Pengorbanan Putri Rara Kinasih dan Mata Air Gunung Merbabu
Putri yang Tidak Peduli Rakyat
Konon, pada zaman dahulu, di sebuah wilayah yang berada di pedalaman berdiri sebuah gunung yang dikenal dengan nama Gunung Merbabu.
Gunung itu bukan hanya dikenal karena keindahan alamnya.
Masyarakat sekitar percaya bahwa Gunung Merbabu menyimpan banyak rahasia yang tidak boleh diganggu sembarangan.
Di salah satu bagian gunung tersebut terdapat sebuah sumber mata air yang sangat jernih. Airnya begitu putih dan bening, bahkan oleh masyarakat sering digambarkan seperti susu.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui dari mana sebenarnya mata air itu berasal.
Namun, selama bertahun-tahun, aliran air dari gunung tersebut menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di sekitarnya.
Pada masa itu, Kerajaan Mataram sedang mengalami masa sulit.
Banyak desa kekurangan air.
Sawah-sawah mengering.
Tanaman yang sudah ditanam berbulan-bulan gagal dipanen karena tidak mendapatkan cukup air.
Sebagian warga bahkan harus berjalan sangat jauh hanya untuk mendapatkan beberapa kendi air.
Anak-anak mulai sering sakit.
Orang-orang tua semakin lemah.
Kelaparan perlahan mulai menghampiri kehidupan masyarakat.
Namun di tengah penderitaan rakyat, kehidupan di istana tetap berjalan seperti biasa.
Sang Prabu lebih sering sibuk memenuhi kebutuhan putrinya, Rara Kinasih.
Rara Kinasih adalah seorang putri kerajaan yang dikenal memiliki kecantikan luar biasa.
Namun kecantikannya tidak sebanding dengan sifatnya.
Sejak kecil, Rara Kinasih hidup dalam kemewahan.
Apa pun yang dia inginkan selalu tersedia.
Pakaian terbaik.
Makanan terbaik.
Pelayan yang selalu siap membantu.
Karena terbiasa hidup serba berkecukupan, Rara Kinasih tumbuh menjadi perempuan yang angkuh dan tidak pernah benar-benar memahami penderitaan rakyat.
Baginya, kehidupan di luar istana bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan.
Sementara itu, masyarakat semakin terdesak.
Hingga pada suatu hari, beberapa kepala keluarga dan tokoh masyarakat berkumpul untuk mencari jalan keluar.
"Kita tidak bisa terus seperti ini."
"Kalau keadaan terus berlanjut, anak-anak kita bisa semakin banyak yang sakit."
"Kita harus mencari sumber air sendiri."
Seorang warga kemudian menunjuk ke arah pegunungan.
"Desa kita dikelilingi gunung. Mungkin masih ada sumber mata air yang bisa kita alirkan ke desa."
Akhirnya, warga memutuskan untuk bekerja bersama.
Mereka membawa bambu, cangkul, tali, dan berbagai peralatan sederhana.
Hari demi hari mereka bekerja.
Mereka membuka tanah.
Menggali jalur.
Memotong bambu untuk membuat saluran air.
Tidak sedikit warga yang terluka karena harus bekerja di medan yang sulit.
Namun mereka tidak menyerah.
Sampai akhirnya, setelah berhari-hari bekerja...
Air mulai mengalir.
Awalnya hanya sedikit.
Namun perlahan alirannya semakin besar.
Air yang jernih mengalir melewati saluran bambu menuju desa.
Warga bersorak.
Sebagian bahkan menangis karena tidak menyangka perjuangan mereka akhirnya membuahkan hasil.
Sawah kembali mendapatkan air.
Tanaman mulai tumbuh.
Sumur-sumur warga kembali terisi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, masyarakat bisa bernapas lega.
Mereka mengira masalah telah selesai.
Namun mereka tidak tahu bahwa kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama.
Karena suatu hari, Rara Kinasih turun dari istana.
Dan ketika sang putri melihat mata air yang selama ini menyelamatkan kehidupan warga...
Dia justru menginginkannya untuk dirinya sendiri.
