat wajah.
Sementara penjaga terus berjalan di depan tanpa pernah menoleh.
Setelah perjalanan panjang, mereka akhirnya tiba di kawasan yang mereka tuju.
Kawah Ratu.
Pemandangan di hadapan mereka membuat ketiganya terdiam.
Di tengah kesunyian, kawasan kawah terlihat begitu luas.
Kabut tipis menggantung.
Suara air terdengar dari kejauhan.
Untuk beberapa saat, mereka lupa dengan apa yang baru saja terjadi.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari arah yang tidak jelas, terdengar suara aneh.
Pelan.
Kemudian semakin jelas.
"Eyaaa... eyaaa... eyaaa..."
Rama mengerutkan kening.
"Kalian dengar?"
Dava mengangguk.
"Itu suara bayi."
Dena menatap keduanya.
"Mana mungkin ada bayi di sini?"
Tangisan itu kembali terdengar.
"Eyaaa... eyaaa..."
Kali ini jauh lebih jelas.
Dan seolah-olah suara tersebut datang dari arah sebuah curug yang berada tidak jauh dari mereka.
Dava mulai berjalan.
"Jangan!" teriak penjaga.
Dava berhenti.
"Kalian jangan mencari suara itu."
Rama bertanya,
"Kenapa, Pak?"
Penjaga menatap mereka.
"Karena suara yang kalian dengar belum tentu berasal dari bayi."
Dava menelan ludah.
Namun rasa penasaran mereka semakin besar.
Penjaga kemudian berkata,
"Saya hanya mengantar sampai sini."
Ia berbalik.
"Setelah ini, kalian tanggung sendiri akibat dari niat kalian."
Kemudian ia pergi.
Ketiga orang itu hanya bisa memandang punggung sang penjaga semakin jauh.
Suara Bayi di Balik Curug
Tangisan kembali terdengar.
Kali ini semakin dekat.
"Eyaaa... eyaaa..."
Dava berjalan menuju curug.
Rama mengikutinya.
Dena sempat ragu.
"Jangan-jangan kita pulang saja."
Namun dua temannya terus berjalan.
Mereka menemukan sebuah celah di balik derasnya air.
Awalnya mereka mengira itu hanya celah batu biasa.
Namun ternyata di balik curug terdapat jalan sempit menuju sebuah gua.
Rama berhenti.
"Kita masuk?"
Dava mengangguk.
"Mungkin suara bayinya dari dalam."
Mereka akhirnya masuk.
Beberapa langkah.
Kemudian semakin dalam.
Suara air di belakang perlahan menghilang.
Suara tangisan bayi justru semakin jelas.
"Eyaaa... eyaaa..."
Dena mulai menangis.
"Kita pulang saja."
Namun mereka berbalik.
Dan saat itulah mereka menyadari sesuatu.
Jalan yang tadi mereka lewati tidak lagi terlihat.
Rama panik.
"Mana jalan keluar?"
Dava menyorotkan cahaya ke dinding gua.
Tidak ada apa-apa.
Hanya batu.
Gelap.
Basah.
Dan suara tangisan.
Gua yang Tidak Seharusnya Mereka Masuki
Tiba-tiba suara bayi terdengar dari arah depan.
"Eyaaa... eyaaa..."
Dena menunjuk.
"Di sana!"
Mereka bergerak perlahan.
Semakin jauh mereka masuk, suara itu semakin banyak.
Bukan satu.
Bukan dua.
Tetapi seperti puluhan suara bayi yang menangis bersamaan.
"Eyaaa..."
"Eyaaa..."
"Eyaaa..."
Rama menutup telinganya.
"Berhenti!"
Dava mulai berteriak.
"Kita harus keluar!"
Namun kemudian cahaya senter mereka menerangi bagian atas gua.
Dan ketiganya melihat sesuatu yang membuat darah mereka terasa berhenti mengalir.
Di dalam ruang gua yang gelap itu...
terdapat banyak sosok kecil yang melayang.
Wujudnya menyerupai bayi.
Mereka bergerak perlahan di udara.
Menangis.
Berputar.
Kemudian semakin mendekati ketiga orang tersebut.
Dena berteriak.
"AAAAAAHHH!"
Rama berlari.
Dava menarik tangan Dena.
Namun semakin mereka berusaha keluar, lorong gua terasa semakin panjang.
Seolah-olah mereka tidak pernah benar-benar bergerak.
Tangisan bayi berubah menjadi suara yang memenuhi seluruh ruang.
Dan di tengah kepanikan itu, Dava mendengar sesuatu berbisik tepat di telinganya.
"Kalian datang untuk meminta..."
Dava membeku.
"Apa?"
Tidak ada jawaban.
Hanya tangisan.
Mereka Tidak Pernah Kembali
Keesokan harinya, ketiga orang itu tidak pulang.
Keluarga mereka mulai mencari.
Awalnya mereka mengira ketiganya masih berada di gunung.
Namun hari berganti hari.
Tidak ada kabar.
Tidak ada telepon.
Tidak ada pesan.
Pencarian akhirnya dilakukan.
Petugas dan masyarakat menyusuri kawasan yang diperkirakan menjadi jalur perjalanan mereka.
Namun tidak ada hasil.
Tidak ditemukan jejak yang dapat menjelaskan ke mana ketiga orang tersebut pergi.
Sinta juga tidak pernah ditemukan.
Empat orang datang ke Gunung Salak.
Tidak satu pun kembali dengan selamat.
Keluarga mereka hanya mendapatkan satu kepastian:
mereka hilang tanpa meninggalkan jawaban.
Namun ada satu orang yang mengetahui bagaimana perjalanan itu dimulai.
Sang penjaga pos.
Guru kunci yang membawa mereka menuju kawasan tersebut.
Ketika seseorang bertanya kepadanya tentang keempat orang itu, ia hanya diam.
Kemudian berkata pelan,
"Mereka sudah saya peringatkan."
Orang itu bertanya,
"Memangnya apa yang terjadi?"
Sang penjaga tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah hutan.
Kemudian berkata,
"Gunung tidak pernah memaksa siapa pun datang."
"Tapi kalau seseorang datang dengan niat yang salah..."
Ia berhenti sejenak.
"...jangan pernah merasa bahwa dirinya lebih kuat daripada apa yang ada di sana."
Sejak saat itu, cerita tentang empat orang yang hilang di perjalanan menuju Kawah Ratu terus menjadi bagian dari kisah misteri yang berkembang di sekitar Gunung Salak.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang mereka temui.
Tidak ada yang tahu apakah mereka tersesat.
Tidak ada pula yang mampu memastikan kebenaran kisah tentang harimau putih dan bayi-bayi yang melayang di dalam gua.
Satu-satunya orang yang mengetahui perjalanan mereka dari awal hanyalah sang penjaga.
Dan setiap kali seseorang menanyakan kisah tersebut, ia selalu memberikan pesan yang sama.
"Kalau berada di gunung, hormati tempatnya."
"Jangan sombong."
"Dan kalau sudah diperingatkan untuk tidak menoleh..."
Ia biasanya berhenti berbicara.
Kemudian menatap hutan yang mulai gelap.
"Jangan pernah menoleh."

Posting Komentar