Warung di Puncak: Pendakian yang Membawa Ikbal ke Dunia Lain
Bahasa artikel: Indonesia Sri WulandariPilih versi bahasa
Sedang dibaca: Indonesia
Versi terjemahan hanya akan ditampilkan setelah artikel bahasa tersebut benar-benar diterbitkan.
Sinopsis
Angga dan Ikbal mendaki gunung pada sore hari dengan satu tujuan sederhana: mencapai puncak dan membuktikan cerita tentang sebuah warung misterius yang konon sering muncul di jalur pendakian.
Awalnya mereka menganggap cerita itu hanya rumor. Namun ketika malam semakin larut, Ikbal mulai berubah. Ia merasa melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat Angga dan terus menyebut seorang perempuan bernama “Si Mbok”.
Malam itu, pendakian mereka berubah menjadi kejadian yang tidak pernah bisa dilupakan Angga.
Warung yang Tidak Pernah Ditemukan
Angga dan Ikbal sudah beberapa kali mendaki bersama. Keduanya bukan pendaki profesional, tetapi mereka cukup terbiasa dengan perjalanan panjang, jalur menanjak, udara dingin, dan malam yang jauh lebih sunyi daripada suasana di kota.
Sore itu mereka kembali melakukan pendakian.
Ransel sudah penuh dengan perlengkapan. Air minum dan makanan juga telah disiapkan. Pada beberapa jam pertama, perjalanan terasa biasa saja. Mereka masih sempat bercanda dan saling mengejek ketika salah satu merasa lebih cepat lelah.
Namun semakin tinggi mereka berjalan, hutan mulai semakin rapat.
Cahaya matahari perlahan hilang di balik pepohonan.
Ketika suasana mulai gelap, Ikbal tiba-tiba teringat sebuah cerita yang pernah ia dengar dari pendaki lain.
“Heh, Angga.”
“Apa?”
“Lo percaya nggak sama cerita orang-orang soal warung di atas?”
Angga menoleh.
“Warung apa?”
“Katanya ada warung di jalur menuju puncak.”
Angga tertawa kecil.
“Warung?”
“Iya. Katanya kadang muncul malam-malam.”
Langkah Angga berhenti sesaat.
“Bal, jangan macam-macam.”
Ikbal tertawa.
“Kenapa? Takut?”
“Bukan soal takut. Kalau ada aturan atau pantangan di gunung, kita ikuti saja.”
Ikbal mengangkat bahu.
“Kalau benar ada warung, malah bagus.”
“Bagus apanya?”
“Kalau lapar, tinggal beli makanan.”
“Dasar.”
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Bagi Angga, cerita itu tidak lebih dari rumor.
Bagi Ikbal, mungkin hanya bahan bercandaan.
Saat itu mereka belum tahu bahwa beberapa jam kemudian, cerita tentang warung tersebut akan menjadi bagian paling mengerikan dalam perjalanan mereka.
Pendakian Menuju Puncak
Malam semakin pekat.
Napas Angga mulai berat. Kakinya terasa pegal sehingga beberapa kali ia berhenti untuk minum.
Berbeda dengan dirinya, Ikbal justru terlihat semakin bersemangat.
“Bal, pelan-pelan.”
Ikbal menoleh.
“Kenapa?”
“Lo nggak capek?”
“Enggak.”
“Serius?”
Ikbal tersenyum.
“Entah kenapa badan gue malah terasa ringan.”
Angga memperhatikan temannya sejenak.
Ada sesuatu yang terasa aneh, tetapi ia memilih mengabaikannya.
Beberapa saat kemudian Angga kembali berhenti.
“Bal, gue istirahat dulu.”
Ikbal melihat ke arah jalur di depan.
“Kalau begitu gue duluan.”
“Jangan terlalu jauh.”
“Iya.”
Ikbal kemudian berjalan meninggalkan Angga.
Angga duduk di pinggir jalur, membuka botol air, lalu makan sedikit. Setelah merasa cukup pulih, ia kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan.
Namun Ikbal sudah tidak terlihat.
“Bal!”
Tidak ada jawaban.
Angga mempercepat langkah.
“Kal!”
Tetap tidak ada suara.
Jam tangannya menunjukkan pukul 22.00.
Angin gunung bertiup semakin dingin. Suara pendaki lain yang sebelumnya masih terdengar perlahan menghilang.
Angga mulai merasa tidak nyaman.
Ia menyalakan senter dan terus mencari.
“Ikbal!”
Kali ini ia mendengar sesuatu.
Bukan jawaban.
Hanya suara ranting patah dari arah depan.
Angga mengikuti suara itu.
Ikbal Mulai Berubah
Beberapa menit kemudian, cahaya senter Angga menangkap sosok seseorang di antara pepohonan.