Mata Air yang Direbut Putri
Hari itu Rara Kinasih berjalan-jalan bersama beberapa prajurit.
Untuk pertama kalinya, dia melihat sendiri wilayah desa yang berada jauh dari istana.
Ketika melewati sebuah tempat, langkahnya tiba-tiba berhenti.
Matanya tertuju pada aliran air yang begitu jernih.
Air itu mengalir deras melalui saluran bambu yang dibuat oleh masyarakat.
Rara Kinasih terlihat kagum.
"Wah..."
Dia mendekat.
"Airnya banyak sekali."
Salah seorang prajurit mengangguk.
"Benar, Putri. Warga desa menemukan sumber mata air itu setelah bekerja selama berhari-hari."
Rara Kinasih tersenyum.
Kemudian muncul sebuah pikiran di kepalanya.
"Kalau air sebanyak ini dibawa ke istana, pasti lebih menyenangkan."
Prajurit itu terdiam.
"Putri..."
"Kenapa?"
"Air ini digunakan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari."
Rara Kinasih menatapnya tajam.
"Aku tidak bertanya untuk apa mereka menggunakannya."
Dia kemudian menunjuk saluran air tersebut.
"Putuskan jalurnya."
Prajurit terlihat ragu.
"Putri, kalau jalurnya diputus, warga akan kesulitan mendapatkan air."
Rara Kinasih menjawab dingin.
"Itu bukan urusanku."
"Alihkan semua airnya ke istana."
Para prajurit akhirnya menjalankan perintah.
Saluran air milik warga dibongkar.
Kemudian dibuat jalur baru menuju istana.
Warga yang melihatnya langsung panik.
"Jangan!"
"Tolong jangan ambil air kami!"
"Anak-anak kami membutuhkan air!"
Namun tidak ada yang berani melawan.
Sampai akhirnya seorang warga maju.
Dia berdiri di depan Rara Kinasih.
"Putri, mohon jangan lakukan ini."
Rara Kinasih menatapnya.
"Berani sekali kamu berbicara kepadaku."
"Kami yang bekerja keras menemukan sumber air ini, Putri."
"Kami menggali tanah selama berhari-hari."
"Kalau air ini dibawa semuanya ke istana, bagaimana kami harus hidup?"
Warga itu kemudian berkata dengan suara bergetar.
"Apakah seorang putri kerajaan tidak memiliki sedikit pun rasa kasihan kepada rakyatnya?"
Suasana mendadak hening.
Rara Kinasih merasa tersinggung.
Dia mengangkat tangannya.
"Seret dia."
Dua prajurit langsung menarik warga tersebut.
Warga lain hanya bisa menangis melihatnya.
Beberapa hari kemudian, warga itu dijatuhi hukuman mati karena dianggap telah menghina keluarga kerajaan.
Kabar tersebut membuat seluruh desa ketakutan.
Tidak ada lagi yang berani melawan.
Sementara itu, Rara Kinasih memerintahkan seratus prajurit untuk membuat sebuah kolam besar di halaman istana.
Semua air yang sebelumnya digunakan warga dialirkan ke sana.
Kolam itu semakin hari semakin penuh.
Rara Kinasih merasa bahagia.
Dia bisa mandi dan berendam sepuasnya.
Tanpa pernah memikirkan bahwa di luar istana, rakyatnya sedang mencari air dengan susah payah.
Kutukan dari Doa Orang-Orang yang Tersakiti
Hari berganti.
Minggu berganti.
Enam bulan berlalu.
Namun sesuatu mulai berubah.
Aliran air menuju kolam istana perlahan mengecil.
Air yang sebelumnya jernih mulai berubah warna.
Dari bening...
Menjadi keruh.
Lalu kecokelatan.
Rara Kinasih mulai marah.
"Kenapa airnya kotor?"
Para pelayan tidak mampu menjawab.
Tidak lama kemudian, kolam yang dahulu penuh mulai menyusut.
Airnya tinggal setengah.
Sementara di desa, keadaan semakin buruk.
Tanpa sumber air, sawah kembali mengering.
