Sumur Tua di Belakang Rumah Nenek Rasnah
Bahasa artikel: Indonesia Sri WulandariPilih versi bahasa
Sedang dibaca: Indonesia
Versi terjemahan hanya akan ditampilkan setelah artikel bahasa tersebut benar-benar diterbitkan.
Sinopsis
Di belakang rumah Nenek Rasnah terdapat sebuah sumur tua yang sudah lama tidak digunakan. Embernya telah hilang, talinya putus, dan bagian bibir sumur dipenuhi lumut. Melati, cucu yang sering menginap di rumah neneknya, sejak awal merasa penasaran dengan keberadaan sumur tersebut.
Rasa penasaran itu semakin kuat ketika setiap malam Melati mendengar suara seperti seseorang sedang menimba air dari sumur. Padahal, tidak ada ember maupun tali di sana. Ketika akhirnya ia memberanikan diri memeriksa sumur tersebut, Melati mendengar suara lirih dari dalam kegelapan yang membuatnya segera kembali ke rumah.
Nenek Rasnah akhirnya menceritakan alasan mengapa sumur itu tidak pernah lagi digunakan. Bertahun-tahun sebelumnya, sumur tersebut menjadi bagian dari sebuah tragedi yang membuat warga desa memilih menjauhinya. Sejak saat itu, Nenek Rasnah pun selalu berusaha agar keluarganya tidak mendekati tempat tersebut.
Sumur Tua di Belakang Rumah
Di belakang rumah Nenek Rasnah terdapat sebuah sumur yang sudah sangat lama tidak digunakan.
Embernya tidak ada. Tali untuk menimba pun telah putus dan hilang. Bibir sumur terlihat dipenuhi lumut, membuat tempat itu tampak seperti bagian dari masa lalu yang sudah lama ditinggalkan.
Nenek Rasnah sendiri sudah tinggal di kampung tersebut sejak kecil. Karena itu, sedikit banyak ia mengetahui cerita tentang sumur tua yang berada tepat di belakang rumahnya.
Sejak ditinggal oleh suaminya, Nenek Rasnah hidup seorang diri. Ia memiliki dua orang anak perempuan yang masing-masing sudah menikah dan memiliki anak. Anak-anaknya sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan sang ibu.
Beberapa kali mereka mengajak Nenek Rasnah tinggal bersama di kota.
Namun, Nenek Rasnah hanya bertahan beberapa hari.
Menurutnya, kehidupan di kota terasa tidak nyaman. Suasananya terlalu ramai dan berbeda jauh dengan kehidupan di desa yang sejak kecil sudah dikenalnya.
Akhirnya anak-anaknya mengantarkan Nenek Rasnah kembali ke kampung.
Sejak saat itu, ia kembali menjalani hari-harinya seorang diri. Meski begitu, anak-anaknya tetap sering datang untuk memastikan keadaan ibunya.
Salah satu cucu yang paling sering datang adalah Melati.
Melati sangat menyayangi neneknya. Ia bahkan sering menginap berhari-hari hanya untuk menemani Nenek Rasnah di rumah desa.
Karena terlalu sering datang, Melati sudah sangat mengenal suasana di sekitar rumah neneknya. Ia juga senang memperhatikan berbagai hal yang ada di sekitar kampung.
Termasuk sebuah sumur tua di belakang rumah.
Pertanyaan Melati
Suatu siang, Melati sedang berbaring sambil menyandarkan kepalanya di kaki Nenek Rasnah.
“Nenek... Melati boleh tanya tidak?” katanya.
“Kenapa, ndok? Nanya apa?” jawab Nenek Rasnah dengan suara seraknya.
“Sumur di belakang rumah ini tidak dipakai, ya, Nek? Kok Melati tidak pernah melihat ember atau tali di sana?”
Mendengar pertanyaan itu, Nenek Rasnah langsung berubah.
Ia menyuruh Melati bangun dari kakinya.
“Aduh, ndok... jangan macam-macam, ya. Jangan pernah dekat-dekat sama sumur itu.”
Nada suara Nenek Rasnah terdengar lebih gelisah daripada biasanya.
Melati yang melihat perubahan sikap neneknya pun semakin penasaran.
“Nenek kenapa? Memangnya ada apa di sana?”
