Lewati ke konten
Sate Gaib di Kampung Gadog

Sate Gaib di Kampung Gadog

0Bab

Sinopsis

Pak Ujang, seorang sopir truk, mendapat tugas mengantar sayuran ke Gadog, Puncak, pada tengah malam. Di tengah perjalanan, hujan deras turun dan truknya tiba-tiba mogok di sebuah tanjakan yang sepi.

Saat mencoba mencari bantuan, Pak Ujang melihat cahaya dari sebuah warung sate yang tampak masih ramai dan buka 24 jam. Ia mampir, memesan dua porsi sate, lalu kembali ke truk setelah makan.

Anehya, keesokan pagi teman-temannya justru mengatakan bahwa di tempat tersebut tidak pernah ada warung. Yang ada hanyalah sebuah pemakaman.

Pak Ujang kembali ke lokasi untuk memastikan semuanya. Di sana, ia hanya menemukan makam, dua tusuk sate gosong, dan uang lima puluh ribu rupiah.

Sejak malam itu, Pak Ujang tidak pernah berani melewati Gadog pada tengah malam, terutama saat hujan deras.

Tugas Mendadak ke Gadog

Malam mulai turun ketika Pak Ujang mendapat tugas mengantar sayuran ke Gadog, Puncak.

Truknya sudah dipenuhi keranjang berisi cabai, tomat, kol, sawi, dan berbagai sayuran lainnya.

Pak Ujang masuk ke dalam kabin, memasukkan kunci, lalu menyalakan mesin.

Clek.

Brummm...

Sebelum berangkat, ia menghubungi istrinya.

“Bu.”

“Iya, Pak?”

“Saya berangkat dulu.”

“Malam ini?”

“Iya. Ada kiriman ke Gadog.”

Istrinya terdiam sebentar.

“Hati-hati ya, Pak. Jangan ngebut.”

“Iya.”

“Kalau ngantuk berhenti.”

“Iya, Bu.”

Pak Ujang tersenyum.

“Sudah, nanti saya kabari kalau sudah sampai.”

Telepon ditutup.

Truk kemudian mulai bergerak meninggalkan tempat pengambilan barang.

Jalanan Jakarta masih cukup ramai. Lampu kendaraan terlihat di mana-mana. Namun semakin jauh dari kota, keadaan perlahan berubah.

Lampu kendaraan mulai jarang.

Jalan semakin gelap.

Udara juga terasa semakin dingin.

Ketika memasuki daerah Bogor, hujan mulai turun.

Awalnya hanya gerimis. Titik-titik air menempel di kaca depan dan Pak Ujang menyalakan wiper.

Srek... srek... srek...

Tidak lama kemudian gerimis berubah menjadi hujan deras.

Pandangan di depannya mulai terbatas.

Pak Ujang memperlambat kendaraan.

“Yah... hujan juga.”

Ia menggenggam kemudi dengan kuat sambil terus memperhatikan jalan.

Beberapa waktu kemudian, ia melihat jalan mulai menanjak.

“Gadog berarti sudah dekat.”

Pak Ujang belum pernah melewati jalur tersebut pada malam hari. Jalan yang sempit dan berkelok membuatnya harus lebih berhati-hati.

Tidak banyak kendaraan yang lewat.

Sesekali hanya ada motor yang melintas.

Selebihnya...

Sepi.

Sangat sepi.

Tanjakan Misterius

Jam menunjukkan hampir pukul satu dini hari.

Hujan semakin deras.

Pak Ujang mulai memasuki kawasan yang lebih gelap. Di kiri dan kanan jalan hanya terlihat pepohonan. Lampu jalan pun tidak terlalu banyak.

Pak Ujang menggenggam kemudi lebih kuat.

“Tinggal sedikit lagi,” gumamnya.

Truk mulai memasuki tanjakan.

Pak Ujang menekan pedal gas.

Mesin terdengar bekerja keras.

Ngunggg...

Namun tiba-tiba truk terasa kehilangan tenaga.

“Eh?”

Pak Ujang langsung menekan gas lebih dalam.

Ngunggg...

Truk masih bergerak, tetapi sangat pelan.

Beberapa meter kemudian ban belakang tiba-tiba selip.

Sret!

