Isi Cerita
Pagi yang Membawa Pertemuan
Pagi di desa selalu memiliki cara tersendiri untuk membuat hati merasa tenang.
Embun masih menggantung di ujung rerumputan. Angin berembus perlahan melewati pepohonan dan hamparan sawah yang terbentang luas di hadapan mata. Cahaya matahari mulai menyentuh pucuk-pucuk pepohonan, membuat suasana pagi terasa begitu hangat.
Dari kejauhan, aroma berbagai macam masakan mulai tercium. Suara aktivitas warga perlahan terdengar, meskipun suasana desa masih jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota.
Pagi itu, aku duduk sendirian di sebuah warung sederhana yang menghadap langsung ke persawahan.
Di atas meja hanya ada sepiring ubi rebus dan segelas kopi panas.
Sederhana.
Namun bagiku, itulah salah satu bentuk kebahagiaan.
Aku menikmati setiap tegukan kopi sambil memandang hamparan sawah yang masih diselimuti kabut tipis.
“Indah sekali...” gumamku pelan.
Tidak pernah terpikir olehku bahwa pagi yang terlihat biasa itu akan menjadi awal dari sebuah pertemuan yang mengubah hidupku.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempatku duduk.
Aku melirik sekilas.
Dari pintu belakang turun seorang pemuda.
Penampilannya jelas berbeda dengan kebanyakan warga desa. Pakaiannya rapi, membawa tas, dan wajahnya terlihat seperti orang yang baru pertama kali datang ke tempat ini.
Pemuda itu berdiri beberapa saat sambil memandangi persawahan.
Kemudian entah mengapa, ia menoleh ke arahku.
Pandangan kami bertemu.
Entah apa yang terjadi padaku.
Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat.
Aku buru-buru menundukkan wajah.
Namun beberapa detik kemudian, pemuda itu justru berjalan mendekat.
“Assalamu'alaikum... Selamat pagi, Mbak.”
Aku mengangkat wajah.
“Wa... waalaikumsalam.”
Suaraku terdengar gugup.
Pemuda itu tersenyum.
“Maaf, Mbak. Apa saya mengganggu?”
“Tidak... tidak kok.”
Aku bahkan tidak tahu mengapa jawabanku terbata-bata seperti itu.
Ia tersenyum lagi.
“Mbak asli warga desa sini?”
Aku mengangguk.
“Iya. Saya memang tinggal di sini.”
“Oh... pantes.”
“Pantes apa?”
“Kelihatannya sudah terbiasa dengan suasana desa.”
Aku tersenyum kecil.
“Mas sendiri bukan orang sini, kan?”
“Bukan. Saya dari kota.”
Ia kemudian memperkenalkan dirinya.
“Saya Ikbal.”
Aku mengangguk.
“Lisna.”
“Salam kenal, Lisna.”
Ikbal mengulurkan tangannya.
Namun aku hanya melihat tangan itu tanpa menyambutnya.
Bukan karena tidak sopan.
Aku hanya merasa malu.
Tanganku kasar akibat terbiasa membantu pekerjaan rumah dan sesekali membantu orang tua di kebun.
Sedangkan tangan Ikbal terlihat bersih dan terawat.
Ikbal akhirnya menarik kembali tangannya.
Tidak terlihat tersinggung.
Ia malah tersenyum.
“Kalau boleh bertanya, Lisna sering berada di sekitar sini?”
“Iya.”
“Saya sebenarnya sedang mengerjakan tugas kuliah. Saya diminta membuat tulisan tentang kehidupan masyarakat desa.”
Ikbal kemudian menunjuk ke arah persawahan.
“Saya masih bingung harus mulai dari mana.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu, saya bisa membantu menunjukkan tempat-tempat yang biasa dilakukan warga.”
“Serius?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Wah, terima kasih. Berarti saya tidak salah bertemu dengan orang yang tepat.”
Kalimat sederhana itu membuat pipiku terasa panas.
Aku tersenyum malu.
Sejak pertemuan pagi itu, aku dan Ikbal mulai sering bertemu.
Awalnya hanya karena tugas kuliah.
Namun tanpa kusadari...
pertemuan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Ketika Perhatian Disalahartikan sebagai Cinta
Hari-hari berikutnya terasa berbeda.
Ikbal hampir setiap hari datang mencariku.
Kadang ia meminta ditemani mengelilingi desa.
Kadang bertanya tentang kebiasaan warga.
