Lewati ke konten
Wulan: Bertahan Demi Anak, Menemukan Harapan Tak Terduga

Wulan: Bertahan Demi Anak, Menemukan Harapan Tak Terduga

0Dibaca 0Bab
Mulai Baca

Sinopsis

Aku tidak pernah membayangkan hidup akan membawaku ke jalan yang begitu panjang. Setelah menjadi seorang ibu dan harus membesarkan anak seorang diri, aku kehilangan pekerjaan akibat fitnah yang tidak pernah kulakukan. Dalam keadaan terdesak, aku menerima tawaran pekerjaan di kota tanpa mengetahui bahwa pekerjaan tersebut ternyata berbeda dari yang dijanjikan.

Aku kemudian bekerja sebagai pendamping tamu di sebuah kafe malam. Hari-hari pertama terasa berat karena aku harus beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali asing. Namun, di tengah perjuangan itu, aku bertemu dengan seorang pria yang memperlakukanku dengan cara berbeda. Ia mau mendengarkan kisah hidupku dan perlahan membuatku kembali percaya bahwa mungkin masih ada harapan setelah begitu banyak kesulitan.

Aku Harus Bertahan untuk Anakku

Namaku Wulan.

Sejak anakku lahir, aku merasa memiliki dua peran sekaligus.

Aku harus menjadi seorang ibu sekaligus berusaha menjadi sosok ayah yang dapat diandalkan.

Takdir mempertemukanku dengan seorang laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Pada akhirnya, aku harus membesarkan anakku tanpa bisa berharap kepadanya.

Aku tidak ingin terus meminta belas kasihan.

Aku hanya ingin bekerja.

Aku ingin anakku tumbuh dengan baik.

Oleh karena itu, selama masih memiliki tenaga, aku akan terus berusaha memenuhi kebutuhannya.

Namun, kehidupan ternyata belum selesai mengujiku.

Di tengah perjuanganku mencari nafkah, masalah lain datang.

Aku difitnah.

Tuduhan tersebut membuat pekerjaanku ikut terkena dampaknya. Atasanku mempercayai apa yang disampaikan kepadanya.

Aku akhirnya dihentikan dari pekerjaan yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghasilan.

Aku pulang tanpa membawa kesalahan.

Tetapi aku tetap kehilangan pekerjaan.

Saat itu aku menangis.

Bukan karena kehilangan jabatan atau tempat kerja.

Aku menangis karena memikirkan anakku.

Persediaan di Rumah Mulai Menipis

Setelah tidak memiliki pekerjaan, tabunganku perlahan habis.

Kebutuhan rumah terus berjalan.

Yang paling membuatku panik adalah persediaan susu anakku yang semakin sedikit.

Aku duduk sambil menghitung uang yang tersisa.

Tidak banyak.

Aku tahu harus segera mencari pekerjaan.

Apa pun pekerjaannya, selama halal dan bisa membuat anakku tetap makan, aku akan mencobanya.

Aku tidak lagi memikirkan rasa malu.

Aku tidak peduli harus bekerja dari pagi sampai malam.

Yang kupikirkan hanya satu.

Anakku harus tetap bisa mendapatkan apa yang dia butuhkan.

Di tengah keadaan itu, seorang teman lama menghubungiku.

Namanya Rini.

Ia mengatakan bahwa dirinya mengetahui sebuah pekerjaan di kota.

“Kerja apa?” tanyaku.

“Jadi penyanyi di sana,” jawabnya.

Aku langsung tertarik.

Aku memang menyukai dunia musik dan cukup percaya diri untuk bernyanyi.

Yang paling penting, aku melihat kesempatan untuk mendapatkan penghasilan.

Meski berat karena untuk pertama kalinya harus berjauhan dengan anak, aku akhirnya menerima kesepakatan itu.

Ternyata Pekerjaannya Tidak Seperti yang Dijanjikan

Sepanjang perjalanan, pikiranku hanya teringat pada anakku.

Aku terus berjanji kepada diriku sendiri.

Bertahanlah, Wulan.

Semua ini demi anak.

Sesampainya di kota, aku langsung mencari tempat yang disebutkan Rini.

Aku bahkan sempat bertanya kepada orang di sekitar.

“Maaf, Mbak. Mau tanya, restoran besar di sekitar sini sebelah mana, ya?”

“Saya sedang mencari Rini. Katanya saya akan bekerja di sini.”

Seorang wanita menatapku cukup lama.

Kemudian ia tersenyum.

“Kamu Wulan?”

“Iya.”

“Wah, berarti kamu kena ulah Rini.”

Aku semakin bingung.

“Memangnya kenapa?”

“Tempat ini bukan restoran.”

“Ini kafe.”

“Rini dulu memang bekerja di sini.”

“Kalau kamu datang untuk mencari pekerjaan, saya memang sedang membutuhkan pekerja.”

Aku menarik napas lega.

Namun kalimat berikutnya membuatku terdiam.

“Kamu akan bertugas sebagai pendamping tamu. Tugasnya menemani tamu berbincang dan bernyanyi.”

Dunia terasa berputar.

