Tol Jakarta - Cikampek KM 47

Table of Contents

Sering kali terjadi, bahkan berulang, kejadian-kejadian aneh yang dialami para sopir ketika melintasi Tol KM 47.

Ada yang mengaku melihat seseorang berdiri diam di tengah jalan seperti hendak menyeberang. Ada pula yang tiba-tiba melihat seekor hewan besar menghalangi jalur, padahal ketika didekati sosok itu menghilang begitu saja.

Yang lebih mengerikan, beberapa pengendara pernah mengalami rem kendaraan yang tiba-tiba terkunci sendiri hingga akhirnya terjadi kecelakaan.

qEntah kebetulan atau bukan, berbagai kejadian tersebut seolah selalu berpusat di satu tempat yang sama.

KM 47

Namun, tidak ada seorang pun yang tahu apa sebenarnya yang terjadi di sana.

Hingga suatu malam, Zahra dan Dika mengalaminya sendiri.


PESAN DARI RADIO

Malam itu, Zahra dan Dika sedang dalam perjalanan menuju rumah paman Zahra.

Jarak mereka sudah tidak jauh lagi. Hanya sekitar dua ratus meter.

Jalan tol tampak lengang. Tidak banyak kendaraan yang melintas. Lampu-lampu penerangan berdiri berjajar, menerangi jalan yang panjang dan sunyi.

Dika fokus mengemudikan mobil, sementara Zahra duduk di sampingnya sambil memainkan ponsel.

Sesekali mereka mengobrol ringan.

Namun tiba-tiba...

KRRRRR... TSSSSS...

Suara radio mobil mendadak berubah menjadi noise.

Dika mengerutkan kening.

"Kenapa radionya?"

Zahra mengangkat kepalanya.

"Kayaknya sinyalnya jelek."

Suara berisik itu semakin keras.

KRRRRRR... TSSSSS...

Kemudian...

Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan dari radio.

Suara itu terdengar sangat pelan, seperti berasal dari kejauhan.

"Awas... hati-hati..."

Zahra dan Dika saling menatap.

Suara tersebut kembali terdengar.

"Awas... hati-hati di depan KM 47..."

TIIIIIIITTTTT...

Radio kembali normal.

Suasana di dalam mobil mendadak sunyi.

Dika menatap radio dengan wajah bingung.

"Lu dengar juga, kan?"

Zahra justru tertawa.

"Whahahaha... mungkin radionya sudah lelah."

"Serius, Zahra. Tadi ada suara orang."

"Ah, paling radionya error. Sinyalnya juga jelek."

Zahra kembali memainkan ponselnya.

Dika akhirnya menggelengkan kepala.

"Ya sudah."

Mobil kembali melaju.

Tak satu pun dari mereka menyadari bahwa suara dari radio tadi bukanlah gangguan sinyal.

Itu adalah sebuah peringatan.



SOSOK DI KM 47

Zahra dan Dika berusaha tetap berpikiran positif.

Mereka terus melaju dengan kecepatan normal.

Namun ketika jarak mereka semakin dekat dengan KM 47, tiba-tiba terdengar suara dari ponsel Zahra.

Tit... tit... tit...

Zahra melihat layar ponselnya.

GPS yang sedang digunakannya menunjukkan sesuatu yang aneh.

Sebuah garis merah panjang muncul tepat di sekitar KM 47.

Zahra mengerutkan kening.

"Eh, Dika..."

"Hmm?"

"Lihat deh."

Dika masih fokus mengemudi.

"Lihat apa?"

"Di GPS. Pas banget di KM 47, tandanya merah panjang."

Dika melirik sekilas.

"Terus?"

"Padahal kita enggak macet. Bahkan di depan kita enggak ada mobil sama sekali."

Dika kemudian memperhatikan layar ponsel Zahra.

"Hah?"

Ia terdiam beberapa detik.

"Wah, kayaknya jaringannya rese. Pasti GPS-nya lagi error."

Dika mencoba bercanda.

"Jangan-jangan GPS-nya juga ikut takut lewat sini."

Zahra tertawa kecil.

