Sintia, Cinta dari Alam yang tak Terlihat

Table of Contents

Anak yang Dianggap Pembawa Sial

Sintia adalah seorang anak yatim piatu yang hidup seorang diri di sebuah rumah sederhana peninggalan kedua orang tuanya.

Sejak kecil, kehidupan Sintia tidak pernah mudah.

Ibunya meninggal setelah meminum racun karena sudah terlalu lelah menghadapi kehidupan yang menurutnya tidak pernah memberikan kebahagiaan. Sementara ayahnya meninggal secara tragis setelah ketahuan mencuri beberapa buah timun di sebuah ladang.

Sejak saat itu, Sintia benar-benar kehilangan kedua orang yang selama ini menjadi tempatnya bergantung.

Saat itu Sintia masih duduk di kelas 5 SD.

Tidak ada lagi ayah.

Tidak ada lagi ibu.

Dan yang lebih menyakitkan, tidak ada satu pun saudara dari pihak ayah maupun ibunya yang mau menerimanya.

Mereka justru menganggap Sintia sebagai anak yang membawa kesialan dan memalukan keluarga.

"Anak itu sejak lahir memang sudah membawa masalah."

"Lebih baik jangan terlalu dekat dengannya."

Begitulah perkataan yang sering didengar Sintia sejak kecil.

Namun, ada satu hal lain yang membuat kehidupannya semakin berat.

Sejak lahir, tubuh Sintia mengalami kondisi yang berbeda dari kebanyakan orang. Sekujur tubuhnya dipenuhi bintik-bintik hitam yang tampak seperti luka bekas sundutan rokok.

Banyak orang merasa takut melihatnya.

Sebagian merasa jijik.

Bahkan ada yang sengaja menjauh ketika Sintia berjalan melewati mereka.

Karena itulah, sejak kecil Sintia tidak pernah benar-benar memiliki teman.

Hari-harinya lebih banyak dihabiskan seorang diri di dalam rumah.

Ia tumbuh menjadi anak yang pendiam dan tertutup.

Bukan karena ia tidak ingin berteman.

Tetapi karena terlalu sering ditolak membuatnya akhirnya terbiasa hidup sendiri.

Hidup Sendiri dengan Sebuah Senyuman

Setelah kedua orang tuanya meninggal, Sintia harus belajar menjadi anak yang mandiri.

Tidak ada harta.

Tidak ada tabungan.

Tidak ada keluarga yang mau membantunya.

Bahkan untuk sekadar makan sehari-hari pun, Sintia harus berusaha sendiri.

Di belakang rumahnya hanya ada beberapa tanaman ubi yang selama ini dirawatnya.

Ubi-ubi itulah yang menjadi salah satu sumber penghasilannya.

Setiap kali sudah cukup banyak, Sintia akan mencabutnya dari tanah, membersihkannya, kemudian mengumpulkannya untuk dibawa ke pasar.

Harga ubi yang dijualnya tidak seberapa.

Hanya sekitar tiga ribu rupiah per kilogram.

Namun Sintia tidak pernah mengeluh.

Berapa pun hasil yang didapatnya, ia selalu menerimanya dengan ikhlas.

Bagi Sintia, selama hari itu ia masih bisa makan, ia sudah merasa cukup.

Pagi-pagi sekali, Sintia sering berjalan menuju pasar sambil membawa hasil kebunnya.

Wajahnya mungkin terlihat lelah.

Namun senyum kecil hampir selalu menghiasi wajahnya.

Sayangnya, perjalanan menuju pasar tidak selalu berjalan tenang.

Beberapa warga kampung sering melontarkan hinaan kepadanya.

"Awas, awas! Ada anak pembawa sial!"

"Ih, bau banget badannya!"

"Padahal sudah dewasa, bagaimana nanti mencari jodoh?"

"Siapa juga yang mau menikah dengannya?"

Hinaan itu terdengar jelas.

Sintia sebenarnya mendengarnya.

Ia hanya memilih diam.

Ia pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.

Bukan karena tidak sakit hati.

Tetapi Sintia sudah terlalu sering menerima hinaan sampai akhirnya ia belajar menyembunyikan rasa sakitnya sendiri.