Aku baru sadar bahwa pekerjaan yang ditawarkan kepadaku ternyata berbeda dari informasi yang sebelumnya diberikan.

Rini bahkan sudah lebih dulu pindah tempat kerja.

Aku merasa tertipu.

Bertahan di Tempat yang Asing

Aku hampir saja kembali pulang.

Namun kemudian aku teringat wajah anakku.

Persediaan susu di rumah.

Biaya hidup yang terus berjalan.

Dan uang yang semakin sedikit.

Aku akhirnya memutuskan untuk mencoba bertahan.

Pemilik tempat tersebut biasa dipanggil Mami.

Ia menjelaskan bahwa aku tidak harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsipku. Tugas utamaku adalah menemani tamu berbicara dan bernyanyi.

Aku mengangguk meskipun hati masih dipenuhi keraguan.

Hari-hari pertama terasa sangat berat.

Aku belum terbiasa berada di lingkungan seperti itu.

Banyak orang dengan karakter berbeda datang setiap malam.

Ada tamu yang sopan.

Ada yang terlalu banyak bicara.

Ada pula yang membuatku tidak nyaman.

Setiap kali merasa tertekan, aku sering masuk ke kamar mandi dan menangis seorang diri.

Bukan semata karena pekerjaannya.

Aku hanya terus teringat kepada anakku.

Sedikit lagi.

Kumpulkan uang.

Setelah cukup, aku akan pulang.

Kalimat-kalimat itu selalu kuulang agar tetap kuat.

Dipindahkan ke Kafe yang Lebih Besar

Setelah lima hari, Mami memindahkanku ke kafe lain yang berada di pusat kota.

Tempat itu jauh lebih besar dan lebih rapi.

Tamu yang datang juga berasal dari berbagai latar belakang.

Aku merasa semakin tidak percaya diri.

Pekerja lain terlihat jauh lebih berpengalaman.

Mereka terbiasa menghadapi banyak orang.

Sementara aku masih sering merasa canggung dan takut mendapatkan tamu yang tidak menghargai batasanku.

Suatu saat, Mami memanggilku.

“Wulan, sini, Neng.”

Aku langsung gugup.

Jangan-jangan aku langsung diberi tamu.

Aku kemudian diarahkan menuju meja bar nomor tujuh.

Di sana sudah duduk seorang pria.

“Bang, ditemani anak baru Mami, ya,” ujar Mami.

Aku duduk dengan canggung.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya aku membuka percakapan.

“A, mau pesan lagu apa?”

Pria itu masih sibuk dengan ponselnya.

Aku memilih diam.

Beberapa saat kemudian, ia justru bertanya,

“Mau makan apa?”

Aku terkejut.

“Enggak usah, A.”

“Ambil saja.”

Ia kemudian mengajakku bernyanyi.

Kebetulan aku memang menyukai musik.

Saat mulai bernyanyi, rasa tegangku perlahan berkurang.

Pria itu terlihat menikmati lagu yang kunyanyikan.

Tidak ada sikap yang membuatku merasa direndahkan.

Tidak ada kata-kata yang membuatku tidak nyaman.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di sana, aku merasa bisa bernapas lebih lega.

Makan Malam yang Sederhana

Menjelang aku pulang ke kos, pria itu kembali memanggil.

“Heh, sini.”

“Iya, A?”

“Makan dulu.”

Aku menggeleng.

“Enggak usah. Saya sudah capek, mau istirahat.”

“Ayo makan. Biar badanmu tidak terlalu lelah.”

Aku akhirnya menuruti.

Kami makan bersama.

Obrolannya sederhana.

Tidak ada pembicaraan yang membuatku merasa terpaksa.

Setelah itu aku pulang ke kos.

Sepanjang jalan, aku masih memikirkan satu hal.

Mengapa dia berbeda dari tamu-tamu yang pernah kutemui?

Ia Kembali Mencariku

Keesokan harinya, ketika aku baru datang ke kafe, Mami langsung memanggil.

“Wulan, cepat masuk.”

“Kamu ditunggu tamu.”

Aku terkejut.

“Siapa?”

“Sudah, masuk sana.”

Aku datang tanpa sempat berganti pakaian.

Ternyata pria yang semalam menemaniku makan sudah berada di sana.

“Eh, ternyata Aa.”

Aku tersenyum.

“Tumben datang siang.”

“Aku izin ganti baju dulu.”

Ia menggeleng.

“Enggak perlu.”

“Sudah begitu saja.”

Aku kemudian duduk.

Ia kembali mengajakku berbicara dan bernyanyi.

Semakin lama, aku merasa semakin nyaman.

Ia tidak memperlakukanku seperti seorang pekerja biasa.

Ia berbicara dengan tenang, seolah benar-benar ingin mengenalku sebagai seseorang.

Aku Menceritakan Kehidupanku

Pada malam kedua, suasana di antara kami sudah lebih santai.

Entah kenapa, aku akhirnya menceritakan sebagian kisah hidupku.

Aku mengatakan bahwa aku memiliki anak.

Aku bercerita tentang kehilangan pekerjaan.