Truk bergeser sedikit.

“Waduh!”

Pak Ujang segera mengendalikan kemudi.

Hujan yang sangat deras membuat jalan semakin licin.

Ban kembali berputar tanpa mampu mencengkeram jalan dengan baik.

“Jangan sampai...”

Pak Ujang berusaha mempertahankan kendali.

Tetapi tiba-tiba...

BRR...

Mesin mati.

Suasana langsung hening.

Pak Ujang menghela napas panjang.

Ia mencoba menyalakan kembali.

Clek!

Tidak hidup.

Ia mencoba lagi.

Clek... clek...

Tetap tidak menyala.

“Aduh...”

Pak Ujang memukul pelan setir.

“Jangan sekarang, dong.”

Ia melihat jalan di depannya.

Kosong.

Tidak ada bengkel.

Tidak ada rumah.

Tidak ada warung.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya suara hujan yang terus menghantam jalan.

Brak... brak... brak...

Pak Ujang mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi teman.

Tidak tersambung.

Ia mencoba lagi.

Tetap tidak bisa.

Di layar ponselnya tertulis:

Tidak ada layanan.

“Hah?”

Pak Ujang berdiri dari tempat duduknya dan mengangkat ponsel tinggi-tinggi.

“Sini kek...”

Tidak ada sinyal.

Ia berpindah ke sisi jendela.

Tetap tidak ada.

“Ya Allah...”

Ia mulai panik.

“Bagaimana saya mau minta bantuan?”

Pak Ujang akhirnya duduk kembali.

Di luar hanya terdengar suara hujan.

Namun beberapa saat kemudian, muncul perasaan aneh.

Seolah-olah ada sesuatu yang sedang memperhatikannya.

Pak Ujang perlahan melihat kaca spion.

Kosong.

Ia melihat ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

Ia menelan ludah.

“Jangan macam-macam, Ujang.”

Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Beberapa menit kemudian, dari kejauhan tampak sebuah cahaya.

Terang sekali.

Pak Ujang menyipitkan mata.

“Itu apa?”

Cahaya tersebut terlihat seperti berasal dari sebuah warung.

Perasaan lega langsung muncul.

“Alhamdulillah...”

Pak Ujang mengambil batu besar dari dekat jalan dan mengganjal roda truk agar kendaraan tidak bergerak.

Setelah memastikan semuanya aman, ia menutup pintu kabin lalu berjalan menuju cahaya tersebut.

Semakin dekat, suara-suara mulai terdengar.

Ada suara orang berbicara.

Ada suara piring.

Ada bunyi tusukan sate.

Dan ada aroma daging bakar yang sangat harum.

Pak Ujang tersenyum.

“Berarti memang ada warung.”

Ia mempercepat langkah.

Namun tanpa disadarinya, semakin dekat ia dengan warung itu, suara hujan justru terasa semakin jauh.

Warung yang Tidak Ada

Pak Ujang akhirnya sampai.

Di depannya berdiri sebuah warung sederhana dengan lampu terang.

Pada bagian depan terlihat sebuah spanduk besar.

WARUNG SATE MARANGGI BU YAYAH

Di bawahnya tertulis:

BUKA 24 JAM

Pak Ujang tersenyum lega.

“Wah, untung ada warung.”

Ia melihat sekeliling.

Ada enam meja dan hampir semuanya terisi.

Beberapa orang terlihat seperti sopir truk. Ada juga beberapa pengendara motor.

Pak Ujang masuk.

Anehnya, begitu berada di dalam warung, suasananya terasa sangat berbeda.

Udara mendadak dingin.

Padahal sebelumnya ia berjalan di tengah hujan.

Sekarang tubuhnya justru menggigil.

Pak Ujang memilih duduk.

Belum sempat ia meletakkan tangannya di atas meja, seorang nenek tua datang menghampiri.

Nenek itu mengenakan pakaian sederhana. Wajahnya sudah sangat tua, tetapi senyumnya terlihat ramah.

“Mau pesan apa, Pak?”

“Sate, Nek.”

“Sate berapa?”

“Dua porsi.”

“Minumnya?”

“Teh hangat saja.”

Nenek itu mengangguk.

“Baik.”

Ia kemudian berbalik.

