Penguasa Malam di Puncak Sunyi

Table of Contents

Desa yang Haus dan Lapar

Desa Karang Tumaritis terselip di balik lebatnya punggung bukit, jauh dari deru mesin kota dan hingar-bingar modernitas. Di tempat inilah Hasan hidup. Pemuda berusia dua puluhan itu dikenal sebagai tulang punggung keluarga setelah ayahnya tiada. Hari-harinya dihabiskan untuk mencangkul sawah tetangga, membelah kayu bakar, atau memperbaiki atap rumah warga yang bocor.

Hasan tidak pernah meminta upah tinggi. Bagi pemuda itu, peluh yang menetes di kening adalah bagian dari ibadah, dan senyum warga desa adalah bayaran yang paling mahal. Namun, kemarau panjang tahun itu mengubah segalanya.

Langit membentang seperti lembaran seng panas yang membakar bumi. Bulan demi bulan berlalu tanpa setetes pun air hujan. Sungai yang biasanya menderas kini tinggal jejak batu-batu kerikil yang retak. Kebun-kebun layu sebelum sempat berbuah, dan ternak mati kelaparan di kandangnya.

Bencana makin menjadi ketika longsor besar dari dinding Gunung Larangan—gunung keramat yang diselimuti kabut tebal dan mitos turun-temurun—menutup satu-satunya jalur mata air utama yang mengalir ke desa.

Warga mulai jatuh sakit. Anak-anak kecil menangis menahan haus di atas pangkuan ibu mereka yang nyaris tak berdaya. Keputusasaan menjelma menjadi amarah yang membakar.

Kemarahan di Balai Desa

Pagi itu, halaman kantor desa dipadati ratusan warga yang wajahnya kusam dan mata mereka cekung karena kelaparan. Suara teriakan dan makian bergemuruh menembus dinding kayu balai desa.

"Pak Kuwu! Keluar! Jangan cuma bersembunyi di balik meja!" teriak seorang warga sambil menggebrak pagar bambu.

Pak Kuwu, kepala desa yang paruh baya, melangkah keluar dengan langkah gontai. Wajahnya pucat pasi menahan beban batin yang teramat berat. Ia mengangkat tangan, mencoba menenangkan warganya yang mulai kehilangan kendali.

"Sabar, Saudara-saudaraku... Kami sedang berusaha mencari jalan keluar—"

"Usaha apa, Pak?!" potong seorang ibu sambil terisak, menggendong bayinya yang nyaris tak bernyawa. "Anak-anak kami sudah sekarat minum air comberan! Mau tunggu sampai kami semua mati berjejer di jalan baru Bapak bergerak?!"

Pak Kuwu menunduk dalam-dalam. Tenggorokannya terasa tercekat. Sebenarnya, ada satu cara untuk mengalirkan kembali air dari mata air di lereng Gunung Larangan. Tapi cara itu adalah taruhan nyawa. Konon, siapa pun yang berani menginjakkan kaki ke wilayah kekuasaan penunggu gunung tidak akan pernah kembali dengan utuh—atau kalaupun pulang, jiwa mereka sudah tertinggal di sana.

Di tengah riuhnya amarah warga yang menuntut keadilan, sebuah suara tegas membelah kerumunan.

"Biarkan saya yang pergi, Pak Kuwu."

Semua mata menoleh ke sumber suara. Hasan berdiri tegak di ambang pintu, mengenakan kemeja katun tipis yang sudah kusam dan memegang sebilah golok terselip di pinggangnya.

"Hasan... kamu tidak boleh gegabah," ucap Pak Kuwu dengan suara bergetar. "Itu Gunung Larangan. Tempat singgah para lelembut. Banyak yang masuk, tak ada yang keluar."

"Kalau kami hanya diam menunggu di sini, kematian tetap akan menjemput kami, Pak," jawab Hasan tenang, sorot matanya menyiratkan keteguhan baja. "Biar saya sendiri yang naik. Ibu dan adik-adik saya titip di sini."

Ibu Hasan yang berdiri di barisan belakang langsung berlari menerobos kerumunan. Ia memeluk putranya erat-erat sambil menangis histeris.

"Jangan, Nak... Jangan tinggalkan Ibu. Kalau kamu kenapa-napa, bagaimana nasib kami?"

Hasan mengusap air mata ibunya dengan lembut, lalu tersenyum menenangkan. "Ibu, doa restu Ibu adalah pelindung saya. Percaya sama Gusti Allah, saya akan kembali."