Tentang bagaimana aku datang ke kota karena membutuhkan uang.

Aku juga menceritakan bahwa pekerjaan yang kuperoleh ternyata tidak sesuai dengan informasi yang diberikan kepadaku.

Ia mendengarkan tanpa memotong pembicaraanku.

Wajahnya berubah.

“Kamu sudah melalui banyak hal.”

Aku hanya tersenyum.

“Aku tidak punya pilihan.”

“Semua ini demi anak.”

Ia kemudian berkata,

“Nanti kenalin aku sama anak kamu.”

Aku terdiam.

“Atau kalau memungkinkan, bawa anakmu ke sini. Kita jalan-jalan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dari sekian banyak orang yang pernah kutemui, baru kali ini ada seseorang yang menunjukkan perhatian bukan hanya kepadaku, tetapi juga kepada anakku.

Perhatian itu membuat hatiku tersentuh.

Namun aku tetap berhati-hati.

Aku tidak ingin terlalu cepat berharap.

Kedekatan yang Mulai Serius

Hari demi hari berlalu.

Kami semakin sering bertemu.

Kami bertukar nomor telepon.

Sesekali ia menghubungiku untuk menanyakan kabar.

Namun semakin dekat, sifat protektifnya juga semakin terlihat.

Ia mulai memperhatikan cara berpakaian.

Ia juga terkadang memberi tahu bagaimana sebaiknya aku berinteraksi dengan tamu lain.

“Jangan terlalu dekat dengan orang itu.”

“Aku kurang suka.”

Awalnya aku merasa bingung.

Kami bahkan belum memiliki hubungan yang jelas.

Oleh karena itu, suatu hari aku memilih bertanya terus terang.

“Sebenarnya kita ini apa?”

Aku tidak ingin salah memahami perhatian yang diberikannya kepadaku.

Ia kemudian berbicara jujur.

“Aku nyaman sama kamu.”

“Aku merasa nyambung.”

Aku masih menunggu kelanjutan ucapannya.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan.

Tawaran yang Tidak Pernah Kuduga

“Besok kamu berhenti kerja dari sini.”

Aku langsung terkejut.

“Hah?”

“Apa?”

Ia menjawab dengan serius.

“Kamu tidak perlu bekerja seperti ini lagi.”

Aku menatapnya.

“Tapi aku belum punya pekerjaan lain.”

“Kalau aku berhenti, bagaimana anakku?”

Ia kemudian berkata,

“Besok bawa aku ke rumahmu.”

Aku semakin bingung.

“Mau ngapain?”

“Aku mau bertemu keluargamu.”

“Untuk apa?”

Ia menjawab dengan tenang.

“Aku mau melamar kamu.”

Aku tidak langsung percaya.

“Serius?”

“Iya.”

“Secepat itu?”

Ia mengangguk.

“Aku sudah mempertimbangkan semuanya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Perkenalan kami memang baru berlangsung singkat.

Aku juga masih memiliki banyak kekhawatiran.

Aku takut mengambil keputusan hanya karena sedang berada dalam keadaan sulit.

Harapan di Tengah Kehidupan yang Berat

Malam itu aku pulang dengan pikiran yang penuh.

Aku duduk sendirian di kamar.

Aku mempertimbangkan semuanya.

Aku teringat saat kehilangan pekerjaan.

Saat menghitung uang untuk membeli susu anak.

Saat naik kendaraan seorang diri menuju kota.

Saat pertama kali mengetahui bahwa pekerjaan yang kuterima ternyata tidak seperti yang dijanjikan.

Aku juga teringat hari-hari ketika aku menangis diam-diam di kamar mandi.

Semua terasa seperti perjalanan yang sangat panjang.

Dan sekarang, tiba-tiba datang seseorang yang mengatakan ingin membangun kehidupan bersamaku.

Aku belum tahu apakah keputusan itu benar.

Aku belum tahu bagaimana masa depanku nanti.

Aku juga tidak ingin menyerahkan kepercayaan begitu saja hanya karena seseorang datang ketika aku berada di titik terendah.

Namun setidaknya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan sesuatu yang hampir kulupakan.

Harapan.

Bukan harapan bahwa seseorang akan menyelamatkan hidupku.

Tetapi harapan bahwa setelah melalui begitu banyak kesulitan, mungkin masih ada kesempatan untuk membangun kehidupan yang lebih baik bersama anakku.

Aku menatap foto anakku yang kusimpan di ponsel.

“Semoga kali ini Ibu tidak salah langkah, Nak.”

Aku menarik napas panjang.

Perjalanan hidupku belum selesai.

Namun mungkin, dari semua kejadian yang tidak pernah kurencanakan, aku sedang menuju sebuah babak baru.

Babak yang belum kuketahui akhirnya.

Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku berani berharap bahwa kehidupan tidak selalu berakhir dengan kehilangan. Kadang-kadang, setelah melewati masa yang paling sulit, sebuah harapan justru datang dari arah yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Tags

Bagikan Cerita

Ulasan Saya

Pendapat kamu tentang cerita ini0/500
Belum ada ulasan

Daftar Bab