Ketika Semesta Menolak Singgah
Drama PercintaanTeman Nugas yang Datang Tiba-tiba
Di sudut kampus yang bising, Dewi hidup dalam pengasingan yang sunyi. Tanpa teman, sering dirisak sebagai anak culun, dan selalu dicap sebagai kutu buku yang menjemukan, ia memilih merengkuh kesendirian daripada harus melangkah ke dalam lingkaran pertemanan yang palsu dan penuh duri.
Di balik kacamata tebal dan pakaian sederhananya, tersimpan luka yang menganga. Semenjak kematian kedua orang tuanya, dunia Dewi runtuh berkeping-keping. Dari seorang gadis kesayangan keluarga berkecukupan, ia mendadak terlempar menjadi yatim piatu yang harus merangkak sendiri demi sesuap nasi.
Tragedinya bukan sekadar kemiskinan. Harta peninggalan orang tuanya dirampas paksa oleh paman-pamannya sendiri tanpa menyisakan sepeser pun untuknya. Rumah mewah tempat ia dibesarkan direbut, dan ia diusir ke sebuah rumah petak kecil yang pengap.
Saat ia mendatangi pamannya dengan air mata berlinang untuk memohon sedikit haknya demi biaya kuliah, jawaban yang ia terima adalah tikaman di dada:
"Sana kamu pulang! Om nggak punya uang... Tau kan, uang Om udah diinvestasikan? Jadi Om udah nggak punya uang lagi buat kamu!"
Dewi menelan ludah yang terasa seperti serpihan kaca. Ia memilih membalikkan badan, bersumpah lebih baik mati kelaparan di jalanan daripada mengemis kepada darah daging sendiri yang berhati iblis.
Beban hidup itu masih ditambah dengan cemoohan keji dari teman-teman kampusnya. Dewi hanya bisa membisu, membiarkan air matanya jatuh dalam gelapnya kamar petak.
Hingga suatu sore, di bangku taman kampus yang sepi, seseorang tiba-tiba menerobos dunianya tanpa diundang.
"Hei...!" sapa suara riang itu, memecah lamunannya.
"H-hei... Kamu? Kenalin, aku Kevin, mahasiswa paling ganteng yang kuliah di sini!" lanjutnya dengan senyum lebar yang menyebalkan.
Dewi menatap pemuda itu dengan mata dingin nan kosong. Ia bergeming.
“Heh... Kok kamu nggak jawab omongan aku sih? Tenang, aku nyamperin kamu bukan mau minta dibikinin tugas kok, tapi cuma buat ngajak temenan aja...” bujuk Kevin, nekat duduk di sebelah Dewi.
“Kenapa sih kamu? Mau apa lagi? Tugas mana yang harus aku kerjain? Sini bukunya! Nggak usah sok baik!” sergah Dewi, suaranya bergetar menahan amarah dan trauma. Ia sudah terlalu sering dikhianati; setiap orang yang mendekatinya selalu berujung memeras otaknya lalu membuangnya seperti sampah.
“Ehh... enak aja! Aku di sini bukan buat numpang nugas, ya! Emang aku keliatan kayak tukang nyontek apa?” bela Kevin, mencoba mencairkan ketegangan.
“Oh,” jawab Dewi datar. “Aku nggak mau berteman.”
Tembok Pertahanan yang Mulai Retak
Dewi punya alasan mutlak untuk menolak. Trauma masa lalu telah membentuk benteng es yang kokoh di sekeliling hatinya.
Namun, Kevin bukanlah tipe pemuda yang mudah menyerah. Alasan Kevin mendekatinya bukan sekadar karena Dewi adalah pemegang IPK tertinggi di kampus. Di balik dinginnya sikap Dewi, Kevin melihat ketulusan—seorang gadis malang yang tidak pernah mendongak sombong meski otaknya cemerlang.
"Kamu mau kemana sih? Ngikutin aku terus!" desis Dewi penuh amarah di lorong kampus yang sepi. "Aku kan sudah bilang, AKU TIDAK MAU BERTEMAN SAMA KAMU! SANA PERGI!" air matanya nyaris tumpah karena frustrasi.
"Galak amat jadi cewek. Nggak baik buat kesehatan, nanti cepat tua loh," jawab Kevin lembut, menatap manik mata Dewi yang basah. "Aku tetap mau berteman, dan bakal ngikutin kamu ke mana pun. Titik!"
Deg. Kalimat itu menghantam jantung Dewi. Di balik wajah garangnya, pertahanannya runtuh seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidup yang penuh pengkhianatan ini, ada seseorang yang memaksa untuk tinggal, bukan karena butuh kepintarannya, tapi karena ingin merengkuhnya.
Singkat cerita, tembok es itu jebol. Mereka resmi menjadi sahabat.
Dan dampaknya luar biasa. Kevin yang tadinya dikenal sebagai pemuda pemalas, berubah drastis. Mau tidak mau, karena setiap hari mengekor Dewi, ia terseret ke dalam dunia literatur. Dari yang tadinya benci buku, Kevin menjelma menjadi pemuda cerdas yang berdiri sejajar dengan Dewi. Perubahan drastis itu membuat seluruh kampus terperangah.
Cemburu Buta yang Membakar Dada
Suatu hari, saat Dewi sedang duduk di perpustakaan, seorang mahasiswa baru menghampirinya dengan senyuman penuh pesona.
"Hai, Dewi! Aku Raka, mahasiswa baru. Katanya kamu mahasiswi paling jenius di sini ya?" sapa Raka ramah sambil mengulurkan tangan.
Kevin, yang biasanya santai, langsung menegakkan tubuhnya. Ia mendengus kesal, bersiap melihat Dewi menolak pemuda itu dengan tatapan membunuh seperti biasanya.
Namun, dunia seolah berhenti berputar saat Dewi mengangkat wajahnya...
"Oh, Raka. Halo, kenalin aku Dewi," jawab Dewi dengan senyuman tipis, lalu menyambut uluran tangan Raka.
Mata Kevin membelalak lebar. Darahnya mendidih, menyengat ubun-ubunnya seketika. Panas api cemburu membakar dadanya hingga ia nyaris kehilangan akal sehat.
"Ehh, ehh! Apa-apaan nih?!" potong Kevin, berdiri menyambar meja dengan napas memburu. "Dewi, kamu lagi nggak sadar ya?! Orang kayak dia deketin kamu pasti cuma mau numpang cari muka atau manfaatin kepintaran kamu doang!" teriaknya lepas kendali.
Dewi melirik Kevin. Melihat wajah sahabatnya yang memerah padam menahan cemburu, secercah rasa hangat menggelitik perutnya. Ingin sekali ia menguji seberapa besar arti dirinya di mata pemuda itu.
"Aku pengen berteman sama kamu boleh, Dewi? Omong-omong, nanti pulangnya dianter siapa? Kalau boleh, aku yang antar, mau?" pamer Raka, semakin gencar merayu.
"Nggak usah! Dewi pulangnya sama aku! Dia harus ngerjain tugas bareng aku!" bentak Kevin, suaranya bergetar hebat karena amarah dan cemburu yang sudah mencapai puncaknya.
Dewi menatap Raka dingin, lalu berucap tanpa beban, "Ayo... tunggu di parkiran ya."
Mendengar kata-kata itu, kepala Kevin terasa meledak. Cemburu buta itu kini telah merenggut seluruh sisa kewarasannya.
