Hilangnya Lumbung di Kampung Cigolentang
Kampung Cigolentang terkenal sebagai surga kecil di tanah Sunda. Tanahnya yang subur dan hijau membentang luas, menghasilkan panen padi yang melimpah ruah setiap tahunnya. Warganya hidup makmur, rukun, dan saling membantu dalam mengelola sawah serta ladang sayur. Tradisi gotong royong dan ketekunan khas masyarakat Sunda mendarah daging di setiap sudut kampung ini.
Namun, ketenangan itu seketika koyak oleh teror misterius.
Bukan wabah penyakit tanaman yang menyerang, melainkan sebuah teka-teki ganjil yang membuat sekujur tubuh merinding: gabah dan padi warga hilang secara misterius dalam jumlah besar.
Awalnya, warga mengira mereka salah menghitung jumlah karung saat musim panen selesai. Namun, kejanggalan itu terus berulang. Saat hendak mengambil beras untuk kebutuhan dapur di lumbung rumah masing-masing, karung-karung beras itu raib begitu saja tanpa meninggalkan bekas jejak kaki atau bekas congkelan pintu.
Bahkan, bukan hanya satu atau dua keluarga yang merasakannya. Hampir seluruh warga di Kampung Cigolentang mengalami hal serupa. Lumbung-lumbung mendadak kosong melompong, seolah disedot oleh kekuatan tak kasat mata.
Panik dan resah, puluhan warga berbondong-bondong mendatangi kediaman Kepala Desa—yang biasa mereka sapa dengan sebutan Pak Kuwu. Suasana balai desa langsung riuh oleh kemarahan dan isak tangis warga.
"Pak Kuwu... kumaha ieu?!" jerit seorang warga dengan nada putus asa. "Abdi kalepatan gabah tos tilu kali ayeuna! Naha gening kampung urang nu sakitu aman na, jadi ngadadak teu aman kieu?!"
"Leres, Pak Kuwu! Kedah aya tindakan tegas! Kampung urang parantos di datangan maling siluman!" sahut warga lainnya bersahut-sahutan.
Pak Kuwu berdiri dari kursinya, mengangkat kedua tangan untuk menenangkan warganya yang mulai tersulut emosi.
"Tenang... tenang, semuanya," ucap Pak Kuwu dengan suara berat berwibawa. "Urang salaku warga Sunda anu taat kana hukum jeung aturan, kudu bisa tenang jeung sabar. Sabab lamun bertindak jeung sirah nu panas, bisi cilaka tungtungna."
"Simkuring salaku Kepala Desa bakal milarian terang, saha dalang di balik leungitna gabah ieu! Ayeuna, para warga mangga balikeun ka imahna sewang-sewangan, jaga imahna, tur tungguna dugi ka aya katerangan resmi ti desa!"
Mendengar ketegasan Pak Kuwu, warga sedikit merasa lega meski hati mereka masih diliputi rasa cemas. Mereka pun membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing.
Penjagaan Ketat yang Sia-Sia
Janji tinggal janji. Pak Kuwu langsung bergerak cepat mengerahkan seluruh perangkat desa, mulai dari Linmas hingga membentuk ronda malam secara bergiliran di setiap sudut kampung.
Bahkan, atas instruksi khusus, penjagaan diperketat tidak hanya pada malam hari, melainkan juga siang hari. Setiap warga yang sedang bertani atau memanen di sawah harus berada dalam pengawasan ketat aparat desa.
Namun, semua usaha itu terasa seperti menepuk air di dulang. Sia-sia belaka.
Meskipun pos ronda berdiri di setiap persimpangan dan ronda keliling dilakukan setiap jam, kehilangan padi justru semakin menjadi-jadi. Dalam semalam, lumbung-lumbung yang terjaga ketat dikuras habis tanpa menyisakan sebutir padi pun. Tidak ada gembok yang rusak, tidak ada suara gaduh, dan tidak ada orang asing yang terlihat keluar masuk kampung.