“Kal!”
Ia langsung mempercepat langkah.
Sosok itu memang Ikbal.
Tetapi rasa lega Angga segera berubah menjadi kebingungan.
Ikbal sedang berjongkok di pinggir jalur dan mengais-ngais semak.
“Bal!”
Ikbal tidak menjawab.
“Lo ngapain?”
Tidak ada jawaban.
Angga mendekat dan baru menyadari sesuatu yang membuatnya merinding.
Ikbal tidak mengenakan jaket.
Bahkan bajunya sudah dilepas.
Padahal udara malam begitu dingin.
“Bal!”
Angga memegang bahunya.
Ikbal perlahan menoleh.
Tatapannya kosong.
“Lo kenapa?”
Ikbal menjawab datar.
“Diam.”
“Hah?”
“Gue lagi cari kayu.”
“Kayu?”
“Iya.”
“Ngapain cari kayu sekarang?”
Ikbal menunjuk ke arah atas.
“Si Mbok suruh.”
Angga terdiam.
“Siapa?”
“Si Mbok.”
“Mbok siapa?”
Ikbal tidak menjawab.
Ia kembali mengais semak.
Angga mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Bal, kita naik bareng. Ayo.”
Ikbal menggeleng.
“Belum.”
“Belum apa?”
“Belum selesai.”
“Apanya?”
Ikbal tersenyum tipis.
“Kayunya belum cukup.”
Angga menatap temannya.
“Bal, kita turun saja.”
Ikbal tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Si Mbok sudah nunggu.”
Warung yang Tidak Seharusnya Ada
Angga langsung memegang tangan Ikbal.
“Ayo turun.”
Namun Ikbal menarik tangannya.
“Gue mau ke warung.”
Angga terdiam.
“Warung?”
“Iya.”
“Warung yang tadi lo ceritain?”
Ikbal mengangguk.
“Si Mbok sudah nunggu.”
Ikbal menunjuk lurus ke depan.
“Di sana.”
Angga mengarahkan senter.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada lampu.
Hanya jalur sempit, pepohonan, dan kegelapan.
“Mana warungnya?”
Ikbal menatap Angga dengan aneh.
“Lo nggak bisa lihat?”
Angga menggeleng.
“Enggak ada apa-apa.”
Ikbal tersenyum.
Lalu ia berjalan ke depan.
“Bal!”
Angga segera mengejarnya.
Namun langkah Ikbal semakin cepat.
“Ikbal!”
Tidak ada jawaban.
Angga mulai berlari.
Anehnya, jarak di antara mereka justru terasa semakin jauh.
Seolah-olah Ikbal sedang berjalan menuju tempat yang tidak bisa dijangkau Angga.
Sampai akhirnya Ikbal berhenti di depan sebuah batu besar.
Angga melihatnya duduk sambil menatap ke samping.
Seperti sedang berbicara dengan seseorang.
Angga mengarahkan senter.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
“Bal...”
Ikbal tidak menoleh.
“Lo ngobrol sama siapa?”
“Si Mbok.”
Tengkuk Angga terasa dingin.
“Di mana?”
Ikbal menunjuk tepat ke sampingnya.
“Di sini.”
Angga kembali menyorotkan senter.
Tidak ada manusia.
Tidak ada warung.
Tidak ada siapa pun.
“Bal, nggak ada siapa-siapa.”
Ikbal langsung menatap Angga.
Ekspresinya berubah.
“Jangan bilang begitu.”
“Kenapa?”
“Dia marah.”
Angga mundur satu langkah.
“Siapa?”
Ikbal tidak menjawab.
Kemudian terdengar suara perempuan dari balik pepohonan.
Pelan.
Samar.
Namun jelas.
“Ikbaaaal...”
Angga membeku.
Ia melihat ke arah sumber suara.
Tidak ada siapa-siapa.
“Bal...”
Ikbal berdiri.
“Dia manggil.”
“Jangan!”
Angga menarik tangannya.
Tetapi Ikbal melawan.
“Lepas!”
“Bal!”
“Gue harus pergi!”
“Jangan ke sana!”
Ikbal melepaskan tangan Angga lalu berlari ke arah atas.
Angga langsung mengejarnya.
Ujung Tebing
Beberapa detik kemudian Angga melihat Ikbal berdiri di dekat ujung tebing.
Di bawahnya terbentang jurang gelap.
“IKBAL!”
Ikbal tidak bergerak.
“Bal! Jangan ke sana!”
Ikbal seperti sedang mendengarkan seseorang yang berdiri di hadapannya.
Kemudian ia tersenyum.
“Dia bilang aman.”
Angga panik.
“Siapa yang bilang?”
Ikbal melangkah maju.
“Jangan!”
Angga berlari.
“BAL!”