Namun Nenek Rasnah tidak langsung menjawab.
Ia hanya meminta Melati menjauh dari tempat tersebut.
Selama ini Nenek Rasnah memang sengaja berusaha menutupi keberadaan sumur tua itu dari cucunya. Bahkan ketika mengajak Melati berjalan-jalan mengelilingi desa, ia sering memilih jalan yang lebih jauh agar cucunya tidak melewati area di sekitar sumur.
Tetapi ternyata usaha itu tidak berhasil.
Melati sudah mengetahui keberadaan sumur tersebut sejak pertama kali datang ke rumah neneknya.
Awalnya ia memang tidak terlalu memikirkannya.
Sampai suatu malam, rasa penasaran itu berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Suara Tembangan di Tengah Malam
Saat menginap di rumah Nenek Rasnah, Melati beberapa kali terbangun pada malam hari karena mendengar suara aneh.
“Kreekkk... kreeekkk... kreeekkk...”
Disusul suara seperti sesuatu yang berat bergerak.
“Bruuukkk...”
Kemudian terdengar suara air yang menetes.
Melati membuka matanya dan mencoba mendengarkan lebih jelas.
Suara itu terdengar seperti seseorang sedang menimba air.
Tetapi siapa yang menimba air tengah malam?
Dan dari sumur mana suara itu berasal?
Melati mengetahui bahwa di belakang rumah ada sebuah sumur tua. Namun sumur itu bahkan tidak memiliki ember ataupun tali.
Karena itu, ia sempat menganggap suara tersebut mungkin berasal dari tempat lain.
Namun suara yang sama terus terdengar beberapa kali.
Rasa penasaran Melati akhirnya semakin besar.
Sebelumnya ia memang pernah melihat sumur itu secara tidak sengaja ketika hendak membuang sampah. Saat mencari tempat pembuangan, ia justru menemukan sumur tua di belakang rumah.
Waktu itu Melati hanya melihatnya sekilas dan tidak berani mendekat.
Namun malam itu ia mengambil keputusan untuk memeriksa sendiri.
Suara dari Dalam Sumur
Dengan membawa senter kecil, Melati keluar dari rumah secara perlahan.
Ia berjalan mengendap-endap agar Nenek Rasnah tidak terbangun.
Suasana di belakang rumah sangat sunyi.
Ketika sampai di dekat sumur, Melati tidak melihat seorang pun.
Tidak ada ember.
Tidak ada tali.
Tidak ada siapa pun yang sedang menimba.
Namun, ketika memperhatikan bibir sumur, Melati melihat beberapa tetes air yang masih tampak baru.
Ia mulai merasa tidak nyaman.
Melati kemudian mengarahkan senter ke bagian dalam sumur.
Saat itulah terdengar suara dari bawah.
“Hey... tolong bantu aku...”
Melati terdiam.
Suara itu kembali terdengar.
“Aku ingin keluar dari tempat ini...”
Lalu sebuah suara lirih menyusul.
“Aku dingin...”
Melati langsung mundur.
Rasa takut membuatnya berlari kembali ke rumah secepat mungkin.
Malam itu ia masuk ke kamarnya dan berusaha tidur, meski pikirannya terus terbayang suara yang baru saja didengarnya.
Sejak kejadian tersebut, suara-suara aneh itu semakin sering terdengar.
Bukan hanya malam hari.
Kadang suara itu terdengar ketika pagi atau siang.
Melati akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Ia memutuskan bertanya langsung kepada Nenek Rasnah.
Cerita yang Selama Ini Disimpan
Nenek Rasnah terdiam cukup lama ketika mendengar cerita Melati.
Ia akhirnya menyadari bahwa tidak ada lagi alasan untuk menyembunyikan kisah tentang sumur tua tersebut.
“Nenek memang dari dulu tidak mau kamu dekat-dekat sama sumur itu,” katanya pelan.
Melati duduk di samping neneknya dan mendengarkan dengan serius.
Menurut cerita Nenek Rasnah, sekitar sepuluh tahun sebelumnya pernah ada sebuah keluarga yang tinggal di rumah belakang.
Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri dan seorang anak perempuan yang masih kecil.
Kehidupan mereka sangat sederhana. Pada masa itu, sang suami sulit mendapatkan pekerjaan sehingga kondisi ekonomi keluarga semakin berat.