Warga mulai berspekulasi di luar nalar. Bisik-bisik ketakutan menyebar dari mulut ke mulut: bukan manusia yang mencuri gabah ini, melainkan makhluk halus atau jin. Bagaimana mungkin sebuah kampung yang dikunci rapat bisa kecolongan jika pelakunya bukan bangsa gaib?
Pak Kuwu sendiri mulai kehabisan akal. Pusing dan frustrasi mendera pikirannya.
Teror di Balik Tumpukan Karung
Suatu sore, anak-anak kampung tengah asyik bermain petak umpet di halaman rumah warga. Salah satu anak laki-laki bernama Ujang mendapat giliran menjaga dan menghitung, sementara teman-temannya berlarian mencari tempat bersembunyi.
Ada yang bersembunyi di balik bilik bambu, ada pula yang menyelinap masuk ke dalam lumbung padi yang tidak terkunci di depan rumah.
Setelah selesai menghitung, anak yang menjadi penjaga mulai mencari teman-temannya. Satu persatu berhasil ditemukan. Namun, tersisa satu anak lagi yang belum ketemu, yaitu Ujang yang bersembunyi di dalam lumbung padi.
Merasa terlalu lama menunggu dan tidak ada yang mencarinya, Ujang yang bersembunyi di balik tumpukan karung gabah besar di sudut lumbung berniat keluar. Namun, saat ia merangkak bangun, tiba-tiba...
Bruk!
Sebuah karung gabah di sampingnya roboh begitu saja tanpa ada angin atau dorongan manusia. Ujang menoleh, mengira ada tikus besar. Dengan hati-hati ia melangkah mendekati tumpukan karung tersebut.
Seketika itu juga, darahnya mendadak berhenti mengalir.
"Aarrghhh! Tolong...! Tulung...!"
Jeritan histeris dan tangis ketakutan pecah dari dalam lumbung. Suara itu begitu nyaring hingga membuat orang tua Ujang dan anak-anak yang sedang bermain berlari kencang menghampiri sumber suara.
"Brak! Buka panto lumbung!" teriak sang ayah panik sambil mendobrak pintu kayu lumbung.
Ibu Ujang langsung menerobos masuk, mendekap erat tubuh anaknya yang gemetar hebat, menutup mata, dan menangis meraung-raung dalam ketakutan luar biasa. Warga sekitar yang mendengar keributan langsung berhamburan mendatangi lokasi.
Setelah ditenangkan beberapa saat di teras rumah, dengan napas tersengat-sengat dan tubuh pucat pasi, Ujang menceritakan apa yang baru saja ia lihat.
"Umi... Ujang sieun...!" rintih Ujang terbata-bata. "Ujang tadi ningali budak leutik... botak tapi kolot, kulitna hideung melepuh, irungna loba ingus, tulung... manehna ngan ukur pake calana jero!"
"Ujang teu bohong, Umi! Manehna keur nyeret karung gabah urang di juru lumbung... pas katingali ku Ujang, manehna melotot siga hayang nerkam!"
Mendengar deskripsi fisik tersebut, para warga tua langsung terperanjat ngeri. Bulu kuduk mereka meremang seketika.
"Gusti, teuing... eta mah tuluy! (tuyul!)" bisik seorang warga dengan suara bergetar.
Pengakuan Sang Penguasa Gaib
Kabar ditemukannya sosok tuyul di lumbung warga langsung dilaporkan secara darurat kepada Pak Kuwu. Tanpa buang waktu, Pak Kuwu malam itu juga mendatangkan seorang ulama sepuh yang terkenal ahli tasawuf dan ilmu hikmah di daerah tersebut: Kiayi Abdullah.
Malam itu, suasana halaman balai desa mendadak mencekam. Doa-doa penangkal bala dilantunkan dengan suara lirih oleh Kiayi Abdullah bersama para santri dan warga.