Tanaman mati.
Anak-anak jatuh sakit.
Beberapa warga bahkan meninggal dunia.
Di tengah penderitaan itu, banyak orang mulai menyimpan rasa kecewa dan dendam terhadap Rara Kinasih.
Namun mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
Mereka hanya bisa berdoa.
"Ya Tuhan..."
"Semoga orang yang mengambil hak kami sadar."
"Semoga penderitaan kami tidak sia-sia."
Doa-doa itu terus dipanjatkan.
Sementara Rara Kinasih mulai merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
Suatu pagi, dia terbangun karena merasa seluruh tubuhnya panas.
Ketika melihat tangannya, dia menjerit.
Kulitnya mulai mengelupas.
Wajahnya berubah.
Tubuhnya mengeluarkan bau yang tidak biasa.
"Tabib!"
Para pelayan langsung berlarian.
Berbagai tabib didatangkan ke istana.
Obat diberikan.
Ramuan diminum.
Namun tidak ada yang berhasil.
Bukannya sembuh, penyakit Rara Kinasih justru semakin parah.
Tubuhnya semakin sakit.
Panas seperti terbakar.
Bau dari tubuhnya semakin menyengat.
Rara Kinasih menangis.
"Aku tidak mau seperti ini!"
"Aku mau sembuh!"
Hingga suatu hari, datang seorang tabib tua.
Dia memeriksa keadaan Rara Kinasih cukup lama.
Setelah itu dia berkata pelan.
"Putri, penyakit ini bukan penyakit biasa."
Rara Kinasih menatapnya.
"Lalu bagaimana aku bisa sembuh?"
Tabib itu terdiam sejenak.
"Ada satu sumber obat yang mungkin bisa menyembuhkan Putri."
"Di mana?"
"Di balik gunung."
"Di sana terdapat mata air yang sangat berbeda dengan mata air biasa."
"Namun ada syaratnya."
"Apa?"
"Putri sendiri yang harus mencarinya."
Rara Kinasih terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia harus meninggalkan kenyamanan istana demi mencari sesuatu yang tidak dia miliki.
Namun karena ingin sembuh, akhirnya dia menyanggupi.
Sang Prabu mengizinkan putrinya pergi.
Rara Kinasih berangkat bersama lima puluh prajurit dan tiga orang dayang.
Dia tidak tahu...
Perjalanan mencari obat itu justru akan mengubah seluruh kehidupannya.
Gamelan dari Lembah yang Tidak Ada
Hari pertama berlalu.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Hingga hari ketujuh.
Namun sumber obat yang dimaksud tidak kunjung ditemukan.
Rara Kinasih mulai kelelahan.
Perjalanan yang awalnya dianggap mudah ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan.
Pepohonan semakin rapat.
Jalur semakin sulit.
Kabut sering turun tiba-tiba.
Hingga pada suatu sore, rombongan mereka terpisah.
Rara Kinasih dan ketiga dayangnya tersesat di sebuah hutan bambu.
Mereka tidak lagi mengetahui keberadaan para prajurit.
Hari semakin gelap.
Akhirnya Rara Kinasih memutuskan untuk berhenti.
"Kita bermalam di sini."
Ketiga dayangnya mengangguk.
Namun ketika mereka hendak mencari tempat untuk beristirahat...
Tiba-tiba terdengar suara.
"Tung..."
Rara Kinasih langsung menoleh.
"Ting..."
"Tung..."
Suara gong dan gamelan terdengar dari kejauhan.
Salah seorang dayang berbisik.
"Putri..."
"Aku dengar."
Mereka semua terdiam.
Suara itu semakin jelas.
Bukan hanya gamelan.
Terdengar suara manusia.
Tawa.
Percakapan.
Seperti ada sebuah pesta besar di tengah hutan.
Rara Kinasih merasa penasaran.
"Ayo kita lihat."
"Putri, sebaiknya jangan."
Namun Rara Kinasih tetap berjalan.
Mereka mengikuti suara tersebut.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah lembah.
Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang batu yang sangat besar.
Gerbang itu terlihat tua.
