Penjaga Jembatan Kalimalang

Table of Contents

Reza adalah seorang pengemudi ojek online yang baru saja pindah ke Bekasi.

Sebagai pendatang, ia datang ke Bekasi untuk mengadu nasib. Dengan bermodalkan sebuah motor dan aplikasi ojek online, Reza berharap bisa mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Namun, menjadi pengemudi ojek online di kota yang belum dikenalnya ternyata tidak mudah.

Ia sering tersesat, salah mengambil jalan, bahkan beberapa kali terlambat menjemput penumpang.

Reza belum mengenal banyak wilayah di Bekasi.

Ia juga belum tahu bahwa di balik jalan-jalan yang ramai dan dipenuhi kendaraan, ada beberapa tempat yang oleh para pengemudi lama dianggap memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.

Salah satunya adalah...

Jembatan Kalimalang.

ATURAN JALUR GAIB

Karena masih terbilang baru, Reza sering berkumpul dengan para pengemudi ojek online lainnya.

Di antara mereka ada seorang pengemudi senior yang biasa dipanggil **Suhu**.

Suatu sore, ketika mereka sedang berbincang, Suhu tiba-tiba memanggil Reza.

"Hei... lu Gojek baru, kan, di sini?"
Reza mengangguk.
"Iya, Bang."
Suhu kemudian menatap Reza dengan serius.
"Gue kasih tahu, ya."
"Kalau lu bawa penumpang ke arah Jembatan Kalimalang, jangan sekali-kali berani menghitung tiang yang ada di situ."
Reza mengerutkan kening.
"Kenapa, Bang?"
"Jangan juga lu coba-coba nengok ke belakang."
Reza mulai tertarik.

Suhu melanjutkan dengan suara lebih pelan.

"Apalagi kalau lu lewat jam dua belas malam lewat."

Reza tertawa kecil.

"Terus?"

Suhu menatapnya.

"Kalau ada yang teriak dan nanya..."

Suhu berhenti sejenak.

"Dari mana?"

Reza menunggu kelanjutannya.

"Lu jangan pernah jawab."

Suasana yang tadinya santai mendadak terasa sedikit berbeda.

Namun Reza justru tertawa.

"Ah, masa iya, Bang?"

Ia menggelengkan kepala.

"Lebay banget, Bang."

Para pengemudi lainnya hanya saling pandang.

Suhu tidak ikut tertawa.

"Lu percaya atau enggak, terserah."

Reza menganggap semua itu hanya candaan.

Dalam pikirannya, mungkin para pengemudi lama hanya sedang menakut-nakuti pendatang baru.

Atau jangan-jangan mereka hanya takut Reza menjadi pesaing baru.

Reza kemudian tertawa sambil berkata,

"Ah, enggak mungkin, Bang."

Namun tanpa disadarinya...

Beberapa jam kemudian, Reza akan mengingat kembali semua perkataan Suhu.

Dan malam itu...

Ia akan mengalami sendiri alasan mengapa Jembatan Kalimalang memiliki aturan tersebut.



PENUMPANG PERTAMA

Hari-hari pertama menjadi pengemudi ojek online di Bekasi tidak berjalan sesuai harapan Reza.

Karena belum memahami lokasi dan jalan-jalan di daerah tersebut, ia sering tersesat.

Beberapa penumpang bahkan membatalkan pesanan karena Reza terlalu lama menemukan lokasi penjemputan.

Ada juga yang mengeluh karena Reza terlambat.

Hari demi hari berlalu.

Reza mulai merasa lelah.

Suatu malam, ia berhenti di sebuah tempat di pinggir jalan.

Tempat itu cukup sejuk dan cocok untuk beristirahat.

Reza mematikan mesin motornya.

Ia menghela napas panjang.

"Capek juga..."

Ia mengambil ponsel dan melihat aplikasi.

Tidak ada pesanan.

Reza mulai berpikir untuk pulang.

Namun tiba-tiba...

TRING! TRING!

Suara notifikasi aplikasi terdengar.

Reza langsung membuka ponselnya.

Ada pesanan masuk.

Wajahnya langsung ceria.

"Yes!"

Ia melihat lokasi penjemputan.

Tidak jauh dari tempatnya berada.

Menurut aplikasi, hanya sekitar dua menit perjalanan.

"Pas banget."

Reza segera menyalakan motornya.

Ia bahkan tidak terlalu memperhatikan waktu.

Saat melihat jam di ponselnya, ternyata sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Namun Reza tidak peduli.

Yang ada dalam pikirannya hanya satu.

Akhirnya mendapatkan penumpang.

