Monumen Lubang Tahunan

Monumen Lubang Tahunan


Dari awal yang sibuk mencari dukungan, jabatan, hingga dipercaya menjadi orang yang amanah untuk mempromosikan dirinya. Katanya akan membantu rakyat kecil, memenuhi janji yang bermula dari pembangunan rumah tidak layak huni, jalan berlubang, bahkan mengubah perekonomian orang susah.

Bagaimana kabarnya sekarang?

"Bapak Pejabat, Ibu Anggaran... Apa kalian masih pada ingat janjinya?"

Katanya mau menormalisasi keadaan, membantu ekonomi rakyat kecil, membangun rumah warga yang tidak mampu, serta mendengarkan setiap keluh kesah rakyat. Kok sampai sekarang belum ada juga ya? Wkwkwkwkwk!

Lagi pada lupa, ya? Karena uang anggarannya terlalu kebanyakan, atau bingung uangnya mau dibelikan apa lagi biar enggak ketahuan rakyat?

Kerjanya sok sibuk, padahal hanya sibuk sendiri di ruangan ber-AC sambil ucang-ucang kaki. "Bapak Pejabat... turun dong, jangan ngopi mulu! Ingat gak sama janji ini?"

"Saya berjanji jika saya terpilih menjadi pejabat, saya akan membantu perekonomian masyarakat kecil, membantu menyekolahkan anak sampai kuliah, memperbaiki jalan-jalan rusak, dan memajukan usaha-usaha kecil rakyat."

Ini hanya sebuah kata-kata saja, atau sekadar obrolan untuk memberi harapan palsu, Pak?

Realita di Balik Meja Mewah

Hidup mereka seolah tak pernah melihat kondisi nyata di lapangan. Datang telat, kerja hanya sebentar di tempat yang nyaman, bersih, dan ber-AC. Hasil pekerjaannya? Hancur. Semua proyek di-acc tanpa tahu persis apa wujud proyeknya.

Gaji gampang naik, anggaran jor-joran, tapi amnesia total sama janji ke rakyat.

Jalanan berlubang dibiarkan sampai banyak orang berjatuhan, bahkan membuat warga akrab dengan "ciuman aspal" setiap kali lewat. Aduan yang datang hanya dianggap sebagai angin lalu.

Apakah Bapak Pejabat dan Ibu Anggaran benar-benar tidak tahu soal jalan rusak yang sudah terkenal lokasinya? Atau jangan-jangan sengaja pura-pura tutup mata karena sayang mengeluarkan anggaran untuk perbaikan?

Sampai-sampai, karena sudah terlalu banyak korban akibat lubang jalan, masyarakat sekitar berinisiatif membuat plang besar bertuliskan:

"MONUMEN PROYEK TAHUNAN"

Plang raksasa itu dipampang tepat di tengah jalan rusak, hingga akhirnya mengundang para reporter untuk meliput. Berita naik, laporan membludak, dan ajaibnya... keesokan harinya jalan langsung diperbaiki.

Memang harus selalu diviralkan dulu ya, Pak, kalau ada masalah rakyat kecil? Terus, sebenarnya apa fungsi bapak di kursi itu?

Negara "Orang Dalam" dan Proyek Topeng

Negara kita memang unik. Orang susah harus punya "orang dalam" kalau mau urusannya beres. Kalau tidak, siap-siap saja gigit jari saat ingin mengadu atau menyelesaikan masalah.

Beda cerita dengan anak-anak atau saudara para pejabat. Jika rakyat biasa harus menunggu berbulan-bulan hanya untuk mengurus KTP—bahkan harus antre sejak subuh dengan penuh peluh—anak pejabat tinggal angkat telepon, dan dalam tiga menit semuanya beres tanpa antre dan tanpa memohon.

Luar biasa memang. Negara yang katanya ingin memanusiakan rakyat kecil, justru sering kali membuat rakyat kecil semakin terpinggirkan.

Rakyat sabar menunggu janji-janji manis para pejabat, sementara para pejabatnya justru duluan mengamankan hasil. Korupsi dirancang seteliti dan serapi mungkin, tanpa peduli pada harapan yang pernah mereka tabur. Yang penting hak rakyat berhasil dikeruk.

Jalan diperbaiki hanya demi pencitraan. Jalan disiksa agar terlihat rapi secara instan. Padahal, anggaran Rp450 juta digelontorkan, tapi hanya dalam 45 hari jalanan sudah hancur kembali.

