Lewati ke konten
ABI AKU LELAH

ABI AKU LELAH

0Bab
ilustrasi



Fauzan tidak pernah punya kesempatan untuk memilih.


Sejak ia berumur tiga tahun, hidupnya sudah dituliskan oleh orang lain. Abi-nya ingin ia menjadi seorang Gus, seorang Ustadz yang disegani banyak orang. Umi-nya tidak pernah membantah. Dan Fauzan, yang masih terlalu kecil untuk mengerti arti kata cita-cita, hanya bisa mengangguk dan menurut.


Ia tumbuh di pesantren. Bukan di rumah.


Sementara anak lain pulang sekolah lalu bermain layangan, Fauzan pulang mengaji lalu menghafal. Sementara anak lain merengek minta mainan, Fauzan belajar menahan lapar karena hafalannya kurang satu ayat.


Ia memang anak yang pintar. Hafalannya cepat, suaranya merdu. Semua guru memujinya. Tapi tidak ada yang sadar, semakin pintar ia menghafal, semakin kosong tatapan matanya.


Lama-lama Fauzan berubah. Ia sering melamun sendiri. Kadang menatap dinding asrama berjam-jam tanpa bergerak. Kadang ia marah tanpa sebab, melempar barang, menggedor pintu, berteriak ingin keluar mencari angin.


Teman-temannya mulai takut padanya. Padahal Fauzan bukan nakal. Ia hanya lelah. Lelah menjadi anak yang tidak pernah boleh capek.


Ketika gurunya memberitahu Abi bahwa Fauzan terlihat tertekan, Abi tidak khawatir. Abi justru marah. Baginya, itu hanya kurang disiplin. Hukumannya pun ditambah. Bekalnya dihentikan. Fauzan pun mulai berpuasa setiap hari, bukan karena ia ingin, tapi karena ia tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan kecuali jatah dari pondok.


Ia menangis diam-diam di balik selimut setiap malam. Tidak ada yang mendengar.


Sampai suatu pagi, gurunya yang baik mengajak semua santri ke Kali Cisadane untuk mencuci karpet masjid.


Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Fauzan tertawa lagi. Tawa yang benar-benar tawa anak sepuluh tahun. Ia menyikat karpet dengan semangat, bercanda, berenang bersama teman-temannya. Air sungai yang dingin itu terasa seperti kebebasan yang sudah lama tidak ia rasakan.


Lalu ketua pondok menyuruh semua naik. Satu per satu naik ke tepian.


Kecuali Fauzan.


Fauzan tidak pernah muncul lagi dari atas air.


Pencarian dilakukan dari pagi hingga malam. Polisi, BPBD, dan relawan menyisir sungai. Abi dan Umi hanya bisa menangis di pinggir, menunggu kabar yang tak kunjung datang.


Di tengah kepanikan itu, sahabat terdekat Fauzan tiba-tiba pingsan. Lalu ia terbangun sambil menangis meraung-raung. Ia menunjuk ke arah Abi dan berteriak dengan suara yang sangat dikenal Abi.


Suara Fauzan.


_"Aku gak mau pulang! Aku mau di sini aja! Aku sudah capek mengikuti kemauan Abi!"_


Abi langsung lemas. Umi menjerit. Mereka tahu, itu bukan suara anak lain. Itu suara anak mereka.


Abi menangis sejadi-jadinya, memohon maaf. Memohon agar anaknya kembali.


Namun suara itu menjawab dengan pelan, sambil menunjuk tepat ke dada Abi.


_"Puas sudah membuat aku hancur. Puas sudah membuat aku capek untuk berpikir. Puas sudah merusak cita-citaku. Belum cukup dengan hilangnya nyawaku?"_


Malam itu, Sungai Cisadane menjadi saksi. Bukan hanya hilangnya seorang anak kecil.


Tetapi juga hancurnya seorang ayah yang baru menyadari, bahwa cita-cita yang ia paksakan, telah membunuh cita-cita anaknya .


Seketika itu juga, suara Fauzan hilang dari tubuh sahabatnya.


Anak itu terkulai lemas, lalu menangis kebingungan. Ia tidak ingat apa-apa. Yang tersisa hanyalah keheningan dan isak tangis orang-orang di pinggir Cisadane.


Pencarian terus berjalan. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun belum ada satu pun tanda Fauzan ditemukan.


Senter-senter masih menyapu permukaan air. Relawan masih menyisir bebatuan. Tapi Cisadane seolah menyimpan Fauzan rapat-rapat.


Di tengah keputusasaan itu, Umi turun ke dalam air.


Tidak ada yang bisa menahannya. Kakinya melangkah pelan, air dingin membasahi kainnya hingga sebatas pinggang. Tangannya mengepak-ngepakkan air, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak terlihat.


Semua orang diam. Karena semua orang tahu, dari kerasnya Abi, hanya Umi lah yang selalu bisa membuat Fauzan luluh. Hanya kebaikan Umi yang selama ini menjadi satu-satunya rumah bagi Fauzan.


Dengan suara yang bergetar, Umi berkata sambil menangis,


*"Anakku, Fauzan... kembali, Nak. Umi paham kamu capek. Kamu lelah. Kamu marah. Umi ikhlas, Nak. Walaupun kamu sudah berpindah alam, Umi yakin ini yang terbaik buat Fauzan."*


*"Umi mohon, pulang, Nak. Pulang sama Umi. Biar Umi bisa peluk Fauzan. Biar Umi bisa pegang tangan Fauzan, ya."*


Tidak ada yang menjawab. Hanya suara air yang mengalir.


Lalu, sepuluh menit kemudian, semua orang berteriak.


Di balik bebatuan, tempat yang tadi sudah dicari berkali-kali dan tidak ada apa-apa, tubuh Fauzan ditemukan mengapung dengan tenang.


Seolah ia memang hanya menunggu Umi memanggilnya. Seolah ia hanya mau pulang jika yang memanggil adalah ibunya.


Fauzan pun dibawa naik dan disemayamkan.


Malam itu, untuk pertama kalinya, Umi tidak lagi diam. Kekecewaan yang selama ini ia pendam akhirnya pecah.


Ia menatap Abi, suaminya, dengan mata yang sudah habis air matanya.


*"Dari awal aku sudah bilang, Bi. Jangan dipaksa. Dia itu anak, bukan cita-cita kita."*


Umi meminta cerai. Bukan karena ia tidak lagi cinta. Tapi karena ia harus menyelamatkan kewarasannya sendiri. Karena jika ia tetap tinggal, ia akan terus melihat bayangan Fauzan di setiap sudut rumah.


Ia meninggalkan suaminya, dengan hati yang hancur.


Dan Abi...


Abi yang dulu begitu keras, begitu yakin bahwa semua yang ia lakukan adalah demi kebaikan anaknya, kini tidak lagi sama.


Sejak Fauzan dikebumikan, Abi sering mengamuk sendiri. Ia membanting tubuhnya sendiri. Ia berteriak-teriak memanggil nama Fauzan di tengah malam.


Tekanan batin itu menghancurkan dirinya perlahan-lahan.


Ia baru menyadari, terlambat, bahwa anak yang ia paksa menjadi seorang Gus yang disegani, hanya ingin menjadi seorang anak yang dipeluk dan didengarkan.


Tapi Fauzan sudah tidak ada.


Yang tersisa hanyalah Cisadane yang tetap mengalir, dan seorang ayah yang kini harus hidup dengan penyesalannya seumur hidup.



*TAMAT*


Tags

Bagikan Cerita

Komentar

Daftar Bab