Sinopsis
Rama sudah lama merantau di Jakarta untuk mencari rezeki. Namun ketika usianya menginjak 25 tahun, ia memutuskan pulang ke kampung halamannya di Kinahrejo, dekat lereng Gunung Merapi.
Sejak kecil Rama diasuh oleh kakeknya, Mbah Suro, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia akibat letusan Merapi. Kepulangannya ternyata bukan tanpa alasan. Ia harus mengurus rumah peninggalan orang tuanya sekaligus menemani kakeknya.
Rama kemudian memilih menjadi konten kreator. Keinginannya mendapatkan perhatian penonton membuatnya mengambil sebuah bongkahan batu dari lereng Merapi, meskipun sebelumnya Mbah Suro sudah memperingatkannya agar tidak mengambil apa pun dari gunung.
Sejak membawa batu itu pulang, berbagai kejadian aneh mulai terjadi.
Dan ketika Rama akhirnya memutuskan mengembalikan batu tersebut, perjalanan menuju lereng Merapi justru menjadi perjalanan terakhirnya.
Pulang ke Kinahrejo
Ada seorang pemuda bernama Rama.
Selama bertahun-tahun ia hidup merantau di Jakarta untuk mencari rezeki.
Namun ketika usianya menginjak 25 tahun, Rama tiba-tiba memutuskan pulang ke kampung halamannya.
Kampung itu berada di Kinahrejo, dekat dengan lereng Gunung Merapi.
Tidak ada yang benar-benar tahu alasan Rama ingin kembali.
Mungkin ia lelah dengan kehidupan di kota.
Mungkin ia hanya ingin beristirahat.
Atau mungkin ada sesuatu yang membuat hatinya terus mengingat rumah.
Sejak kecil, Rama memang tidak tumbuh bersama kedua orang tuanya.
Ketika usianya baru lima tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia akibat letusan Gunung Merapi.
Rama menjadi satu-satunya yang selamat.
Sejak saat itu ia diasuh oleh nenek dan kakeknya.
Waktu terus berjalan.
Neneknya kemudian meninggal dunia.
Setelah itu Rama memilih merantau dan bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan kakeknya, Mbah Suro.
Namun semakin lama hidup di Jakarta, Rama semakin sering teringat kepada kakeknya.
Akhirnya ia pulang.
Sesampainya di kampung, Rama baru mengetahui bahwa kepulangannya memang sudah ditunggu Mbah Suro.
Ada hal penting yang harus dibicarakan.
Rama ternyata masih memiliki rumah peninggalan kedua orang tuanya.
Rumah tersebut merupakan bagian dari warisan keluarganya dan harus diurus.
Mau tidak mau, Rama menyetujui untuk tinggal di kampung dan merawat rumah peninggalan orang tuanya.
Namun keputusan itu membuat sebagian warga merasa heran.
Bahkan beberapa di antara mereka merasa takut.
Rumah tersebut berada tidak jauh dari petilasan Mbah Marijan.
Banyak orang mengatakan bahwa kawasan itu bukan tempat yang bisa diperlakukan sembarangan.
Tetapi Rama tidak terlalu memikirkannya.
Baginya, semua itu hanyalah tahayul.
Mbah Suro dan Larangan Gunung
Karena sudah tidak memiliki pekerjaan di Jakarta, Rama mulai memikirkan cara agar tetap bisa mendapatkan penghasilan.
Ia akhirnya memutuskan menjadi konten kreator.
Apa pun yang menurutnya menarik bisa dijadikan bahan konten.
Ia mulai membuat video, mengambil gambar, dan mengunggahnya secara rutin.
Hari demi hari, penontonnya bertambah.
Jangkauan videonya semakin luas.
Rama mulai merasa pilihan menjadi konten kreator mungkin memang keputusan yang tepat.
Namun Mbah Suro sering mengingatkannya agar tidak melupakan adat dan larangan yang berlaku di sekitar gunung.
Suatu hari Mbah Suro berkata,
“Ndookk... walaupun kamu orang sini asli, tapi kamu harus tahu apa larangan yang ada di gunung ini ya, Ndok.”