Ia membalas semua perkataan itu dengan senyuman.

Kesabarannya seolah lebih besar daripada luka yang diterimanya.

Namun, manusia tetaplah manusia.

Ada kalanya hati yang terlalu lama disakiti akhirnya tidak mampu lagi menahan semuanya.

Tangisan Sintia di Dapur

Suatu hari, setelah terlalu banyak hinaan yang diterimanya, Sintia akhirnya tidak mampu lagi menahan air matanya.

Ia duduk seorang diri di dekat pintu dapur.

Tangisnya pecah.

Air mata mengalir membasahi pipinya.

Untuk pertama kalinya, semua rasa sakit yang selama ini disimpannya seperti tumpah sekaligus.

Sintia menundukkan kepalanya.

Dengan suara lirih, ia berbicara kepada Tuhan.

"Kenapa, Tuhan?"

"Kenapa aku harus dilahirkan dengan keadaan seperti ini?"

Sintia menarik napas panjang di sela tangisnya.

"Aku ditinggalkan ibu dan ayahku..."

"Orang yang satu-satunya sayang kepadaku."

"Kenapa Kau tidak mengambilku saja, Tuhan?"

Tangis Sintia semakin menjadi.

Ia merasa lelah.

Lelah hidup sendiri.

Lelah dihina.

Lelah dianggap sebagai pembawa sial.

Dan yang paling membuatnya sakit adalah tidak pernah ada seorang pun yang benar-benar mau menerimanya.

Sintia memeluk lututnya sendiri.

"Kalau memang aku seburuk yang mereka bilang..."

"Kenapa aku masih harus hidup?"

Saat itulah, di tengah isak tangisnya, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki.

"Sudah, jangan nangis terus."

"Nanti air matanya habis, loh..."

Sintia langsung terdiam.

Ia mengangkat wajahnya.

Di depan pintu rumahnya berdiri seorang pemuda.

Pemuda itu terlihat tampan dan sama sekali tidak dikenalnya.

Sintia mengerutkan kening.

"Siapa kamu?"

Pemuda itu hanya tersenyum.

"Sana pergi!"

"Pergi!"

Sintia langsung mengusirnya.

Dalam pikirannya, pemuda itu pasti datang hanya untuk mengejek dirinya seperti orang-orang lainnya.

Namun pemuda itu tidak sedikit pun menghiraukan perkataan Sintia.

Ia justru melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.

Bahkan sampai ke dapur.

Sintia semakin bingung.

"Hei! Aku bilang pergi!"

Pemuda itu malah melihat ke sekeliling dapur.

"Kok tidak ada beras?"

"Kamu tidak masak?"

Sintia terdiam.

"Kamu belum makan, ya?"

Pertanyaan itu membuat Sintia semakin kebingungan.

Siapa pemuda ini?

Mengapa ia bertingkah seperti sudah mengenal Sintia sejak lama?

Pemuda yang Tidak Bisa Dilihat Orang Lain

Pemuda itu kemudian keluar dari rumah.

Tidak lama kemudian, ia kembali membawa beberapa bahan makanan.

Ada beras.

Ada sayuran.

Bahkan ada daging.

Sintia yang melihat semua itu semakin curiga.

Ia menatap pemuda tersebut dari ujung kepala sampai kaki.

"Sebenarnya kamu siapa, sih?"

"Kamu bukan orang kampung sini, kan?"

Pemuda itu hanya tersenyum.

Sintia kembali bertanya.

"Kamu punya niat apa sampai membawa semua ini buat aku?"

Tiba-tiba pikiran buruk muncul di kepala Sintia.

"Jangan-jangan..."

"Kamu mau meracuni aku dengan makanan yang kamu bawa ini?"

"Aku nggak mau menerimanya!"

"Pergi!"

"Cepat pergi dari rumahku!"

Sintia berteriak keras.

Suara itu terdengar sampai ke luar rumah.

Beberapa warga yang mendengarnya kemudian datang menghampiri.

"Kenapa kamu ribut-ribut?"

"Berisik tahu!"

Sintia langsung merasa lega.

Ia melihat beberapa warga yang datang.

"Untung ada Bibi dan Paman!"