Bukan memperbaiki agar awet, tapi memperbaiki dengan sistem kilat. Orang-orang berdasi hanya pintar berpidato dan gunting pita, padahal mereka sedang menjalankan proyek topeng bertajuk "Cagar Budaya Lubang Nasional"—yang dilindungi undang-undang meski rusak lagi setiap tahunnya.

Setiap tahun anggaran baru cair, gunting pita peresmian diulang kembali, sementara uang rakyat lenyap ditelan keserakahan para pejabat yang tak pernah kenyang.
Ketika Semesta Menolak Singgah

Ketika Semesta Menolak Singgah

Teman Nugas yang Datang Tiba-tiba

Di sudut kampus yang bising, Dewi hidup dalam pengasingan yang sunyi. Tanpa teman, sering dirisak sebagai anak culun, dan selalu dicap sebagai kutu buku yang menjemukan, ia memilih merengkuh kesendirian daripada harus melangkah ke dalam lingkaran pertemanan yang palsu dan penuh duri.

Di balik kacamata tebal dan pakaian sederhananya, tersimpan luka yang menganga. Semenjak kematian kedua orang tuanya, dunia Dewi runtuh berkeping-keping. Dari seorang gadis kesayangan keluarga berkecukupan, ia mendadak terlempar menjadi yatim piatu yang harus merangkak sendiri demi sesuap nasi.

Tragedinya bukan sekadar kemiskinan. Harta peninggalan orang tuanya dirampas paksa oleh paman-pamannya sendiri tanpa menyisakan sepeser pun untuknya. Rumah mewah tempat ia dibesarkan direbut, dan ia diusir ke sebuah rumah petak kecil yang pengap.

Saat ia mendatangi pamannya dengan air mata berlinang untuk memohon sedikit haknya demi biaya kuliah, jawaban yang ia terima adalah tikaman di dada:

"Sana kamu pulang! Om nggak punya uang... Tau kan, uang Om udah diinvestasikan? Jadi Om udah nggak punya uang lagi buat kamu!"

Dewi menelan ludah yang terasa seperti serpihan kaca. Ia memilih membalikkan badan, bersumpah lebih baik mati kelaparan di jalanan daripada mengemis kepada darah daging sendiri yang berhati iblis.

Beban hidup itu masih ditambah dengan cemoohan keji dari teman-teman kampusnya. Dewi hanya bisa membisu, membiarkan air matanya jatuh dalam gelapnya kamar petak.

Hingga suatu sore, di bangku taman kampus yang sepi, seseorang tiba-tiba menerobos dunianya tanpa diundang.

"Hei...!" sapa suara riang itu, memecah lamunannya.

"H-hei... Kamu? Kenalin, aku Kevin, mahasiswa paling ganteng yang kuliah di sini!" lanjutnya dengan senyum lebar yang menyebalkan.

Dewi menatap pemuda itu dengan mata dingin nan kosong. Ia bergeming.

“Heh... Kok kamu nggak jawab omongan aku sih? Tenang, aku nyamperin kamu bukan mau minta dibikinin tugas kok, tapi cuma buat ngajak temenan aja...” bujuk Kevin, nekat duduk di sebelah Dewi.

“Kenapa sih kamu? Mau apa lagi? Tugas mana yang harus aku kerjain? Sini bukunya! Nggak usah sok baik!” sergah Dewi, suaranya bergetar menahan amarah dan trauma. Ia sudah terlalu sering dikhianati; setiap orang yang mendekatinya selalu berujung memeras otaknya lalu membuangnya seperti sampah.

“Ehh... enak aja! Aku di sini bukan buat numpang nugas, ya! Emang aku keliatan kayak tukang nyontek apa?” bela Kevin, mencoba mencairkan ketegangan.

“Oh,” jawab Dewi datar. “Aku nggak mau berteman.”

Tembok Pertahanan yang Mulai Retak

Dewi punya alasan mutlak untuk menolak. Trauma masa lalu telah membentuk benteng es yang kokoh di sekeliling hatinya.

Namun, Kevin bukanlah tipe pemuda yang mudah menyerah. Alasan Kevin mendekatinya bukan sekadar karena Dewi adalah pemegang IPK tertinggi di kampus. Di balik dinginnya sikap Dewi, Kevin melihat ketulusan—seorang gadis malang yang tidak pernah mendongak sombong meski otaknya cemerlang.

"Kamu mau kemana sih? Ngikutin aku terus!" desis Dewi penuh amarah di lorong kampus yang sepi. "Aku kan sudah bilang, AKU TIDAK MAU BERTEMAN SAMA KAMU! SANA PERGI!" air matanya nyaris tumpah karena frustrasi.