Di kedua sisinya terdapat dua patung macan putih.
Namun yang membuat Rara Kinasih merinding adalah suara dari balik gerbang.
Gamelan.
Suara sinden.
Dan banyak orang seperti sedang melakukan sebuah upacara.
Rara Kinasih mendekati gerbang.
Dia mengintip melalui celahnya.
Matanya langsung membesar.
Di dalam lembah terlihat banyak orang.
Para penari bergerak mengikuti alunan gamelan.
Para pemain musik memainkan gong dan berbagai alat musik tradisional.
Lampu-lampu kecil menerangi seluruh tempat.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Tidak ada satu pun wajah yang terlihat jelas.
Semuanya seperti tertutup bayangan.
Rara Kinasih terus mengintip.
Tiba-tiba...
Kreeeeek...
Gerbang batu itu bergerak sendiri.
Rara Kinasih mundur.
Ketiga dayangnya ketakutan.
Dari dalam gerbang muncul seorang laki-laki berjubah.
Tubuhnya memancarkan cahaya samar.
Di kepalanya terdapat mahkota yang tampak seperti terbentuk dari embun.
Ketiga dayang langsung menundukkan kepala.
Laki-laki itu berhenti di depan Rara Kinasih.
"Selamat datang, Rara Kinasih."
Rara Kinasih gemetar.
"Siapa Anda?"
Laki-laki itu menjawab.
"Aku Prabu Tirto Kusumo."
"Aku adalah penjaga lembah ini."
Rara Kinasih menelan ludah.
Prabu Tirto Kusumo kemudian berkata.
"Aku tahu mengapa kamu datang."
"Kamu sedang mencari obat."
Rara Kinasih mengangguk.
"Benar, Prabu."
Namun wajah Prabu Tirto Kusumo berubah serius.
"Tapi apakah kamu pantas mendapatkan obat dari tempat ini?"
Rara Kinasih terdiam.
Prabu Tirto Kusumo melanjutkan.
"Kamu mengambil air yang bukan menjadi hakmu."
"Kamu membiarkan rakyatmu menderita."
"Bahkan seseorang kehilangan nyawanya karena perintahmu."
Rara Kinasih mulai menangis.
"Bagaimana Prabu mengetahui semua itu?"
Prabu Tirto Kusumo menjawab dengan suara berat.
"Gunung mendengar apa yang tidak didengar manusia."
"Air menyimpan apa yang dilupakan manusia."
"Dan doa orang-orang yang tersakiti tidak pernah benar-benar hilang."
Rara Kinasih menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, dia benar-benar menyadari kesalahannya.
Air Putih Seperti Susu
Rara Kinasih berlutut.
Air matanya mengalir.
"Prabu..."
"Ampuni hamba."
"Aku baru sadar betapa kejamnya perbuatanku."
"Hamba berjanji akan mengembalikan apa yang telah hamba ambil."
"Hamba akan memperbaiki semuanya."
Prabu Tirto Kusumo menatapnya.
"Janji mudah diucapkan ketika manusia sedang ketakutan."
"Tapi aku akan memberimu kesempatan."
Rara Kinasih mengangkat wajahnya.
"Apa yang harus hamba lakukan?"
"Pertama, kamu harus membongkar sendiri saluran yang kamu tutup."
"Kembalikan air itu kepada rakyat."
"Jangan hanya memerintah prajurit."
"Kamu sendiri yang harus melakukannya."
Rara Kinasih mengangguk.
"Dan jika aku melakukannya?"
"Aku akan memberimu obat."
Prabu Tirto Kusumo kemudian berjalan memasuki lembah.
Rara Kinasih dan ketiga dayangnya mengikuti.
Mereka melewati tempat yang penuh kabut hingga tiba di sebuah celah batu.
Prabu Tirto Kusumo menunjuk ke dalam.
"Masuklah."
Rara Kinasih berjalan perlahan.
Di dalam celah batu itu terdengar suara air.
Semakin masuk, suara tersebut semakin jelas.
Hingga akhirnya Rara Kinasih melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Air mengalir dari dinding batu.