Kadang hanya duduk bersamaku sambil menikmati pemandangan.
Bagiku, kehadirannya seperti membawa warna baru.
Sebelumnya, hari-hariku berjalan begitu saja.
Bangun pagi.
Membantu orang tua.
Bekerja.
Pulang.
Lalu tidur.
Tetapi sejak mengenal Ikbal, aku selalu menantikan pagi.
Aku bahkan mulai memperhatikan hal-hal kecil.
Jam berapa ia datang.
Apa yang akan ia tanyakan.
Pakaian apa yang ia kenakan.
Senyumnya.
Cara bicaranya.
Semua terasa istimewa.
Terlebih lagi, Ikbal sering memberikan pujian.
“Lisna, kamu berbeda dari perempuan yang pernah saya kenal.”
Aku tertawa kecil.
“Berbeda bagaimana?”
“Kamu sederhana.”
Aku menunduk.
“Ah, jangan bercanda.”
“Saya serius.”
Kata-kata itu membuat hatiku semakin mudah berharap.
Aku mulai percaya bahwa perhatian Ikbal bukan sekadar karena tugas kuliahnya.
Aku mulai berpikir...
mungkin dia juga menyukaiku.
Suatu sore, kami berjalan menyusuri jalan kecil di sekitar persawahan.
Langit yang semula cerah perlahan berubah gelap.
Tidak lama kemudian, hujan turun dengan deras.
“Lisna! Berteduh!”
Kami berlari menuju sebuah saung yang berada tidak jauh dari persawahan.
Kami duduk berdampingan sambil menunggu hujan reda.
Awalnya kami hanya tertawa melihat keadaan masing-masing yang basah.
Namun semakin lama, suasana berubah menjadi hening.
Aku menatap hujan.
Ikbal duduk di sampingku.
Entah bagaimana, kedekatan dan suasana saat itu membuat kami kehilangan kendali atas batas yang seharusnya kami jaga.
Kami melakukan sebuah kesalahan besar.
Kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi sebelum adanya ikatan pernikahan.
Ketika hujan akhirnya reda, kami pulang dengan perasaan berbeda.
Aku tidak lagi bisa tersenyum seperti biasanya.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar.
Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menundukkan kepala.
“Apa yang sudah aku lakukan?”
Air mataku mulai jatuh.
Aku merasa sangat menyesal.
Bukan hanya karena takut kepada orang tua.
Aku juga takut karena ternyata aku terlalu cepat mempercayai seseorang.
Sementara di tempat lain, Ikbal juga gelisah.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepadaku.
Ikbal sebenarnya sudah memiliki kekasih di kota.
Bahkan hubungan mereka sudah cukup serius dan mereka telah merencanakan pernikahan setelah Ikbal menyelesaikan kuliahnya.
Kedekatannya denganku selama berada di desa ternyata tidak pernah ia anggap sebagai sebuah hubungan.
Dan aku sama sekali tidak mengetahui hal itu.
Ketika Kebenaran Terungkap
Hari berikutnya, Ikbal tidak datang.
Aku menunggu.
Namun ia tidak muncul.
Hari kedua juga sama.
Hari ketiga pun demikian.
Aku mulai merasa gelisah.
Apa dia sengaja menghindariku?
Apakah dia menyesal?
Atau jangan-jangan dia sudah tidak menganggapku penting?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus memenuhi kepalaku.
Akhirnya, aku memutuskan mencari Ikbal.
Sore itu, aku menemukannya sedang duduk mengerjakan tugas bersama beberapa orang.
Aku langsung menghampirinya.
“Ikbal!”
Ia menoleh.
“Lisna?”
“Kenapa kamu tidak datang ke rumahku beberapa hari ini?”
Ikbal terlihat canggung.
“Maaf. Saya sedang menyelesaikan tugas.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
Aku menatapnya tajam.
“Jangan bohong.”
Ikbal menghela napas.
“Memangnya ada apa?”
“Apa kamu sengaja menjauhiku setelah kejadian kemarin?”
Wajah Ikbal berubah.
Kemudian ia menjawab dengan nada datar.
“Lisna, jangan salah paham.”
Aku terdiam.
“Maksudmu?”
“Kita cuma teman.”
Aku merasa seperti baru saja ditampar.
“Teman?”
“Iya.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Setelah semua perhatianmu?”
Ikbal diam.
“Kamu datang setiap hari.”