Tanpa membawa bekal makanan, tanpa pakaian ganti, hanya berbekal sebilah golok dan sebatang tongkat bambu, Hasan melangkah meninggalkan desanya di bawah tatapan haru dan doa ribuan warga.

Gerbang Kabut dan Ujian Pertama

Langkah kaki Hasan membawanya semakin tinggi, meninggalkan batas kebun warga menuju hutan primer Gunung Larangan. Semakin ke atas, udara mendadak berubah drastis—menjadi dingin, lembap, dan berbau belerang serta lumut tua. Pepohonan besar berakar serabut raksasa menutupi langit, membuat cahaya matahari siang tampak remang-remang seperti senja.

Menjelang sore, Hasan tiba di sebuah mata air jernih yang memancar dari balik celah batu hitam tepat di gerbang masuk hutan larangan. Tenggorokannya terasa bagaikan terbakar.

Ia berlutut, meraup air itu, lalu meneguknya.

"Alhamdulillah..." bisiknya takjub. Air itu terasa sangat dingin, menyegarkan, dan manis di lidah. Hilang sudah rasa letih yang menderanya.

Karena waktu asar hampir habis dan ia tidak tahu pasti jam berapa sekarang, Hasan memutuskan untuk berwudhu di aliran air tersebut. Ia mencari tempat yang bersih di atas hamparan lumut tebal, membentangkan kain sarungnya yang dibawa sebagai alas, lalu mulai bertakbir.

Saat ia mengangkat tangan dan melafalkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, bumi di bawah kakinya mendadak bergetar hebat. Suara gemuruh gempa kecil bergemuruh dari perut bumi, seolah-olah tanah itu menolak kehadiran doa-doa suci di wilayah kekuasaannya. Namun, Hasan tidak bergeming. Ia terus merampungkan salatnya dengan khusyuk, menepis segala rasa takut di dadanya.

Selesai berdoa, ia melanjutkan perjalanan menembus tebing curam. Tiba-tiba...

WUUUUSH!

Angin badai berputar kencang tanpa arah, menyapu dedaunan kering, ranting-ranting tajam, dan debu tebal menghantam wajahnya. Di balik badai angin itu, muncullah siluet bayangan hitam raksasa setinggi pohon kelapa, berdiri melintang di tengah jalan setapak.

"Hei! Siapa kau?!" seru Hasan lantang, mencengkeram erat tongkat bambunya sambil melantunkan ayat kursi dengan suara bergetar namun tegas.

Makhluk bayangan itu tidak menjawab. Ia hanya menderu, menciptakan tekanan udara yang membuat dada Hasan sesak dan napasnya tersengat. Angin makin mengamuk, mencoba melemparkan tubuh pemuda itu ke jurang di sisi tebing.

Dengan sisa tenaganya, Hasan menancapkan tongkat bambunya ke dalam tanah karang, memejamkan mata, dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Sang Pencipta.

"La haula wala quwwata illa billah!" teriaknya dalam hati.

Seketika itu juga, badai berhenti total. Angin mati mendadak. Siluet bayangan hitam itu melebur menjadi kabut tipis dan lenyap ditelan kegelapan malam yang mulai turun.

Bab 4: Luka Sang Penguasa Malam

Malam di puncak Gunung Larangan adalah teror yang sunyi. Suara serangga malam bergesekan dengan desau angin menciptakan melodi kematian. Hasan terus melangkah dalam gelap, hanya mengandalkan insting dan cahaya temaram dari bintang yang lolos dari celah dedaunan.

Saat melewati sebuah rumpun pohon bambu berduri di sisi tebing, telinganya menangkap suara erangan berat yang menyayat hati.

Erghhh... rrrrgh...

Hasan menghentikan langkahnya. Ia memasang kuda-kuda, bersiaga dengan golok di tangan kanan. Ia mengira suara itu berasal dari babi hutan atau macan tutul liar. Perlahan, ia mengibak semak-semak belukar yang lebat.

Di bawah sebatang pohon beringin tua, terhampar sesosok tubuh besar yang bersimbah darah hitam.

"Tolong... jangan bunuh saya..." rintih sebuah suara lemah, terdengar seperti bisikan manusia yang bercampur dengan auman parau.

Hasan terperanjat mundur. Jantungnya berdegup kencang. Di hadapannya bukanlah binatang buas biasa, melainkan makhluk jelmaan: bagian atas tubuhnya menyerupai harimau berbulu loreng kelam dengan mata menyala sayu, sementara bagian bawahnya memiliki anatomi kaki manusia yang terkulai lemas berlumuran darah.

