Lewati ke konten
Dewi dan Kevin: Ketika Persahabatan Menjadi Rumah

Dewi dan Kevin: Ketika Persahabatan Menjadi Rumah

0Dibaca 0Bab
Mulai Baca

Sinopsis

Di tengah kehidupan kampus yang ramai, Dewi justru memilih menjalani hari-harinya dalam kesendirian.

Sejak kedua orang tuanya meninggal, hidup Dewi berubah drastis. Rumah dan harta peninggalan keluarganya dikuasai oleh paman-pamannya, sementara ia harus bertahan sendiri, membiayai kuliah, dan menghadapi cemoohan sebagai gadis culun serta kutu buku.

Dewi akhirnya membangun jarak dengan semua orang karena takut kembali dimanfaatkan.

Sampai Kevin datang.

Pemuda yang awalnya dikenal malas itu justru menjadi satu-satunya orang yang terus bertahan di sisi Dewi tanpa meminta apa pun. Persahabatan mereka perlahan mengubah keduanya.

Namun ketika Raka, mahasiswa baru yang percaya diri, hadir dan mulai dekat dengan Dewi, Kevin sadar bahwa perasaannya ternyata sudah jauh melampaui persahabatan.

Di saat yang sama, sebuah fakta tentang harta peninggalan orang tua Dewi membuka jalan menuju babak baru dalam hidupnya.

Kesendirian Dewi

Langkah-langkah mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor kampus tidak pernah benar-benar menarik perhatian Dewi.

Gadis itu hampir selalu berjalan dengan kepala sedikit menunduk sambil memeluk buku-buku tebal di dadanya.

Bagi Dewi, buku bukan sekadar bahan kuliah.

Buku adalah tempat ia merasa aman.

Di fakultasnya, Dewi dikenal sebagai salah satu mahasiswa dengan prestasi akademik tertinggi. Namun prestasi itu tidak membuat hidupnya menjadi lebih mudah.

Ia tetap menjadi sasaran bisik-bisik.

Ada yang menyebutnya kutu buku.

Ada yang menganggapnya culun.

Ada juga yang merasa Dewi terlalu sulit diajak bergaul.

Dewi sebenarnya mengetahui semuanya.

Namun ia memilih diam.

Baginya, kesendirian jauh lebih nyaman daripada kembali membuka pintu untuk orang-orang yang hanya datang ketika membutuhkan sesuatu.

Pengalaman itu sudah terlalu sering terjadi.

Ketika ujian tiba, banyak mahasiswa mendekatinya untuk meminta bantuan.

Ketika tugas sulit, mereka mencarinya.

Tetapi setelah semuanya selesai, Dewi kembali ditinggalkan.

Karena itu Dewi berhenti berharap.

Ia memilih menghabiskan waktu di perpustakaan, taman kampus, atau sudut-sudut gedung yang sepi.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sikap dinginnya, Dewi sebenarnya hanya sedang berusaha melindungi dirinya sendiri.

Luka yang Tidak Pernah Selesai

Beban hidup Dewi jauh lebih berat daripada tumpukan buku yang setiap hari dibawanya.

Dulu ia adalah anak tunggal yang tumbuh dalam keluarga berkecukupan.

Rumahnya penuh kenangan.

Orang tuanya menyayanginya.

Semuanya berubah ketika kecelakaan merenggut kedua orang tuanya.

Dewi yang masih sangat muda harus menghadapi kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Namun penderitaannya belum selesai.

Setelah kedua orang tuanya meninggal, paman-pamannya mengambil alih rumah dan aset peninggalan keluarga.

Dewi yang masih terpukul akhirnya terusir dari rumah masa kecilnya.

Ia kemudian tinggal di sebuah rumah petak sempit di gang kecil.

Untuk tetap kuliah, Dewi harus berjuang sendiri.

Salah satu kenangan paling pahit dalam hidupnya terjadi ketika ia datang menemui salah seorang pamannya.

