Sinopsis
Riska tumbuh dalam keluarga berada dan terbiasa mendapatkan hampir semua yang diinginkannya. Kemewahan perlahan membuatnya memandang orang lain berdasarkan harta dan gaya hidup.
Di sekolah, ia kerap merendahkan Berlian, seorang siswa yang bersekolah melalui beasiswa. Meskipun sering diperlakukan tidak baik, Berlian tetap memilih bersikap baik.
Sampai suatu hari, sebuah kecelakaan membuat Riska berada dalam kondisi serius. Tanpa mengingat perlakuan buruk yang pernah diterimanya, Berlian justru menjadi orang yang berusaha menolongnya. Peristiwa itu kemudian mengubah cara Riska memandang kehidupan untuk selamanya.
Sifat Sombong dan Angkuh Riska
Riska adalah anak yang sejak kecil dikenal sulit menerima nasihat.
Orang tuanya sudah sering mengingatkannya agar menghargai orang lain, tetapi perkataan tersebut jarang benar-benar ia pedulikan.
Riska tumbuh dalam keluarga berada. Hampir semua yang diinginkannya dapat terpenuhi. Pakaian bagus, kendaraan nyaman, uang jajan yang cukup, serta berbagai fasilitas membuat kehidupannya serba berkecukupan.
Namun, kemudahan tersebut perlahan memengaruhi sikapnya.
Riska mulai merasa dirinya lebih tinggi dibandingkan orang lain.
Ia bahkan tidak mau berteman dengan anak-anak yang menurutnya berasal dari keluarga sederhana.
"Teman itu harus selevel," begitu prinsip yang selalu ia pegang.
Ketika melihat seseorang mengenakan pakaian sederhana, Riska sering menjauh.
Bila ada teman yang tidak memiliki ponsel mahal, ia tidak segan mengejek.
Dan ketika seseorang tidak mampu mengikuti gaya hidupnya, Riska merasa orang tersebut tidak pantas berada di dekatnya.
Lama-kelamaan, sifat Riska semakin dikenal oleh orang-orang di sekitarnya.
Orang tuanya pun tidak tinggal diam.
"Riska, jangan pernah menilai seseorang dari harta yang dimilikinya."
Riska biasanya hanya menjawab singkat.
"Iya, Riska tahu."
Tetapi setelah orang tuanya tidak berada di dekatnya, ia kembali melakukan apa yang diinginkannya.
Seiring bertambahnya usia, kesombongan Riska justru semakin kuat.
Ia sering membanggakan apa yang dimilikinya.
"Aku punya mobil."
"Aku punya barang mahal."
"Aku bisa membeli apa pun yang aku mau."
Riska tidak menyadari bahwa semua kebanggaan tersebut perlahan membuatnya kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting.
Rasa menghargai sesama manusia.
Berlian dan Perundungan di Sekolah
Riska kemudian bersekolah di sebuah sekolah swasta bergengsi.
Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga yang berkecukupan. Namun, ada seorang siswa bernama Berlian yang memiliki kehidupan jauh lebih sederhana.
Berlian dapat bersekolah di tempat tersebut melalui jalur beasiswa.
Ia tidak memiliki kendaraan mewah.
Ponselnya juga bukan keluaran terbaru.
Uang jajannya terbatas.
Namun, Berlian tidak pernah merasa malu dengan keadaan keluarganya.
Ia tetap rajin belajar dan mudah membantu teman.
Yang paling berbeda dari Riska, Berlian tidak pernah menilai orang berdasarkan harta.
Sayangnya, kesederhanaan Berlian justru membuatnya sering menjadi sasaran Riska.
Hampir setiap hari ada saja perlakuan yang membuat Berlian tidak nyaman.
"Berliian!"
Berlian menoleh.
"Ada apa?"
"Kerjakan tugas aku."
Berlian melihat buku yang diberikan kepadanya.
"Tapi aku sendiri belum selesai mengerjakan tugas."
Riska menatapnya.
"Memangnya kamu mau menolak?"
Berlian terdiam.
Ia sebenarnya tidak setuju, tetapi tidak ingin memperpanjang masalah.
Akhirnya, ia mengerjakan tugas tersebut.
Tidak hanya itu.
Riska juga beberapa kali mempermalukannya di depan teman-teman.
"Lihat, anak beasiswa!"
Beberapa siswa tertawa.
Berlian hanya menundukkan kepala.
Ia memang merasa sedih, tetapi memilih tidak membalas.
Dalam hati, ia sering bertanya,
"Kenapa seseorang harus diperlakukan berbeda hanya karena hidupnya sederhana?"