"Galak amat jadi cewek. Nggak baik buat kesehatan, nanti cepat tua loh," jawab Kevin lembut, menatap manik mata Dewi yang basah. "Aku tetap mau berteman, dan bakal ngikutin kamu ke mana pun. Titik!"

Deg. Kalimat itu menghantam jantung Dewi. Di balik wajah garangnya, pertahanannya runtuh seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidup yang penuh pengkhianatan ini, ada seseorang yang memaksa untuk tinggal, bukan karena butuh kepintarannya, tapi karena ingin merengkuhnya.

Singkat cerita, tembok es itu jebol. Mereka resmi menjadi sahabat.

Dan dampaknya luar biasa. Kevin yang tadinya dikenal sebagai pemuda pemalas, berubah drastis. Mau tidak mau, karena setiap hari mengekor Dewi, ia terseret ke dalam dunia literatur. Dari yang tadinya benci buku, Kevin menjelma menjadi pemuda cerdas yang berdiri sejajar dengan Dewi. Perubahan drastis itu membuat seluruh kampus terperangah.

Cemburu Buta yang Membakar Dada

Suatu hari, saat Dewi sedang duduk di perpustakaan, seorang mahasiswa baru menghampirinya dengan senyuman penuh pesona.

"Hai, Dewi! Aku Raka, mahasiswa baru. Katanya kamu mahasiswi paling jenius di sini ya?" sapa Raka ramah sambil mengulurkan tangan.

Kevin, yang biasanya santai, langsung menegakkan tubuhnya. Ia mendengus kesal, bersiap melihat Dewi menolak pemuda itu dengan tatapan membunuh seperti biasanya.

Namun, dunia seolah berhenti berputar saat Dewi mengangkat wajahnya...

"Oh, Raka. Halo, kenalin aku Dewi," jawab Dewi dengan senyuman tipis, lalu menyambut uluran tangan Raka.

Mata Kevin membelalak lebar. Darahnya mendidih, menyengat ubun-ubunnya seketika. Panas api cemburu membakar dadanya hingga ia nyaris kehilangan akal sehat.

"Ehh, ehh! Apa-apaan nih?!" potong Kevin, berdiri menyambar meja dengan napas memburu. "Dewi, kamu lagi nggak sadar ya?! Orang kayak dia deketin kamu pasti cuma mau numpang cari muka atau manfaatin kepintaran kamu doang!" teriaknya lepas kendali.

Dewi melirik Kevin. Melihat wajah sahabatnya yang memerah padam menahan cemburu, secercah rasa hangat menggelitik perutnya. Ingin sekali ia menguji seberapa besar arti dirinya di mata pemuda itu.

"Aku pengen berteman sama kamu boleh, Dewi? Omong-omong, nanti pulangnya dianter siapa? Kalau boleh, aku yang antar, mau?" pamer Raka, semakin gencar merayu.

"Nggak usah! Dewi pulangnya sama aku! Dia harus ngerjain tugas bareng aku!" bentak Kevin, suaranya bergetar hebat karena amarah dan cemburu yang sudah mencapai puncaknya.

Dewi menatap Raka dingin, lalu berucap tanpa beban, "Ayo... tunggu di parkiran ya."

Mendengar kata-kata itu, kepala Kevin terasa meledak. Cemburu buta itu kini telah merenggut seluruh sisa kewarasannya.
Aku Menyesal Terlambat, Ayah & Ibu Pergi Saat Aku Masih Sibuk dengan Dunia

Aku Menyesal Terlambat, Ayah & Ibu Pergi Saat Aku Masih Sibuk dengan Dunia

Aku Tidak Pernah Siap Kehilangan… Tapi Kehilangan Datang Juga

Panjang sekali.
Cukup untuk memperbaiki semuanya.
Cukup untuk membahagiakan Ayah dan Ibu.
Cukup untuk menjadi anak yang mereka banggakan.
Dulu aku pikir… waktu itu panjang.
Tapi aku salah.
Waktu tidak pernah panjang.
Ia hanya terlihat panjang… sampai semuanya diambil begitu saja.
“Ayah sudah tidak ada…”
Kalimat itu seperti menghantam dadaku tanpa ampun.
Aku masih ingat jelas detik itu.
Dunia tidak berhenti.
Langit tidak runtuh.
Orang-orang tetap berbicara seperti biasa.
Hanya aku… yang rasanya ikut mati sebagian.