"Tolong bantu usir laki-laki ini!"

Sintia menunjuk ke arah pemuda tersebut.

Namun warga justru saling berpandangan.

"Laki-laki?"

"Mana?"

Sintia menunjuk lagi.

"Itu! Di situ!"

Warga melihat ke arah yang ditunjuk Sintia.

Tetapi tidak ada seorang pun yang melihat siapa pun.

"Mana ada laki-laki di rumahmu?"

Sintia mulai panik.

"Ada!"

"Dia ada di sini!"

Salah seorang warga malah tertawa mengejek.

"Kamu gila, ya?"

"Jangan mimpi siang bolong."

"Siapa yang mau dekat-dekat dengan anak pembawa sial seperti kamu?"

"Dasar pembawa sial. Bikin berisik saja."

Setelah mengatakan itu, warga pergi meninggalkan Sintia.

Sintia masih berdiri di depan pintu.

"Eh..."

"Tunggu!"

"Orangnya ada di sini!"

"Tidak ada yang lihat?"

Namun tidak ada yang kembali.

Sintia kemudian perlahan menoleh ke belakang.

Pemuda itu masih berdiri di sana.

Bahkan tersenyum kepadanya.

"Mau sampai teriak-teriak pun warga tidak akan bisa melihat aku, Manis."

Sintia terdiam.

Pemuda itu kemudian melanjutkan dengan santai.

"Jangan dengarkan kata-kata warga desa."

"Aku mau kok dekat sama kamu."

"Jadi sekarang masak, yuk."

"Kita makan bareng."

Pemuda itu tersenyum sambil bercanda.

Sintia semakin bingung.

"Maksudnya..."

"Orang lain tidak bisa melihat kamu?"

"Jadi kamu sebenarnya apa?"

Pemuda itu hanya diam sambil tersenyum.

Sintia tiba-tiba membelalakkan matanya.

"Jangan-jangan..."

"Kamu..."

"SETAN?!"

Sintia langsung berusaha melarikan diri.

Namun dalam kepanikan itu, langkahnya justru tersandung.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Ia hampir terjatuh.

Pemuda itu dengan cepat menahannya.

Tanpa sengaja, Sintia justru jatuh ke pangkuannya.

Keduanya terdiam.

Mata mereka saling bertatapan.

Untuk beberapa saat, Sintia tidak mengatakan apa-apa.

Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang tidak menjauh darinya.

Tidak menghina tubuhnya.

Tidak memandangnya dengan jijik.

Tidak menyebutnya pembawa sial.

Pemuda itu justru berada di sana ketika Sintia sedang menangis.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Sintia tersenyum.

Razip

"Ih... lepasin!"

"Jangan macam-macam, ya!"

Sintia buru-buru bangkit.

Pemuda itu tertawa kecil.

"Ya sudah."

"Aku masak."

Sintia kemudian mengambil bahan makanan yang dibawa pemuda tersebut.

Dengan wajah sedikit malu dan gugup, ia berkata,

"Kamu diam saja."

"Biar aku yang masak."

Pemuda itu hanya tersenyum.

Sejak hari itu, kehidupan Sintia mulai berubah.

Pemuda tersebut bernama Razip.

Awalnya Sintia masih merasa takut.

Namun semakin sering bertemu, semakin besar pula rasa nyaman yang muncul di dalam dirinya.

Razip selalu datang menemaninya.

Mereka berbicara.

Bercanda.

Makan bersama.

Bahkan perlahan, keduanya semakin dekat dan akhirnya menjalin kasih.

Sintia kemudian mengetahui sebuah kenyataan yang jauh lebih aneh.

Razip bukan manusia biasa.

Ia adalah arwah qorin yang gentayangan.

Meskipun mengetahui siapa sebenarnya Razip, Sintia tetap memilih untuk bersamanya.

Ia tahu hubungan mereka mungkin tidak akan berlangsung selamanya.

Ia juga tahu suatu saat mereka mungkin harus berpisah.

Namun bagi Sintia, kebahagiaan yang diberikan Razip jauh lebih berarti daripada semua hinaan yang selama ini diterimanya.

Semenjak Razip hadir dalam hidupnya, Sintia berubah drastis.

