Lewati ke konten
Peringatan yang Dianggap Candaan

Peringatan yang Dianggap Candaan

0Dibaca 0Bab
Mulai Baca

Sinopsis

Reza adalah seorang pengemudi ojek online yang baru pindah ke Bekasi. Sebagai pendatang, ia harus mempelajari banyak jalan baru dan sering mengandalkan rute yang menurutnya paling praktis.

Suatu sore, seorang pengemudi senior yang dikenal dengan panggilan Suhu memperingatkannya tentang Jembatan Kalimalang. Reza diminta tidak menghitung tiang jembatan, tidak menoleh ke belakang, dan tidak menjawab apabila ada suara asing yang bertanya dari mana ia datang.

Reza menganggap semua itu hanya cerita untuk menakut-nakuti pendatang baru. Sampai suatu malam, ia mendapat pesanan menuju lokasi yang berada di sekitar jembatan tersebut.

Di tengah perjalanan, radio mobil tiba-tiba mengeluarkan suara aneh. Setelah itu, Reza mengalami serangkaian kejadian yang membuatnya teringat kembali pada semua nasihat yang sebelumnya ia anggap candaan.

Sejak malam tersebut, Reza tidak lagi memandang peringatan para pengemudi lama dengan cara yang sama.

Reza, Pengemudi Baru di Bekasi

Reza adalah seorang pengemudi ojek online yang baru saja pindah ke Bekasi.

Sebagai pendatang, ia datang ke kota tersebut untuk mencari penghasilan.

Dengan bermodalkan sebuah motor dan aplikasi ojek online, Reza berharap bisa memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mendapatkan penghasilan yang cukup.

Namun menjadi pengemudi di wilayah yang belum dikenalnya ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Ia sering salah mengambil jalan.

Kadang tersesat.

Bahkan beberapa kali terlambat menemukan lokasi penjemputan karena belum hafal daerah sekitar.

Reza kemudian memilih sering berkumpul dengan para pengemudi lain.

Dari sanalah ia mulai mengenal berbagai cerita mengenai jalan-jalan yang sering dilewati para pengemudi.

Salah satunya adalah cerita tentang Jembatan Kalimalang.

Peringatan dari Suhu

Di antara para pengemudi terdapat seorang senior yang biasa dipanggil Suhu.

Suatu sore, ketika mereka sedang berbincang santai, Suhu memanggil Reza.

"Heh... lu Gojek baru, kan, di sini?"

Reza mengangguk.

"Iya, Bang."

Suhu kemudian berkata serius.

"Gue kasih tahu, ya."

"Kalau lu bawa penumpang ke arah Jembatan Kalimalang, jangan sekali-kali berani menghitung tiang yang ada di situ."

Reza mengerutkan kening.

"Kenapa, Bang?"

"Jangan juga coba-coba nengok ke belakang."

Reza semakin penasaran.

Suhu melanjutkan,

"Apalagi kalau lewat jam dua belas malam."

Reza tertawa kecil.

"Terus?"

Suhu menatapnya.

"Kalau ada suara yang manggil dan nanya..."

Ia berhenti sejenak.

"Dari mana?"

"Lu jangan pernah jawab."

Suasana yang tadinya santai mendadak menjadi lebih tenang.

Beberapa pengemudi lain hanya saling pandang.

Reza justru tertawa.

"Ah, masa iya, Bang?"

"Lebay banget."

Suhu mengangkat bahu.

"Lu percaya atau enggak, terserah."

Reza masih menganggapnya sebagai cerita lama.

Dalam pikirannya, mungkin para pengemudi senior memang suka menakut-nakuti pendatang baru.

Ia tidak mengetahui bahwa beberapa jam kemudian, ia sendiri akan mengingat semua perkataan tersebut.

Pesanan di Tengah Malam

Hari-hari pertama Reza bekerja berjalan cukup melelahkan.

Ia masih harus mempelajari rute dan mengenali wilayah.

Suatu malam, ia berhenti sejenak di pinggir jalan untuk beristirahat.

Mesin motor dimatikan.

Reza membuka aplikasi dan melihat apakah ada pesanan baru.

Tidak lama kemudian...

TRING! TRING!

Notifikasi pesanan masuk.

Wajah Reza langsung cerah.

"Yes!"

Ia melihat lokasi penjemputan.

Tidak terlalu jauh.

Menurut aplikasi, hanya beberapa menit perjalanan.

Reza segera menyalakan motor.

Sebelum berangkat, ia baru menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul satu dini hari.

"Yang penting dapat order."

