Isi Cerita
Hidup yang Tidak Bebas
Feni adalah seorang anak gadis yang hidupnya penuh dengan aturan dan arahan dari kedua orang tuanya.
Banyak hal yang dilarang.
Banyak pula yang harus ia lakukan sesuai keinginan orang tuanya.
Feni yang lahir dari keluarga politik mau tidak mau harus mengikuti kehidupan kedua orang tuanya. Seharusnya, seperti anak-anak seusianya, Feni bisa bermain bersama banyak teman, pergi ke berbagai tempat, dan menikmati masa kecilnya.
Namun kenyataannya tidak demikian.
Feni justru sering dibatasi.
Tempat yang ingin ia datangi sering kali dilarang. Teman-teman yang ingin ia dekati pun terkadang membuat orang tuanya merasa khawatir.
Bahkan, Feni harus merasakan kehilangan rumah untuk kesekian kalinya karena pekerjaan kedua orang tuanya.
Bukan hanya kebebasan bermain dan berteman yang tidak bisa ia rasakan dengan nyaman.
Tempat tinggal pun sering berpindah-pindah.
Kehidupan keluarga mereka memang tidak mudah.
Ayah dan ibu Feni sama-sama bekerja di dunia politik. Sedikit banyak, pekerjaan tersebut membuat kehidupan keluarga mereka tidak selalu tenang.
Ada hinaan.
Ada cacian.
Bahkan terkadang ada teror yang datang secara tiba-tiba.
Karena itulah kedua orang tua Feni sering membatasi anaknya.
Mereka melarang bukan karena tidak menyayangi Feni.
Justru sebaliknya.
Mereka sangat ingin melindungi anak semata wayangnya dari berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Sayangnya, Feni masih terlalu kecil untuk memahami semua itu.
Baginya, orang tua hanya sedang mengekang kehidupan dan kebebasannya.
Hari demi hari Feni jalani dengan perasaan lelah.
Ia sering merasa berbeda dari anak-anak lain.
Ketika teman-temannya bermain bersama, Feni justru harus berada di rumah.
Ketika teman-temannya pergi ke berbagai tempat, Feni harus mendengar kata yang sama dari kedua orang tuanya.
"Jangan."
"Tidak boleh."
"Jangan pergi ke sana."
Lama-kelamaan, Feni mulai merasa kesal.
Terlebih lagi ketika ia mulai mendengar berbagai perkataan dari orang-orang di sekitarnya.
Perkataan tersebut perlahan masuk ke dalam pikirannya.
Hingga suatu hari, Feni tidak mampu lagi menahannya.
"Ayah dan Ibu Koruptor?"
Feni datang menghampiri kedua orang tuanya dengan wajah penuh kemarahan.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung melontarkan perkataan yang selama ini hanya ia dengar dari orang lain.
"Pantas Ayah dan Ibu menyuruhku jangan dekat-dekat dengan teman-teman!"
Kedua orang tuanya langsung terdiam.
Feni melanjutkan dengan suara yang semakin tinggi.
"Karena Ayah dan Ibu itu KORUPTOR, kan?"
Orang tuanya saling berpandangan.
Mereka benar-benar terkejut.
Tidak pernah sekalipun mereka mengajarkan kata-kata tersebut kepada Feni.
Ibunya kemudian mencoba menenangkan anaknya.
"Nak... kok kamu bilang begitu?"
"Ibu tidak pernah mengajarkan perkataan seperti itu kepada kamu, Nak."
Ayahnya ikut mendekat.
"Dengarkan Ayah, ya, Nak."
"Apa yang kamu ucapkan tadi tidak benar."
"Ayah yakin kamu sendiri tidak tahu arti dari perkataanmu."
Namun Feni tetap marah.
"Aku tahu!"
"Jangan Ayah dan Ibu membohongiku!"
"Kerjaan Ayah itu tukang mengambil uang orang, kan?"
"Dan Ibu tukang mengambil hak orang miskin sampai banyak orang kelaparan!"
Air mata Feni mulai mengalir.
Namun kemarahannya belum berhenti.
"Pantas saja tidak ada satu pun yang mau mendekatiku!"
"Bukan karena aku bodoh!"
