Lewati ke konten
SEPARUH HATIKU YANG DIBAWA PERGI*

SEPARUH HATIKU YANG DIBAWA PERGI*

0Bab
ilustrasi


Ada sepasang suami istri yang baru saja dikaruniai anak kembar. Dua-duanya perempuan.


Seharusnya itu adalah hari paling bahagia dalam hidup mereka. Tapi kenyataannya tidak.


Sejak awal kehamilan, mereka sudah sering bertengkar karena ekonomi yang sulit. Uang pas-pasan. Untuk makan sehari-hari saja mereka harus berpikir berkali-kali.


Ketika anak kembar itu lahir, bukan bantuan yang datang dari keluarga suami, tapi hinaan.


Mereka tinggal tidak jauh dari keluarga suami. Tapi tidak ada satu pun yang mau membantu. Yang ada hanya omongan yang meremehkan. Terutama dari adik-adik iparnya.


Si istri sering direndahkan. Dibilang boros. Dibilang hanya bisa menghabiskan uang. Dibilang tidak bisa mengurus anak.


Padahal setiap hari si istri berjualan lontong. Pagi-pagi ia sudah bangun, membuat lontong, lalu menjualnya keliling. Sambil menggendong dua bayi kembarnya yang masih merah. Sambil menahan lelah, lapar, dan sakit hati.


Ia capek. Ia pusing. Ia sering marah dan berdebat dengan suaminya. Bukan karena ia tidak cinta, tapi karena ia sudah terlalu lelah menjadi ibu, menjadi istri, menjadi penjual, sekaligus menjadi bahan omongan orang.


Ia sering meminta kepada suaminya untuk pindah. Pindah ke rumah peninggalan orang tuanya. Rumah yang sederhana, tapi tenang. Rumah yang tidak ada lagi orang yang menjelek-jelekkannya. Ia butuh otak yang dingin.


Tapi suaminya selalu menunda.


Hingga akhirnya, kesabaran si istri habis.


Suatu hari, ia mendengar adik iparnya berkata, _“Istri kakak itu cuma bisa ngabisin uang. Dia gak akan bisa ngurus anak kembar sendirian. Udah, sini satu anaknya biar kami yang urus.”_


Mendengar itu, hati seorang ibu langsung berontak. Bagaimana pun juga, itu anaknya. Itu darah dagingnya. Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil anaknya.


Karena sudah tidak tahan lagi, si istri memutuskan untuk kabur. Tanpa bilang ke suaminya. Hanya berbekal baju anak-anaknya. Satu anak ia gendong, satu anak lagi ia letakkan di tas ransel bayi yang ia tenteng.


Ia ingin pulang ke rumah peninggalan ayahnya. Di sana ia bisa tenang. Di sana ia bisa memulai hidup baru.


Tapi di tengah jalan, ia ketahuan oleh adik iparnya.


Terjadi tarik-menarik. Jeritan. Tangisan.


Dan dengan paksa, salah satu anak kembarnya direbut. Anak yang sudah diberi nama *Fitri*, dibawa kabur oleh adik iparnya. Sedangkan yang masih ada di pelukannya adalah *Fitra*.


Si istri hanya bisa menangis di pinggir jalan sambil memeluk Fitra. Setengah hatinya sudah diambil.


Namun ia tidak punya pilihan. Kalau ia kembali, ia akan terus dikucilkan dan diremehkan. Jadi dengan berat hati, ia tetap melanjutkan perjalanannya. Pulang ke rumah ayahnya, hanya bersama Fitra.


Di rumah peninggalan ayahnya itu, ia mulai bangkit. Ia berjualan lebih besar. Jualannya laku keras. Ramai. Ekonominya perlahan membaik. Ia membuktikan bahwa ia bisa berdiri sendiri tanpa direndahkan lagi.


Tak lama kemudian, suaminya datang. Menangis. Meminta maaf.


Awalnya si istri marah. Kecewa. Sakit hati. _“Kenapa dari awal aku kabur kamu gak nyariin aku? Kenapa kamu gak nyusul?”_


Suaminya menjelaskan, ia tidak menyusul karena ia khawatir dengan Fitri yang diurus adiknya. Ia takut Fitri kenapa-kenapa.


Mendengar itu, si istri menangis dan berkata tegas, _“Kembalikan anakku. Kalau tidak, aku minta cerai sekarang juga.”_


Suaminya yang takut kehilangan istrinya akhirnya pulang dan menjemput Fitri untuk dikembalikan.


Namun saat Fitri dibawa pulang, hati sang ibu hancur berkeping-keping.