"Makhluk apa kamu..." gumam Hasan, rasa takutnya perlahan berganti rasa iba melihat penderitaan di mata makhluk itu.

"Tolong aku, anak muda..." rintih sang harimau jadi-jadian dengan suara berat. "Ada benda pusaka beracun... tertancap di perutku. Hanya tangan manusia berhati suci yang bisa mencabutnya... Tolong..."

Hasan menelan ludah. Ia mendekat dengan langkah gemetar, melafalkan doa-doa perlindungan. Begitu ia berlutut di dekat makhluk agung penunggu gunung itu, ia melihat sebilah belati berkarat menancap dalam di antara bulu-bulu rusuknya, mengeluarkan cairan hitam pekat.

Tanpa rasa jijik atau ragu, Hasan membaca bismillah, lalu mencabut belati itu dalam satu sentakan kuat.

Aarrghh! Sang harimau meraung kesakitan hingga getarannya mengguncang pepohonan. Namun setelah itu, napas makhluk tersebut perlahan-lahan menjadi teratur. Dengan sigap, Hasan merobek secarik kain dari bajunya, lalu membalurkan getah daun obat hutan yang ia kenal ke luka tersebut.

Beberapa saat kemudian, luka itu menutup dengan ajaib. Sang harimau perlahan bangkit, berdiri gagah dengan postur raksasanya, lalu menatap tajam ke arah Hasan.

"Manusia," ucap suara gaib itu bergema di dalam kepala Hasan. "Bertahun-tahun aku diserang oleh bangsa jin pemberontak yang ingin merebut takhta gunung ini. Kau telah menyelamatkanku. Katakan, apa imbalan yang kau inginkan? Kekayaan melimpah? Istana emas? Atau kemasyhuran di dunia?"

Hasan menggelengkan kepala pelan. Ia menangkupkan kedua tangannya dengan santun.

"Saya tidak butuh harta, kekuasaan, atau emas, Penunggu Gunung. Saya hanya datang membawa satu niat: meminta agar mata air yang tertimbun longsor di lereng bisa mengalir kembali ke desa saya. Warga saya sedang sekarat kelaparan dan kehausan."

Sang harimau tertegun. Matanya menyipit, memancarkan rasa hormat yang mendalam kepada ketulusan hati pemuda di hadapannya.

"Kau pemuda yang bersih, Hasan. Tanpa harus mendaki lebih jauh lagi, keinginanmu telah dikabulkan."

Kepulangan yang Membawa Hidup

Hasan merasa pandangannya tiba-tiba berputar hebat. Angin sejuk berembus kencang, membawa aroma bunga melati dan tanah basah. Suara pepohonan hutan mendadak berganti dengan suara riuh rendah manusia.

Ketika ia mengerjap-ngerjapkan mata, kepalanya terasa ringan.

"Hasan! Astaga, Hasan kamu sudah pulang?!"

Sebuah pelukan hangat merengkuh tubuhnya. Itu adalah ibunya, disusul oleh adiknya yang menangis histeris karena bahagia. Hasan menoleh ke sekeliling. Ia sudah berada di halaman rumahnya sendiri di Desa Karang Tumaritis, bukan lagi di tebing gelap Gunung Larangan.

Warga desa berhamburan keluar rumah dengan wajah berseri-seri. Pak Kuwu datang sambil berlari kecil, napasnya tersengat-sengat namun senyumnya merekah lebar.

"Hasan! Kamu luar biasa, Nak!" seru Pak Kuwu sambil memegang kedua pundak Hasan. "Tadi subuh, secara ajaib, timbunana tanah di hulu sungai mendadak tersapu air bersih yang melimpah! Saluran air kita normal kembali! Ladang-ladang kita mendadak subur dalam semalam!"

Hasan tertegun, lalu tersenyum tipis sambil menengadah ke arah puncak Gunung Larangan yang kini tertutup kabut putih tipis di kejauhan. Ia tahu, sang penguasa malam telah menepati janjinya.

Sejak hari itu, Desa Karang Tumaritis kembali hidup, makmur, dan damai. Dan nama Hasan diingat bukan sekadar sebagai pemuda yang gigih, melainkan pahlawan yang menyelamatkan desanya berkat ketulusan hati dan keteguhan imannya.

Posting Komentar