Dengan mata yang masih basah, Dewi meminta bantuan untuk biaya kuliah.

Namun jawabannya justru membuatnya semakin terluka.

“Sana kamu pulang! Om nggak punya uang... Kamu tahu kan, uang Om sudah diinvestasikan? Jadi Om sudah nggak punya uang lagi buat kamu!”

Dewi hanya diam.

Ia menahan tangis.

Hari itu ia membuat keputusan.

Ia tidak ingin lagi bergantung kepada keluarga yang seharusnya menjadi tempat berlindungnya.

Kalau harus bekerja lebih keras, ia akan melakukannya.

Kalau harus hidup sederhana, ia akan menjalaninya.

Yang penting, ia tidak perlu kembali mengemis kasih sayang dari orang-orang yang telah mengecewakannya.

Sejak saat itu, Dewi membangun benteng yang kuat di sekeliling hatinya.

Kevin Datang

Suatu sore, Dewi duduk sendirian di bangku taman kampus.

Sebuah buku terbuka di tangannya.

Ia sedang membaca ketika sebuah bayangan menutupi cahaya matahari di hadapannya.

“Hei...!”

Dewi mengangkat kepala.

Seorang pemuda berdiri di depannya.

Rambutnya agak berantakan.

Senyumnya lebar.

Dan wajahnya sama sekali tidak terlihat canggung.

“H-hei... Kenalin, aku Kevin, mahasiswa paling ganteng yang kuliah di sini!”

Dewi menatapnya datar.

Tidak ada jawaban.

Kevin justru tertawa.

“Kok kamu nggak jawab?”

Dewi kembali menundukkan wajahnya ke buku.

“Aku nyamperin kamu bukan mau minta dibikinin tugas kok.”

Kevin kemudian duduk di sebelahnya.

“Aku cuma mau ngajak temenan.”

Dewi langsung menutup bukunya.

“Kenapa sih kamu?”

Kevin mengerutkan kening.

“Mau apa lagi?”

“Tugas mana yang harus aku kerjain?”

“Hah?”

“Sini bukunya.”

Kevin langsung mengibaskan tangan.

“Ehh... enak aja! Aku bukan mau numpang nugas.”

Dewi menatapnya.

“Aku nggak mau berteman.”

Ia kemudian membereskan barang-barangnya dan berdiri.

Kevin ikut berdiri.

Dewi berjalan menuju gedung kuliah.

Beberapa langkah kemudian ia sadar Kevin masih mengikutinya.

“Kamu mau ke mana sih?”

“Ngikut kamu.”

“Aku kan sudah bilang, aku nggak mau berteman sama kamu!”

Kevin tersenyum.

Dewi berhenti.

“Pergi sana!”

Suara Dewi mulai bergetar.

Air matanya hampir jatuh.

Untuk pertama kalinya Kevin berhenti bercanda.

Ia menatap mata Dewi yang berkaca-kaca.

“Galak amat jadi cewek.”

Dewi diam.

Kevin melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Nggak baik buat kesehatan. Nanti cepat tua.”

Dewi hampir kesal lagi.

Namun Kevin kemudian berkata,

“Aku tetap mau berteman.”

Ia tersenyum.

“Dan bakal ngikutin kamu ke mana pun.”

“Titik.”

Dewi terdiam.

Entah mengapa, kalimat sederhana itu terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang memilih tetap tinggal.

Bukan karena nilai.

Bukan karena tugas.

Bukan karena kepintarannya.

Tapi karena ingin menjadi teman.

Benteng yang selama ini dibangun Dewi mulai retak.

Persahabatan yang Mengubah Mereka

Sejak hari itu, Kevin benar-benar menepati ucapannya.

Dewi yang awalnya tidak ingin berteman akhirnya perlahan membiarkannya masuk ke dalam kehidupannya.

Anehnya, kehadiran Kevin justru membawa perubahan besar.

Kevin sebelumnya dikenal sebagai mahasiswa yang malas.

Ia sering menunda tugas dan tidak terlalu peduli dengan nilai.

