Lewati ke konten
Beranda Misteri Kehidupan Cinta Legenda Horor & Mistis News Event
Nomor Tak Dikenal dari Alam Baka

Nomor Tak Dikenal dari Alam Baka

📅 Agustus 11, 2026 Misteri
Mulai Baca
☰ Daftar Isi

    Isi Cerita


    Ada sebuah kisah mistis yang melekat pada sebuah rumah besar terbengkalai di kawasan elit. Rumah itu dulunya dihuni oleh sebuah keluarga harmonis yang berkecukupan: seorang perwira polisi, istri yang setia, dan seorang anak perempuan mereka. Namun, kebahagiaan itu hancur seketika akibat perselingkuhan yang dilakukan sang suami.

    Rumah tangga mereka mulai retak ketika sang suami sering pulang larut malam dan menunjukkan gelagat aneh. Awalnya, sang istri tidak pernah menaruh curiga sedikit pun. Ia selalu berpikir positif dan memaklumi kesibukan suaminya.

    Namun, seiring berjalannya waktu, bisikan-bisikan dari para tetangga mulai berdatangan. Mereka mengaku sering melihat sang suami berjalan berduaan dengan wanita yang sama di tempat umum. Puncaknya, ketika aduan demi aduan semakin menumpuk, sang istri akhirnya kehilangan kesabaran dan memutuskan untuk membuktikan kebenarannya sendiri.

    Siang itu, di sebuah tempat makan yang cukup ramai, sang istri mendapati suaminya sedang duduk bersama wanita selingkuhannya.

    "Oh, pantas saja... kau sekarang punya banyak alasan padaku," ucap sang istri dengan suara bergetar menahan amarah. "Ternyata... kau bermain api di belakangku! Ini yang kau bilang lembur kerja? Dan ini juga alasanmu pulang telat karena takut atasanmu marah?!"

    Tanpa bisa dikontrol lagi, emosi sang istri meledak. Ia langsung melabrak dan menjambak rambut suaminya di hadapan orang banyak. Suami yang merasa kaget, malu, dan panik berusaha melepaskan diri sambil menenangkan istrinya agar tidak membuat keributan.

    Namun, amarah sang istri sudah berada di puncak. Semakin dilerai, ia justru semakin beringas ingin melukai wanita selingkuhan suaminya. Sang suami yang terus melindungi wanita tersebut membuat sang istri sadar bahwa perempuan itu jauh lebih penting dibanding dirinya.

    "Kenapa kau lindungi dia?! Kenapa kau tidak sedikit pun mengerti bagaimana posisinya jadi aku?" teriak sang istri sambil menangis sesenggukan. "Menurutmu, wanita murahan itu lebih berharga dibanding aku yang sudah menemanimu dari nol? Ingat, jangan pernah sombong! Dulu saat kamu susah, aku yang membanting tulang mencari uang agar kamu bisa menjadi seperti sekarang!"

    "Asal kau tahu, aku rela meninggalkan segalanya demi mengabdi menjadi Istrimu... Tapi jika menurutmu aku sudah tidak ada artinya lagi, silahkan... ikuti saja kata hatimu!"

    Dengan sisa harga diri dan rasa kecewa yang meremukkan hatinya, sang istri meninggalkan tempat itu seorang diri. Sementara sang suami hanya terpatung di kursi, diliputi rasa bersalah yang teramat sangat.

    Sore harinya, sang suami pulang ke rumah dengan niat untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Namun, suasana rumah sudah sangat kacau. Warga sekitar tampak berkerumun di halaman, sementara anak perempuannya yang masih mengenakan seragam sekolah terduduk di lantai sambil menangis histeris.

    "Seril... Nak, ada apa ini?!" tanya sang suami panik saat turun dari mobil.

    "Jangan panggil aku anakmu!" bentak Seril dengan tatapan penuh kebencian dan air mata. "Aku tidak pernah kenal dengan pria brengsek sepertimu... orang yang telah tega membunuh ibuku!"

