Warung di Puncak: Pendakian yang Membawa Ikbal ke Dunia Lain
Sri WulandariIsi Cerita
Warung yang Tidak Pernah Ditemukan
Gunung selalu mempunyai dua wajah.
Di siang hari, gunung terlihat begitu indah.
Pepohonan hijau membentang sejauh mata memandang. Udara terasa jauh lebih bersih daripada di tengah kota. Kabut tipis bergerak perlahan di antara pepohonan, sementara suara burung dan gemericik air membuat siapa pun yang datang seolah sedang meninggalkan dunia mereka untuk sementara.
Itulah alasan banyak orang datang mendaki.
Ada yang ingin menikmati keindahan alam.
Ada yang ingin menguji keberanian.
Ada pula yang hanya ingin mencari pengalaman baru.
Namun bagi pendaki yang sudah sering naik gunung, keindahan alam bukanlah satu-satunya hal yang harus diperhatikan.
Gunung juga memiliki aturan.
Ada batas yang tidak boleh dilewati.
Ada tempat yang sebaiknya tidak didatangi.
Dan ada pantangan yang sejak dahulu selalu disampaikan kepada para pendaki.
Sayangnya, tidak semua orang mau percaya.
Bagi sebagian orang, cerita tentang suara aneh, penampakan, pendaki yang tersesat, atau tempat yang tiba-tiba berubah hanyalah cerita untuk menakut-nakuti pendaki baru.
Begitu pula dengan sebuah cerita tentang warung misterius di jalur menuju puncak.
Tidak ada yang tahu siapa pemiliknya.
Tidak ada yang tahu sejak kapan warung itu berdiri.
Anehnya, beberapa pendaki mengaku pernah membeli makanan dan minuman di sana.
Mereka bahkan merasa sempat duduk dan berbincang dengan pemilik warung.
Namun ketika mereka kembali turun...
warung itu tidak pernah ditemukan lagi.
Ada yang mengatakan warung tersebut hanya muncul pada waktu tertentu.
Ada pula yang percaya bahwa warung itu bukan milik manusia.
Dan pada suatu malam, dua pendaki bernama Angga dan Ikbal memutuskan untuk membuktikan sendiri kebenaran cerita tersebut.
Mereka tidak pernah menyangka bahwa keputusan sederhana itu justru menjadi awal dari kejadian mengerikan yang mengubah hidup mereka.
Pendakian Menuju Puncak
Angga dan Ikbal sebenarnya sudah lama merencanakan pendakian tersebut.
Mereka memang bukan pendaki profesional.
Namun keduanya sudah beberapa kali naik gunung. Karena itu, mereka cukup percaya diri menghadapi perjalanan panjang menuju puncak.
Sore itu, mereka mulai berjalan.
Ransel sudah berada di punggung.
Senter sudah disiapkan.
Air minum dan makanan juga sudah cukup.
Pada awal perjalanan, semuanya terasa menyenangkan.
Sesekali mereka bercanda sambil menikmati pemandangan.
Namun semakin tinggi mereka berjalan, jalur mulai menanjak dan hutan semakin rapat.
Pembicaraan mereka pun berubah.
Tiba-tiba Ikbal teringat sebuah cerita yang pernah didengarnya dari pendaki lain.
"Heh, Angga."
"Apa?"
"Lo percaya nggak sama cerita orang-orang soal warung di atas?"
Angga menoleh.
"Warung apa?"
"Katanya ada warung di jalur menuju puncak."
Angga tertawa kecil.
"Warung?"
"Iya."
"Terus?"
"Katanya warung itu kadang muncul malam-malam."
Angga langsung menghentikan langkahnya.
"Bal, jangan macam-macam."
Ikbal tertawa.
"Kenapa?"
"Kita ke sini buat mendaki, bukan berburu cerita mistis."
"Halah..."
Ikbal mengibaskan tangannya.
"Lo masih percaya begituan?"
Angga menggeleng.
"Bukan soal percaya atau nggak."
"Lalu?"