Namun setelah sering bersama Dewi, kebiasaan itu mulai berubah.

Kevin mulai datang ke perpustakaan.

Awalnya hanya karena ingin menemani Dewi.

Lama-kelamaan ia benar-benar mulai belajar.

Dewi sering membantunya memahami materi kuliah.

Kevin juga mulai membaca jurnal, mencatat materi, dan mengerjakan tugas dengan lebih serius.

Perubahannya bahkan membuat teman-teman satu angkatan terkejut.

Nilai Kevin meningkat.

Ia mulai aktif berdiskusi.

Ia tidak lagi dikenal hanya sebagai mahasiswa pemalas.

Bagi Dewi, perubahan Kevin juga membuktikan sesuatu.

Tidak semua orang yang datang ke hidupnya memiliki niat tersembunyi.

Ada orang yang bisa hadir tanpa meminta imbalan apa pun.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dewi merasa memiliki seseorang yang bisa ia percaya.

Raka Datang

Siang itu, Dewi dan Kevin sedang belajar di perpustakaan.

Tumpukan buku dan laptop memenuhi meja mereka.

Kemudian seorang pemuda mendekat.

Ia terlihat seperti mahasiswa baru.

Jaket kampusnya masih tampak baru.

Senyumnya percaya diri.

“Hai, Dewi.”

Dewi mengangkat kepala.

“Aku Raka, mahasiswa baru.”

Kevin ikut menatap.

“Katanya kamu mahasiswi paling jenius di sini, ya?”

Dewi tersenyum tipis.

“Oh, Raka. Halo.”

Ia menyambut uluran tangan Raka.

Gerakan sederhana itu cukup untuk membuat Kevin terdiam.

Kevin sudah terbiasa melihat Dewi bersikap dingin kepada orang baru.

Namun kali ini berbeda.

Dewi justru terlihat cukup ramah.

Raka kemudian berbincang dengan Dewi tentang kuliah.

Kevin mulai merasa tidak nyaman.

Semakin lama ia mendengarkan percakapan mereka, semakin sulit baginya menahan perasaan.

Ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Kenapa ia merasa terganggu?

Kenapa ia merasa takut Dewi dekat dengan orang lain?

Dan mengapa perhatian Dewi kepada Raka membuat dadanya terasa sesak?

Cemburu

Ketika Raka menawarkan untuk mengantar Dewi pulang, Kevin akhirnya tidak mampu lagi menahan diri.

“Ehh! Apa-apaan nih?”

Dewi menoleh.

Kevin berdiri.

“Dewi, kamu nggak sadar?”

Raka memperhatikannya.

“Orang seperti dia dekat sama kamu pasti cuma mau cari perhatian atau memanfaatkan kepintaran kamu!”

Raka tetap tenang.

“Aku cuma mau berteman.”

“Teman?”

Raka mengangguk.

“Aku mahasiswa baru. Aku tahu prestasi Dewi. Aku memang kagum dan ingin mengenalnya.”

Kevin mendengus.

Dewi justru terdiam.

Raka kemudian menatapnya.

“Nanti pulangnya diantar siapa? Kalau boleh, aku yang antar.”

“Nggak usah!” potong Kevin.

Dewi menatapnya.

“Dewi pulangnya sama aku.”

“Kita masih punya tugas.”

Kalimat itu terdengar seperti alasan.

Dewi tahu.

Kevin tahu.

Bahkan Raka juga mungkin tahu.

Dewi lalu berkata,

“Raka, tunggu di parkiran.”

Kevin langsung terdiam.

Badai di Parkiran

Setelah keluar dari perpustakaan, Kevin masih belum bisa menerima keputusan Dewi.

Ketika melihat Dewi berjalan bersama Raka menuju parkiran, ia langsung memanggil.

“Dewi!”

Dewi berhenti.

Kevin berjalan mendekat.

“Turunkan helm itu.”

Dewi mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Kevin kemudian menoleh kepada Raka.