Satu langkah lagi.
Tiba-tiba tanah di bawah kaki Ikbal longsor.
“AAAAAA!”
Tubuh Ikbal kehilangan keseimbangan.
Angga mencoba meraih tangannya.
Namun jarak mereka terlalu jauh.
Ikbal jatuh ke dalam jurang.
“IKBAAAAAAL!”
Teriakan Angga menggema di antara pepohonan.
Ia berlutut di tepi tebing dan menatap ke bawah.
Gelap.
Tidak ada apa-apa yang bisa dilihat.
“Bal...”
Tidak ada jawaban.
“Bal!”
Tetap sunyi.
Angga menutup wajahnya.
Ia baru saja melihat sahabatnya jatuh ke dalam jurang dan tidak mampu melakukan apa pun untuk menyelamatkannya.
Malam yang Tidak Pernah Dilupakan
Angga tidak tahu berapa lama ia duduk di sana.
Tubuhnya semakin dingin. Tenaganya hampir habis.
Ia mencoba mencari jalan turun, tetapi kegelapan dan kondisi jalur membuatnya takut mengambil risiko.
Akhirnya ia hanya bisa bertahan di tempat.
Kesadarannya perlahan menghilang.
Ketika membuka mata, Angga sudah berada di dekat pos penjagaan.
Beberapa orang berada di sekelilingnya.
Ada petugas dan pendaki lain.
Angga mencoba bangkit.
“Teman saya...”
Seorang petugas mendekat.
“Tenang dulu.”
“Teman saya mana?”
“Namanya siapa?”
“Angga— eh... Ikbal. Nama teman saya Ikbal.”
Petugas itu terdiam beberapa saat.
“Kami sudah menemukannya.”
Angga langsung menatapnya.
“Dia hidup, Pak?”
Tidak ada jawaban segera.
Kemudian petugas berkata pelan.
“Kami sudah mengevakuasinya.”
Angga menoleh ke arah kendaraan evakuasi.
Di dekat sana terlihat sebuah kantong jenazah.
Langkah Angga terhenti.
Tangannya gemetar.
“Itu...”
Petugas menundukkan kepala.
“Maaf.”
Angga berjalan perlahan.
Air matanya jatuh.
“Bal...”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara orang-orang yang mulai bergerak menjauh dan suara angin malam yang melewati pepohonan.
Warung Itu Benar-Benar Ada?
Beberapa hari setelah kejadian itu, Angga masih memikirkan satu hal.
Ia tahu Ikbal jatuh.
Ia melihatnya sendiri.
Namun ada bagian dari malam itu yang tidak bisa ia jelaskan.
Di lokasi kejadian, tidak ada warung.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada lampu.
Tidak ada seorang perempuan yang bisa dipanggil “Si Mbok”.
Lalu siapa yang memanggil nama Ikbal?
Angga masih mengingat suara itu dengan jelas.
“Ikbaaaal...”
Dan ia juga tidak pernah melupakan kalimat terakhir yang diucapkan sahabatnya sebelum terjatuh.
“Dia bilang aman.”
Siapa “dia”?
Angga tidak pernah menemukan jawabannya.
Sejak malam itu, ia tidak pernah lagi mendaki gunung.
Bukan semata-mata karena takut dengan ketinggian atau perjalanan malam.
Ia takut pada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Beberapa waktu kemudian, Angga kembali mendengar cerita tentang warung tersebut.
Ada pendaki yang mengaku pernah melihat cahaya kecil di tengah jalur.
Ada yang mengatakan pernah mencium aroma kopi ketika tidak ada satu pun warung di sekitar tempat mereka berada.
Ada pula yang mengaku mendengar suara perempuan menawarkan makanan.
Yang membuat semuanya terasa semakin aneh, mereka mengatakan pengalaman yang hampir sama.
Mereka merasa hanya berjalan beberapa menit.
Namun ketika kembali sadar, waktu ternyata sudah berlalu jauh lebih lama.
Angga tidak tahu apakah semua cerita itu benar.
Ia juga tidak tahu apakah warung tersebut benar-benar ada.
Yang ia tahu hanyalah apa yang dialaminya sendiri.
Pada malam ketika Ikbal jatuh, ada sesuatu di tengah kegelapan yang tidak bisa ia lihat.
Sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh Ikbal.
Dan mungkin...
warung itu memang bukan tempat yang bisa ditemukan oleh semua orang.
Mungkin ia hanya muncul pada waktu tertentu.
Mungkin hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.
Atau mungkin warung itu berada di tempat yang berbeda dari dunia yang selama ini kita kenal.
Sejak kejadian tersebut, Angga selalu mengingat satu hal:
tidak semua suara yang memanggil nama kita berasal dari manusia.

Komentar
Posting Komentar