Pak Ujang memperhatikannya.

Langkah nenek tersebut sangat pelan.

Anehya, setiap langkah seperti tidak menimbulkan suara.

Pak Ujang kemudian melihat ke meja sebelah.

Ada seorang sopir sedang makan.

“Bang.”

Sopir itu tidak menjawab.

Pak Ujang mencoba lagi.

“Bang, sering makan di sini?”

Sopir itu perlahan mengangkat kepala.

Matanya terlihat sayu.

Wajahnya pucat.

“Iya...”

Jawabannya sangat pelan.

Pak Ujang bertanya lagi.

“Warung ini baru buka ya?”

Sopir itu berhenti mengunyah.

Tangannya diam.

Ia menatap Pak Ujang selama beberapa detik.

Kemudian kembali makan tanpa menjawab.

Pak Ujang mulai bingung.

Ia melihat orang-orang di meja lain.

Semuanya diam.

Tidak ada yang bercakap-cakap.

Tidak ada yang tertawa.

Mereka hanya makan.

Pelan.

Sangat pelan.

Pak Ujang mulai merasa suasananya tidak biasa.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Pesanannya, Pak.”

Pak Ujang menoleh.

Nenek tadi sudah berdiri di sampingnya.

Dua piring sate diletakkan di atas meja.

Sate Bu Yayah

Pak Ujang memperhatikan sate di depannya.

Potongan dagingnya terlihat besar dengan bumbu yang sangat kental. Aromanya harum dan membuat rasa laparnya semakin terasa.

“Wah... kelihatannya enak.”

Ia mengambil satu tusuk.

Begitu menggigitnya, mata Pak Ujang langsung membesar.

“Enak banget...”

Ia kembali makan.

Dagingnya terasa empuk dengan rasa bumbu yang manis dan gurih.

“Bu...”

Nenek itu menoleh.

“Namanya Bu Yayah ya?”

“Iya.”

“Enak banget sate Ibu.”

Bu Yayah tersenyum.

“Makan saja yang banyak.”

“Iya, Bu.”

Pak Ujang terus makan.

Satu piring habis.

Ia membuka piring kedua.

Habis juga.

Pak Ujang bahkan sempat merasa heran.

“Padahal saya biasanya nggak kuat makan sebanyak ini.”

Ia kemudian minum teh hangat.

Rasa dingin yang sejak tadi dirasakannya perlahan menghilang.

Pak Ujang mengambil uang lima puluh ribu.

“Bu, semuanya berapa?”

“Lima puluh.”

Pak Ujang menyerahkan uang tersebut.

Bu Yayah menerimanya.

“Terima kasih.”

Pak Ujang berdiri.

“Bu, numpang tanya. Bengkel di sekitar sini ada?”

Bu Yayah tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum.

“Nanti mobil Bapak hidup sendiri.”

Pak Ujang tertawa kecil.

“Mana mungkin, Bu.”

Bu Yayah tetap tersenyum.

“Nanti lihat saja.”

Jawaban itu membuat Pak Ujang sedikit heran.

Namun ia tidak terlalu memikirkannya.

Ia kemudian berjalan meninggalkan warung.

Saat hendak keluar, Pak Ujang sempat menoleh.

Semua orang masih makan.

Tetapi ada satu hal yang kembali membuatnya merasa aneh.

Tidak ada satu pun orang yang berbicara.

Semua hanya duduk diam.

Pak Ujang keluar.

Begitu melewati batas warung, suara hujan kembali terdengar sangat keras.

Brraaaakkk...

Pak Ujang menoleh.

Warung itu masih ada.

Lampunya masih menyala.

Ia kemudian berjalan kembali menuju truk.

Mesin yang Hidup Sendiri

Pak Ujang sampai di truk.

Ia memeriksa roda.

Anehya, roda sudah tidak selip.

Ia memeriksa bagian depan.

Tidak terlihat masalah.

Pak Ujang masuk ke kabin.

Ia mencoba menyalakan mesin.

Clek.

Mesin hidup.

Brummm...

Pak Ujang langsung tersenyum.

“Benar kata Bu Yayah.”

Ia bahkan tertawa sendiri.

“Katanya juga nanti hidup sendiri.”

Pak Ujang memasukkan gigi.

