Tangki Nomor 3: Misteri Pabrik Teh Gunung Hijau dan Karyawan yang Hilang

Table of Contents

Pabrik Teh Gunung Hijau dikenal sebagai salah satu pabrik pengolahan teh terbesar di daerah itu.

Dari luar, bangunannya terlihat seperti kawasan industri biasa.

Gedung-gedung besar berdiri berdampingan. Cerobong mengeluarkan uap. Truk pengangkut keluar masuk hampir sepanjang hari. Sementara di dalam gedung produksi, suara mesin tidak pernah benar-benar berhenti.

Pesanan yang terus berdatangan membuat para pekerja harus bekerja lebih lama.

Lembur menjadi sesuatu yang biasa.

Pulang malam bukan lagi hal yang aneh.

Bahkan beberapa karyawan mengaku pernah keluar dari gerbang pabrik ketika langit sudah mulai berubah warna.

Namun, tidak semua orang mampu bertahan dengan ritme kerja seperti itu.

Kurang tidur membuat banyak karyawan jatuh sakit. Sebagian meminta izin tidak masuk. Sebagian lainnya memilih bertahan karena membutuhkan uang.

Di antara mereka ada seorang perempuan muda bernama Okta.

Okta baru dua bulan bekerja di Gunung Hijau.

Ia datang dari luar daerah dengan satu tujuan sederhana: bekerja, mengumpulkan uang, lalu membangun kehidupan yang lebih baik.

Okta bukan orang yang berani.

Ia justru dikenal cukup penakut.

Namun kebutuhan hidup membuatnya tidak punya banyak pilihan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Okta harus menjalani lembur di bagian produksi.

Ia belum tahu bahwa keputusan itu akan membawanya pada sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun disembunyikan oleh pabrik tersebut.

Rahasia yang berhubungan dengan Tangki Nomor 3.

Lembur Pertama

Hari itu seharusnya Okta bekerja di bagian pemeriksaan barang.

Jam kerjanya berakhir sore.

Namun karena banyak karyawan bagian produksi tidak masuk akibat kelelahan dan sakit, beberapa orang dari bagian lain diminta membantu.

Nama Okta termasuk di dalam daftar.

"Okta, kamu masuk produksi malam ini."

Okta langsung terdiam.

"Produksi, Pak?"

"Iya. Cuma bantu sementara."

Okta sebenarnya ingin menolak.

Tetapi ia teringat kebutuhan hidupnya.

Akhirnya ia mengangguk.

"Iya, Pak."

Menjelang malam, Okta bersama beberapa karyawan lain menuju gedung produksi.

Begitu pintu dibuka, suara mesin langsung menyambut mereka.

Dummm... dummm... dummm...

Suara motor mesin bercampur dengan suara pompa dan aliran cairan.

Di dalam ruangan itu berdiri beberapa tangki logam berukuran sangat besar.

Okta mendongak.

Tangki-tangki itu menjulang hampir setinggi bangunan.

Ia tidak pernah membayangkan bahwa proses pengolahan teh dilakukan menggunakan mesin sebesar itu.

"Ran..."

Temannya menoleh.

"Kenapa?"

"Ini tempat produksinya?"

"Iya."

Okta menarik napas.

"Serem banget."

Rani tertawa kecil.

"Baru pertama masuk, ya?"

Okta mengangguk.

Namun beberapa langkah kemudian, senyum di wajahnya menghilang.

Hidungnya mencium sesuatu.

Bau yang aneh.

Bukan aroma daun teh.

Bukan bau mesin.

Bukan pula bau bahan kimia yang biasa ditemukan di ruangan produksi.

Bau itu amis.

Sangat amis.

Okta berhenti.

"Rani..."

"Apa?"

"Kamu cium sesuatu?"

Rani ikut berhenti.

"Apa?"

"Bau amis."

Rani menarik napas.

Wajahnya langsung berubah.

"Iya..."

Okta menatapnya.

"Kayak bau bangkai."

Rani tidak menjawab.

Ia hanya menatap ke arah deretan tangki.