“Lo mahasiswa baru. Lo nggak tahu apa-apa tentang Dewi.”

Raka tetap tenang.

“Gue rasa lo salah paham.”

“Gue nggak suka cara lo mendekatinya.”

Raka menarik napas.

“Gue nggak punya niat buruk.”

Ia menatap Kevin.

“Kalau cara lo melindungi Dewi justru membuat dia tidak bebas memilih, itu bukan peduli namanya.”

Kevin hendak menjawab.

Namun Dewi lebih dulu bicara.

“Cukup, Kevin.”

Kevin terdiam.

Dewi menatapnya lurus.

“Sejak kapan kamu punya hak mengatur siapa yang boleh bicara atau pulang denganku?”

Kevin tidak menjawab.

“Kamu sahabatku.”

Nada suara Dewi lebih lembut.

“Dan aku sangat menghargai kamu.”

Ia berhenti.

“Tapi kamu bukan pemilik hidupku.”

Kalimat itu menghantam Kevin.

Ia tiba-tiba sadar.

Dalam rasa takut kehilangan, ia sudah bertindak seperti orang-orang yang selama ini berusaha mengendalikan Dewi.

Dewi kemudian menatap Raka.

“Terima kasih atas tawarannya. Tapi sore ini aku pulang naik angkutan umum saja.”

Raka mengangguk.

“Baik.”

Ia kemudian pergi.

Kevin hanya berdiri diam.

Untuk pertama kalinya ia sadar bahwa perasaannya kepada Dewi sudah tidak bisa disebut sekadar persahabatan.

Pengakuan Kevin

Keesokan harinya, Dewi kembali duduk di taman.

Tempat itu mengingatkannya pada pertama kali Kevin datang kepadanya.

Tidak lama kemudian Kevin muncul.

Kali ini ia tidak membawa senyum jahilnya.

Di tangannya terdapat dua botol teh melati.

“Boleh aku duduk?”

Dewi menggeser tasnya.

“Duduklah.”

Kevin duduk.

Beberapa saat mereka hanya diam.

Kemudian Kevin berkata,

“Aku minta maaf.”

Dewi menatapnya.

“Kemarin aku keterlaluan.”

Kevin menarik napas.

“Aku nggak berhak mengatur hidup kamu.”

Dewi terdiam.

“Kenapa kamu sampai seperti itu?”

Kevin meremas tangannya sendiri.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Aku takut kehilangan kamu.”

Dewi menatapnya.

Kevin akhirnya berani mengatakan apa yang selama ini disimpannya.

“Aku nggak lagi menganggap kamu cuma sebagai sahabat.”

Dewi membeku.

“Aku jatuh cinta sama kamu.”

Taman terasa sangat sunyi.

Kevin menundukkan kepala.

“Aku tahu mungkin aku belum pantas.”

“Aku juga tahu hidup kamu sudah terlalu banyak memberi luka.”

“Tapi aku ingin kamu tahu satu hal.”

“Aku nggak akan memaksa kamu menjawab sekarang.”

“Aku cuma ingin kamu tahu kalau perasaanku benar-benar ada.”

Dewi menatapnya lama.

Ada rasa hangat yang muncul dalam dirinya.

Namun ada juga ketakutan.

Ia takut cinta akan berakhir seperti hubungan lain yang pernah menghancurkan hidupnya.

“Kevin...”

Suaranya pelan.

“Aku takut kalau hubungan ini justru membuatku kehilangan sahabat satu-satunya.”

Kevin tersenyum.

“Aku tidak akan memaksa.”

“Aku akan menunggu.”

Jejak Masa Lalu Dewi

Dua hari kemudian, Raka kembali menemui Dewi dan Kevin.

Kali ini ia membawa sebuah map.

“Aku datang bukan untuk membahas kejadian kemarin.”

Dewi memandangnya.

“Lalu?”

Raka membuka map itu.

“Aku menemukan sesuatu yang berkaitan dengan cerita kamu tentang rumah dan warisan orang tuamu.”