Ia kemudian berangkat.

Lokasi Penjemputan yang Sunyi

Beberapa menit kemudian, Reza tiba di titik penjemputan.

Namun suasana di sana terasa aneh.

Tidak ada orang.

Tidak ada kendaraan yang berhenti.

Di depannya hanya ada jalan yang sepi dan sebuah jembatan panjang.

Di bawah jembatan terdengar suara air.

Reza melihat layar ponselnya.

Nama penumpang masih tercantum.

Ia kemudian mengirim pesan.

"Mbak, saya sudah sampai di titik penjemputan."

Pesan terkirim.

Beberapa saat kemudian terbaca.

Namun tidak ada balasan.

Reza menunggu.

Ia menatap sekitar.

Tetap kosong.

Kemudian terdengar suara dari dekat telinganya.

"Mas..."

Reza langsung membeku.

Ia menoleh.

Tidak ada siapa pun.

Beberapa detik kemudian suara itu kembali terdengar.

"Nunggu lama, ya?"

Suara seorang perempuan.

Reza menjawab spontan.

"Enggak kok, Mbak."

Ia mengambil helm cadangan.

"Ini helmnya."

Tangannya terulur.

Namun tidak ada siapa pun yang menerimanya.

Reza mengerutkan kening.

"Mbak?"

Tetap tidak ada jawaban.

Rasa tidak nyaman mulai muncul.

Sosok di Bawah Jembatan

Reza kemudian melihat ke arah bawah jembatan.

Awalnya ia hanya ingin memastikan apakah penumpangnya mungkin berada di sana.

Namun ketika matanya mulai terbiasa dengan keadaan yang gelap, ia melihat sebuah sosok.

Seorang perempuan berdiri cukup jauh di bawah.

Rambutnya panjang.

Pakaiannya terlihat putih.

Ia berdiri diam di dekat aliran air.

Kemudian perlahan mengangkat tangan.

Seolah melambaikan tangan kepada seseorang.

Reza menelan ludah.

"Astaghfirullah..."

Ia segera kembali ke motor.

Kali ini rasa penasaran sudah hilang.

Yang ada hanya keinginan untuk pergi.

Namun ketika kunci motor diputar...

Ctek.

Mesin tidak menyala.

Reza mencoba lagi.

Ctek... ctek...

Masih tidak menyala.

"Jangan sekarang..."

Ia mulai panik.

Suara Kedua

Reza turun dari motor dan mencoba mendorongnya menjauh dari jembatan.

Baru beberapa langkah, ia mencium bau aneh yang cukup kuat.

Ia berhenti.

"Ini bau apa?"

Reza mencoba melihat sekitar.

Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Tiba-tiba terdengar suara dari depan.

"Mau ke mana?"

Reza langsung berhenti.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki tua.

Pakainya sederhana.

Tubuhnya terlihat seperti seseorang yang baru saja selesai bekerja.

Reza mencoba menenangkan diri.

"Maaf, Kek."

"Motor saya lagi bermasalah."

Orang tua tersebut hanya memandangnya.

"Kamu berani sekali datang ke sini malam-malam."

Reza mencoba tersenyum.

"Ini kan jalan umum, Kek."

Laki-laki itu diam sesaat.

Kemudian berkata,

"Kadang ada tempat yang sebaiknya tidak dilewati sendirian."

Reza semakin tidak nyaman.

Ia mengingat semua perkataan Suhu.

Jangan menoleh.

Jangan menjawab suara yang bertanya.

Jangan menganggap semuanya candaan.

Reza kemudian berkata,

"Kalau begitu, saya pergi dulu, Kek."

Ia berbalik.

Namun orang tua tersebut kembali berbicara.

"Jangan lupa peringatan orang-orang di jalan ini."

Reza terdiam.

Ketika menoleh kembali...

orang tua tersebut sudah tidak ada.

Motor yang Tiba-Tiba Menyala

Reza kembali ke motor.

Ia mencoba menyalakan mesin sekali lagi.

Kali ini mesin langsung hidup.

Brummm...

Reza tidak menunggu lebih lama.

Ia langsung menarik gas.

Motor melaju meninggalkan jembatan.

Ia tidak lagi peduli harus memutar lebih jauh.

Ia hanya ingin berada di kawasan yang ramai.

Beberapa menit kemudian, lampu-lampu toko mulai terlihat.

Barulah Reza merasa lebih tenang.

Semua Perkataan Suhu Terngiang Kembali

Sesampainya di kos, Reza langsung masuk.

Pintu dikunci.

