Lewati ke konten
Legenda Lidondre, Anak Belanda yang Tenggelam

Legenda Lidondre, Anak Belanda yang Tenggelam

0Dibaca 0Bab 0Komentar
Mulai Baca

Sinopsis

Pada zaman Belanda, terdapat sebuah danau yang terkenal sangat tenang, indah, dan memiliki air yang begitu jernih.

Danau itu selalu ramai oleh para Noni Belanda yang datang untuk bersantai, menikmati pemandangan, bahkan berenang di tepian danau.

Keindahan danau tersebut membuat namanya semakin terkenal. Hampir setiap hari, orang-orang berdatangan untuk menikmati suasana alam yang sejuk dan tenang.

Danau itu kemudian dikenal dengan nama Danau Lido.

Namun, di balik keindahan dan ketenangan airnya, tersimpan sebuah kisah kelam yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat.

Konon, nama Lido tidak lepas dari seorang anak laki-laki keturunan Belanda bernama Lidondre.

Danau Milik Tuan Belanda

Pada masa itu, kawasan di sekitar danau dikuasai oleh seorang Tuan Belanda yang terkenal kaya raya.

Ia memiliki banyak tanah dan harta kekayaan. Karena menyukai tempat tersebut, sang Tuan membangun sejumlah vila di sekitar danau.

Vila-vila itu berdiri berjejer dengan pemandangan langsung menghadap air danau.

Selain vila, sang Tuan juga membangun tempat pemandian yang luas. Tempat tersebut awalnya dibuat sebagai tempat bermain dan bersantai keluarganya.

Namun karena keindahan tempat itu semakin dikenal, banyak wisatawan asing yang akhirnya datang untuk menikmati suasana dan berenang di danau.

Danau yang sebelumnya hanya menjadi tempat pribadi perlahan berubah menjadi salah satu tempat yang ramai dikunjungi.

Tetapi bagi sang Tuan Belanda, ada satu orang yang jauh lebih penting daripada seluruh kekayaan yang dimilikinya.

Anak laki-laki semata wayangnya.

Anak Kesayangan Bernama Lidondre

Sang Tuan Belanda memiliki seorang anak laki-laki yang sangat ia sayangi.

Namanya Lidondre.

Usianya baru sekitar tujuh tahun.

Sebagai anak satu-satunya, Lidondre mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari ayahnya.

Apa pun yang diinginkannya hampir selalu dikabulkan.

Suatu hari, Lidondre meminta kepada ayahnya untuk dibuatkan sebuah tempat pemandian yang sangat luas.

Sang ayah yang begitu menyayangi anaknya tidak berpikir panjang.

Dengan kekuasaan dan kekayaannya, ia memerintahkan para pekerja untuk membuat sebuah tempat pemandian yang sangat besar.

Pemandian itu kemudian dibuat di kawasan danau.

Lidondre merasa sangat gembira.

Begitu pemandian tersebut selesai, ia tidak sabar untuk menggunakannya.

Sejak saat itu, hampir setiap hari Lidondre bermain di sana.

Ia berenang, bermain air, dan menghabiskan waktunya di sekitar danau.

Bagi Lidondre, tempat itu adalah dunia kecil yang sangat menyenangkan.

Namun tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa tempat yang begitu disukainya justru akan menjadi tempat terakhir dalam hidupnya.

Lidondre Hilang di Danau

Pada suatu hari, sang Tuan Belanda sedang sibuk menerima tamu.

Ia berbincang-bincang di dalam rumah dan begitu larut dalam percakapan hingga tidak menyadari waktu telah berjalan cukup lama.

Seperti biasanya, ia percaya bahwa Lidondre sedang bermain di danau.

Sang ayah merasa tidak perlu terlalu khawatir.

Ia yakin anaknya akan kembali ketika sudah selesai bermain.

Namun hari itu berbeda.

Waktu makan siang telah tiba.

Lidondre tidak kunjung pulang.

Sang ayah masih mengira anaknya sedang asyik bermain.

Waktu terus berjalan.

Matahari mulai bergerak menuju sore.

Tetapi Lidondre tetap tidak terlihat.

Perasaan sang ayah mulai tidak tenang.

Ia kemudian memutuskan pergi ke danau untuk menjemput anaknya.

Ketika sampai di tepi danau, ia melihat Lidondre berada cukup jauh di tengah air.

Tubuh kecil itu tampak seperti sedang mengapung.

Sang ayah kemudian berteriak.

"Lido... Lidondre... go up quickly!"

"Cepat naik!"

Namun tidak ada jawaban.

Lidondre tidak bergerak.

Jeritan Sang Ayah

Sang ayah terus memperhatikan anaknya.

Awalnya ia mengira Lidondre hanya sedang bermain-main di air.

Namun beberapa saat kemudian, ia mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

Tubuh Lidondre terlihat terbaring menghadap ke bawah.

Tidak ada gerakan.

Tidak ada jawaban.

Panik mulai menguasai sang ayah.

Ia berteriak meminta pertolongan.

"Tolong...! Tolong...!"

Para pengawal yang berada di sekitar rumah segera berlari menuju danau.

Tanpa membuang waktu, salah seorang pengawal langsung masuk ke dalam air dan berenang menuju tubuh Lidondre.

Tubuh anak itu kemudian dibawa ke tepi danau.

Namun semuanya sudah terlambat.

Lidondre telah meninggal dunia.

Tubuhnya bahkan terlihat membengkak akibat terlalu lama berada di dalam air.

Sang ayah hanya bisa terdiam.

Ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Anak laki-laki satu-satunya yang sangat ia cintai telah pergi untuk selama-lamanya.

Penyesalan Sang Tuan Belanda

Kesedihan sang ayah tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Ia menangis dan menyesali kelalaiannya.

Dalam pikirannya, ia terus menyalahkan dirinya sendiri.

Seandainya ia lebih cepat mendatangi danau.

Seandainya ia tidak terlalu sibuk menerima tamu.

Seandainya sejak awal ia mengawasi Lidondre.

Namun semua penyesalan itu sudah terlambat.

Lidondre tidak mungkin kembali.

Kehilangan anak semata wayangnya membuat kehidupan sang Tuan Belanda berubah.

Ia menjadi semakin terpuruk.

Rumah yang sebelumnya dipenuhi kemewahan dan kehidupan berubah menjadi tempat yang penuh kesedihan.

Hari demi hari, pikirannya semakin kacau.

Hingga akhirnya, karena tidak sanggup menanggung rasa kehilangan dan penyesalan, sang Tuan Belanda mengakhiri hidupnya sendiri.

Ia meninggalkan dunia dengan membawa kesedihan atas kematian anak yang sangat dicintainya.

Nama Lidondre yang Abadi

Sejak kejadian tersebut, masyarakat mulai mengaitkan danau itu dengan nama anak sang Tuan Belanda.

Lidondre.

Konon, nama tersebut kemudian menjadi asal-usul nama Lido yang dikenal h

Bagikan Cerita

Daftar Bab

    Ulasan Saya

    0/500
    ★★★★★ Belum ada ulasan

    Komentar