"Kalau ada aturan atau pantangan di gunung, ya kita ikuti."
Ikbal tersenyum.
"Kalau benar ada warung, malah bagus."
"Bagus apanya?"
"Kalau lapar, tinggal beli makanan."
Angga hanya menggeleng.
"Dasar."
Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak ada yang menyangka bahwa perkataan Ikbal tentang warung tersebut sebentar lagi benar-benar menjadi kenyataan.
Hanya saja...
warung yang akan mereka temukan bukanlah warung seperti yang mereka bayangkan.
Ikbal Mulai Berubah
Semakin tinggi mereka mendaki, napas Angga mulai terasa berat.
Kakinya mulai pegal.
Sesekali ia berhenti untuk minum.
Namun ada sesuatu yang aneh pada Ikbal.
Berbeda dengan Angga, semakin tinggi mereka berjalan, tubuh Ikbal justru terasa semakin ringan.
"Bal, pelan-pelan."
Ikbal menoleh.
"Kenapa?"
"Lo nggak capek?"
"Enggak."
"Serius?"
Ikbal tertawa.
"Justru gue merasa badan gue ringan banget."
Angga merasa aneh mendengar jawaban tersebut.
Tetapi ia tidak terlalu memikirkannya.
Beberapa saat kemudian, Angga akhirnya berhenti.
"Bal, gue istirahat dulu."
Ikbal melihat ke arah atas.
"Kalau begitu gue duluan."
"Jangan terlalu jauh."
"Iya."
Ikbal melanjutkan perjalanan.
Angga duduk di pinggir jalur.
Ia membuka botol air dan makan sedikit.
Setelah merasa cukup pulih, Angga kembali berjalan.
Namun Ikbal sudah tidak terlihat.
"Bal!"
Tidak ada jawaban.
Angga terus berjalan sambil memanggil nama temannya.
Langit semakin gelap.
Jam di tangannya menunjukkan pukul 22.00.
Angin gunung bertiup semakin kencang.
Suhu turun drastis.
Suasana yang sebelumnya masih dipenuhi suara pendaki lain kini terasa jauh lebih sepi.
Angga mempercepat langkah.
Ia hanya berharap bisa segera menemukan Ikbal.
Namun semakin ia berjalan...
semakin ia merasa seperti berada sendirian di tengah hutan.
Sosok di Tengah Kegelapan
Setelah berjalan beberapa saat, Angga akhirnya melihat sesuatu di depan.
Seseorang.
"Ikbal!"
Sosok itu berdiri membungkuk di pinggir jalur.
Angga menghela napas lega.
Namun ketika semakin dekat, rasa lega itu perlahan berubah menjadi kebingungan.
Ikbal sedang mengais-ngais sesuatu di antara semak.
"Bal!"
Ikbal tidak menjawab.
Angga mendekat.
"Lo ngapain?"
Tetap tidak ada jawaban.
Angga kemudian memperhatikan sesuatu yang membuat tubuhnya merinding.
Ikbal tidak mengenakan jaket.
Bahkan bajunya sudah dilepas.
Padahal angin malam bertiup sangat dingin.
"Bal!"
Angga memegang bahunya.
Ikbal perlahan menoleh.
Tatapannya kosong.
Seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh Angga.
"Lo kenapa?"
Ikbal menjawab dengan suara datar.
"Diam."
"Hah?"
"Gue lagi cari kayu."
"Kayu?"
"Iya."
"Ngapain?"
Ikbal menunjuk ke arah atas.
"Si Mbok suruh."
Angga terdiam.
"Siapa?"
"Si Mbok."
"Mbok siapa?"
Ikbal tidak menjawab.
Ia kembali sibuk mencari sesuatu di antara semak.
Angga mulai merasa tidak nyaman.
"Bal, kita naik bareng."
Ikbal tetap diam.
"Bal, kita turun sekarang."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Belum selesai."
"Apanya?"
Ikbal tersenyum tipis.
"Kayunya belum cukup."
Angga semakin bingung.