16 Tahun Berlalu… Tapi Aku Tidak Pernah Sembuh

Sudah lebih dari enam belas tahun Ayah pergi.
Enam belas tahun.
Seharusnya cukup untuk membuatku kuat.
Tapi kenyataannya… aku tidak pernah benar-benar sembuh.
Aku hanya belajar menyembunyikan luka.
Malam-malam tertentu, saat semua orang tertidur, aku masih berbicara sendiri.
“Ayah… aku capek…”
Suaraku lirih.
Kalimat yang dulu ingin sekali aku ucapkan saat pulang ke rumah…
saat aku lelah… saat aku butuh dipeluk…
Tapi sekarang… tidak ada lagi tempat untuk pulang seperti dulu.

Lalu Ibu Pergi… dan Aku Benar-Benar Hancur

Aku pikir kehilangan Ayah adalah rasa paling sakit yang pernah ada.
Ternyata aku salah lagi.
Dua tahun lalu… Ibu menyusul.
Dan saat itu… aku tidak lagi kuat berpura-pura.
“Tuhan… jangan…”
Aku masih ingat bagaimana aku memohon.
“Jangan ambil Ibu juga… aku masih butuh…”
Tapi doa itu tidak menghentikan apa pun.
Aku berdiri di samping tubuh Ibu yang terbaring tenang…
dan untuk pertama kalinya dalam hidupku…
aku benar-benar merasa sendirian.

Penyesalan Itu Datang… Saat Tidak Ada yang Bisa Diperbaiki

Yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan.
Tapi… penyesalan.
Penyesalan yang datang terlambat.
“Aku belum sempat membahagiakan mereka…”
Kalimat itu seperti menghantamku setiap hari.
Aku mulai mengingat semuanya.
Hal-hal kecil yang dulu aku anggap biasa:
Saat Ayah berbicara, tapi aku tidak benar-benar mendengarkan
Saat Ibu memanggil, tapi aku menjawab dengan nada kesal
Saat aku lebih sibuk dengan dunia sendiri… dibanding duduk bersama mereka“Kenapa aku seperti itu…?”
Aku bertanya pada diriku sendiri.
Tapi tidak ada jawaban yang bisa mengubah masa lalu.

Aku Berpura-Pura Kuat… Tapi Sebenarnya Hancur

Di depan orang lain, aku terlihat baik-baik saja.
Aku tertawa.
Aku bekerja.
Aku menjalani hidup seperti tidak terjadi apa-apa.
Tapi saat sendiri…
Aku runtuh.
“Aku sebenarnya tidak kuat…” bisikku.
Aku duduk di lantai, memeluk lutut, mencoba menahan sesuatu yang terus ingin keluar.
“Kalau Ayah dan Ibu lihat aku sekarang… mereka bangga tidak ya…?”
Pertanyaan itu menghantui.
Dan aku… terlalu takut untuk menjawabnya.

Ada Banyak Kata yang Tidak Pernah Sempat Terucap

Ini yang paling menyiksa.
Hal-hal yang tidak pernah sempat aku katakan.
“Ayah… maaf aku sering membantah…”
“Ibu… maaf aku belum jadi anak yang baik…”
Aku menutup wajahku.
“Aku kangen… aku kangen banget…”
Suaraku pecah.
Tapi semua itu… sekarang tidak sampai ke mana-mana.
Hanya berputar… di dalam dadaku sendiri.

Aku Pernah Marah pada Tuhan… dan Itu Menyakitkan

Ada masa di mana aku marah.
Sangat marah.
“Tuhan… kenapa Kau ambil mereka sebelum aku siap?!”
Aku berteriak dalam diam.
“Kenapa Kau tidak beri aku waktu sedikit lagi?!”
Air mataku tidak berhenti.
“Kenapa harus mereka…?”
Aku bahkan pernah berpikir…
“Kenapa bukan aku saja…?”
Dan setelah semua itu… yang tersisa hanya rasa bersalah.
Karena aku tahu… aku sedang mempertanyakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami.

Ikhlas Itu Tidak Pernah Benar-Benar Terjadi Seketika

Orang-orang berkata: “Ikhlaskan.”
Seolah itu mudah.
Penuh jatuh.
Penuh tangis.
Penuh pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Seolah hati ini bisa langsung menerima.
Padahal kenyataannya…
Ikhlas adalah proses yang panjang.
Aku tidak pernah benar-benar selesai dengan rasa kehilangan ini.
Aku hanya… belajar hidup dengannya.