Bau tersebut terasa paling kuat di salah satu sudut ruangan.

Di sana terdapat sebuah tangki bertuliskan:

03

Okta hendak mendekat.

Namun suara seseorang tiba-tiba membuat keduanya terkejut.

"Masih ngobrol?"

Mereka menoleh.

Supervisor produksi berdiri beberapa meter di belakang mereka.

Tatapannya tajam.

"Kerja!"

"Iya, Pak."

Okta dan Rani langsung berjalan menuju Tangki Nomor 5.

Namun sepanjang perjalanan, Okta masih mencium bau amis itu.

Yang membuatnya semakin heran adalah satu hal.

Supervisor tidak terlihat terganggu sedikit pun.

Padahal ia berdiri tidak jauh dari Tangki Nomor 3.

Tangki yang Tidak Pernah Digunakan

Waktu istirahat akhirnya tiba.

Sebagian karyawan keluar.

Sebagian duduk di sudut ruangan.

Okta justru kembali menuju Tangki Nomor 3.

Rani mengikutinya.

"Ngapain?"

"Aku penasaran."

"Jangan cari masalah, Ta."

Okta memperhatikan tangki-tangki di sekitarnya.

Hampir semuanya terbuka atau sedang digunakan.

Namun Tangki Nomor 3 berbeda.

Tangki itu tertutup rapat.

Bahkan terdapat rantai dan kunci pada bagian pintunya.

Okta mengerutkan kening.

"Kenapa yang ini dikunci?"

Rani diam.

"Padahal mesin lain dipakai semua."

"Sudah, jangan dipikirin."

"Tapi baunya dari sini."

Rani langsung menarik tangan Okta.

"Ayo."

"Kenapa?"

"Jangan di sini."

Mereka akhirnya kembali.

Tetapi rasa penasaran Okta justru semakin besar.

Kalau Tangki Nomor 3 memang rusak, mengapa tidak diperbaiki?

Kalau tidak digunakan, mengapa dibiarkan berada di ruang produksi?

Dan yang paling aneh...

kenapa harus dikunci?

Asisten Produksi yang Melarikan Diri

Okta akhirnya memberanikan diri bertanya kepada asisten supervisor.

"Mas..."

Asisten itu menoleh.

"Ada apa?"

"Di Tangki Nomor 3 itu sebenarnya apa?"

Wajah asisten langsung berubah.

"Kenapa?"

"Ada bau amis dari sana."

Asisten tidak menjawab.

Okta melanjutkan.

"Jangan-jangan ada bangkai hewan."

Rani ikut berbicara.

"Kalau memang ada sesuatu di dalam, sebaiknya diperiksa, Mas."

Beberapa detik kemudian, asisten justru mundur.

"Saya nggak tahu."

"Mas?"

Asisten berbalik.

Kemudian berjalan cepat.

Semakin lama semakin cepat.

Hingga akhirnya ia benar-benar pergi.

Okta dan Rani saling memandang.

"Dia kenapa?"

Rani menggeleng.

"Nggak tahu."

Namun sejak saat itu, Okta mulai merasa ada sesuatu yang salah.

Supervisor Sudah Mengetahui

Okta akhirnya mendatangi ruang supervisor.

Ia mengetuk pintu.

Tok... tok... tok...

"Masuk."

Okta dan Rani masuk.

Supervisor sedang membaca laporan.

Okta berdiri di depan meja.

"Maaf, Pak."

Supervisor tidak mengangkat kepala.

"Ada apa?"

Okta menarik napas.

"Saya mau melaporkan soal bau amis di dekat Tangki Nomor 3."

Supervisor berhenti membaca.

Kemudian perlahan mengangkat kepala.

"Bau amis?"

"Iya, Pak."

Belum sempat Okta menjelaskan lebih jauh, supervisor berkata,

"Seperti bau bangkai?"

Okta membeku.

"I-iya, Pak."

Supervisor tersenyum tipis.

"Jadi kamu sudah mencium."

Okta semakin bingung.

"Bapak tahu?"

Supervisor bersandar di kursinya.