Apa yang sebenarnya terjadi kepada temannya?
Dan siapa sebenarnya Si Mbok yang terus disebut Ikbal?
Warung yang Tidak Seharusnya Ada
Angga memegang tangan Ikbal.
"Ayo turun."
Namun Ikbal menarik tangannya.
"Gue mau ke warung."
Angga langsung terdiam.
"Warung?"
"Iya."
"Warung yang tadi lo ceritain?"
Ikbal mengangguk.
"Si Mbok sudah nunggu."
Jantung Angga mulai berdebar.
"Bal..."
Ikbal menunjuk ke arah depan.
"Di sana."
Angga mengikuti arah jarinya.
Namun yang ia lihat hanya jalur gelap.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada lampu.
Tidak ada warung.
"Mana?"
Ikbal tersenyum.
"Lo nggak bisa lihat?"
Angga menggeleng.
Ikbal kemudian berjalan meninggalkannya.
"Bal!"
Angga langsung mengejar.
Namun langkah Ikbal semakin cepat.
"Ikbal!"
Tidak ada jawaban.
Angga berlari.
Tetapi anehnya, jarak di antara mereka justru semakin jauh.
Seolah-olah Ikbal sedang berjalan di tempat yang berbeda.
Tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Angga.
Hingga akhirnya Angga kembali melihat Ikbal berhenti.
Ia sedang duduk di sebuah batu.
Namun kali ini Ikbal terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang.
Angga memperhatikan sekeliling.
Tidak ada siapa-siapa.
"Bal..."
Ikbal tidak menjawab.
"Lo ngobrol sama siapa?"
Ikbal tersenyum.
"Si Mbok."
Angga merasakan tengkuknya merinding.
"Di mana?"
Ikbal menunjuk ke sampingnya.
"Di sini."
Angga melihat ke arah yang ditunjuk.
Kosong.
Hanya pepohonan.
Angin.
Dan kegelapan.
"Bal, nggak ada siapa-siapa."
Ikbal menatap Angga.
Tatapannya tiba-tiba berubah.
"Jangan bilang begitu."
"Kenapa?"
"Dia marah."
Angga mundur selangkah.
"Siapa?"
Ikbal tidak menjawab.
Kemudian...
terdengar suara perempuan dari arah hutan.
Sangat pelan.
"Ikbaaaal..."
Angga membeku.
Ia yakin suara itu bukan suara Ikbal.
"Bal..."
Ikbal berdiri.
"Dia manggil."
"Jangan!"
Angga langsung menarik tangan Ikbal.
Namun Ikbal melawan dengan tenaga yang jauh lebih besar daripada biasanya.
"LEPAS!"
"Bal!"
"Gue harus pergi!"
"Jangan!"
Ikbal kemudian berlari menuju arah puncak.
Angga mengejarnya.
Ujung Tebing
Beberapa detik kemudian, Angga melihat sesuatu yang membuat darahnya seakan berhenti mengalir.
Ikbal berdiri di ujung tebing.
Di bawahnya terdapat jurang yang sangat dalam.
"IKBAL!"
Ikbal tidak bergerak.
"Bal! Jangan ke sana!"
Namun Ikbal seperti sedang mendengarkan seseorang.
Kemudian ia tersenyum.
"Dia bilang aman."
Angga panik.
"Siapa yang bilang?"
Ikbal melangkah maju.
"Jangan!"
Angga berlari sekuat tenaga.
"BAL!"
Ikbal kembali melangkah.
Tanah di bawah kakinya tiba-tiba longsor.
"AAAAAA!"
Tubuh Ikbal kehilangan keseimbangan.
Angga mencoba meraih tangannya.
Namun terlambat.
Ikbal terjatuh ke dalam jurang.
"IKBAAAAAAL!"
Teriakan Angga menggema di tengah hutan.
Ia berlutut di tepi tebing.
Tangannya gemetar.
"Bal..."
Tidak ada jawaban.
"Bal..."
Tetap sunyi.
Angga menangis.