Truk mulai bergerak.

Perjalanan kembali dilanjutkan.

Ia tidak lagi memikirkan warung tersebut.

Beberapa jam kemudian, Pak Ujang tiba di tempat tujuan.

Muatan diturunkan.

Pekerjaan selesai.

Setelah itu ia beristirahat.

Pak Ujang belum tahu bahwa cerita sebenarnya baru akan dimulai keesokan paginya.

Jangan Bilang Kamu Makan di Sana

Pagi hari, Pak Ujang bertemu dengan beberapa teman sesama sopir.

“Bang Ujang!”

Pak Ujang menoleh.

“Eh, pagi.”

“Tumben kirim ke Gadog.”

“Iya. Semalam saya ke sini.”

Salah satu temannya tertawa.

“Berani juga lu.”

Pak Ujang bingung.

“Berani apaan?”

“Lewat jalur atas malam-malam.”

Pak Ujang tertawa.

“Memangnya kenapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Ujang kemudian menceritakan kejadian semalam.

“Semalam mobil saya sempat mati.”

“Saya juga nggak dapat sinyal.”

“Untung ada warung.”

Salah satu temannya langsung berhenti minum kopi.

“Warung?”

“Iya.”

“Warung apa?”

“Warung sate.”

Semua tiba-tiba diam.

Pak Ujang mulai heran.

“Kenapa?”

Ia melanjutkan.

“Namanya Warung Sate Maranggi Bu Yayah.”

Seketika salah satu temannya berdiri.

“Jangan bercanda, Bang.”

Pak Ujang mengerutkan kening.

“Saya serius.”

“Lu makan di sana?”

“Iya.”

“Semalam?”

“Iya.”

“Jam berapa?”

“Jam satu lewat.”

Wajah teman-temannya langsung berubah.

Salah satu dari mereka berkata pelan,

“Bang...”

“Kenapa?”

“Di situ nggak ada warung.”

Pak Ujang tertawa kecil.

“Ah, jangan bercanda.”

“Saya serius.”

“Terus yang saya datangi apa?”

Temannya diam beberapa saat.

Kemudian menjawab,

“Pemakaman.”

Pak Ujang langsung terdiam.

“Apa?”

“Di tempat lu bilang itu cuma ada pemakaman.”

“Bukan warung.”

Pak Ujang menelan ludah.

“Tapi saya lihat sendiri.”

“Terang.”

“Ada meja.”

“Ada orang.”

“Ada nenek yang namanya Bu Yayah.”

Temannya menggeleng.

“Justru itu yang bikin orang takut.”

Cerita tentang Bu Yayah

Pak Ujang duduk diam.

Salah satu temannya kemudian mulai bercerita.

“Dulu memang pernah ada penjual sate di daerah itu.”

“Namanya Bu Yayah.”

Pak Ujang langsung menatapnya.

“Serius?”

“Iya.”

“Terus?”

“Katanya dulu Bu Yayah meninggal karena kecelakaan.”

“Ditabrak truk.”

Pak Ujang terdiam.

“Sudah lama?”

“Sangat lama.”

Temannya menarik napas.

“Sejak kejadian itu, beberapa sopir sering melihat warung sate di tempat yang sama.”

“Biasanya muncul tengah malam.”

“Apalagi saat hujan.”

Pak Ujang mulai merinding.

“Terus yang makan di sana?”

Temannya menjawab,

“Katanya bukan cuma lu.”

“Sudah banyak sopir yang mengaku pernah makan di sana.”

Pak Ujang melihat teman-temannya.

“Tapi kenapa orang-orang di warung itu diam semua?”

Salah satu dari mereka menjawab,

“Karena mungkin mereka bukan orang hidup.”

Pak Ujang langsung terdiam.

Temannya melanjutkan,

“Makanya kalau ada sopir melihat warung aneh di sana, biasanya jangan mampir.”

Pak Ujang mengusap wajah.

“Tapi saya benar-benar makan.”

“Dan sate itu enak.”

Temannya hanya mengangguk.

“Itulah yang paling bikin takut.”

“Karena semuanya terasa nyata.”

Pak Ujang tiba-tiba berkata,

“Saya mau lihat tempat itu.”

Temannya terkejut.

“Sekarang?”