Meski demikian, Berlian tetap berusaha memaafkan.
Suatu sore, Riska sedang menunggu jemputan di depan gerbang sekolah.
Berlian kebetulan melewati tempat tersebut menggunakan sepeda listrik.
"Riska."
Riska menoleh.
"Apa?"
"Kalau kamu belum dijemput, aku bisa mengantarmu sampai rumah."
Riska melihat sepeda listrik Berlian, kemudian menggeleng.
"Enggak perlu."
"Oh, ya sudah."
Berlian tersenyum kecil.
"Aku duluan."
Tidak lama kemudian, sebuah mobil datang menjemput Riska.
Setelah masuk ke dalam mobil, Riska melihat Berlian yang masih berada di sekitar gerbang.
Ia kemudian melakukan sesuatu yang membuat Berlian terkejut.
Riska mengambil botol air mineral dan menyiramkannya dari jendela mobil.
Air mengenai wajah dan pakaian Berlian.
Beberapa teman Riska tertawa.
Berlian hanya terdiam.
Ia mengusap wajahnya dan tidak mengejar mobil tersebut.
Dalam hati ia berkata,
"Semoga suatu hari nanti kamu sadar bahwa manusia tidak dinilai dari harta yang dimilikinya."
Berlian tidak tahu bahwa tidak lama setelah itu, kehidupannya dan kehidupan Riska akan berubah.
Kecelakaan dan Pertolongan Berlian
Sore itu, Riska pulang menggunakan mobil jemputannya.
Ketika melewati sebuah persimpangan, kendaraan yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan.
Benturan keras membuat beberapa orang di sekitar lokasi segera berdatangan untuk memberikan pertolongan.
Riska kehilangan kesadaran.
Kebetulan, Berlian sedang berada tidak jauh dari tempat tersebut.
Ketika melihat kerumunan warga, ia berhenti.
Begitu mengetahui bahwa salah satu orang yang membutuhkan pertolongan adalah Riska, Berlian langsung mendekat.
"Riska!"
Ia tidak memikirkan semua perlakuan buruk yang pernah diterimanya.
Yang ada dalam pikirannya hanya satu:
membantu orang yang sedang membutuhkan pertolongan.
Berlian bersama warga membantu mengevakuasi Riska agar mendapatkan penanganan medis.
Tidak lama kemudian, Riska dibawa ke rumah sakit.
Orang tuanya segera datang dalam keadaan panik.
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?"
"Kondisinya masih membutuhkan penanganan. Kami sedang melakukan yang terbaik."
Beberapa waktu kemudian, dokter menyampaikan bahwa Riska membutuhkan transfusi darah dan stok yang sesuai sedang terbatas.
Ketika mendengar hal tersebut, Berlian yang masih berada di rumah sakit memberanikan diri mendekati orang tua Riska.
"Pak..."
Ayah Riska menoleh.
"Kamu?"
"Saya dengar Riska membutuhkan darah."
"Iya. Kami sedang mencari donor yang sesuai."
"Kalau golongan darah saya sesuai, saya bersedia membantu."
Orang tua Riska langsung terdiam.
"Kamu yakin?"
Berlian mengangguk.
"Iya. Saya ingin membantu Riska."
Tidak ada sedikit pun nada dendam dalam suaranya.
Padahal orang yang hendak ia bantu adalah orang yang selama ini sering mempermalukannya.
Setelah menjalani pemeriksaan, Berlian diketahui dapat menjadi pendonor.
Ia pun bersedia menjalani proses donor.
Namun, ada kondisi kesehatan yang sebelumnya memang membuat tubuh Berlian harus lebih berhati-hati terhadap kehilangan darah.
Meski sempat merasa ragu, Berlian tetap memilih membantu.
"Yang penting Riska selamat," pikirnya.
Proses donor akhirnya dilakukan.
Setelah darah yang dibutuhkan tersedia, penanganan terhadap Riska terus dilanjutkan oleh tim medis.
Beberapa waktu kemudian, kondisi Riska mulai stabil.
Orang tuanya merasa sangat lega.
Namun, keadaan Berlian justru menurun.
Tubuhnya menjadi sangat lemah dan ia harus mendapatkan perawatan.
Misteri Sang Penolong
Beberapa waktu kemudian, Riska akhirnya sadar.
Matanya perlahan terbuka.
"Riska..."
Ibunya langsung menghampirinya.
"Alhamdulillah, kamu sadar."
Riska mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
"Aku kecelakaan?"
"Iya."
Riska kemudian bertanya,
"Siapa yang menolong aku?"