Fitri yang dulu sehat, kini sakit. Badannya panas tinggi. Matanya sering melihat ke atas. Tubuhnya kejang-kejang. Sang ibu memeluknya sambil menangis, tidak percaya anak yang tadinya sehat menjadi seperti ini setelah diambil paksa.


Fitri langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter berkata Fitri harus dirawat. Ia kekurangan susu dan sering dimandikan hingga demamnya semakin parah.


Suaminya yang melihat itu langsung menjemput adiknya dan memarahi mereka agar bertanggung jawab.


Tapi Tuhan berkata lain.


Fitri tidak kuat. Fitri meninggal dunia.


Hati seorang ibu saat itu benar-benar hancur. Marah. Sakit. Dendam. Tangisnya tidak berhenti. Ia merasa separuh jiwanya ikut pergi bersama Fitri.


Sejak kepergian Fitri, si istri berubah. Ia sering menangis sendiri, lalu tiba-tiba tertawa sendiri. Saat mengurus Fitra, ia sering melamun. Dan yang paling membuat suaminya takut, ia sering jalan malam-malam tanpa sepengetahuan suaminya, sambil membawa guling.


Guling itu ia peluk seolah-olah itu adalah Fitri.


Suaminya yang melihat keanehan itu akhirnya membawa istrinya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dokter berkata, yang dialami istrinya adalah luka di hati dan jiwa yang sangat dalam karena kehilangan anaknya.


Bukan gila. Bukan lemah. Tapi seorang ibu yang terlalu sakit karena kehilangan.


Waktu tidak langsung menyembuhkan. Tapi waktu memberi kesempatan untuk belajar bernapas lagi.


Suaminya tidak lagi diam seperti dulu. Sekarang ia yang mengurus Fitra saat istrinya lelah. Ia yang berjaga malam saat istrinya menangis. Ia yang meminta maaf setiap hari, bukan hanya sekali. Ia sadar, dulu ia terlalu takut kepada adik-adiknya sampai ia membiarkan istrinya berjuang sendirian.


Suatu malam, si istri kembali berjalan keluar sambil membawa guling. Tapi malam itu suaminya tidak melarang. Ia hanya mengikuti dari belakang, lalu duduk di samping istrinya di depan rumah.


_“Kamu kangen Fitri ya?”_ tanya suaminya pelan.


Si istri mengangguk sambil menangis. _“Aku merasa Fitri masih ada. Aku merasa dia masih minta digendong.”_


Suaminya memeluk istrinya dan berkata, _“Kalau kangen, kita datengin Fitri sama-sama. Jangan jalan sendiri lagi. Aku temenin.”_


Sejak malam itu, si istri tidak lagi berjalan sendirian.


Beberapa bulan kemudian, si istri mulai berubah. Ia tidak lagi membawa guling. Ia mulai tersenyum lagi saat Fitra memanggilnya _“Mama.”_ Ia mulai memasak lagi. Ia mulai berjualan lagi, tapi kali ini warungnya ia beri nama baru.


*WARUNG LONTONG FITRI.*


Setiap orang yang datang bertanya, kenapa namanya Fitri? Ia hanya menjawab sambil tersenyum, _“Biar anak saya tetap ikut jualan sama saya.”_


Setahun berlalu. Fitra tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Ia sering bertanya, _“Ma, kembaranku mana?”_


Si istri tidak lagi menangis saat menjawab. Ia hanya menunjuk ke langit dan berkata, _“Kakak Fitri lagi jadi bintang, Nak. Dia yang jagain kamu dari atas.”_


Fitra pun tersenyum dan melambaikan tangannya ke langit.


Dan pada suatu sore, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, si istri datang ke kuburan Fitri. Ia tidak membawa guling lagi. Ia membawa dua bungkus lontong buatannya. Satu untuk dirinya, satu ia letakkan di atas kuburan Fitri.


_“Fitri, Mama udah gak marah lagi. Mama udah maafin semuanya. Tapi Mama gak akan pernah lupa. Mama janji, Mama akan jaga Fitra baik-baik. Kamu tenang ya di sana. Tunggu Mama nanti.”_


Angin sore itu berhembus pelan. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hati seorang ibu itu terasa ringan.


Fitri memang sudah tidak ada. Tapi di hati ibunya, Fitri tidak pernah pergi. Fitri hidup di dalam setiap lontong yang ia jual. Di dalam setiap tawa Fitra. Dan di dalam setiap doa yang ia kirimkan setiap malam.


Karena seorang ibu yang kehilangan anaknya, tidak pernah benar-benar kehilangan. Ia hanya belajar mencintai dari jarak yang lebih jauh.


*TAMAT*

Tags

Bagikan Cerita

Komentar

Daftar Bab