"Dasar."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Hingga akhirnya...

Mobil mereka tepat melewati KM 47.

Tiba-tiba Zahra mencium sesuatu.

Ia mengernyitkan hidung.

"Dika..."

"Hmm?"

"Lu nyium bau amis enggak?"

Dika langsung mengendus udara di dalam mobil.

Ia terdiam.

"Bau amis?"

"Iya. Menyengat banget."
Dika kembali mencium udara.
"Lah..."
Ia menatap Zahra.
"Gue baru mau nanya hal yang sama."
Zahra membuka sedikit jendela mobil.
Namun bau tersebut justru semakin terasa.
Bau amis yang sangat menyengat memenuhi kabin.
Dika mulai curiga.
"Mungkin ada bangkai hewan."
"Di mana?"
"Entahlah. Bisa saja ada yang terlindas."
Karena penasaran, Dika akhirnya menepikan mobil.
Ia turun dan memeriksa bagian depan, belakang, serta roda mobil.
Zahra ikut turun.
Mereka memeriksa seluruh bagian mobil.
Tidak ada bangkai hewan.
Tidak ada darah.
Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
"Enggak ada apa-apa," kata Zahra.
Dika menghela napas.

"Mungkin cuma bau dari luar."
Zahra membuka bagasi.
Tidak ada apa-apa.
Bruk!
Tiba-tiba terdengar teriakan Dika.
"AAAAAAHHHH!"
Zahra terkejut.
"Dika!"
"Tolong!"
Dika berlari beberapa langkah lalu jatuh terduduk.
Wajahnya pucat.
"Kita cabut sekarang!"

DOSA SEPULUH TAHUN LALU
Mobil kembali melaju meninggalkan KM 47.
Dika masih gemetar.
Akhirnya ia berkata,
"Gue lihat perempuan..."
Rambut panjang, wajah hancur, baju putih.
Dia berdiri di belakang mobil.
Menatap Dika.
Seperti ingin mencekik.

Zahra terdiam.
Pikirannya langsung kembali ke masa lalu.
Sepuluh tahun lalu.
Putri.
Kecelakaan di KM 47.
Ia membuka ponsel, mencari foto lama.
Dan menemukan Putri.
Lokasi kecelakaan tertulis jelas:
KM 47
Wajah Zahra pucat.

Sepuluh tahun lalu, Zahra memaksa Putri minum alkohol.
Putri mabuk dan mengemudi.
Mobil hilang kendali.
BRAAAKKK!
Putri tewas mengenaskan.
Zahra pergi.
Tidak menolong.
Tidak melapor.
Dan sejak itu...
Putri tidak pernah pergi.

DENDAM YANG BELUM SELESAI
Sejak itu, semua kejadian aneh di KM 47 mulai masuk akal.
Sosok yang berdiri di jalan.
Bau amis.
Rem terkunci.
Semua mengarah pada satu nama.
Putri.
Zahra mulai dihantui rasa bersalah.
Dika mulai curiga.
Namun Zahra berbohong tentang masa lalunya.
Hingga suatu hari...
Ayah dan ibu Zahra meninggal dalam kecelakaan.
Dika datang melayat.
Namun Zahra tidak ada.
Ia berada di lantai atas, menangis.
"Putri... ambil aku saja!"
"Aku yang salah!"
Dika naik ke atas.

Dan melihat sesuatu yang mengerikan.
Putri berdiri di atas Zahra.
Mencekiknya.

Dika mencoba menghentikan.
Putri menatapnya.
"Aku mati karena dia."
"Aku menunggu pertolongan yang tidak pernah datang."
Dika mencoba membela Zahra.
Namun Putri marah.

"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANNYA!"
Suara itu menggema.
Lalu...
Semuanya gelap.

Dika sadar kembali.
Zahra terbaring diam.
Darah di mana-mana.
Tidak bergerak.
Dika gemetar.
Namun ia sadar satu hal.

Zahra sudah mati sejak awal.
Putri hanya mempermainkan pikirannya.
Dan kini...
KM 47 kembali sunyi.
Menunggu korban berikutnya.

Posting Komentar