LAUT YANG TIDAK BOLEH DILEWATl
Bahasa artikel: Indonesia Sri WulandariPilih versi bahasa
Sedang dibaca: Indonesia
Versi terjemahan hanya akan ditampilkan setelah artikel bahasa tersebut benar-benar diterbitkan.
Orang-orang tua di Pelabuhan Sumenep selalu bilang satu kalimat yang sama ke setiap pelaut muda:
_"Kalau mau selamat, jangan lewat tengah Masalembo. Muter sedikit tidak apa-apa, yang penting pulang."_
Tapi tidak semua orang percaya.
Tahun 1981, ada seorang nakhoda bernama Kapten Arman. Kapalnya KM Tampomas II, kapal besar yang membawa ratusan penumpang dari Jakarta menuju Sulawesi. Dia sudah puluhan tahun melaut. Dia tidak percaya tahayul.
Malam itu, cuaca di Laut Jawa sebenarnya bagus. Bintang terang, angin tenang. Tapi saat kapal masuk tepat di tengah segitiga antara *Masalembo - Bawean - Majene*, laut tiba-tiba berubah.
Tidak ada angin, tapi ombak naik setinggi 4 meter. Kompas berputar sendiri. Radio mendadak kresek-kresek, seperti ada suara perempuan menangis di antara suara ombak.
Salah satu ABK yang sudah tua langsung pucat. Dia bisik, _"Kapten, kita sudah masuk daerah larangan. Ini malam Jumat Kliwon. Kita harus putar balik."_
Kapten Arman tertawa, _"Mana ada larangan-larangan. Ini cuma cuaca buruk biasa."_
Tidak lama setelah itu, bau asap muncul dari mesin. Api kecil menjadi besar dalam hitungan menit. Penumpang panik, berteriak, berlompatan ke laut yang hitam dan dingin. Kapal besar itu akhirnya tenggelam, membawa ratusan jiwa yang tidak pernah ditemukan.
Sejak malam itu, orang-orang di sekitar Masalembo percaya, laut itu bukan sekadar laut.
Konon di dasar laut Masalembo ada sebuah kerajaan gaib yang dijaga oleh sosok perempuan berkerudung hijau. Setiap kapal yang lewat dengan sombong, yang awaknya mengumpat, yang penumpangnya tertawa menghina laut, akan dibuatnya berputar-putar tidak bisa keluar. Kompasnya akan mati, mesinnya akan panas sendiri, dan pusaran air akan muncul tiba-tiba, menelan kapal itu perlahan.
Nelayan-nelayan sampai sekarang masih patuh. Kalau mereka terpaksa harus lewat sana, mereka tidak boleh bicara kotor. Mereka harus lempar sesaji kecil, bunga dan beras, sambil bilang, _"Permisi, kami hanya numpang lewat."_
Dan kalau malam sudah datang, mereka akan berhenti. Mereka lebih memilih tidur di tengah ombak yang tenang, daripada memaksakan lewat tengah Masalembo di malam Jumat.
Karena di laut itu, kata orang tua dulu, yang hilang bukan hanya kapalnya. Tapi juga namanya, yang tidak akan pernah disebut lagi di pelabuhan manapun.
Sampai sekarang, kalau cee buka peta, cee akan lihat daerah itu. Lautnya terlihat tenang. Tapi di bawahnya, masih banyak kapal yang belum pernah ditemukan.

Komentar
Posting Komentar