Anak perempuan mereka yang masih berusia sekitar tujuh tahun sering meminta makan, tetapi keadaan keluarga membuat kedua orang tuanya kesulitan memenuhi kebutuhannya.
Dalam kondisi tertekan, hubungan kedua orang tua itu pun semakin buruk.
Pertengkaran sering terjadi.
Nenek Rasnah yang tinggal berdekatan sering merasa kasihan kepada anak tersebut. Sesekali ia membantu dengan memberikan makanan atau sedikit uang semampunya.
Nenek Rasnah sebenarnya juga tidak memiliki banyak.
Ia sendiri hidup dengan mengandalkan bantuan dari anak-anaknya.
Namun melihat anak kecil dalam keadaan sulit membuatnya tetap berusaha membantu.
Sampai pada suatu hari terjadi pertengkaran besar di rumah keluarga tersebut.
Nenek Rasnah mendengar suara keributan dari luar rumah.
Awalnya ia mencoba tidak mencampurinya.
Tetapi suara pertengkaran terus terdengar.
Karena merasa khawatir, Nenek Rasnah akhirnya keluar untuk melihat keadaan.
Tragedi di Dekat Sumur
Ketika sampai di belakang rumah, Nenek Rasnah melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.
Dalam keadaan emosi dan kehilangan kendali, sang suami membawa istri dan anaknya menuju sumur yang berada di depan rumah mereka.
Nenek Rasnah ingin membantu, tetapi ia juga merasa takut karena situasinya sangat tidak terkendali.
Ia hanya bisa memperhatikan dari kejauhan.
Tragedi kemudian terjadi.
Istri dan anak tersebut akhirnya jatuh ke dalam sumur.
Nenek Rasnah hanya mampu menangis dan berteriak dari tempatnya berdiri.
Ia ingin menolong, tetapi ketakutan membuat tubuhnya sulit bergerak.
Setelah itu, pria tersebut masuk kembali ke rumah.
Tidak lama kemudian ia keluar membawa sebuah benda tajam.
Melihat hal itu, Nenek Rasnah semakin ketakutan.
Ia bahkan sempat berpikir untuk berlari mencari bantuan.
Namun sebelum sempat berbuat banyak, pria tersebut mengakhiri hidupnya sendiri.
Nenek Rasnah akhirnya menyaksikan semuanya seorang diri.
Tidak lama kemudian suara keributan itu membuat warga berdatangan.
Aparat desa juga datang untuk menangani kejadian tersebut.
Nenek Rasnah kemudian menceritakan apa yang telah dilihatnya.
Sejak hari itu, sumur tersebut tidak pernah lagi digunakan.
Warga memilih menutup aktivitas di sekitar sumur dan membiarkannya terbengkalai.
Suara yang Masih Terdengar
Melati terdiam setelah mendengar cerita neneknya.
Selama ini ia mengira sumur tua di belakang rumah hanyalah sumur yang sudah tidak terpakai.
Ternyata tempat itu menyimpan sebuah tragedi yang begitu membekas bagi Nenek Rasnah.
“Nenek, terus suara yang Melati dengar itu apa?” tanyanya pelan.
Nenek Rasnah tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang ke arah belakang rumah.
“Nenek juga tidak tahu, ndok. Tapi sejak kejadian itu, nenek memang beberapa kali mendengar suara seperti orang menimba air.”
Melati kemudian memahami kenapa neneknya selalu melarang siapa pun mendekati sumur tersebut.
Sejak saat itu, Melati tidak pernah lagi berani datang ke belakang rumah seorang diri.
Namun setiap kali ia menginap di rumah Nenek Rasnah, terkadang suara yang sama masih terdengar dari kejauhan.
“Kreekkk... kreeekkk...”
Lalu suara air yang menetes.
Tidak ada seorang pun yang terlihat.
Tidak ada ember.
Tidak ada tali.
Hanya sumur tua yang tetap berdiri di belakang rumah, dikelilingi lumut dan kesunyian.
Sampai sekarang, Melati masih menyimpan satu pertanyaan dalam pikirannya.
Siapa sebenarnya yang datang menimba air dari sumur itu ketika tidak ada siapa pun di sana?

Komentar
Posting Komentar