Sekarang, Aku Merindukan Mereka dengan Cara yang Berbeda

Dulu aku menangis keras.
Sekarang… aku menangis diam-diam.
Dulu aku berteriak.
Sekarang… aku berdoa.
“Ya Allah…”
“Tolong jaga Ayahku…”
“Tolong jaga Ibuku…”
“Maafkan aku… yang belum sempat membuat mereka bahagia…”
Air mata jatuh lagi.
Tapi kali ini… ada sesuatu yang berbeda.
Ada keikhlasan… meski kecil.

Aku Belum Selesai Menjadi Anak Mereka

Aku berdiri di depan cermin.
Menatap diriku sendiri.
“Aku belum jadi anak yang mereka harapkan…”
Aku menarik napas dalam.
“Tapi aku belum selesai…”
Aku masih hidup.
Masih diberi waktu.
Masih diberi kesempatan.
Dan aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi.
Untuk Ayah.
Untuk Ibu.
Untuk cinta yang mereka tinggalkan.

Rindu Ini Akan Aku Bawa Sampai Mati

Kehilangan ini tidak akan pernah hilang.
Rindu ini tidak akan pernah selesai.
Dan mungkin… memang tidak seharusnya selesai.
“Ayah…”
“Ibu…”
“Aku masih di sini…”
“Masih berusaha…”
“Masih belajar…”
“Dan masih merindukan kalian… setiap hari…”
Sampai suatu hari nanti…
Saat aku dipertemukan kembali dengan kalian…
Aku ingin berkata, dengan air mata dan senyum:
“Aku tidak sempurna… tapi aku tidak berhenti mencoba.”
Dari Fitnah Pahit hingga Takdir Tak Terduga di Ujung Malam

Dari Fitnah Pahit hingga Takdir Tak Terduga di Ujung Malam

Dipecat karena Difitnah

Namaku Sri Wulandari. Di pundakku, melekat dua peran sekaligus: seorang ibu dan seorang ayah bagi buah hatiku. Takdir mempertemukanku dengan laki-laki tidak bertanggung jawab yang gagal memanusiakan manusia. Namun, aku memilih tegar. Aku harus kuat membesarkan anakku dengan sisa tenaga yang kumiliki, tanpa perlu mengemis belas kasihan dari seseorang yang jelas-jelas abadi dalam ketidakpeduliannya.

Namun, badai seakan tak pernah lelah mengujiku. Di tengah perjuanganku banting tulang menghidupi anak seorang diri, fitnah keji datang menghantam. Aku direndahkan oleh saudara sendiri, hingga akhirnya berujung pada pemecatan dari pekerjaan tempatku menggantungkan hidup selama bertahun-tahun.

Aku harus keluar tanpa membawa secercah pun kesalahan. Mereka yang iri dengan cara kerjaku bersekongkol menjatuhkanku, sementara atasanku memilih percaya pada bisikan-bisikan beracun itu. Aku dipecat secara tidak hormat. Kendati demikian, aku percaya satu hal: di balik kezaliman ini, Tuhan sedang menyiapkan pintu rezeki dan babak kehidupan baru untukku dan anakku.

Tanpa pekerjaan, kepanikan segera melanda. Tabungan menipis, dan persediaan susu anakku di rumah semakin kritis. Apapun jenis pekerjaannya, asal halal, akan kuterjang demi senyum buah hatiku. Aku tidak lagi peduli pada rasa malu atau lelah; yang ada di pikiranku hanya satu: anakku tidak boleh kelaparan.

Tawaran yang Menyesatkan

Secercah harapan palsu datang ketika seorang teman menawariku pekerjaan di kota. Katanya, aku akan bekerja sebagai penyanyi di sebuah restoran besar dengan sistem inap karena jaraknya yang jauh. Demi anak, meski harus pertama kalinya berjauhan dengannya, aku mantap melangkah. Berbekal uang pas-pasan dan kereta ekonomi, aku berangkat seorang diri.

Setibanya di alamat yang ditujukan, aku langsung bertanya kepada sekelompok orang di sana:

"Maaf, Mbak... mau tanya, restoran besar di sekitar sini di sebelah mana ya? Saya mau cari Rini, yang menyuruh saya bekerja di sini. Mbak kenal?"

Salah seorang wanita menatapku lekat-lekat, lalu tersenyum penuh arti.

"Restoran? Kamu Wulan, ya? Wah, kamu kena prank si Rini! Dasar anak itu. Justru akulah yang mencari orang untuk bekerja di tempatku... tapi bukan restoran, melainkan kafe. Kerjanya jadi LC—menemani tamu bernyanyi dan minum di sini."