Rama hanya tertawa.
“Memangnya apa sih, Mbah, yang dilarang di kampung kita?”
Mbah Suro merasa cucunya belum benar-benar percaya.
Ia kemudian menjelaskan satu per satu.
“Jangan pernah naik ke puncak pas Jumat Kliwon.”
Rama diam.
“Jangan ambil apa pun, walaupun cuma batu.”
Rama masih mendengarkan.
“Kalau dengar suara gamelan, jangan pernah menjawab ataupun menyahut.”
Rama hanya mengangguk sambil menahan tawa.
Di dalam hatinya ia berkata,
Paling juga cuma mitos.
Mbah Suro hanya bisa menghela napas.
Ia tahu Rama memang sulit diyakinkan.
Konten yang Semakin Viral
Rama semakin aktif membuat konten.
Semakin hari penontonnya bertambah.
Ia mulai dikenal oleh banyak orang.
Tidak sedikit yang kemudian meminta Rama membuat konten tentang suasana di atas lereng Merapi.
“Bang, coba bikin konten dari atas.”
“Coba lihat keadaan puncaknya.”
“Naik sekalian, Bang.”
Komentar-komentar seperti itu terus berdatangan.
Rama membacanya dengan senang.
Dalam pikirannya muncul satu hal.
Kalau ia berhasil membuat konten dari atas lereng, mungkin videonya akan menjadi viral.
Kesempatan itu terasa terlalu sayang untuk dilewatkan.
Rama mulai mempersiapkan perjalanan.
Namun sebelum berangkat, ia sempat teringat pesan Mbah Suro.
Jangan naik saat Jumat Kliwon.
Jangan mengambil apa pun.
Jangan menyahut ketika mendengar gamelan.
Rama kembali mengabaikannya.
Baginya, keberhasilan konten jauh lebih penting.
Ia ingin membuktikan bahwa tempat yang dianggap menakutkan oleh banyak orang sebenarnya bisa menjadi bahan konten yang menarik.
Batu dari Lereng Merapi
Rama akhirnya mendaki.
Ia terus berjalan menuju bagian atas lereng.
Setelah sampai, ia mulai merekam suasana di sekelilingnya.
Kamera diarahkan ke pemandangan.
Kemudian Rama mulai mengambil gambar batu-batu yang berada di atas lereng.
Sampai matanya tertuju pada sebuah bongkahan batu.
Bentuknya menarik.
Rama mendekat.
Ia mulai merekam batu tersebut sambil menjelaskan bentuknya kepada para penonton.
Tak hanya mengambil gambar, Rama juga mengangkat bongkahan itu.
Ia membawanya pulang.
Konten tersebut kemudian diunggah.
Tidak disangka, video Rama mendapatkan perhatian besar.
Penontonnya terus bertambah.
Jutaan orang menontonnya.
Banyak yang menyukai dan membicarakan video tersebut.
Rama sangat senang.
Ia merasa keputusannya membawa batu itu pulang ternyata memberikan hasil yang tidak pernah dibayangkannya.
Dalam kegembiraannya, Rama lupa satu hal.
Batu itu seharusnya tidak ia bawa pulang.
Peringatan Mbah Suro
Saat Rama berjalan pulang dengan membawa bongkahan batu tersebut, ia berpapasan dengan Mbah Suro.
Pandangan Mbah Suro langsung tertuju pada benda yang ada di tangan cucunya.
“Rama... itu batu apa, Ndook?”
Rama tersenyum santai.
“Batu biasa, Mbah.”
Mbah Suro semakin mendekat.
“Kamu ambil dari mana?”
“Dari atas puncak lereng, Mbah.”
Wajah Mbah Suro seketika berubah.
“Ya Robbi, Rama...”
Ia terlihat panik.
“Cepat kembalikan lagi ke tempatnya sebelum terjadi apa-apa dengan kamu.”
Rama masih belum memahami kekhawatiran kakeknya.
“Besok pagi saja, Mbah.”
“Sekarang!”
“Rama capek. Mau istirahat.”
Rama melihat batu tersebut.