Ia langsung menuju titik penjemputan.



Beberapa menit kemudian, Reza tiba.

Namun sesampainya di lokasi...

Ia langsung merasa aneh.

Tidak ada siapa-siapa.

Reza melihat ke kanan.

Kosong.

Ia melihat ke kiri.

Juga kosong.

Di depannya hanya ada sebuah jembatan panjang.

Di bawah jembatan terdengar suara air yang mengalir deras.

Tidak ada kendaraan.

Tidak ada orang.

Tidak ada lampu rumah.

Hanya suara air dan angin malam.

Reza membuka aplikasi.

Nama penumpang masih tertera.

Ia kemudian mengirim pesan.

"Mbak, saya sudah sampai di titik penjemputan."

Pesan terkirim.

Kemudian dibaca.

Namun tidak ada balasan.

Reza mulai gelisah.

Ia menunggu sambil memperhatikan layar ponselnya.

Hening.

Beberapa detik kemudian...

Tiba-tiba terdengar bisikan tepat di telinga kirinya.

"Mas..."

Reza membeku.

"Nunggu lama, ya?"

Suara itu sangat jelas.

Suara seorang perempuan.

Reza spontan menoleh.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Ia justru menjawab dengan santai.

"Enggak kok, Mbak."

Reza mengambil helm cadangan.

"Baru aja. Ini helmnya, Mbak."

Tangannya terulur.

Namun tidak ada tangan yang mengambil helm tersebut.

Reza mengerutkan kening.

"Kok enggak diambil?"

Ia kembali melihat ke kanan.

Kosong.

Ke kiri.

Kosong.

"Mbk?"

Tidak ada jawaban.

Reza mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.

Perempuan yang tadi berbicara dengannya seolah menghilang begitu saja.

Ia melihat ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Jalanan benar-benar kosong.

Hanya suara air yang semakin terdengar jelas.

Reza kemudian menatap ke bawah jembatan.

Awalnya ia hanya ingin memastikan apakah perempuan tersebut mungkin berada di sana.

Namun saat matanya mulai terbiasa dengan gelap...

Ia melihat sesuatu.

Seorang perempuan.

Berdiri di bawah air.

Rambutnya panjang.

Tubuhnya mengenakan pakaian putih.

Perempuan itu perlahan mengangkat tangannya.

Seolah...

melambaikan tangan kepada Reza.

Reza langsung membeku.

"Astaghfirullah..."

Tubuhnya merinding.

Ia buru-buru memegang kunci motor.

"Ayo..."

Reza memasukkan kunci.

Memutarnya.

Ctek...

Tidak menyala.

Ia mencoba lagi.

Ctek... ctek...

Tetap tidak menyala.

"Jangan sekarang..."

Reza mulai panik.

Ia mencoba menyalakan motor berkali-kali.

Namun mesin tidak mau hidup.

Jantungnya yang semula berdetak normal mulai berpacu.

Tangannya gemetar.

Keringat dingin mengalir di wajahnya.

Dan dari bawah jembatan...

Perempuan itu masih berdiri.

Masih menatap Reza.



SALAH SATU SYARAT

Reza tidak berani lagi melihat ke bawah jembatan.

Ia terus mencoba menyalakan motornya.

Tidak berhasil.

Akhirnya ia mencoba mendorong motor menjauh dari jembatan.

Namun baru beberapa langkah...

Ia berhenti.

Hidungnya mencium sesuatu.

Bau amis.

Sangat menyengat.

Reza menutup hidung.

"Kok bau amis banget, sih..."

Ia menoleh ke sekitar.

Tidak ada apa-apa.

Namun bau tersebut semakin kuat.

Tiba-tiba...

Sebuah suara terdengar dari depan.

"Mau ke mana?"

Reza langsung terdiam.

Suara itu terdengar berat.

Ia perlahan mengangkat wajah.

Di depannya berdiri seorang kakek tua.

Tubuhnya kurus.

Pakainya compang-camping.

Bajunya basah kuyup.

Kain yang dikenakannya penuh lumpur.

Di kepalanya terdapat sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya.

Reza menelan ludah.

"Maaf, Kek..."

Ia berusaha bersikap sopan.

"Motor saya mogok."

Reza kemudian bertanya,

"Kakek lagi apa di sini malam-malam?"

Kakek itu tidak langsung menjawab.

Kepalanya masih tertunduk.

Kemudian perlahan ia berkata,

"Kamu sangat berani berjalan ke sini."

Reza mencoba tertawa kecil.

"Memangnya kenapa, Kek?"

"Ada larangan masuk ke jalan jembatan ini?"