Dewi langsung serius.

Raka menjelaskan bahwa ia pernah membicarakan persoalan tersebut dengan keluarganya dan menemukan dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan rumah serta tanah peninggalan orang tua Dewi.

Menurut dokumen yang diperlihatkannya, ada kejanggalan pada proses peralihan hak yang selama ini membuat Dewi kehilangan rumah.

Raka mengatakan bahwa dokumen tersebut dapat menjadi dasar untuk menelusuri kembali hak Dewi.

Dewi membaca halaman demi halaman dengan tangan gemetar.

Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya tidak mempunyai kekuatan untuk melawan.

Kini, untuk pertama kalinya, ada kemungkinan bahwa semua yang selama ini dirampas darinya masih bisa diperjuangkan.

Kevin menggenggam tangan Dewi.

“Kamu nggak sendirian.”

Raka mengangguk.

“Aku kenal orang-orang yang bisa membantu mencari pendampingan hukum.”

Dewi menarik napas panjang.

“Aku siap.”

Bukan karena ia ingin membalas dendam.

Ia hanya ingin memperjuangkan haknya.

Menghadapi Keluarga

Beberapa waktu kemudian, Dewi kembali mendatangi rumah masa kecilnya bersama Kevin, Raka, dan pendamping hukum.

Pintu terbuka.

Om Surya muncul.

Wajahnya langsung berubah ketika melihat Dewi.

“Mau apa kamu ke sini lagi?”

Dulu suara seperti itu mungkin sudah cukup membuat Dewi takut.

Namun kali ini tidak.

“Aku datang untuk membicarakan rumah dan aset peninggalan orang tuaku.”

Surya tertawa.

“Sudah Om bilang, jangan menginjakkan kaki di sini lagi.”

Dewi tetap berdiri tegak.

“Aku tidak datang untuk mengemis.”

Ia menatap pamannya.

“Aku datang untuk memperjuangkan hak yang selama ini aku percaya telah diambil dariku.”

Pendamping hukum yang ikut bersamanya kemudian menjelaskan dokumen-dokumen yang perlu diperiksa kembali serta langkah hukum yang tersedia.

Paman-paman Dewi akhirnya menghadapi persoalan yang selama bertahun-tahun tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Dewi tidak lagi menangis.

Ia juga tidak berteriak.

Ia hanya mengatakan,

“Kalian bisa mengambil rumah ini dariku.”

“Tapi kalian tidak bisa mengambil keberanianku untuk memperjuangkan hidupku.”

Untuk pertama kalinya, Dewi berdiri di hadapan keluarganya tanpa merasa lebih kecil.

Fajar Baru

Proses penyelesaian sengketa kemudian berjalan.

Dalam perjalanan itu, Dewi mulai menyadari bahwa apa yang paling ia inginkan sebenarnya bukan sekadar sebuah rumah.

Ia ingin mendapatkan kembali kendali atas hidupnya sendiri.

Ketika akhirnya urusan tersebut mulai menemui jalan keluar, Dewi kembali masuk ke rumah masa kecilnya.

Ia berdiri lama di ruang tamu.

Kenangan masa kecil kembali datang.

Namun kali ini kenangan tersebut tidak lagi terasa seperti luka.

Kevin berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Kamu berhasil.”

Dewi mengusap air matanya.

“Aku kira kalau rumah ini kembali, aku akan merasa semuanya selesai.”

“Sekarang?”

Dewi tersenyum.

“Aku sadar yang membuatku utuh bukan rumah atau uang.”

Ia menatap ruangan itu.

“Yang membuatku utuh adalah keberanian untuk berhenti menjadi korban.”

Dewi akhirnya memutuskan menggunakan kembali hidupnya untuk masa depan.

Ia ingin menyelesaikan kuliah.

Ia ingin hidup mandiri.

Dan ia juga ingin membantu anak-anak lain yang mengalami keadaan sulit.

Kevin hanya tersenyum melihat perubahan yang terjadi pada Dewi.