Dunia seakan runtuh seketika. Aku terkejut, syok, dan dilanda kebingungan hebat. Aku baru menyadari bahwa aku telah dijebak oleh teman sendiri yang bahkan sudah pindah kerja hanya demi merekrut wanita lain ke tempat ini.

Sebagai seseorang yang seumur hidup tidak pernah menyentuh alkohol, hatiku menjerit menolak. Namun, ketika Mami—pemilik tempat itu—meyakinkanku bahwa pekerjaannya tidak harus minum, melainkan hanya menemani tamu bernyanyi, akupun tak punya pilihan. Kebutuhan perut anakku mendesak. Dengan air mata tertahan, aku mengangguk pasrah.

Hari-hari awal di dunia malam adalah neraka bagiku. Sering kali aku menangis sendirian di dalam kamar mandi. Bertemu dengan berbagai macam karakter laki-laki membuat ketakutan dan kecemasan menjadi menu harian. Jika mendapat tamu yang sopan dan menghargai wanita, aku bersyukur. Namun, jika berhadapan dengan tamu hidung belang, tubuhku mendadak gemetar hebat dan jantungku berdegup kencang.

Di tengah rasa jijik dan ketakutan itu, bayangan anakku yang tengah menunggu susu di rumah menjadi satu-satunya alasan aku bertahan. Aku menelan semua kepahitan ini dengan jiwa yang terpaksa, sembari berdoa agar segera terkumpul cukup uang untuk keluar dari tempat ini.

Pertemuan Pertama yang Berbeda

Setelah lima hari bertahan, Mami memindahkanku ke kafe barunya yang berada di pusat kota. Kafe lamanya tergolong kumuh dan biasanya hanya didatangi sopir atau pekerja kasar. Kali ini, tempatnya jauh lebih mewah dan elegan, didatangi oleh kalangan pengusaha.

Karena aku adalah LC termuda di sana, aku merasa sangat kecil dan tidak percaya diri. Melihat para LC lain yang begitu cantik, modis, dan terbiasa dengan botol-botol minuman asing membuat nyaliku ciut. Aku takut tidak mendapat tamu, tapi aku jauh lebih takut jika dipaksa menenggak minuman beralkohol.

Tiba-tiba, suara Mami membuyarkan lamunanku:

"Wulan... Sini, Neng..."

Jantungku copot. "Hah, aku dipanggil? Jangan-jangan aku langsung dikasih tamu..." batinku panik.

Aku digiring menuju Meja Bar No. 7.

"Bang, ditemenin anak baru Mami, ya..." ujar Mami dengan gaya khasnya.

Aku duduk dengan kikuk di sebelah seorang tamu laki-laki. Dengan suara sekecil angin, aku mencoba membuka percakapan:

"Mmm... A, mau pesan lagu apa?"

Tamu itu hanya menunduk, sibuk dengan layar ponselnya tanpa basa-basi sedikit pun. Merasa canggung dan takut mengganggu, aku memilih diam. Namun beberapa saat kemudian, ia berkata tanpa menoleh:

"Mau pesan makanan apa? Ambil aja. Rokok juga ambil kalau mau." "Emm... terserah Aa aja deh. Nanti gampang saya ambil," jawabku canggung.

Ia kemudian memintaku bernyanyi berdua. Karena aku memang memiliki hobi dan kemampuan bernyanyi, keraguanku sedikit mencair. Di luar dugaan, ia tampak menikmati suaraku. Sikapnya sama sekali tidak melecehkan atau merendahkan martabatku, membuatku merasa aman dan nyaman berada di dekatnya.

Menjelang kepulanganku ke kos, ia tiba-tiba memanggilku:

"Heh, sini. Makan dulu di depan sana." "Enggak usah, A, sudah capek mau istirahat," tolakku halus. "Ayo buruan makan, biar tidurnya nyenyak."

Karena dipaksa dengan cara yang perhatian, aku akhirnya menuruti ajakannya. Kami makan bersama, diselingi obrolan ringan, sebelum akhirnya aku pulang ke kosan.

Alasan Ia Datang Menemuiku

Keesokan harinya, sesampainya aku di kafe, Mami langsung menyambutku dengan tergesa-gesa:

"Wulan, cepet masuk! Kamu ditungguin tamu di dalam, dari tadi nyariin kamu!"