Reza menunjuk ke arah jalan.

"Ini kan jalan umum?"

Kakek itu diam.

Kemudian berkata,

"Kamu harus membayar kalau lewat sini."

Reza mengira kakek tersebut sedang meminta uang.

Ia malah tertawa.

"Yaelah, Kek."

"Saya saja belum dapat penumpang."

"Kakek malah minta uang."

Kakek itu mengangkat kepalanya sedikit.

"Bukan..."

Suaranya terdengar lebih berat.

"Bukan uang."

Reza terdiam.

"Terus apa?"

Kakek itu perlahan mengangkat wajahnya.

Tangannya membuka bagian depan topinya.

Kemudian wajahnya terlihat jelas.

Wajah yang rusak.

Kulitnya seperti terkoyak.

Darah mengalir dari beberapa bagian wajahnya.

Matanya kosong.

Kakek itu menatap tepat ke mata Reza.

Kemudian berkata,

"Kakek ingin meminta nyawamu."

Reza membeku.

Tubuhnya seperti kehilangan tenaga.

Beberapa detik kemudian, ia langsung berlari menuju motornya.

Ia mencoba menyalakan mesin sekali lagi.

Ajaibnya...

Mesin langsung menyala.

Reza tidak berpikir panjang.

Ia langsung menarik gas.

Motor melaju meninggalkan jembatan.

Ia bahkan tidak berani menoleh ke belakang.



TERBAYANG-BAYANG

Reza akhirnya sampai di kos.

Ia langsung masuk.

Pintu dikunci rapat.

Kemudian ia memeriksa jendela.

Semua ditutup.

Ia duduk di atas kasur dengan napas terengah-engah.

Wajah kakek tua itu terus terbayang.

Begitu juga perempuan berambut panjang yang berdiri di bawah jembatan.

Reza mencoba memejamkan mata.

Namun setiap kali matanya tertutup...

Ia melihat wajah mereka.

Ia membuka mata lagi.

Tidak bisa tidur.

Kemudian tiba-tiba ia teringat perkataan Suhu.

"Jangan menghitung tiang."

"Jangan menoleh ke belakang."

"Kalau ada yang bertanya dari mana, jangan jawab."

Reza terdiam.

Dulu ia menganggap semua itu hanya candaan.

Sekarang...

Ia mulai percaya.

Ternyata teman-teman Gojek yang sudah lama berada di Bekasi bukan sedang menakut-nakutinya.

Mereka sedang memperingatkannya.

Dan malam itu...

Reza telah melanggar jalur yang seharusnya tidak ia lewati.



PERTEMUAN DENGAN PARA GOJEK

Keesokan harinya, Reza langsung mendatangi tempat para pengemudi Gojek biasa berkumpul.

Ia datang tanpa menggunakan atribut Gojek.

Salah satu teman Suhu melihatnya.

"Hei, Bang!"

"Lu enggak kerja hari ini?"

"Kok enggak pakai jaket?"

Reza menjawab terburu-buru.

"Enggak, Bang."

"Gue mau resign."

Semua yang berada di sana langsung menoleh.

"Resign?"

"Kenapa?"

"Lu kan pendatang. Memangnya sudah punya banyak uang sampai mau pulang?"

Reza diam.

Salah seorang dari mereka tiba-tiba berkata,

"Atau jangan-jangan..."

Ia menatap wajah Reza.

"Lu resign gara-gara ketemu setan?"

Reza semakin pucat.

Teman-temannya langsung tahu.

Mereka mengajak Reza duduk dan berkumpul.

Suhu kemudian berkata,

"Sudah, Bang."

"Enggak usah berhenti jadi Gojek."

"Semua yang di sini pernah mengalami hal yang sama."

"Itu sebabnya gue kasih tahu lu kemarin."

"Supaya enggak ada korban lagi."

Reza menatap mereka.

"Terus gue harus bagaimana?"

Salah seorang teman menjawab,

"Besok lu ikut gue ke Pak Ustad."

"Nanti kita minta air untuk didoakan."

"Airnya lu taburkan di bawah jembatan."

"Siapa tahu setelah itu dia enggak ganggu lu lagi."

Reza masih ragu.

Namun ia tidak punya pilihan lain.



AIR YANG SUDAH DIDOAKAN

Keesokan harinya, Reza bersama beberapa teman Gojek pergi menemui Pak Ustad.

Pak Ustad memang sudah lama dikenal oleh para pengemudi di sana.

Sesampainya di rumahnya, mereka mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

"Assalamualaikum, Pak Ustad."

Beberapa detik kemudian...

Kreeeek...

Pintu terbuka.