"Kamu terlalu banyak bertanya untuk ukuran karyawan baru."

Okta terdiam.

Ia mencoba menjelaskan.

"Saya cuma khawatir kualitas produksi, Pak."

Supervisor tiba-tiba menggebrak meja.

BRAK!

Okta tersentak.

"Kalau kamu penasaran..."

Supervisor menunjuk ke arah pintu.

"...kamu sendiri yang periksa."

Okta tidak langsung menjawab.

"Pak?"

"Nanti saat jadwal pembersihan mesin."

Supervisor menatap tajam.

"Kamu sendiri yang bersihkan Tangki Nomor 3."

Okta merasa tenggorokannya kering.

"Kenapa saya, Pak?"

"Takut?"

Okta menggigit bibir.

Supervisor tersenyum.

"Kalau takut, jangan banyak bertanya."

Suara dari Dalam Mimpi

Sejak malam itu, Okta mulai mengalami sesuatu yang aneh.

Setiap kali tidur, ia selalu bermimpi berada di dalam ruangan produksi.

Namun dalam mimpinya, pabrik itu selalu kosong.

Tidak ada karyawan.

Tidak ada suara mesin.

Hanya lampu redup yang berkedip.

Dan Tangki Nomor 3.

Selalu Tangki Nomor 3.

Dalam salah satu mimpinya, Okta mendengar suara seorang perempuan.

"Tolong..."

Okta menoleh.

"Tolong aku..."

Suara itu terdengar dari dalam tangki.

Okta mendekat.

"Tunggu..."

Ia ingin membuka penutup tangki.

Namun sebelum sempat menyentuhnya, suara perempuan itu berubah menjadi jeritan.

"JANGAN BUKA!"

Okta terbangun.

Tubuhnya berkeringat.

Napasnya terengah-engah.

Sejak saat itu, ia mulai takut tidur.

Namun ia tetap masuk kerja.

Karena ia membutuhkan uang.

Dan karena ia tidak tahu bahwa mimpi tersebut ternyata bukan hanya mimpi.

Yuki Membuka Rahasia

Beberapa hari kemudian, seorang karyawan senior datang menemui Okta di mes.

Namanya Yuki.

Yuki merupakan salah satu karyawan paling lama di Gunung Hijau.

"Okta?"

Okta menoleh.

"Iya, Kak?"

Yuki duduk di sampingnya.

"Aku dengar kamu pernah bertanya soal Tangki Nomor 3."

Okta langsung tegang.

"Iya."

Yuki melihat ke arah pintu.

Kemudian memastikan tidak ada orang di luar.

"Jangan bicara keras."

Okta semakin penasaran.

"Memangnya kenapa?"

Yuki menarik napas.

"Kamu berani."

"Berani apa?"

"Berani bertanya."

Okta terdiam.

Yuki menundukkan kepala.

"Aku bekerja di sini jauh sebelum kamu datang."

"Terus?"

"Aku sudah pernah melihat kejadian yang sama."

Okta menatapnya.

"Kejadian apa?"

Yuki akhirnya berkata pelan.

"Perempuan."

Okta mengerutkan kening.

"Perempuan?"

"Iya."

Yuki menelan ludah.

"Dulu ada seorang karyawan perempuan. Namanya tidak pernah dibicarakan lagi oleh siapa pun."

"Kenapa?"

"Karena dia meninggal."

Okta langsung diam.

"Katanya bunuh diri."

"Katanya?"

Yuki mengangguk.

"Begitu laporan resminya."

Okta semakin penasaran.

"Tapi Kakak tidak percaya?"

Yuki menatap Okta.

"Aku melihat sendiri mayatnya."

Okta terdiam.

"Dan aku tahu ada sesuatu yang tidak masuk akal."

Kematian yang Tidak Pernah Dibicarakan

Menurut cerita Yuki, perempuan itu merupakan teman dekatnya.

Mereka tinggal di mes yang sama.

Orang tersebut dikenal ceria.

Tidak pernah terlihat memiliki masalah besar.

Namun suatu hari, ia ditemukan meninggal di area produksi.