"Tapi karena Ayah dan Ibu yang membuat aku malu!"
Setelah mengatakan semua itu, Feni langsung berlari meninggalkan kedua orang tuanya.
"Feni!"
Ayahnya berusaha mengejar.
"Feniii!"
Namun Feni terus berlari.
Ibunya hanya bisa berdiri sambil menangis.
"Bagaimana ini, Yah?"
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Bagaimana dengan nasib anak kita?"
Tangis ibunya pecah.
"Huhuhuhu..."
Ayahnya mencoba tetap tenang.
"Sudahlah, Bu."
"Nanti juga dia akan mengerti sendiri."
"Dia masih belum dewasa."
"Nanti ketika sudah besar, dia akan memahami apa arti pekerjaan orang tuanya."
Namun saat itu, Feni sudah terlanjur kecewa.
Ia merasa selama ini dibohongi.
Ia merasa orang tuanya hanya ingin mengatur kehidupannya.
Dan sejak saat itu, Feni mulai berpikir untuk tidak lagi mendengarkan perkataan kedua orang tuanya.
Feni Pergi Tanpa Izin
Beberapa waktu kemudian, Feni semakin sering membangkang.
Ia sudah tidak terlalu memperdulikan larangan orang tuanya.
Suatu hari, ketika kedua orang tuanya masih sibuk bekerja, Feni pergi bermain.
Awalnya ia hanya ingin bermain sebentar.
Namun karena terlalu asyik, Feni lupa dengan waktu.
Ia bahkan pergi semakin jauh dari rumah.
Tanpa izin.
Tanpa memberi tahu kedua orang tuanya.
Hingga akhirnya...
sebuah kabar buruk datang.
Ponsel ibu Feni tiba-tiba berdering.
"Halo, Bu..."
Suara seseorang terdengar tergesa-gesa dari seberang telepon.
"Maaf, ini saya Rasmi, tetangga Ibu."
Ibunya langsung merasa tidak enak.
"Iya, Bu. Ada apa?"
Rasmi menjawab dengan suara panik.
"Tadi anak Ibu dibawa oleh orang yang mencurigakan!"
Ibunya langsung terkejut.
"Apa?!"
"Ya Allah... di mana, Bu?"
"Tadi anak Ibu baru saja pulang naik ojek."
"Saat mau masuk gerbang rumah, tiba-tiba anak Ibu dibekap dan dibawa kabur!"
Mendengar kabar tersebut, tubuh ibu Feni langsung lemas.
Ia bahkan sampai pingsan.
Ayah Feni yang mengetahui kejadian tersebut langsung bergerak.
Ia mengerahkan orang-orang yang dipercayainya untuk mencari keberadaan anak semata wayangnya.
Namun pencarian belum membuahkan hasil.
Sementara itu...
Feni sudah berada di tempat lain.
Ia disekap di sebuah gudang.
Feni Disekap
Feni perlahan membuka matanya.
Kepalanya terasa berat.
Tangannya terikat.
Ruangan itu gelap dan terasa asing.
Feni mencoba bergerak.
"Argghh..."
Ia melihat kedua tangannya.
Terikat kuat.
Feni mulai panik.
"Kenapa aku diikat?"
"Aku di mana?"
Ia mulai menangis.
"Tolong..."
"Tolong..."
Namun tidak ada yang menjawab.
Hingga tiba-tiba...
terdengar suara tawa dari sudut ruangan.
"Hahahahaha..."
Feni langsung menoleh.
Seorang penculik berjalan mendekatinya.
"Kamu bangun juga, Cantik."
Feni semakin ketakutan.
Penculik tersebut mencoba menenangkannya.
"Jangan berisik."
"Om tidak akan melakukan apa-apa sama kamu."
Kemudian ia mengatakan maksud sebenarnya.
"Om cuma ingin harta ayahmu."
Feni menatapnya dengan penuh ketakutan.
Namun keberaniannya muncul.
"Dasar Om jahat!"
"Lepaskan aku!"
"Lepaskan aku!"
Feni terus menangis dan berteriak.
Namun ia tidak bisa berbuat banyak karena kedua tangannya masih terikat.
Di saat itulah Feni mulai teringat kepada kedua orang tuanya.
Semua larangan mereka.
