\n

Penunggu Pengkolan: Suara Klakson Tengah Malam dan Ular Sebesar Pohon Kelapa

Table of Contents

Ada sebuah tikungan di kampung tempatku dibesarkan yang sejak dulu memiliki kebiasaan aneh.

Setiap kali kendaraan melewati tikungan tersebut, pengemudinya hampir selalu membunyikan klakson.

Bukan sekali.

Kadang dua kali, bahkan berkali-kali.

Tin... tin... tiiiiiin...

Padahal tidak ada kendaraan dari arah berlawanan. Tidak ada orang yang sedang menyeberang. Jalan itu pun tidak selalu ramai.

Ketika masih kecil, aku menganggapnya sebagai kebiasaan biasa para pengendara.

Sampai suatu malam, aku akhirnya mengetahui alasan mengapa sebagian orang di kampung kami selalu membunyikan klakson ketika melewati tikungan tersebut.

Konon, di sanalah sesuatu yang sudah ada sejak zaman dahulu masih dipercaya menjaga jalan itu.

Sosoknya bukan manusia.

Bukan pula sekadar cerita untuk menakut-nakuti anak kecil.

Orang-orang tua di kampung menyebutnya sebagai ular besar, makhluk yang dipercaya menjadi penunggu kawasan tersebut.

Dan bertahun-tahun kemudian, aku mengalami sendiri kejadian yang membuatku tidak pernah lagi menganggap cerita itu sebagai dongeng biasa.

Bunyi Klakson di Tengah Malam

Sejak kecil, aku tinggal di sebuah kampung yang letaknya tidak jauh dari jalan raya.

Kalau disebut kampung, memang benar.

Tetapi kalau disebut pelosok, rasanya juga tidak tepat.

Jalan di depan rumah justru cukup ramai. Setiap hari ada motor, mobil, bahkan truk pengangkut barang yang melintas.

Pagi sampai sore, suara kendaraan sudah menjadi bagian dari kehidupan kami.

Karena terbiasa sejak kecil, aku tidak pernah merasa terganggu.

Bahkan ketika malam tiba dan beberapa kendaraan masih melintas, aku tetap bisa tidur dengan nyenyak.

Beberapa tetangga sering heran.

“Tin, kamu betah banget tinggal di sini?”

“Kenapa memangnya?”

“Rumahmu kan dekat jalan raya. Nggak takut kalau ada kendaraan hilang kendali?”

Aku hanya tertawa.

Bagiku, rumah itu adalah tempat aku lahir dan dibesarkan. Ada terlalu banyak kenangan di sana untuk membuatku merasa tidak nyaman.

Namun, ada satu hal yang sejak kecil sebenarnya membuatku penasaran.

Klakson.

Hampir setiap kendaraan yang melewati tikungan tepat di depan rumah kami selalu membunyikan klakson.

Kadang pendek.

Kadang panjang.

Dan yang membuatku semakin heran, beberapa pengendara membunyikannya meskipun kondisi jalan sedang sepi.

Suatu hari aku akhirnya bertanya kepada bapak.

“Beh, kenapa sih motor atau mobil yang lewat di tikungan depan rumah kita sering banget membunyikan klakson?”

Bapak hanya tertawa kecil.

“Memang dari dulu begitu.”

“Kenapa?”

“Kalau orang yang sudah tahu ceritanya, biasanya memang begitu.”

Aku semakin penasaran.

“Kalau nggak dibunyikan memang kenapa?”

Bapak tidak langsung menjawab.

Ia hanya diam sebentar, kemudian berkata,

“Dulu, waktu Bapak masih kecil, daerah sini punya cerita sendiri.”

Aku duduk mendengarkan.

Menurut cerita bapak, kawasan tempat rumah kami berdiri sudah ada sejak lama. Bahkan sebelum jalan raya seramai sekarang, wilayah tersebut dipercaya telah menjadi bagian dari kampung yang diwariskan secara turun-temurun.

Konon, pada masa penjajahan, pernah ada orang-orang yang menggunakan kawasan tersebut sebagai tempat persembunyian.

Namun, cerita yang paling sering dibicarakan justru bukan tentang mereka.

Melainkan tentang seekor ular besar.

“Katanya ukurannya luar biasa besar,” kata bapak.

“Sebesar apa?”

Bapak mengangkat tangannya.

“Orang-orang dulu bilang kepalanya saja sebesar kepala naga.”

Aku langsung mengerutkan kening.

“Terus?”

“Katanya ular itu membuat orang-orang yang bersembunyi di sini pergi.”

Aku semakin tertarik.

“Ular biasa?”

“Entahlah.”

Bapak tersenyum tipis.

“Namanya juga cerita orang zaman dulu.”

Menurut cerita yang beredar, sejak saat itu ular tersebut dipercaya menjadi salah satu penunggu kawasan kampung.

Ada pula kepercayaan bahwa ular itu tidak akan mengganggu warga setempat selama mereka menjaga sikap dan menghormati lingkungan.

Sebaliknya, orang yang datang dengan niat buruk atau berbicara sembarangan dipercaya bisa mengalami kejadian tidak menyenangkan.