Kabar yang disampaikan kepada para karyawan sangat singkat.

Bunuh diri.

Tidak ada penjelasan panjang.

Tidak ada pembicaraan terbuka.

Tidak lama setelah itu, semua orang diminta kembali bekerja.

Namun Yuki mengaku ada beberapa hal yang membuatnya curiga.

"Aku melihat sesuatu yang aneh malam itu."

"Apa?"

"Ada tali."

Okta menatapnya.

"Tali?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Karena aku pernah melihat tali yang sama dibawa keluar dari ruang supervisor."

Okta merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Tapi waktu itu aku tidak punya bukti."

Yuki menghela napas.

"Semua orang takut."

"Polisi datang?"

"Datang."

"Lalu?"

"Kasusnya dinyatakan bunuh diri."

Okta terdiam.

"Setelah itu?"

"Setelah itu tidak ada yang berani membicarakannya."

Rahasia yang Didengar Yuki

Namun Yuki memiliki satu rahasia lain.

Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, ia pernah mendengar percakapan antara supervisor dan seseorang yang ia duga sebagai pemilik pabrik.

Saat itu Yuki sedang berjalan menuju mes.

Ia mendengar suara dari dalam sebuah ruangan.

"Kamu percaya sekarang?"

Yuki berhenti.

Suara itu milik atasannya.

"Sejak aku kasih tumbal untuk pabrik ini, orderan terus naik."

Yuki membeku.

Ia mendekat sedikit.

"Kalau diteruskan, pabrik ini bisa jadi yang terbesar."

Kemudian terdengar suara tertawa.

Yuki tidak berani bergerak.

Namun percakapan berikutnya membuat tubuhnya hampir tidak bisa berdiri.

"Untuk tahun ketiga..."

"Siapa?"

"Putri."

"Bagian malam?"

"Iya."

"Masukkan dia ke Tangki Nomor 3."

Yuki menutup mulutnya sendiri.

"Suruh dia membersihkan bagian dalam."

"Tapi kalau dia sudah turun?"

"Tutup."

"Matikan listrik."

"Kalau dia berteriak?"

Suara atasannya terdengar dingin.

"Jangan hiraukan."

Yuki mundur perlahan.

Ia tidak berani mendengar lebih banyak.

Sejak malam itu, ia hidup dalam ketakutan.

Korban Berikutnya

Okta mendengarkan cerita tersebut dengan tangan gemetar.

"Kak..."

"Iya."

"Kalau begitu... Tangki Nomor 3..."

Yuki mengangguk.

"Tempat itu bukan tangki biasa."

Okta mulai menangis.

"Aku harus keluar dari sini."

Yuki memegang bahunya.

"Tenang."

"Aku nggak mau mati."

"Tenang, Okta."

"Aku mau berhenti."

Yuki terdiam.

Kemudian berkata,

"Itulah masalahnya."

Okta menatapnya.

"Kenapa?"

Yuki menjawab pelan.

"Orang yang mencoba keluar dari pabrik ini..."

Ia berhenti.

"...justru sering menjadi orang yang paling diawasi."

Okta merasa tubuhnya semakin lemas.

Putri

Beberapa minggu kemudian, seorang karyawan bernama Putri mendapat perintah untuk membantu membersihkan area produksi pada shift malam.

Okta langsung teringat percakapan Yuki.

Tangki Nomor 3.

Putri.

Shift malam.

Semua terasa seperti mulai terulang.

Okta panik.

Ia mencari Yuki.

"Kak!"

Yuki menoleh.

"Ada apa?"

"Putri."

Wajah Yuki langsung pucat.

"Apa?"

"Dia dipanggil ke bagian Tangki Nomor 3."

Yuki terdiam.

Kemudian keduanya berlari menuju ruang produksi.

Namun pintu sudah tertutup.

Dari balik ruangan terdengar suara mesin.

Dummm... dummm... dummm...

Kemudian suara perempuan.

"Tolong..."

Okta membeku.

"Itu suara Putri."

Yuki menarik tangannya.