Di tengah pembacaan ayat suci, tiba-tiba seorang warga bernama Damar jatuh tersungkur ke tanah. Tubuhnya melengkung kaku, matanya mendelik putih, dan dari tenggorokannya keluar suara tawa mengikik yang bukan suara manusia.
"Wawanianan sia datang ka dieu?!" bentak tubuh Damar dengan suara parau menyeramkan, menunjuk tajam ke arah Kiayi Abdullah. "Ulah cawokah kana urusan aing! Di dieu aing anu jadi panguasa!"
Kiayi Abdullah tidak gentar. Dengan tasbih di tangan dan wajah tenang, ia membentak makhluk yang merasuki raga Damar dengan nada tegas bergetar:
"Lailahaillallah! Jadi, maneh anu nyieun onar di lembur ieu? Maneh anu ngarampok hak sakur warga?"
"Saha maneh sabenerna, jeung naon alesan maneh tega nyokot hak harta maranéhna?!"
Makhluk itu tertawa terbahak-bahak melengking, membuat malam terasa semakin dingin.
"Malah sakalian malaikat anu turun ka lembur ieu, aing moal mundur! Hahahahaha... Aing anu bakal terus nyuburkeun ieu lembur, tapi hasilna... ku aing didahar kabeh!"
Kiayi Abdullah terus mendesak makhluk itu dengan gertakan ayat-ayat suci, hingga akhirnya makhluk tersesat itu menjerit kesakitan dan membongkar rahasia kelam di balik sosok yang merasukinya.
Tumbal Darah Daging Sendiri
Dengan suara tertahan diiringi isak tangis kepedihan, makhluk jadi-jadian itu menunjuk ke arah tubuh Damar yang terkulai lemah.
"Tanya ku maneh... ka jalma ieu anu geus ngajadikeun aing begal harta!" teriak makhluk itu penuh dendam.
Warga terperanjat. Damar bukanlah orang kaya sejak dulu. Ia dikenal sebagai warga asli Cigolentang yang dulunya hidup serba kekurangan, tidak punya sebidang tanah pun untuk digarap. Namun, sejak beberapa tahun lalu, berkat program bantuan desa, ia mendapat alokasi satu kotak sawah untuk dikelola.
Anehnya, saat warga desa mengalami gagal panen massal akibat kemarau dan tanah yang tandus, sawah Damar justru panen luar biasa melimpah hingga berton-ton. Padahal ia hanya menggarap satu petak kecil. Warga sempat menduga Damar menggunakan bibit unggul, meski sifat Damar dikenal kikir, sombong, dan egois—tidak pernah mau berbagi sedikit pun dengan tetangga yang kelaparan.
Ternyata, di balik kesuburan sawah dan limpahan gabahnya, tersimpan dosa yang teramat keji.
"Manehna... manehna anu geus maéhan aing keur aya kénéh dina kandungan indungna!" isak makhluk tuyul itu di hadapan Kiayi Abdullah. "Aing téh anak kandungna sorangan! Tapi ku lanceukna/bapana anu sarakah hayang kasugihan instan, aing dipaksa gugur, diracun ku élmu hideung!"
"Indung aing nepi ka maotna teu ikhlas, tapi dipaksa ku pasini jin ku si Damar supaya aing dijadikeun tumbal... dijadikeun tuyul panglaris jeung pencuri gabah warga!"
Mendengar pengakuan itu, warga Kampung Cigolentang sontak menjerit murka sekaligus ngeri. Rahasia kelam di balik hilangnya gabah selama ini akhirnya terjawab sudah—bukan oleh jin liar dari hutan, melainkan akibat keserakahan manusia yang tega menjual darah dagingnya sendiri demi harta dunia.
Damar yang akhirnya sadar dari rasukan merintih histeris di tanah, dikelilingi sorot mata jijik dan amarah dari seluruh warga desa yang selama ini dizaliminya.
Tags
Download Aplikasi
Daftar Bab
Ulasan Saya
—
★★★★★
Belum ada ulasan

Komentar
Posting Komentar