Sinopsis
Di tengah kehidupan modern, masih banyak masyarakat yang memegang berbagai pamali dan nasihat leluhur sebagai bagian dari tradisi. Namun, bagi Yana, seorang pemuda dari kota, hal-hal seperti itu hanyalah cerita lama yang tidak perlu terlalu dipikirkan.
Saat berlibur ke sebuah desa di kaki gunung, Yana tinggal di rumah pamannya, Pak Joko. Ketika mengetahui keberadaan Danau Ranu yang memiliki suasana indah, Yana langsung ingin mengunjunginya untuk berburu foto.
Pak Joko mengingatkan Yana agar tidak berada di sana setelah pukul enam sore dan tidak mengambil foto ketika waktu menjelang malam. Bagi Yana, larangan tersebut terdengar seperti pamali biasa.
Namun, ketika waktu semakin mendekati pukul enam, suasana Danau Ranu mulai berubah. Yana kemudian melihat sesuatu yang tidak biasa melalui kamera ponselnya.
Apa yang sebenarnya terjadi di Danau Ranu?
Kehidupan Modern dan Pamali
Zaman terus berubah.
Teknologi semakin berkembang dan kehidupan modern membuat banyak anak muda mulai memandang berbagai mitos, pamali, serta nasihat leluhur sebagai bagian dari masa lalu.
Bagi sebagian orang, semua itu hanyalah cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Yana termasuk salah satunya.
Pemuda asal kota itu tidak mudah percaya pada berbagai pantangan.
Menurutnya, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan secara logika tidak perlu ditakuti.
Kedatangannya ke sebuah desa terpencil di kaki gunung sebenarnya hanya untuk berlibur.
Ia ingin menikmati suasana pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.
Selain berlibur, Yana juga membawa kamera dan ponsel karena ingin mencari objek fotografi baru.
Memotret memang menjadi hobinya.
Semakin sepi dan semakin asing sebuah tempat, justru semakin menarik menurutnya.
Untuk beberapa hari, Yana memilih tinggal di rumah pamannya, Pak Joko, yang tinggal bersama istrinya, Bu Marni.
Kedatangan Yana
Keesokan paginya, Yana tiba di rumah tersebut sambil membawa ransel besar.
"Assalamualaikum, Paman! Yana sudah datang!"
Pak Joko yang sedang duduk di teras langsung menoleh.
"Waalaikumsalam. Owalah, Le! Sudah sampai toh."
Pak Joko menghampiri keponakannya.
"Bagaimana perjalananmu? Capek? Jauh, kan, dari kota sampai ke sini?"
"lumayan, Paman. Tapi seru. Udara di sini enak banget."
Pak Joko tersenyum.
"Ya sudah, istirahat dulu. Nanti kalau sudah enakan, baru jalan-jalan."
Yana membawa tasnya ke kamar.
Namun, belum lama duduk, matanya sudah tertuju pada pemandangan dari jendela.
Pepohonan hijau terlihat membentang.
Kabut tipis masih menggantung di lereng gunung.
Udara pagi terasa sejuk.
Pemandangan itu justru membuat keinginan Yana untuk menjelajah semakin besar.
Di tengah obrolan bersama pamannya, ia tiba-tiba teringat sebuah tempat yang pernah dilihatnya di internet.
"Oh iya, Paman."
Pak Joko menoleh.
"Danau Ranu itu sebenarnya di mana, sih? Aku lihat di internet katanya ada danau bagus di sekitar sini."
Ekspresi Pak Joko langsung berubah.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Danau Ranu?"
"Iya."
"Memangnya kenapa kamu tanya soal tempat itu?"
Yana tersenyum.
"Ya karena aku mau liburan, Paman. Masa datang jauh-jauh cuma diam di rumah?"
Ia tertawa kecil.
"Aku lihat fotonya bagus banget. Cocok buat hunting foto."
Pak Joko tidak ikut tertawa.
"Jangan ke sana."