"Kenapa lo nggak dengerin gue..."
Ia terus memanggil nama temannya sampai suaranya habis.
Namun hanya suara angin yang menjawab.
Malam yang Tidak Pernah Dilupakan
Angga tidak tahu berapa lama ia berada di sana.
Tubuhnya mulai kedinginan.
Tenaganya habis.
Ia mencoba mencari jalan untuk turun, tetapi keadaan yang semakin gelap membuatnya tidak berani bergerak lebih jauh.
Akhirnya ia hanya bisa bertahan di tempat.
Sampai kesadarannya perlahan menghilang.
Ketika membuka mata, Angga sudah berada di dekat pos penjagaan.
Beberapa orang berdiri mengelilinginya.
Ada petugas.
Ada pendaki lain.
Dan ada beberapa orang yang tampak sibuk membawa perlengkapan evakuasi.
Angga mencoba bangkit.
"Teman saya..."
Seorang petugas mendekat.
"Tenang dulu."
"Teman saya mana?"
"Namanya siapa?"
"Ikbal."
Petugas itu terdiam sejenak.
"Kami sudah menemukannya."
Angga langsung menangis.
"Dia hidup, Pak?"
Petugas tidak langsung menjawab.
Kemudian ia berkata pelan,
"Kami sudah mengevakuasinya."
Angga melihat ke arah ambulans.
Sebuah kantong jenazah berwarna oranye terlihat di dekat kendaraan.
Tubuh Angga langsung lemas.
"Itu..."
Petugas menundukkan kepala.
"Maaf."
Angga berjalan perlahan.
Tangannya gemetar.
Ia menatap kantong jenazah tersebut.
Air matanya jatuh.
"Bal..."
Tidak ada jawaban.
Warung Itu Benar-Benar Ada?
Beberapa hari kemudian, Angga mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Ia tahu Ikbal jatuh.
Ia melihatnya sendiri.
Namun ada satu hal yang tidak bisa ia jelaskan.
Ketika petugas mengevakuasi tubuh Ikbal, mereka tidak menemukan satu pun bangunan di sekitar tempat kejadian.
Tidak ada warung.
Tidak ada lampu.
Tidak ada orang tua.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ketika Angga kembali mengingat malam itu, ia masih bisa mendengar suara perempuan yang memanggil nama Ikbal.
"Ikbaaaal..."
Dan yang paling membuatnya takut adalah kalimat terakhir yang diucapkan Ikbal sebelum jatuh.
"Dia bilang aman."
Angga tidak pernah tahu...
siapa sebenarnya "dia".
Sejak kejadian itu, Angga tidak pernah lagi mendaki gunung.
Bukan karena takut terhadap ketinggian.
Bukan pula karena trauma dengan perjalanan malam.
Ia takut karena sekarang ia percaya bahwa tidak semua suara yang memanggil nama kita...
berasal dari manusia.
Lalu bagaimana dengan warung yang diceritakan Ikbal?
Ternyata beberapa pendaki lain mengaku pernah melihat cahaya kecil di jalur menuju puncak.
Ada yang mengaku pernah mencium aroma kopi.
Bahkan ada yang mengatakan pernah mendengar suara seorang perempuan menawarkan makanan.
Namun mereka yang pernah mengikuti suara tersebut selalu memiliki cerita yang hampir sama.
Mereka merasa hanya berjalan beberapa menit.
Tetapi ketika kembali sadar...
waktu sudah berlalu berjam-jam.
Mungkin warung itu memang benar-benar ada.
Mungkin pula warung tersebut memang hanya muncul pada waktu tertentu.
Atau...
mungkin warung itu berada di tempat yang berbeda dari dunia yang kita kenal.
Karena bisa jadi, tidak semua orang yang masuk ke sana akan kembali dengan selamat.
Dan sejak malam ketika Ikbal menghilang...
satu pertanyaan terus menghantui Angga:
Jika warung itu bukan milik manusia, sebenarnya siapa yang selama ini menunggu para pendaki di sana?