"Jangan masuk!"

"Tapi dia di dalam!"

"Kalau kita masuk sekarang, kita juga bisa jadi korban."

Okta menangis.

Namun sebelum mereka sempat mengambil keputusan, listrik gedung tiba-tiba mati.

JLEB!

Gelap.

Kemudian terdengar suara dari dalam.

BRAK!

Lalu...

hening.

Pabrik Mulai Terbongkar

Beberapa bulan kemudian, masalah mulai muncul dari produk Gunung Hijau.

Konsumen mengeluhkan aroma aneh.

Sebagian mengatakan ada bau amis pada produk tertentu.

Keluhan semakin banyak.

Kemudian muncul laporan mengenai benda asing yang ditemukan dalam produk.

Kasus tersebut akhirnya menarik perhatian pihak berwenang.

Pemeriksaan dilakukan.

Pabrik yang selama bertahun-tahun terlihat sibuk akhirnya didatangi petugas.

Satu demi satu ruangan diperiksa.

Sampai akhirnya mereka tiba di bagian produksi.

Tangki-tangki diperiksa.

Nomor 1.

Nomor 2.

Nomor 4.

Nomor 5.

Kemudian...

Nomor 3.

Petugas menemukan sesuatu yang membuat seluruh ruangan mendadak sunyi.

Ada sisa-sisa material biologis yang tidak seharusnya berada di dalam fasilitas pengolahan makanan.

Pemeriksaan lebih lanjut menemukan bukti yang jauh lebih mengerikan.

Sisa tulang.

Potongan jaringan.

Dan benda-benda pribadi milik sejumlah karyawan yang sebelumnya dilaporkan hilang.

Salah satunya adalah barang milik Putri.

Kebenaran yang Selama Ini Disembunyikan

Pabrik itu akhirnya ditutup.

Pimpinan dan pihak-pihak yang diduga terlibat diamankan untuk pemeriksaan dan proses hukum.

Kasus tersebut kemudian membuka dugaan bahwa sejumlah karyawan telah menjadi korban selama bertahun-tahun.

Rahasia yang selama ini terkubur di balik suara mesin akhirnya terbongkar.

Namun bagi Yuki, ada satu hal yang tidak pernah bisa ia lupakan.

Teman yang dulu meninggal.

Orang-orang yang hilang.

Dan Okta yang nyaris menjadi korban berikutnya.

Okta akhirnya meninggalkan daerah itu.

Ia tidak pernah kembali ke pabrik Gunung Hijau.

Namun beberapa bulan setelah pabrik resmi ditutup, warga di sekitar kawasan tersebut mulai mengeluhkan sesuatu.

Pada malam-malam tertentu...

mereka masih mendengar suara mesin.

Dummm... dummm... dummm...

Padahal listrik pabrik sudah diputus.

Tidak ada lagi karyawan.

Tidak ada produksi.

Tidak ada aktivitas.

Tetapi suara mesin tetap terdengar dari dalam bangunan.

Suatu malam, seorang warga memberanikan diri berdiri di depan gerbang.

Dari balik gedung terdengar suara mesin berputar.

Kemudian suara seperti seseorang mengetuk logam.

Tok... tok... tok...

Warga itu hendak pergi.

Namun sebelum ia berbalik, terdengar suara perempuan dari arah bangunan.

Pelan.

Sangat pelan.

"Tolong..."

Warga itu membeku.

Kemudian suara tersebut terdengar lagi.

"Tolong aku..."

Ia langsung berlari meninggalkan tempat itu.

Sejak saat itu, tidak ada lagi warga yang berani mendekati pabrik tersebut setelah malam tiba.

Dan menurut Yuki, ada satu hal yang paling membuatnya takut.

Bukan suara mesin.

Bukan bau amis.

Bukan pula Tangki Nomor 3.

Melainkan kenyataan bahwa setelah semua orang meninggalkan pabrik itu...

suara dari dalam tangki masih terdengar.

Karena mungkin...

ada sesuatu yang belum pernah benar-benar keluar dari sana.


Posting Komentar