“Iya.”

“Ada apa?”

“Saya mau memastikan sendiri.”

Akhirnya seorang teman bersedia menemaninya.

Mereka pun pergi menggunakan motor.

Tempat yang Berubah

Siang hari, mereka tiba di lokasi yang dimaksud.

Pak Ujang turun dari motor dan melihat ke sekeliling.

“Tunggu...”

Ia mencoba mengingat-ingat.

“Di sini.”

Temannya mematikan mesin.

“Benar di sini?”

“Iya.”

Pak Ujang menunjuk ke depan.

“Warungnya ada di sana.”

Namun tidak ada apa-apa.

Hanya tanah.

Pohon.

Dan makam.

Pak Ujang berjalan beberapa langkah.

“Mana warungnya?”

Temannya diam.

“Ini tempatnya, kan?”

“Iya.”

Pak Ujang semakin bingung.

Ia berjalan lebih jauh.

Tidak ada warung.

Tidak ada lampu.

Tidak ada meja.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada spanduk.

Hanya makam-makam tua.

Pak Ujang berdiri lama.

Tangannya mulai dingin.

“Ini nggak mungkin...”

Temannya kemudian menunjuk sesuatu.

“Bang.”

“Apa?”

“Itu.”

Pak Ujang menoleh.

Di dekat salah satu makam terdapat dua tusuk sate.

Sate itu sudah gosong.

Pak Ujang perlahan mendekat.

Wajahnya langsung pucat.

“Itu...”

Temannya bertanya,

“Apa?”

Pak Ujang menunjuk sate tersebut.

“Itu sate yang semalam saya makan.”

Temannya tidak menjawab.

Di sebelah sate itu terdapat uang lima puluh ribu rupiah.

Pak Ujang langsung mundur.

“Demi Allah...”

Kakinya terasa lemas.

Warung yang Tutup Selamanya

Pak Ujang kembali menatap makam tersebut.

Ia tidak berani menyentuh apa pun.

Pikirannya berputar.

Ia teringat suara Bu Yayah.

Ia kembali membayangkan wajah nenek tua itu.

Ia juga teringat para sopir yang duduk diam di dalam warung.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Tiba-tiba Pak Ujang berkata,

“Kita pulang.”

Temannya mengangguk.

Mereka segera menaiki motor.

Sebelum pergi, Pak Ujang sempat menoleh sekali lagi.

Makam itu tetap sunyi.

Tidak ada warung.

Tidak ada orang.

Tidak ada lampu.

Tetapi entah kenapa...

Untuk sesaat Pak Ujang merasa melihat bayangan seorang nenek berdiri di antara makam.

Ia mengedipkan mata.

Bayangan itu hilang.

“Bang...”

Temannya sudah memanggil.

“Ayo.”

Pak Ujang langsung pergi.

Motor melaju meninggalkan tempat tersebut.

Sejak hari itu, Pak Ujang tidak pernah lagi mau melewati jalur Gadog pada tengah malam.

Terutama ketika hujan turun deras.

Teman-temannya juga selalu mengingatkannya.

“Jangan pernah berhenti di tempat itu lagi.”

Pak Ujang selalu mengangguk.

Namun ada satu hal yang sampai sekarang tidak pernah bisa ia lupakan.

Malam itu, sebelum meninggalkan warung, Bu Yayah sempat berkata:

“Nanti mobil Bapak hidup sendiri.”

Dan benar.

Mobilnya hidup sendiri.

Seolah-olah seseorang memang sengaja membantu Pak Ujang agar bisa meninggalkan tempat tersebut.

Pak Ujang tidak tahu apa yang akan terjadi apabila malam itu ia tidak pergi.

Ia juga tidak pernah tahu siapa sebenarnya orang-orang yang duduk di enam meja tersebut.

Namun sejak malam itu, setiap kali mendengar suara hujan deras di tengah malam, Pak Ujang selalu teringat satu nama:

Warung Sate Maranggi Bu Yayah.

Warung yang muncul di tengah malam.

Warung yang ramai.

Warung yang menyajikan sate paling enak yang pernah ia makan.

Tetapi...

warung itu sebenarnya tidak pernah ada.

Bagikan Cerita

Komentar

Daftar Bab