“Makanya orang-orang membunyikan klakson di tikungan?” tanyaku.

“Katanya begitu.”

Aku masih belum puas.

“Cuma karena ular?”

Bapak mengangkat bahu.

“Percaya atau nggak, terserah kamu.”

Sejak percakapan itu, aku mulai memperhatikan suara klakson di tikungan depan rumah.

Dan semakin diperhatikan, semakin terasa aneh.

Karena hampir semua pengendara seperti melakukan hal yang sama.

Tin... tin... tiiiiiin...

Seolah-olah mereka sedang memberi tanda kepada sesuatu yang tidak terlihat.

Saat itu aku belum tahu bahwa beberapa tahun kemudian, aku akan mendengar sendiri suara klakson tersebut dalam keadaan jalan benar-benar kosong.

Kecelakaan di Depan Rumah

Ada satu malam yang sampai sekarang masih kuingat.

Malam Jumat.

Saat itu suasana kampung sebenarnya cukup tenang.

Aku sedang berada di rumah ketika tiba-tiba terdengar suara keras dari arah jalan.

Cekiiiiittt!

Lalu disusul suara benturan.

GUBRAK!

Aku dan bapak langsung keluar.

Beberapa warga juga berhamburan menuju jalan.

Sebuah sepeda motor mengalami kecelakaan tepat di depan rumah kami.

Dua orang tergeletak di jalan.

Warga segera membantu sebisanya dan menghubungi pihak yang diperlukan.

Aku masih ingat suasana malam itu.

Orang-orang berkumpul.

Ada yang mencoba membantu korban.

Ada yang mengatur kendaraan agar tidak terjadi kecelakaan berikutnya.

Ada pula yang menelepon keluarga korban.

Tak lama kemudian, keluarga korban datang.

Seorang perempuan menangis sambil memanggil nama anaknya.

“Ya Allah... Nak...”

Tangisnya membuat suasana yang sudah mencekam menjadi semakin berat.

Bapak dan beberapa warga menjelaskan kejadian yang mereka ketahui.

Tidak ada yang bisa dilakukan selain membantu sebisa mungkin dan menyerahkan sisanya kepada petugas.

Setelah korban dibawa, jalan di depan rumah kami masih menyisakan bekas kecelakaan.

Aku mengambil sapu dan ember.

“Aku bersihin dulu, Beh.”

Bapak mengangguk.

Aku mulai membersihkan serpihan kendaraan dan kotoran yang berserakan di jalan.

Saat itulah bapak berkata,

“Sekalian ambil bunga.”

Aku menoleh.

“Bunga?”

“Iya.”

“Buat apa?”

“Ambil saja.”

Aku menurut.

Setelah kembali, bapak menaburkan beberapa bunga di sekitar lokasi kejadian.

Aku memperhatikannya dengan bingung.

“Kenapa pakai bunga juga?”

Bapak tidak menjawab panjang.

“Sudah. Jangan banyak tanya.”

Ia kemudian membaca doa singkat.

Aku tidak bertanya lagi.

Bagiku saat itu, mungkin itu adalah cara bapak menghormati orang yang baru saja mengalami musibah.

Setelah semuanya selesai, aku masuk kamar dan mencoba tidur.

Aku tidak tahu bahwa malam itu ternyata belum benar-benar selesai.

Sosok di Tikungan

Keesokan paginya, suasana kampung kembali seperti biasa.

Aku sedang menyapu halaman ketika mendengar beberapa orang yang sedang berjalan pagi membicarakan kejadian malam sebelumnya.

“Eh, kamu dengar nggak?”

“Dengar apa?”

“Katanya sekitar tengah malam ada tukang ojek yang jatuh di pengkolan.”

Aku berhenti menyapu.

“Tukang ojek?”

“Iya. Katanya sampai pingsan.”

“Kenapa?”

“Katanya lihat ular.”

Aku langsung memperhatikan percakapan mereka.

“Ular?”

“Iya. Katanya besar banget.”

“Sebesar apa?”

“Katanya ekornya seperti pohon kelapa.”

Mereka kemudian tertawa kecil, mungkin karena merasa cerita tersebut terdengar tidak masuk akal.

Tetapi aku justru teringat cerita bapak.

Ular besar.

Penunggu pengkolan.

Aku segera mencari bapak.

“Beh!”

Bapak menoleh.

“Apa?”

“Semalam ada tukang ojek jatuh di sini?”

Bapak terlihat santai.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Katanya melihat sesuatu.”

“Apa?”

“Ular.”

Aku terdiam.

“Bapak lihat?”

“Bukan Bapak yang lihat.”

“Terus siapa?”

“Orangnya sendiri.”

Bapak kemudian bercerita bahwa seorang pengemudi ojek yang melewati jalan tersebut pada tengah malam tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan jatuh.

Menurut ceritanya, sebelum jatuh ia mengaku melihat sesuatu yang bergerak di pinggir jalan.

Sesuatu yang bentuknya seperti ular.

Tetapi ukurannya tidak masuk akal.

Sejak mendengar cerita itu, rasa penasaranku justru semakin besar.