Aku terkejut. Padahal jam kerjaku masih lama, dan para LC lain yang sudah berdandan rapi pun tidak dipanggil sepagi itu. Dengan pakaian seadanya tanpa sempat berganti baju, aku melangkah masuk menemui tamu tersebut.

Ternyata, ia adalah pria yang menemaniku semalam.

"Eh... kirain siapa yang nunggu," sapaku sambil tersenyum canggung. "Tumben siang banget, A? Saya izin ganti baju dulu ya..." "Ngapain ganti baju sih? Udah, itu aja bagus," jawabnya dengan nada jutek khasnya. "Memang nemenin jadi LC harus kelihatan seksi dan menor banget, ya?"

Aku terdiam, merasa serba salah. Niatku ingin tampil rapi justru dikomentari. Ia lalu menyuruhku duduk, memesan minuman, dan bernyanyi seperti biasa.

Di malam kedua kebersamaan kami, ia mulai menunjukkan ketertarikan pada privasiku. Merasa suasananya sudah cair, aku menceritakan sebagian besar liku-liku hidupku dan alasan mengapa aku terdampar di tempat ini. Mendengar kisahku, ekspresinya berubah. Ada sorot iba dan simpati di matanya.

"Nanti kenalin aku sama anak kamu ya... Atau kalau enggak, bawa anak kamu ke sini, kita jalan-jalan liburan," ucapnya lembut.

Hatiku bergetar hebat. Dari sekian banyak laki-laki yang kutemui, baru kali ini ada seorang pria asing yang menunjukkan kepedulian tulus kepada anakku—meskipun niat dan tujuannya belum sepenuhnya aku pahami saat itu.

Rasa Nyaman yang Berubah Menjadi Kepastian

Hari demi hari berlalu, intensitas pertemuan kami semakin tinggi. Kami bertukar nomor ponsel dan sering menghabiskan waktu bersama. Namun, seiring kedekatan itu, sikapnya mulai berubah menjadi protektif—bahkan cenderung posesif.

Ia mulai sering melarangku ini-itu, mulai dari caraku berpakaian hingga caraku melayani tamu lain di tempat kerja. Hal itu membuatku serba salah dan sering kali memicu perdebatan di antara kami. Karena takut terjebak dalam perasaan sendiri (kegeeran), aku pun menuntut kejelasan tentang posisinya di hidupku.

Hingga pada suatu hari, ia jujur mengenai perasaannya. Ia mengaku merasa sangat nyaman dan nyambung denganku. Tanpa diduga, ia mengutarakan niat yang membuatku terperanjat:

"Besok, kamu keluar kerja dari sini," ucapnya dengan tatapan sangat serius.

"Hah? Kenapa?" tanyaku kaget. 

"Udah, enggak usah kerja lagi kayak gini. Kamu diam saja di rumah, biar aku yang kerja," ujarnya sambil menggenggam jemariku erat. 

"Maksudnya gimana? Aku kan belum punya pekerjaan lain. Kalau aku berhenti, gimana nasib anakku?" protesku di ambang kebingungan dan emosi. 

"Besok, bawa aku ke rumahmu. Aku mau minta kamu ke orang tuamu," ucapnya santai. "Hah? Mau ngapain?" "Aku mau melamar kamu. Jadi, enggak usah banyak komen."

Mendengar kata "melamar" dari seorang pria yang baru beberapa hari mengenalku di tempat seperti itu rasanya bagaikan mimpi yang absurd. Awalnya aku ragu, merasa aneh, bahkan takut. Namun, ketulusan dan keyakinan di matanya berhasil meruntuhkan pertahanan hatiku perlahan-lahan.

Di ujung malam yang panjang itu, aku merasa takdir akhirnya tersenyum padaku melalui cara yang paling tak terduga.
Di Balik Mata Batin dan Deru Mesin: Perjalanan Hidupku

Di Balik Mata Batin dan Deru Mesin: Perjalanan Hidupku

Yang Lain Tidak Lihat

Aku lahir ke dunia membawa sebuah "kelebihan" yang tidak pernah kuminta, dan banyak orang lain tidak tahu. Di usiamu yang baru menginjak 7 tahun—usia di mana anak-anak lain sedang lucu-lucunya menikmati masa kecil—aku justru mulai diperlihatkan hal-hal yang tak kasat mata.

Beban itu terlalu berat untuk pundak anak seusiaku. Alih-alih dipenuhi rasa ingin tahu yang polos, hari-hariku diwarnai ketakutan, kepedihan, dan kesepian yang pekat. Seharusnya aku menghabiskan waktu bermain bersama teman sebaya, tertawa lepas menikmati hari-hari yang ceria.