Yana mengernyit.
"Kenapa?"
"Pokoknya jangan."
"Memangnya kenapa, Paman?"
Yana semakin penasaran.
"Ayo, Paman antar aku ke sana. Sekalian aku mau lihat langsung."
Pak Joko menghela napas.
Ia sudah memahami sifat keponakannya.
Semakin dilarang, biasanya semakin besar rasa penasarannya.
Akhirnya Pak Joko mengalah.
"Ya sudah. Paman antar."
Wajah Yana langsung cerah.
"Tapi..." lanjut Pak Joko.
"Ada satu syarat."
Yana mengangguk.
"Apa?"
Pak Joko berbicara dengan suara serius.
"Kalau nanti sampai di Danau Ranu, jangan pernah berada di sana setelah pukul enam sore."
Yana terdiam.
"Kenapa?"
"Dan satu lagi."
Pak Joko menatap Yana.
"Jangan memotret danau itu ketika waktu sudah mendekati pukul enam."
Yana justru tertawa.
"Hahaha... Paman ini masih percaya begituan?"
"Le..."
"Zaman sekarang, Paman. Mana ada hantu cuma gara-gara foto?"
Pak Joko tetap serius.
"Dengar baik-baik. Paman hanya tidak ingin kamu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan."
Yana mengangguk.
"Iya, iya. Aku ngerti."
Namun di dalam hati, ia tetap menganggap larangan tersebut sebagai pamali biasa.
Perjalanan Menuju Danau Ranu
Perjalanan dari rumah Pak Joko menuju Danau Ranu membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit.
Karena itu, mereka berangkat pada sore hari.
Jam menunjukkan pukul 17.30.
Sepanjang perjalanan, Pak Joko lebih banyak diam.
Sementara Yana sibuk memperhatikan pemandangan.
Semakin jauh mereka bergerak, rumah penduduk semakin jarang.
Pepohonan semakin rapat.
Jalan semakin sempit.
Udara pun terasa semakin dingin.
"Dasar..."
Yana membuka percakapan.
"Paman."
"Hm?"
"Kenapa tempatnya sepi banget?"
"Memang begitu."
"Kalau bagus begini, kenapa tidak banyak wisatawan?"
Pak Joko tidak langsung menjawab.
"Karena tidak semua orang mau datang ke sana."
Yana tersenyum.
"Karena cerita pamalinya?"
Pak Joko hanya diam.
Yana kembali tertawa kecil.
Keindahan Danau Ranu
Begitu tiba, Yana langsung terdiam.
Pemandangan di hadapannya jauh lebih indah daripada foto yang pernah dilihatnya di internet.
Air danau terlihat tenang.
Permukaannya memantulkan warna langit sore.
Kabut tipis mulai turun di kejauhan.
Pepohonan berdiri tinggi dan rapat mengelilingi kawasan tersebut.
Tidak banyak suara manusia.
Hanya angin yang sesekali bergerak melewati dedaunan.
Yana tersenyum lebar.
"Gila... bagus banget!"
Ia langsung mengambil kameranya.
Pak Joko memperhatikannya.
"Jangan terlalu dekat."
"Iya, Paman."
"Dan ingat pesan Paman."
Yana mengangguk.
"Iya, iya. Sebelum jam enam kita pulang."
Pak Joko kemudian menunggu di dekat jalan.
Sementara Yana turun menuju tepi danau untuk mencari sudut pengambilan gambar terbaik.
Ia berjalan perlahan.
Sesekali ia berhenti untuk mencari komposisi yang menurutnya paling menarik.
Namun waktu terus berjalan.
Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul 17.55.
Lima menit lagi menuju pukul enam.
Yana masih sibuk dengan kameranya.
Foto Menjelang Pukul Enam
Tiba-tiba angin berhenti.
Suasana yang sebelumnya tenang terasa semakin hening.
Yana mengangkat kepala.
"Aneh..."
Ia melihat ke sekeliling.