“Lagian cuma batu, Mbah.”
Mbah Suro tidak bisa lagi memaksa.
Ia hanya terdiam dan pasrah melihat cucunya membawa batu itu masuk ke rumah.
Sejak saat itu, kejadian aneh mulai terjadi.
Suara dari Gunung
Dua hari berlalu.
Rama mulai merasa ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya suara Mbah Suro selalu terdengar setiap hari.
Kakeknya sering memanggil.
Sering menyuruh Rama mengurus kambing.
Sering pula memberikan berbagai nasihat.
Namun sejak Rama pulang membawa batu dari lereng, Mbah Suro seolah semakin jarang terlihat.
Rama mulai merasa khawatir.
Ia kemudian pergi ke rumah kakeknya.
Sesampainya di sana, halaman terlihat sepi.
Tidak ada Mbah Suro.
Kambing yang biasanya sudah diberi makan masih terikat.
Rama semakin panik.
Pintu rumah masih tertutup rapat.
Ia langsung membuka pintu.
Brukkkk!
“Mbah...”
“Simbaaaah!”
“Ini Rama!”
Di dalam rumah, Mbah Suro sudah terbaring lemas di lantai.
Tangannya terulur kepada Rama.
Rama langsung menghampiri dan merangkul kakeknya.
“Mbah... Mbah kenapa?”
“Simbah sakit?”
“Kenapa nggak bilang aku, Mbah?”
Mbah Suro menoleh.
Dengan suara lemah, ia membisikkan sesuatu kepada Rama.
“Kowe wis ditandhani...”
Rama terdiam.
“Sing mbaureksa njaluk baline.”
Rama menatap kakeknya.
Mbah Suro lalu menjelaskan maksudnya.
Rama sudah ditandai oleh penunggu gunung Merapi.
Dan ada sesuatu yang meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukannya.
Rama mulai ketakutan.
Karena sebenarnya sejak membawa batu itu pulang, ia memang sudah mengalami berbagai kejadian aneh.
Gamelan di Tengah Malam
Pada malam-malam tertentu, Rama mulai mendengar suara gamelan.
Awalnya samar.
Kemudian semakin jelas.
Suara itu terdengar dari kejauhan.
Padahal tidak ada acara apa pun di sekitar rumah.
Rama teringat pesan Mbah Suro.
Kalau mendengar suara gamelan, jangan menjawab atau menyahut.
Ia memilih diam.
Namun suara itu tidak berhenti.
Selain gamelan, Rama juga mulai mendengar suara ketukan dari kaca jendela.
Tok... tok... tok...
Rama memberanikan diri melihat.
Namun yang terlihat hanya sebuah sosok besar berdiri di luar.
Tubuhnya seperti memakai jubah hitam.
Wajahnya tidak terlihat.
Karena...
sosok itu tidak memiliki kepala.
Rama langsung mundur.
Sejak saat itu ia tidak berani keluar kamar.
Bahkan pada siang hari sekalipun.
Barulah Rama mulai menyadari bahwa semua kejadian tersebut mungkin berawal dari satu hal.
Batu yang ia bawa pulang dari lereng Merapi.
Mengembalikan Batu
Rama akhirnya mengambil keputusan.
Ia harus mengembalikan batu tersebut.
Apa pun yang terjadi.
Malam Jumat itu, Rama berpamitan kepada Mbah Suro.
“Mbah, Rama mau mengembalikan batu itu.”
Mbah Suro hanya memandang cucunya.
“Kamu yakin?”
Rama mengangguk.
“Saya yang mengambil. Saya juga yang harus mengembalikan.”
Mbah Suro tidak mampu melarang lagi.
Rama membawa senter.
Tidak ada teman.
Tidak ada siapa-siapa yang menemaninya.
Ia mendaki sendirian.
Malam semakin gelap.
Jalur menuju lereng terasa semakin sunyi.
Namun baru beberapa saat berjalan, Rama merasa seperti ada sesuatu yang mengikutinya.
Ia mendengar suara langkah.
Kadang dari belakang.
Kadang dari samping.