Semua nasihat mereka.
Semua kekhawatiran yang selama ini tidak pernah ia mengerti.
Kini semuanya terasa masuk akal.
Ternyata orang tuanya memang bukan ingin mengekangnya.
Mereka hanya ingin melindunginya.
Feni menyesal.
Namun penyesalan itu datang terlambat.
Ia hanya bisa menangis sambil memanggil kedua orang tuanya.
"Ayah..."
"Ibu..."
"Feni takut..."
Ayah Mencari Feni
Ayah Feni akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.
Dengan bantuan polisi, pencarian dilakukan.
Hingga akhirnya mereka mendapatkan petunjuk mengenai tempat Feni disekap.
Ayah Feni langsung menuju lokasi bersama pihak kepolisian.
Sesampainya di tempat tersebut, ia terus mencari anaknya.
Hingga tiba-tiba...
terdengar suara jeritan.
"Ayah!"
Ayah Feni langsung mengenali suara tersebut.
"Feni!"
Ia berlari menuju sebuah gudang tua yang terbengkalai.
Begitu masuk, ia melihat Feni dalam keadaan terikat dan menangis.
Ayahnya langsung menghampiri.
"Feni..."
"Ayah datang, Nak."
Ia segera berusaha melepaskan tali yang melilit tangan anaknya.
Namun ketika baru saja hendak membuka ikatan...
GEBRUK!
Sebuah balok menghantam tubuh ayah Feni.
"Ayahhh!"
Feni berteriak panik.
Ayahnya jatuh dan kehilangan kesadaran.
Tidak lama kemudian, polisi datang.
Mereka langsung mencoba menangkap pelaku.
Namun penculik tersebut ternyata belum menyerah.
Ia menarik Feni dan menjadikannya sebagai sandera.
Sebuah pisau diletakkan di bawah dagu Feni.
Ibunya yang melihat kejadian tersebut semakin ketakutan.
"Jangan..."
"Tolong jangan sakiti anak kami."
"Kalian mau apa?"
"Saya akan memberikan semuanya."
"Asalkan anak saya dilepaskan."
Penculik itu kemudian mengancam polisi.
"Turunkan pistol kalian!"
"Jangan ada yang berani mendekat!"
"Kalau kalian maju, anak ini akan saya bunuh!"
Polisi menahan diri.
Mereka mencari kesempatan untuk menyelamatkan Feni tanpa membahayakan dirinya.
Hingga akhirnya...
penculik tersebut lengah.
Polisi terpaksa mengambil tindakan untuk melumpuhkannya dengan menembak bagian kakinya.
Penculik akhirnya berhasil ditangkap.
Feni pun berhasil diselamatkan.
Feni Mengerti
Begitu terbebas, Feni langsung berlari menuju ibunya.
Ia memeluk ibunya sambil menangis.
"Ibu..."
"Maafkan Feni."
"Feni salah, Bu..."
Tangis Feni semakin pecah.
"Gara-gara Feni, Ayah sampai terluka demi menyelamatkan Feni."
Ibunya hanya memeluk erat anaknya.
Feni kemudian berkata,
"Sekarang Feni sadar..."
"Ayah dan Ibu melarang Feni bukan karena tidak sayang."
"Tapi karena Ayah dan Ibu ingin melindungi Feni."
"Maafin Feni, Yah... Bu..."
Ibunya tidak mampu berkata banyak.
Ia hanya menganggukkan kepala sambil menangis.
Kemudian memeluk erat anak semata wayangnya.
Sementara ayah Feni yang mulai sadar hanya bisa tersenyum melihat istri dan anaknya.
Untuk pertama kalinya, Feni benar-benar memahami alasan di balik semua larangan orang tuanya.
Ia akhirnya sadar...
terkadang, sesuatu yang terlihat seperti kekangan bukanlah karena tidak adanya kasih sayang.
Melainkan karena ada seseorang yang begitu takut kehilangan kita.
Dan hari itu menjadi pelajaran terbesar bagi Feni.
Ia tidak lagi melihat nasihat kedua orang tuanya sebagai sebuah pengekangan.
Tetapi sebagai bentuk cinta dan perlindungan dari orang-orang yang paling menyayanginya.