Ia duduk di atas kasur dan menarik napas panjang.

Kejadian malam itu terus berputar di kepalanya.

Suara perempuan.

Sosok di bawah jembatan.

Orang tua yang tiba-tiba muncul.

Dan motor yang mendadak tidak mau menyala.

Kemudian ia teringat Suhu.

"Jangan menghitung tiang."

"Jangan menoleh ke belakang."

"Kalau ada yang bertanya dari mana, jangan jawab."

Reza terdiam.

Kini ia tidak lagi menganggap semua itu candaan.

Mungkin para pengemudi senior memang sedang memperingatkannya.

Reza Datang Menemui Suhu

Keesokan harinya, Reza mendatangi tempat para pengemudi biasa berkumpul.

Suhu melihatnya.

"Eh, Reza."

"Lu enggak kerja?"

Reza menggeleng.

"Saya mau cerita sesuatu, Bang."

Suhu langsung mengerti.

"Jangan bilang..."

"Lu lewat jembatan itu?"

Reza mengangguk.

Para pengemudi lain langsung memperhatikan mereka.

Salah satu dari mereka berkata,

"Sudah gue bilang."

Reza duduk.

"Bang, semalam saya mengalami hal aneh."

Ia kemudian menceritakan semuanya.

Tentang suara perempuan.

Tentang sosok di bawah jembatan.

Tentang lelaki tua yang tiba-tiba muncul.

Suhu mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, ia hanya menghela napas.

"Makanya gue kasih tahu."

Reza menunduk.

"Terus saya harus bagaimana?"

Suhu menepuk bahunya.

"Jangan panik."

"Yang penting sekarang jangan sengaja lewat sana lagi kalau sudah larut."

Mengapa Jembatan Itu Dianggap Berbeda?

Suhu kemudian menjelaskan bahwa cerita mengenai jembatan tersebut sudah lama beredar di kalangan pengemudi.

Banyak orang memiliki pengalaman yang berbeda.

Ada yang mendengar suara.

Ada yang merasa melihat seseorang.

Ada yang tiba-tiba merasa tidak nyaman ketika melewati kawasan tersebut.

Namun tidak semuanya mengalami kejadian yang sama.

Bahkan sebagian pengemudi tidak pernah mengalami apa pun.

Karena itu, Suhu sendiri tidak pernah mengatakan bahwa semua cerita tersebut pasti benar.

Ia hanya memilih menghormati pengalaman para pengemudi yang pernah mengalaminya.

"Kadang yang paling penting bukan percaya atau enggak," katanya.

"Kalau sudah ada peringatan, ya jangan sengaja cari masalah."

Reza mengangguk.

Ia mulai memahami.

Mungkin tidak semua cerita harus dibuktikan sendiri.

Tetap Menjadi Pengemudi

Beberapa hari kemudian, Reza kembali bekerja.

Ia tidak jadi berhenti menjadi pengemudi.

Namun ada satu kebiasaan yang berubah.

Kalau ada pesanan menuju kawasan sekitar Jembatan Kalimalang pada malam hari, ia akan memilih rute lain.

Meski lebih jauh.

Meski lebih banyak menghabiskan bensin.

Ia tidak lagi menganggap keselamatan sebagai sesuatu yang bisa dipertaruhkan demi menghemat beberapa menit perjalanan.

Sementara cerita tentang jembatan tersebut tetap menjadi pembicaraan di antara para pengemudi.

Sebagian percaya.

Sebagian menganggapnya hanya cerita lama.

Sebagian lainnya memilih tidak berkomentar.

Namun bagi Reza, ia sudah mendapatkan jawabannya sendiri.

Tidak semua peringatan harus ditertawakan hanya karena terdengar tidak masuk akal.

Kadang, sebuah nasihat muncul dari pengalaman panjang orang lain.

Dan kita tidak harus mengalami kejadian yang sama hanya untuk membuktikan bahwa sebuah peringatan benar.

Reza pun tidak pernah lagi menganggap cerita Suhu sebagai candaan.

Sebab setiap kali malam tiba dan ia melewati kawasan yang tidak dikenalnya, ia selalu teringat satu kalimat:

"Kalau sudah ada yang memperingatkan, jangan sengaja mencari tahu dengan cara yang berisiko."

Dan sejak malam itu, Jembatan Kalimalang selalu ia lewati hanya ketika keadaan benar-benar memungkinkan dan jalurnya terasa aman.

Bagikan Cerita

Ulasan Saya

Pendapat kamu tentang cerita ini0/500
Belum ada ulasan

Daftar Bab