    Mendengar teriakan itu, sang suami berlari menerobos kerumunan orang menuju ruang tamu. Jantungnya mendadak berhenti berdetak saat melihat sebuah peti mati sederhana sudah berada di tengah ruangan.

    "Velin... Velin, buka mata kamu! Maafkan aku... Ada apa ini? Kenapa kamu sudah di dalam peti? Kamu sedang bercanda, kan?" Suami itu meronta, bersimpuh, dan memeluk peti mati istrinya sambil meraung penuh penyesalan. "Aku menyesal! Tuhan... apa yang telah aku perbuat?!"

    Warga sekitar kemudian menceritakan kejadian tragis yang baru saja terjadi. Siang tadi, sesudah menjemput anaknya dari sekolah, sang istri sempat mencurahkan seluruh kepedihannya kepada Seril. Ia berpesan agar putrinya itu tetap tabah dan hidup bahagia bersama ayahnya. Setelah itu, ia masuk ke kamar dan mengakhiri hidupnya dengan pistol dinas milik suaminya.

    Diliputi rasa bersalah yang teramat besar dan kegilaan akibat keputusasaan, sang suami masuk ke dalam kamar. Seril yang menyadari gelagat buruk ayahnya sempat berlari keluar untuk meminta bantuan tetangga.

    Brak!

    JEDER! JEDER!

    Dua kali suara letusan tembakan menggema dari dalam kamar. Saat warga dan Seril berhasil mendobrak pintu, sang suami sudah tergeletak tidak bernyawa di lantai kamar, menyusul sang istri.

    Sejak tragedi berdarah itu, rumah tersebut dikosongkan. Tidak ada satu pun orang yang berani membeli atau mengontraknya karena desas-desus horor yang beredar.

    Hingga suatu hari, dua orang pemuda datang dan berniat mengontrak rumah tersebut untuk mencari tempat tinggal sementara karena urusan pekerjaan di dekat sana. Meskipun warga sekitar sudah memperingatkan tentang keangkeran rumah itu, mereka tidak ambil pusing.

    Mereka pun mulai membersihkan rumah besar tersebut. Yang membuat mereka heran, seluruh perabotan rumah masih tertata lengkap, bahkan foto-foto keluarga lama masih terpajang rapi di dinding seolah rumah itu masih berpenghuni.

    Seminggu pertama berjalan biasa saja. Namun, gangguan mulai muncul di malam hari. Tepat pukul 12:05 malam, ponsel kedua pemuda itu berdering secara bersamaan. Di layar ponsel mereka tidak tertera nomor penelepon, melainkan hanya tulisan misterius: "UNKNOWN", lengkap dengan tombol ikon hijau dan merah.

    Awalnya mereka mengira itu hanya panggilan iseng atau spam. Namun, intensitasnya yang terjadi setiap malam membuat suasana rumah mendadak menjadi sangat dingin, menusuk tulang, dan perasaan tidak nyaman seolah ada yang mengawasi dari sudut-sudut gelap ruangan.

    Puncak teror terjadi ketika keduanya sepakat untuk mengangkat panggilan tanpa nomor tersebut secara bersamaan.

    Dari lubang speaker ponsel, terdengar suara bisikan berat, serak, dan menyeramkan:

    "...Klak... klak... sepi..."
    "Jangan tempati rumahku..."
    "Keluar dari rumah ini...!"

    Mendengar suara misterius yang sama persis di kedua ponsel mereka, ketakutan yang luar biasa langsung melanda. Tanpa pikir panjang lagi, kedua pemuda itu langsung membereskan barang-barang mereka malam itu juga, kabur meninggalkan rumah terkutuk tersebut, dan tidak pernah kembali lagi.
    LANJUTAN CERITABaca cerita selanjutnya
    Baca Selanjutnya