Perjuangan Yanti, Beasiswa, dan Rumah Tua Murah yang Ternyata Tidak Kosong
Sri WulandariSinopsis
Yanti adalah gadis desa yang cerdas, pekerja keras, dan terbiasa membantu orang tuanya memenuhi kebutuhan keluarga. Berkat prestasinya, ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di kota. Namun, kehidupan di kota menghadapkan Yanti pada masalah baru: biaya hidup dan tempat tinggal yang tidak murah.
Demi menghemat pengeluaran, Yanti memilih menyewa sebuah rumah tua yang sudah lama tidak ditempati karena harganya sangat murah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa rumah tersebut ternyata masih memiliki penghuni lain.
Alih-alih ketakutan ketika berhadapan dengan tiga makhluk gaib, Yanti justru membuat mereka mengikuti aturan yang ia tetapkan. Dari pertemuan yang tidak biasa itu, lahirlah sebuah usaha kreatif yang mengubah kehidupan Yanti.
Perjuangan Yanti Mengejar Pendidikan
Yanti adalah anak yang baik, penurut, dan cerdas.
Ia tumbuh di sebuah kampung bersama keluarganya yang hidup sederhana. Sejak kecil, Yanti terbiasa membantu kedua orang tuanya berjualan. Walaupun kehidupannya jauh dari kata mudah, ia tidak pernah menjadikan keadaan sebagai alasan untuk berhenti belajar.
Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil.
Yanti berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di sebuah kota besar.
Kabar tersebut tentu membuat orang tuanya bangga sekaligus sedih. Mereka senang melihat anaknya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, tetapi mereka juga khawatir karena Yanti harus tinggal jauh dari keluarga.
“Yang penting kamu belajar sungguh-sungguh,” pesan orang tuanya sebelum Yanti berangkat.
Yanti mengangguk.
“Aku akan berusaha, Bu. Aku juga tidak mau merepotkan keluarga.”
Dengan tekad tersebut, Yanti pun berangkat ke kota.
Rumah Tua dengan Harga Sewa Murah
Setibanya di kota, Yanti segera menyadari bahwa mendapatkan beasiswa saja belum menyelesaikan semua masalah.
Biaya hidup cukup tinggi.
Harga kontrakan pun membuat Yanti harus berhitung berkali-kali. Sementara itu, penghasilan dari pekerjaan sambilan yang dilakukannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Yanti tidak ingin meminta tambahan uang dari orang tuanya.
Setiap pengeluaran ia hitung dengan hati-hati.
Sampai akhirnya ia menemukan sebuah rumah tua yang sudah lama tidak ditempati.
Rumah itu terlihat jauh dari kata nyaman.
Cat dindingnya sudah terkelupas. Beberapa bagian kayunya tampak mulai tua, sementara debu dan sarang laba-laba memenuhi ruangan.
Namun ada satu hal yang membuat Yanti tertarik.
Harga sewanya sangat murah.
Setelah mempertimbangkan keadaan keuangannya, Yanti akhirnya memilih menyewa rumah tersebut.
“Aku bisa membersihkannya,” pikirnya.
Hari itu juga Yanti mulai membereskan rumah.
Ia menyapu lantai, membersihkan jendela, membuang berbagai barang yang sudah tidak terpakai, dan membersihkan sudut-sudut ruangan yang penuh debu.
Setelah beberapa jam, rumah tersebut mulai terlihat lebih layak ditempati.
Karena kelelahan, Yanti akhirnya merebahkan diri untuk beristirahat.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa malam pertamanya di rumah tua itu akan menjadi awal dari kejadian yang sangat aneh.
Penghuni yang Tidak Terduga
Malam semakin larut.
Yanti yang sedang tertidur tiba-tiba terbangun karena suara keras.
“Bruuukkk... gedebuggg!”
Seolah ada benda besar yang jatuh di dalam rumah.
Yanti langsung bangun.
Dengan sedikit kesal karena waktu tidurnya terganggu, ia berjalan keluar kamar untuk mencari sumber suara.
Namun, langkahnya mendadak berhenti.
Di salah satu sudut rumah berdiri seorang wanita berpakaian putih dengan rambut panjang terurai. Wajahnya terlihat pucat dan sosok itu mengeluarkan suara lirih.
“Hiiiihiihiiii...”
Yanti menatapnya beberapa saat.
Anehnya, Yanti tidak langsung berteriak.
Ia justru merasa kesal.
“Siapa kamu? Kenapa bikin ribut tengah malam?”
Sosok tersebut sepertinya tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.
Yanti malah semakin mendekat sambil memegang sebuah alat kebersihan yang ada di dekatnya.
“Kamu bikin aku tidak bisa tidur. Kalau mau tinggal di sini, jangan bikin keributan!”
Mendengar suara Yanti yang tegas, sosok tersebut justru mulai mundur.
Yanti kemudian menyadari bahwa sosok di depannya bukan manusia biasa.
Namun, bukannya semakin takut, ia justru semakin berani.
“Jadi kamu yang selama ini tinggal di rumah ini?”