“Kamu mengatakan aku berbeda.”
“Kamu membuatku percaya bahwa kamu menyukaiku.”
Ikbal justru menggeleng.
“Saya tidak pernah bilang kita pacaran.”
Air mataku mulai mengalir.
“Jadi selama ini aku apa?”
Ikbal menjawab ringan,
“Kamu orang yang membantu tugas saya.”
Aku merasa seluruh tubuhku lemas.
“Tapi apa yang terjadi di saung kemarin?”
Ikbal menundukkan kepala sebentar.
Kemudian berkata,
“Sudahlah. Jangan dibesar-besarkan.”
Aku menatapnya dengan air mata yang semakin deras.
“Bagi kamu mungkin bisa dianggap sepele.”
“Tapi bagiku tidak.”
“Aku mempercayaimu.”
“Aku mengira kamu serius kepadaku.”
Ikbal tidak memberikan jawaban yang membuatku merasa lebih baik.
Justru sikapnya semakin membuat hatiku hancur.
“Aku sudah terlanjur mempercayaimu, Bal.”
“Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya.”
Ikbal hanya diam.
Saat itulah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah menaruh hati kepada orang yang salah.
Aku pergi meninggalkannya dengan air mata yang tidak mampu lagi kutahan.
Namun persoalan itu belum selesai.
Karena sejak saat itu, aku mulai menuntut Ikbal untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kami lakukan bersama.
Setelah mendapat tekanan dari keadaan dan warga yang mengetahui persoalan tersebut, Ikbal akhirnya mengatakan bahwa ia akan berbicara kepada keluarganya.
“Aku akan meminta ibuku datang ke sini.”
“Kita bicarakan semuanya.”
Aku menatapnya.
“Benarkah?”
“Iya.”
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, aku merasa sedikit lega.
Aku percaya pada perkataannya.
Aku percaya bahwa setidaknya ia masih memiliki tanggung jawab.
Namun...
ternyata aku kembali salah mempercayainya.
Harapan yang Hancur
Keesokan harinya, aku menunggu.
Sejak pagi aku mempersiapkan diri.
Aku bahkan membayangkan bagaimana pertemuan antara keluargaku dan keluarga Ikbal nanti.
Aku mencoba menenangkan hati.
“Mungkin semuanya akan baik-baik saja.”
Pagi berlalu.
Siang datang.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku masih menunggu.
Hingga matahari mulai condong ke barat.
Ikbal tidak datang.
Ibunya juga tidak datang.
Aku mulai gelisah.
Akhirnya aku memutuskan mendatangi tempat Ikbal menginap.
Namun ketika sampai di sana, aku justru mendapatkan kabar yang membuat seluruh tubuhku terasa lemas.
Seorang warga mengatakan,
“Ikbal sudah pergi dari pagi.”
Aku terdiam.
“Pergi?”
“Iya. Katanya tugas kuliahnya sudah selesai, jadi dia kembali ke kota.”
Aku tidak langsung percaya.
“Dia tidak bilang apa-apa?”
Warga itu menggeleng.
“Sepertinya tidak.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku berdiri terpaku.
Semua janji Ikbal terngiang kembali di kepalaku.
Aku akan meminta ibuku datang.
Aku akan bertanggung jawab.
Ternyata semuanya hanya kata-kata.
Air mataku jatuh.
Aku berjalan pulang dengan langkah yang terasa sangat berat.
Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar.
Aku menutup pintu.
Kemudian menangis sejadi-jadinya.
“Kenapa aku begitu mudah percaya?”
Aku memeluk lutut sambil menundukkan kepala.
“Kenapa aku tidak melihat semuanya sejak awal?”
Aku merasa malu.
Kecewa.
Marah.
Dan yang paling menyakitkan...
aku menyesal telah memberikan kepercayaan kepada seseorang yang ternyata tidak pernah benar-benar menghargai perasaanku.
Pertemuan yang awalnya terasa begitu indah kini berubah menjadi luka yang mungkin akan sulit kulupakan.
Aku masih teringat pagi ketika pertama kali melihat Ikbal.
Saat itu aku mengira dirinya adalah seseorang yang datang membawa kebahagiaan.
Aku tidak pernah menyangka...
orang yang membuatku tersenyum pada pandangan pertama justru menjadi orang yang meninggalkan luka paling dalam.
Dan sejak hari itu, hidup Lisna tidak pernah benar-benar sama lagi.