Jernih.
Putih.
Berkilauan seperti susu terkena cahaya.
Udara di tempat itu dipenuhi aroma bunga melati.
"Inilah obatmu."
Prabu Tirto Kusumo berkata.
"Minumlah tiga tegukan."
Rara Kinasih menadahkan kedua tangannya.
Dia meminum air tersebut.
Tegukan pertama membuat tubuhnya terasa hangat.
Tegukan kedua membuat rasa sakitnya berkurang.
Tegukan ketiga...
Tubuhnya terasa sangat ringan.
Perlahan kulitnya yang rusak mulai kembali normal.
Luka-luka menghilang.
Bau yang selama ini keluar dari tubuhnya lenyap.
Rara Kinasih menangis.
Dia akhirnya sembuh.
Namun Prabu Tirto Kusumo kembali mengingatkan.
"Jangan lupa janjimu."
"Jika kamu kembali menjadi manusia yang serakah, obat apa pun tidak akan mampu menyembuhkanmu."
Rara Kinasih menundukkan kepala.
"Hamba tidak akan melupakannya."
Putri yang Akhirnya Belajar Menjadi Manusia
Setelah sembuh, Rara Kinasih kembali ke istana.
Sang Prabu sangat bahagia melihat keadaan putrinya.
"Kamu sudah sembuh!"
Rara Kinasih mengangguk.
Namun kali ini wajahnya berbeda.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada kebanggaan.
Yang ada hanya rasa bersalah.
"Ayah..."
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan."
Rara Kinasih kemudian pergi menuju sumber mata air yang selama ini dia rebut dari rakyat.
Tanpa membawa kemewahan.
Tanpa menunggu perintah ayahnya.
Dia sendiri yang turun membongkar saluran yang selama ini ditutup.
Tangannya kotor.
Kukunya penuh tanah.
Pakaian kerajaannya basah terkena lumpur.
Namun Rara Kinasih tidak peduli.
Dia terus bekerja.
Perlahan saluran air menuju istana dibongkar.
Jalur air kembali diarahkan menuju desa.
Air kembali mengalir.
Warga yang melihatnya awalnya tidak percaya.
Kemudian seorang warga berteriak.
"Airnya kembali!"
Tangisan kebahagiaan pecah di seluruh desa.
Namun Rara Kinasih tidak berhenti sampai di situ.
Dia memerintahkan pembangunan tempat penampungan air.
Membuat saluran yang lebih baik.
Membangun tempat mandi dan tempat mengambil air agar warga tidak lagi kesulitan.
Kali ini, air tidak lagi menjadi milik istana.
Air menjadi hak seluruh masyarakat.
Warga yang sebelumnya membenci Rara Kinasih perlahan mulai melihat perubahan dalam dirinya.
Mereka sadar bahwa sang putri benar-benar menyesal.
Rara Kinasih pun belajar bahwa menjadi seorang putri bukan berarti boleh mengambil apa pun yang dia inginkan.
Justru semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya kepada orang lain.
Sejak saat itu, Rara Kinasih tidak lagi dikenal sebagai putri yang angkuh.
Dia mulai turun ke desa.
Mendengar keluhan rakyat.
Membantu mereka yang kesulitan.
Dan memastikan tidak ada lagi masyarakat yang menderita hanya karena keserakahan orang-orang di istana.
Sementara itu, di Gunung Merbabu, lembah misterius itu tetap menjadi sebuah rahasia.
Tidak ada yang tahu ke mana sebenarnya gerbang batu itu menghilang.
Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Prabu Tirto Kusumo.
Dan tidak ada yang pernah bisa menemukan kembali lembah tempat gamelan itu berbunyi.
Namun masyarakat percaya...
Selama manusia masih menghormati alam dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, Gunung Merbabu akan tetap memberikan kehidupan.
Tetapi jika keserakahan kembali muncul...
Mungkin suara gamelan dari lembah itu akan kembali terdengar.
Ting...
Tung...
Sebagai pertanda bahwa ada seseorang yang sedang diuji oleh alam.

Posting Komentar