Sosok itu akhirnya mengangguk.
“Aku sudah tinggal di sini cukup lama,” jawabnya lirih.
Yanti menghela napas.
“Rumah ini sekarang aku sewa. Jadi jangan ganggu aku.”
Sosok tersebut malah memohon agar Yanti tidak mengusirnya.
Ia mengaku sudah tinggal di rumah tersebut selama bertahun-tahun.
Yanti yang awalnya mengira rumah itu benar-benar kosong akhirnya sadar bahwa ada penghuni lain yang selama ini tidak pernah ia ketahui.
Tiga Penghuni Gaib
Belum selesai Yanti berbicara, tiba-tiba terdengar suara dari atas rumah.
“Tringgg... gedebrug!”
Sebuah sosok lain jatuh dari arah atap.
Yanti menoleh.
Ternyata bukan hanya satu.
Ada sosok lain yang ikut muncul.
Dalam suasana yang aneh itu, Yanti akhirnya mengetahui bahwa rumah tua tersebut ternyata menjadi tempat tinggal tiga makhluk gaib.
Mereka pun memohon agar Yanti mengizinkan mereka tetap berada di sana.
Yanti bukannya panik.
Ia justru berpikir sejenak.
“Baik. Kalian boleh tinggal.”
Ketiganya langsung terlihat lega.
“Tapi ada syaratnya,” lanjut Yanti.
Mereka bertiga kembali diam.
“Syarat pertama, kalian tidak boleh mengganggu manusia, terutama aku.”
Ketiganya mengangguk.
“Syarat kedua, kalian harus membantu aku mencari uang untuk membayar sewa rumah ini.”
Mendengar syarat kedua, salah satu dari mereka menawarkan cara cepat mendapatkan uang dengan mengambil milik orang lain.
Yanti langsung menolak.
“Jangan mencuri. Aku tidak mau mendapatkan uang dari cara seperti itu.”
Ketiganya akhirnya hanya saling pandang.
Mereka bingung karena selama ini tidak pernah memikirkan cara mendapatkan penghasilan yang halal.
Yanti pun mulai berpikir.
Ide Bisnis yang Tidak Biasa
Keesokan harinya, Yanti mendapatkan sebuah ide.
Kalau ketiga penghuni rumah itu memang memiliki penampilan dan kemampuan yang tidak biasa, mengapa tidak memanfaatkannya untuk membuat sesuatu yang menghibur?
Yanti memilih mencoba berjualan melalui siaran langsung di media sosial.
Ia kemudian membagi tugas.
Kuntilanak yang terbiasa dengan penampilan menyeramkan justru diarahkan menjadi model untuk konten kecantikan.
Pocong diberi tugas membantu mengambil gambar dan menjadi bagian dari konsep video.
Sementara Tuyul dipercaya menangani administrasi sederhana untuk toko online.
Awalnya ketiganya tampak kebingungan.
Mereka tidak pernah membayangkan akan melakukan pekerjaan seperti itu.
Tetapi Yanti dengan sabar mengajari mereka.
“Yang penting kalian jangan menakuti orang. Kita bikin orang tertarik karena konsep kita unik.”
Mereka pun mulai mencoba.
Pada awalnya hanya beberapa orang yang menonton.
Namun semakin sering melakukan siaran, semakin banyak orang yang penasaran dengan konsep mereka.
Penampilan para penghuni rumah tua tersebut membuat konten Yanti berbeda dari siaran langsung lainnya.
Orang-orang membicarakannya di media sosial.
Jumlah penonton meningkat.
Kemudian datang pula pemilik berbagai produk yang tertarik bekerja sama untuk mempromosikan barang mereka.
Kehidupan yang Berubah
Usaha yang awalnya hanya dilakukan untuk membantu Yanti membayar sewa rumah perlahan berkembang.
Penghasilan mereka semakin meningkat.
Yanti mulai mampu memenuhi kebutuhan kuliah dan biaya hidupnya sendiri.
Ia juga bisa membantu orang tuanya di kampung ketika memiliki penghasilan lebih.
Rumah tua yang dahulu hanya dianggap sebagai tempat tinggal murah akhirnya berubah menjadi pusat aktivitas usaha kecil yang tidak biasa.
Yanti tetap fokus menyelesaikan kuliahnya.
Sementara itu, ketiga penghuni gaib tersebut tetap menjalankan tugas masing-masing dengan aturan yang sudah disepakati.
Tidak ada lagi gangguan yang membuat Yanti takut.
Sebaliknya, pertemuan aneh itu justru menjadi awal dari perjalanan baru dalam hidupnya.
Yanti datang ke kota dengan membawa satu tujuan sederhana: menyelesaikan pendidikan tanpa membebani keluarganya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa rumah tua yang disewanya karena murah justru mempertemukannya dengan tiga penghuni yang akhirnya ikut membantunya menemukan jalan menuju kehidupan yang lebih baik.
Semua berawal dari sebuah rumah tua yang ternyata tidak pernah benar-benar kosong.