Ketika menoleh, tidak ada siapa-siapa.
Namun semakin jauh ia berjalan, semakin banyak sesuatu yang terasa mengikuti.
Sesekali Rama melihat bayangan kecil berbulu.
Bentuknya mengingatkan pada sosok seperti genderuwo kerdil.
Namun Rama terus berjalan.
Ia sudah memiliki tekad.
Ia tidak boleh kembali sebelum batu itu dikembalikan.
Lereng yang Mendadak Sunyi
Gunung Merapi sudah lama mengalami erupsi.
Abu dan lahar panas pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Namun malam itu terasa berbeda.
Gunung seolah-olah diam.
Tidak terdengar gemuruh.
Tidak terasa getaran.
Suasana justru terlalu sunyi.
Rama terus mendaki.
Senter menjadi satu-satunya sumber cahaya yang membantunya melihat jalan.
Ia memegang erat batu yang dibawanya.
Dalam pikirannya hanya ada satu tujuan.
Mengembalikan batu tersebut ke tempat semula.
Tidak peduli apa yang menunggunya di atas.
Tidak peduli berapa banyak suara yang terdengar.
Rama terus berjalan.
Semakin tinggi.
Semakin jauh.
Sampai akhirnya sosok Rama tidak lagi terlihat oleh siapa pun.
Lima Hari Tanpa Rama
Hari pertama berlalu.
Rama tidak pulang.
Hari kedua.
Tetap tidak ada kabar.
Mbah Suro mulai gelisah.
Para warga kemudian membantu mencari.
Jalur-jalur di sekitar lereng diperiksa.
Namun Rama tidak ditemukan.
Hari ketiga berlalu.
Hari keempat.
Tetap tidak ada kabar.
Sampai lima hari kemudian, para pencari hanya menemukan satu benda.
Sebuah lampu senter.
Senter milik Rama tertinggal tidak jauh dari lereng gunung.
Tidak ada jejak lain yang bisa menjelaskan ke mana ia pergi.
Mbah Suro masih menunggu.
Setiap hari ia duduk memandang ke arah puncak Merapi.
Berharap cucunya kembali.
Tetapi Rama tidak pernah terlihat lagi.
Penjaga Keseimbangan Gunung
Mbah Suro kemudian menatap ke arah puncak gunung.
Dengan suara penuh kesedihan, ia berkata,
“Hujan debu dan getaran bumi tidak akan datang lagi.”
“Semua warga akan tenang.”
“Dan Rama, cucuku... kamu sudah berhasil naik dan mengembalikan batu itu ke tempatnya.”
Mbah Suro berhenti.
Matanya berkaca-kaca.
“Namun sayang, kamu tidak berhasil kembali.”
“Kamu harus mau menjadi pengganti dan penjaga Gunung Merapi di sana.”
“Maafin Simbah ya, Ndok.”
“Simbah tidak bisa berbuat apa-apa buatmu.”
Sejak saat itu berkembang cerita bahwa Rama telah diambil oleh Eyang Sapu Jagad.
Konon, Rama harus bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
Batu yang diambil Rama dipercaya bukan sekadar batu biasa.
Batu tersebut dianggap sebagai bagian penting dari keseimbangan gunung.
Karena itu, setelah mengembalikannya, Rama dipercaya harus menggantikan tugas yang selama ini dijaga oleh kekuatan yang berada di gunung.
Ia tidak kembali ke kampung.
Tidak kembali menemui Mbah Suro.
Tidak pernah lagi terlihat oleh warga.
Namun sejak saat itu, cerita tentang Rama terus hidup.
Konon, ia tidak benar-benar hilang.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari seorang pemuda yang mengejar viralitas menjadi seseorang yang dipercaya harus menjaga keseimbangan Gunung Merapi.
Dan setiap kali warga mengingat cerita tersebut, mereka juga mengingat pesan Mbah Suro:
jangan pernah mengambil apa pun dari gunung, meskipun hanya sebuah batu.
Karena kita tidak pernah tahu...
mungkin sesuatu yang terlihat sederhana ternyata memiliki tempat dan tujuan yang jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.