"Waalaikumsalam."

"Silakan masuk, Nak."

Mereka masuk ke dalam rumah.

Namun sebelum Reza menjelaskan apa pun, Pak Ustad justru berkata,

"Mana airnya?"

Reza terkejut.

"Hah?"

Pak Ustad tersenyum.

"Airnya. Biar Bapak doakan."

Reza menatap teman-temannya.

"Kok Pak Ustad tahu?"

Salah seorang teman menjawab,

"Sudah."

"Enggak usah panik."

"Pak Ustad sudah tahu."

"Orang yang datang ke sini biasanya tujuannya sama."

Reza kemudian menyerahkan sebotol air.

Pak Ustad membawanya ke dalam kamar.

Beberapa saat kemudian, ia kembali.

Pak Ustad menatap Reza.

"Mas..."

"Kamu bukan asli sini, ya?"

Reza mengangguk.

"Iya, Pak."

"Saya dari Sumatra."

Pak Ustad tersenyum tipis.

"Kamu tadi malam didatangi kakek tua..."

Ia berhenti.

"...dan perempuan berambut panjang?"

Reza langsung terkejut.

"Hah?"

"Kok Pak Ustad tahu?"

Pak Ustad tidak langsung menjawab.

Ia hanya memandang Reza dengan tatapan serius.



PENJAGA JEMBATAN

Reza semakin panik.

"Terus bagaimana, Pak?"

"Saya harus bagaimana?"

"Apa saya harus pulang ke kampung?"

"Saya takut, Pak."

"Kakek itu bilang ingin meminta nyawa saya."

Reza berbicara dengan suara bergetar.

Pak Ustad terlihat iba.

Selama ini ia sebenarnya tidak pernah menceritakan asal-usul sosok kakek yang menghantui Jembatan Kalimalang.

Namun melihat kondisi Reza, akhirnya ia memutuskan untuk bercerita.

"Bapak kasihan melihat banyaknya korban yang datang ke sini."

"Kalian semua hanya tahu tentang sosok kakek itu."

"Tapi kalian tidak tahu bagaimana awal mula semuanya terjadi."

Semua orang langsung terdiam.

Mereka mendengarkan dengan serius.

Salah satu teman Reza bertanya,

"Memangnya ada apa, Pak?"

"Siapa sebenarnya kakek itu?"

Pak Ustad menarik napas panjang.

"Kisahnya sudah berlangsung sangat lama."

"Dulu, ada seorang kakek yang bekerja sebagai penarik kapal di bawah jembatan."

"Suatu hari, ketika sedang berada di sekitar sungai, ia mengalami kecelakaan."

"Seorang kakek tua itu tertabrak truk kontainer."

Semua orang terdiam.

Pak Ustad melanjutkan.

"Yang lebih kejam..."

"Truk itu tidak berhenti untuk bertanggung jawab."

"Jasad kakek itu justru dibuang ke dalam kali."

"Orang-orang akhirnya mengira kakek tersebut meninggal karena tenggelam."

"Padahal..."

"Dia meninggal karena ditabrak."

Reza menelan ludah.

Pak Ustad kemudian berkata,

"Sejak saat itu, arwah kakek tersebut tidak bisa meninggalkan Jembatan Kalimalang."

"Dia merasa dirinya ditinggalkan."

"Dan menurut cerita yang berkembang..."

"Arwahnya dipercaya telah menjadi penjaga tempat itu."

Reza bertanya,

"Penjaga?"

Pak Ustad mengangguk.

"Kalau ingin bebas dari tempat tersebut, dia harus mendapatkan pengganti."

Semua orang langsung terdiam.

"Namun selama bertahun-tahun, belum banyak korban yang meninggal karena ulahnya."

"Kenapa?"

"Karena ketika masih hidup, kakek itu dikenal sebagai orang yang baik dan penyabar."

"Arwahnya tidak langsung berani mengambil nyawa manusia."

"Biasanya dia hanya menakut-nakuti."

"Kadang muncul karena emosi."

"Kadang hanya ingin membuat orang pergi dari tempat tersebut."

Reza menghela napas.

Namun di dalam pikirannya muncul satu pertanyaan.

Kalau selama ini kakek tersebut hanya menakut-nakuti...

Mengapa malam itu ia meminta nyawa Reza?

Dan yang lebih mengerikan lagi...

Siapa sebenarnya perempuan berambut panjang yang muncul di bawah jembatan?

Mungkin...

kisah tentang Jembatan Kalimalang belum selesai.

Karena ternyata...

bukan hanya ada satu arwah yang menjaga tempat tersebut.

Posting Komentar