Aku mulai bertanya-tanya.

Apakah benar ada sesuatu di tikungan tersebut?

Ataukah semua itu hanya kebetulan yang kemudian berkembang menjadi cerita kampung?

Malam berikutnya, rasa penasaran itu membuatku melakukan sesuatu yang mungkin seharusnya tidak kulakukan.

Aku duduk di bale depan rumah.

Jam menunjukkan sekitar pukul sepuluh malam.

Jalan masih cukup ramai.

Motor dan mobil masih melintas.

Sesekali terdengar suara klakson.

Tin... tin...

Aku terus memperhatikan tikungan.

Aku ingin melihat sendiri apa yang selama ini hanya menjadi cerita.

Namun semakin malam, kendaraan semakin jarang.

Suasana berubah sunyi.

Aku masih duduk di sana.

Entah karena terlalu lama menunggu atau karena mengantuk, tanpa sadar aku tertidur.

Aku baru terbangun ketika mendengar suara klakson yang sangat keras.

TIIIIIIIIIN!

Aku langsung membuka mata.

Jantungku berdegup kencang.

Aku melihat ke arah jalan.

Kosong.

Tidak ada mobil.

Tidak ada motor.

Tidak ada siapa pun.

Aku mengambil ponsel dan melihat jam.

00.20.

“Pantas saja sepi,” gumamku.

Aku mulai merasa tidak nyaman.

Akhirnya aku memutuskan masuk kamar.

Namun sebelum berdiri, sandal yang kupakai ternyata jatuh ke bawah bale.

Aku membungkuk untuk mengambilnya.

Saat itulah aku mendengar suara dari belakang.

Ssssss...

Aku membeku.

Suara itu terdengar seperti desisan.

Sssssss...

Pelan-pelan aku menoleh.

Dan di situlah aku melihat sesuatu yang sampai sekarang sulit kujelaskan dengan kata-kata.

Seekor ular.

Tetapi bukan ular seperti yang pernah kulihat sebelumnya.

Tubuhnya tampak sangat besar.

Ia berdiri di belakangku dengan kepala terangkat.

Dalam keadaan panik, tubuhku terasa kaku.

Aku tidak bisa bergerak.

Aku bahkan tidak sanggup berteriak.

Kemudian, dalam keadaan yang tidak masuk akal, aku seperti mendengar suara.

Bukan suara manusia.

Suara itu terdengar berat dan bercampur dengan desisan.

“Kenapa kamu mencariku?”

Aku gemetar.

Aku tidak menjawab.

Suara itu kembali terdengar.

“Jangan terlalu ingin tahu.”

Aku masih tidak mampu bergerak.

“Percaya saja bahwa aku ada.”

Aku tidak tahu apakah saat itu aku benar-benar mendengar suara tersebut atau pikiranku sendiri yang sedang ketakutan.

Namun kalimat berikutnya masih kuingat sampai sekarang.

“Tugasmu hanya membantu orang yang kesusahan.”

“Jangan membawa rasa penasaran terlalu jauh.”

Setelah itu, aku tidak ingat bagaimana caranya aku bisa sampai ke kamar.

Yang kuingat hanyalah aku berlari.

Aku masuk kamar, menutup pintu, lalu menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh.

Malam itu aku tidak berani keluar lagi.

Sejak Saat Itu, Klakson Tidak Lagi Terdengar Biasa

Sejak kejadian tersebut, aku masih sering mendengar kendaraan membunyikan klakson ketika melewati tikungan depan rumah.

Tin... tin... tiiiiiin...

Namun kali ini rasanya berbeda.

Dulu aku menganggapnya sebagai kebiasaan pengendara.

Sekarang, setiap kali mendengar suara itu di tengah malam, aku selalu teringat pada cerita bapak tentang ular besar yang dipercaya menjadi penunggu kampung.

Apakah benar sosok itu masih ada?

Apakah aku benar-benar melihatnya malam itu?

Atau semuanya hanya terjadi karena aku terlalu larut dalam rasa penasaran?

Aku sendiri tidak pernah menemukan jawabannya.

Yang jelas, sejak malam itu aku belajar satu hal.

Tidak semua cerita yang diwariskan orang-orang tua harus langsung dipercaya. Tetapi tidak semuanya pula harus dianggap sebagai sesuatu yang boleh disepelekan.

Ada cerita yang mungkin hanya legenda.

Ada yang lahir dari kebetulan.

Dan ada pula cerita yang tetap hidup karena terlalu banyak orang merasa pernah mengalami hal serupa.

Sementara untuk tikungan di depan rumahku...

Sampai sekarang, suara klakson masih sering terdengar.

Terutama ketika malam sudah semakin larut.

Dan setiap kali suara itu terdengar dari kejauhan, aku memilih tidak lagi mencari tahu siapa atau apa yang sebenarnya ada di sana.

Karena terkadang, rasa penasaran memang tidak selalu membawa kita pada jawaban.

Kadang, rasa penasaran justru membawa kita terlalu dekat dengan sesuatu yang sejak awal seharusnya kita biarkan tetap menjadi misteri.

Posting Komentar