Tidak ada sesuatu yang terlihat berbeda.
"Ah, mungkin cuma perasaanku."
Yana kembali mengangkat ponselnya.
Layar kamera diarahkan ke danau.
Saat itulah tangannya terasa sedikit dingin.
Jari-jarinya bahkan mulai gemetar.
Yana melihat jam.
17.59.
"Sebentar lagi enam."
Ia tersenyum kecil.
"Sekali foto saja."
Kamera diarahkan ke permukaan danau.
Namun ketika melihat layar, ekspresi Yana perlahan berubah.
Ada sesuatu yang tampak di dalam hasil tangkapan kameranya.
Di salah satu sisi danau terlihat sosok seorang perempuan.
Rambutnya panjang.
Pakaiannya terlihat putih.
Ia berdiri jauh dari tempat Yana berada.
Yana membeku.
"Siapa itu?"
Ia menurunkan ponselnya.
Matanya langsung melihat ke arah tempat yang sama.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Yana kembali mengangkat ponselnya.
Sosok tersebut masih terlihat di layar.
Kali ini Yana semakin bingung.
"Enggak mungkin..."
Ia mencoba memastikan kembali.
Sosok itu tetap berada di sana.
Yana kemudian melihat jam.
18.00.
Tepat pukul enam sore.
Layar ponselnya tiba-tiba berkedip.
Yana terkejut.
Ia menurunkan ponselnya dan melihat sekeliling.
Suasana danau terasa berbeda.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara manusia.
Hanya kesunyian yang menyelimuti tempat itu.
Yana mulai teringat pesan pamannya.
Jangan berada di sana setelah pukul enam.
Jangan memotret ketika waktu mendekati pukul enam.
Untuk pertama kalinya, Yana mulai merasa bahwa larangan tersebut mungkin tidak sekadar cerita biasa.
Ia segera berbalik.
"Paman!"
Yana berlari menuju tempat pamannya menunggu.
Kembali ke Rumah
Pak Joko yang melihat Yana berlari langsung berdiri.
"Yana! Ada apa?"
"Pulang, Paman."
Wajah Yana terlihat tegang.
"Ayo pulang sekarang."
Pak Joko memperhatikan keponakannya.
"Kamu memotret?"
Yana terdiam.
Pak Joko kembali bertanya.
"Kamu sempat mengambil foto?"
Yana akhirnya mengangguk pelan.
Pak Joko menghela napas.
Ia memahami mengapa Yana kini terlihat berbeda.
Sesampainya di jalan utama, Yana terus menggenggam ponselnya.
Ia bahkan tidak berani membuka kembali kamera.
Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi pertanyaan.
Apa yang sebenarnya ia lihat?
Mengapa sosok tersebut hanya terlihat melalui kamera?
Mengapa tempat itu berubah begitu sunyi ketika waktu menunjukkan pukul enam?
Sesampainya di rumah, Yana langsung masuk.
Pak Joko menyusul beberapa saat kemudian.
Yana menatap pamannya.
"Paman..."
Pak Joko duduk di hadapannya.
"Ada apa?"
Yana menarik napas panjang.
"Aku tadi melihat sesuatu di kamera."
Pak Joko diam.
"Seorang perempuan."
Pak Joko menatapnya dengan serius.
"Di mana?"
"Di danau."
"Ketika kamu lihat langsung?"
Yana menggeleng.
"Enggak."
"Di layar kamera."
Ruangan mendadak terasa hening.
Yana kemudian berkata,
"Paman, sekarang ceritakan semuanya."
Pak Joko tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap keponakannya.
Ada banyak hal yang selama ini tidak ingin ia ceritakan.
Namun setelah Yana mengalami sendiri kejadian tersebut, mungkin sudah waktunya ia memahami alasan di balik semua larangan tadi.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Yana mulai menyadari bahwa tidak semua hal yang dianggap sebagai pamali oleh masyarakat harus langsung ditertawakan.