Gadis yang dulu selalu bersembunyi di balik buku kini mulai berani menentukan arah hidupnya sendiri.

Berjalan Bersama

Bulan-bulan berlalu.

Dewi masih menjadi salah satu mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik.

Namun sekarang ia tidak lagi selalu berjalan dengan kepala tertunduk.

Ia mulai tersenyum kepada orang-orang.

Ia mulai berbicara lebih terbuka.

Dan yang paling penting...

ia tidak lagi takut mempercayai orang lain.

Kevin juga berubah.

Ia tidak lagi bersikap posesif.

Ia tetap menemani Dewi, tetapi tidak pernah lagi menganggap dirinya berhak menentukan hidup gadis itu.

Perubahan Kevin bukan hanya tentang mendapatkan hati Dewi.

Ia benar-benar tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Suatu sore, Dewi kembali mengajak Kevin ke taman tempat mereka pertama kali bertemu.

“Kamu masih ingat tempat ini?”

Kevin tersenyum.

“Mana mungkin lupa.”

Dewi duduk.

Kevin ikut duduk di sampingnya.

Beberapa saat mereka menikmati suasana sore.

Kemudian Dewi memanggil pelan.

“Kevin.”

“Iya?”

“Waktu kamu bilang kamu mencintaiku...”

Kevin langsung menatapnya.

“Aku masih ingat.”

Dewi tersenyum.

“Aku sudah cukup lama berpikir.”

Kevin menunggu.

Dewi kemudian menggenggam tangannya.

“Sekarang aku tahu.”

“Tahu apa?”

“Aku mencintaimu juga.”

Kevin terdiam.

Dewi melanjutkan,

“Kamu tidak pernah datang sebagai seseorang yang ingin menyelamatkanku.”

“Kamu datang sebagai orang yang memilih tetap berada di sampingku.”

Kevin tersenyum.

Dewi menggenggam tangannya lebih erat.

“Aku tidak membutuhkan seseorang yang mengatur hidupku.”

“Aku hanya ingin seseorang yang mau berjalan bersamaku.”

Kevin mengangguk.

“Aku mau.”

Jendela yang Terbuka

Setahun kemudian, taman kampus masih terlihat seperti dulu.

Raka datang menghampiri mereka.

Kini hubungan mereka tidak lagi terasa canggung.

Raka sudah menjadi bagian dari lingkaran persahabatan mereka.

“Gimana proposal kalian?”

“Sudah hampir selesai,” jawab Kevin.

Dewi tersenyum.

Raka ikut tertawa.

Mereka berbicara tentang kuliah, rencana masa depan, dan berbagai hal sederhana yang dulu terasa mustahil bagi Dewi.

Setelah Raka pergi, Dewi menyandarkan kepalanya di bahu Kevin.

Angin sore bergerak perlahan di antara pepohonan.

Dewi mengingat dirinya beberapa tahun lalu.

Gadis yang berjalan sendirian.

Gadis yang selalu takut dimanfaatkan.

Gadis yang percaya bahwa kesendirian adalah satu-satunya tempat aman.

Ternyata ia salah.

Bukan karena semua orang baik.

Tetapi karena akhirnya ia menemukan beberapa orang yang benar-benar menghargainya.

Dinding yang dulu ia bangun di sekeliling hatinya kini tidak lagi diperlukan.

Dinding itu telah berubah menjadi sebuah jendela.

Jendela yang terbuka.

Membiarkan cahaya masuk.

Membiarkan persahabatan tumbuh.

Membiarkan cinta menemukan tempatnya.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dewi tidak lagi takut melihat dunia dari balik kaca.

Ia memilih membuka jendela itu.

Dan berjalan maju.

Bukan sebagai seseorang yang harus diselamatkan.

Melainkan sebagai seseorang yang sudah menemukan keberanian untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Tags

Bagikan Cerita

Ulasan Saya

Pendapat kamu tentang cerita ini0/500
Belum ada ulasan

Daftar Bab