Ayahnya menjawab,
"Berlian."
Nama itu membuat Riska terdiam.
Berlian.
Anak yang selama ini ia hina.
Anak yang sering ia suruh mengerjakan tugas.
Anak yang pernah ia permalukan di depan teman-temannya.
Justru Berlian yang datang menolong ketika dirinya sedang tidak berdaya.
"Aku ingin bertemu dengannya," kata Riska.
Orang tuanya mengangguk.
Mereka kemudian mencoba mencari informasi tentang kondisi Berlian.
Namun, suasana berubah ketika seorang perawat datang membawa kabar.
"Berlian sedang dirawat di ruangan lain."
"Kenapa?" tanya ibu Riska.
Perawat menjelaskan bahwa kondisi Berlian menurun setelah menjalani donor dan tim medis masih berusaha menanganinya.
Riska langsung merasa gelisah.
"Aku mau melihatnya."
"Jangan dulu. Kondisimu juga belum sepenuhnya pulih."
Tetapi Riska terus memikirkan Berlian.
Untuk pertama kalinya, ia mulai menyadari besarnya kebaikan seseorang yang selama ini justru ia anggap rendah.
"Aku harus meminta maaf."
Penyesalan yang Mengubah Hidup Riska
Dengan ditemani kedua orang tuanya, Riska akhirnya menuju ruangan tempat Berlian dirawat.
Namun, sesampainya di sana, mereka tidak menemukan Berlian.
Riska langsung bertanya kepada seorang perawat.
"Berlian ada di mana?"
Perawat tersebut terdiam sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati.
"Maaf, pasien Berlian sudah dipindahkan."
"Ke mana?"
Riska mulai cemas.
Perawat menundukkan kepala.
"Ke ruang jenazah."
Riska membeku.
Ia seperti tidak mampu memahami apa yang baru saja didengarnya.
"Tidak mungkin..."
Kondisi Berlian ternyata terus memburuk meskipun telah mendapatkan penanganan.
Tim medis sudah berusaha memberikan pertolongan, tetapi akhirnya tidak berhasil menyelamatkannya.
Riska menutup wajah dengan kedua tangan.
Air matanya mengalir.
Ia teringat semuanya.
Saat mengejek Berlian.
Saat menyuruhnya mengerjakan tugas.
Saat mempermalukannya.
Dan terutama saat ia menyiram wajah Berlian dengan air dari mobil.
Namun ketika dirinya berada dalam kondisi paling membutuhkan pertolongan, Berlian justru datang tanpa memikirkan semua perlakuan buruk tersebut.
"Kenapa kamu masih mau menolong aku?" tangis Riska.
"Aku sudah jahat sama kamu."
"Aku sering merendahkan kamu."
"Tapi kamu malah menyelamatkan aku."
Ayah Riska memeluk anaknya yang terus menangis.
Hari itu menjadi titik balik dalam kehidupan Riska.
Ia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia mengerti.
Kekayaan tidak membuat seseorang lebih tinggi daripada orang lain.
Berlian hidup sederhana.
Ia tidak memiliki kendaraan mahal.
Tidak mengenakan barang-barang mewah.
Tidak pernah membanggakan hartanya.
Namun ketika kesempatan untuk berbuat baik datang, Berlian memilih membantu tanpa meminta imbalan.
Hatinya jauh lebih kaya daripada semua kemewahan yang selama ini dibanggakan Riska.
Sejak saat itu, Riska mulai berubah.
Ia berhenti merendahkan orang lain berdasarkan keadaan ekonomi.
Ia juga mulai meminta maaf kepada teman-teman yang pernah disakitinya.
Apa yang dimilikinya tidak lagi digunakan untuk menunjukkan bahwa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Sebaliknya, Riska mulai belajar menggunakannya untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Namun kenangan tentang Berlian tidak pernah hilang.
Setiap kali melihat seseorang hidup sederhana, Riska selalu teringat kepada anak yang dahulu pernah ia remehkan.
Seseorang yang justru menjadi penolongnya pada saat paling sulit.
Dari peristiwa itu, Riska akhirnya memahami satu pelajaran yang sangat berharga:
Manusia tidak dinilai dari mahalnya pakaian, kendaraan, rumah, atau barang yang dimilikinya. Nilai seseorang terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang lain ketika memiliki kesempatan untuk berbuat baik.
Berlian memang telah pergi.
Tetapi kebaikannya meninggalkan perubahan besar dalam kehidupan Riska.
Dan bagi Riska, itulah pelajaran yang tidak akan pernah ia lupakan.