Ia menjadi lebih ceria.

Ia mulai berani keluar rumah.

Ia tidak lagi terlalu memikirkan perkataan orang lain.

Ke mana pun ia pergi, Sintia tidak lagi merasa takut atau malu.

Ada Razip yang selalu membuatnya merasa terlindungi.

Walaupun tidak seorang pun dapat melihat keberadaan Razip, bagi Sintia sosok itu benar-benar nyata.

Razip adalah orang pertama yang membuatnya merasa diterima.

Dan tanpa disadari...

Sintia benar-benar jatuh cinta.

Ketika Razip Tidak Pernah Datang Lagi

Hari-hari bahagia itu terus berjalan.

Sintia merasa akhirnya hidup memberikan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Teman.

Tempat bercerita.

Seseorang yang mau mendengarkan.

Dan seseorang yang mencintainya.

Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung selamanya.

Suatu hari, Razip tidak datang.

Sintia menunggu.

Hari berikutnya, Razip tetap tidak muncul.

Sintia kembali menunggu.

Hari berganti hari.

Namun Razip tidak pernah datang lagi.

Sintia mulai gelisah.

Ia mencoba memanggilnya.

"Razip..."

Tidak ada jawaban.

"Razip, kamu di mana?"

Tetap tidak ada suara.

Sintia masih berharap pemuda itu akan datang seperti biasanya.

Namun harapan itu perlahan berubah menjadi kesedihan.

Senyum yang selama ini menghiasi wajah Sintia kembali menghilang.

Ia kembali menjadi perempuan pendiam yang menghabiskan waktunya seorang diri.

Rumah yang dahulu terasa sedikit lebih hidup ketika Razip datang, kembali menjadi sunyi.

Sintia kembali sendirian.

Ia kembali merasa bahwa hidupnya memang ditakdirkan untuk sendiri.

Bukan untuk memiliki keluarga.

Bukan untuk memiliki teman.

Dan mungkin bukan untuk memiliki pasangan.

Setiap malam, Sintia masih menunggu.

"Razip..."

"Kalau kamu masih ada..."

"Tolong datang."

Namun tidak pernah ada jawaban.

Air matanya kembali jatuh.

Kebahagiaan yang sempat ia rasakan justru membuat kehilangan itu terasa jauh lebih menyakitkan.

Cinta yang Berakhir Tragis

Hari demi hari, kondisi Sintia semakin terpuruk.

Ia kehilangan semangat.

Ia kembali merasa tidak memiliki siapa-siapa.

Semua kenangan bersama Razip terus terbayang dalam pikirannya.

Cara Razip berbicara.

Cara Razip bercanda.

Saat mereka makan bersama.

Saat Razip mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan perkataan warga desa.

Semua kenangan itu justru membuat Sintia semakin sulit melupakan sosok yang telah membuat hidupnya berubah.

"Razip..."

"Aku cuma ingin bertemu kamu lagi."

"Aku sudah tidak punya siapa-siapa."

Sintia menangis seorang diri.

Ia merasa kehidupannya kembali kosong.

Hingga pada akhirnya, dalam keadaan sangat hancur dan kecewa, Sintia mengambil keputusan tragis yang mengakhiri hidupnya.

Ia berharap dengan keputusan itu, dirinya dapat bertemu kembali dengan Razip di alam lain.

Ia berharap mereka bisa bersama kembali.

Namun tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sebenarnya menunggu Sintia setelah kematiannya.

Apakah benar ia akan bertemu Razip?

Ataukah justru ada sesuatu yang jauh lebih mengerikan yang menantinya di alam kematian?

Karena sejak hari Sintia memilih untuk mengakhiri hidupnya...

rumah itu tidak pernah benar-benar kosong lagi.

Dan beberapa warga kampung mulai mendengar suara seorang perempuan menangis dari dalam rumah Sintia pada malam-malam tertentu.

Suara itu selalu terdengar lirih.

Seperti seseorang yang sedang memanggil nama seseorang yang sangat dirindukannya.

"Razip..."

"Razip..."

Namun kali ini...

bukan hanya Sintia yang bisa mendengar suara itu.

Posting Komentar