Namun, semuanya sirna dalam sekejap. Hidupku meredup. Bukan teman manusia yang menemaniku bermain, melainkan makhluk-makhluk lain dari dimensi berbeda. Bukan tawa bahagia yang keluar dari bibirku, melainkan tangisan ketakutan yang tertahan.

Yang membuat semuanya terasa lebih menyesakkan adalah ketidakadilan di sekitarku. Setiap kali aku mencoba menceritakan apa yang kulihat, respons yang kudapat hanyalah hempasan tangan dan penolakan mentah-mentah. Mereka tidak pernah percaya.

Seringnya Diremehkan

Melihat sosok nenek tua di pojokan ruangan, anak kecil yang berlari di area kuburan, atau wanita berambut panjang yang duduk termenung di atas pohon—semua pemandangan itu hanya berbalas satu kalimat singkat yang menyakitkan:

"Jangan berbohong!"

Orang-orang yang tidak pernah mengerti apa yang kulihat dan kurasakan dengan mudah menyimpulkan bahwa semua ucapanku hanyalah bualan besar. Bukan hanya keluarga, guru dan teman-teman di sekolah pun bersikap sama. Tidak ada satu pun yang mau mendengar penjelasanku. Semuanya sepakat menjulukiku: anak aneh, halu, dan anak dukun.

Hingga suatu hari, sebuah peristiwa besar terjadi di sekolahku. Jauh sebelum musibah itu datang, aku sudah memperingatkan guru di sana:

"Bu... maaf. Tadi ada orang berambut kusut masuk ke ruang guru. Dia mau membakar sekolah ini, Bu..."

Jawaban guruku saat itu sangat menusuk hati: "Sudah yah, Wulan! Jangan bikin ibu emosi terus. Ibu sudah capek sama halusinasi kamu!"

Kutelan bulat-bulat kata-kata itu dalam diam. Aku memilih menutup rapat mulutku dan tidak mau lagi mengeluarkan sepatah kata pun.

Tak lama kemudian, kenyataan menampar mereka semua. Ruang guru sekolahku terbakar hebat hingga hangus tak bersisa. Di tengah kekacauan itu, guru yang sempat tidak percaya kepadaku datang menghampiriku dengan wajah pucat:

"Wulan... maafkan ibu ya. Gara-gara ibu tidak percaya sama kamu, ibu jadi tidak sempat menyelamatkan tas ibu yang ada di ruang guru..."

Namun, apa daya? Hati yang telanjur kecewa dan jiwa yang sudah terbiasa diremehkan tidak bisa disembuhkan dengan kata maaf yang terlambat. Manusia memang selalu begitu—mereka baru akan percaya setelah melihat bukti di depan mata, bukan saat peringatan itu pertama kali disampaikan.

Capeknya Ditahan Sendiri

Kehidupan yang penuh tekanan membuatku lelah menanggung semuanya seorang diri. Selama bertahun-tahun, aku menutupi dan memendam sendiri rasa takut itu. Hingga pada suatu titik di mana kesabaranku habis, aku melampiaskan seluruh unek-unek itu ke dalam sebuah buku diary.

Di buku itulah aku mencurahkan kesedihan dan ketakutanku setiap hari: melihat bayangan besar yang mengerikan, mendengar jeritan anak kecil di kamar mandi, hingga mendapati wanita berwajah hancur duduk di atas lemariku.

Di dunia nyata, aku hanya bisa menjerit dan menangis di setiap waktu. Ironisnya, keluargaku justru melabeliku sebagai anak pembuat onar. Orang tuaku muak mendengar jeritanku yang sering datang tiba-tiba. Mereka bahkan tega mengusirku dan menyuruhku mencari tempat kos agar rumah mereka bisa tenang, kata mereka.

Padahal, jika boleh memilih, tidak pernah sedikit pun terbesit dalam hatiku untuk dilahirkan dengan kemampuan aneh seperti ini.

Titik Pecah dan Karma yang Berputar

Dua dekade—20 tahun lamanya—aku menjalani hidup dengan kelebihan yang kian pekat. Semua ketakutan itu akhirnya melebur menjadi sebuah jalan hidup yang mau tidak mau harus kutelan.
Aku mulai menutup diri dan membiasakan diri. Dari yang tadinya histeris setiap kali melihat makhluk lain, aku berubah menjadi berani. Kemampuan itu kiasah, diasah, dan didalami hingga membuatku jauh lebih tangguh.

Dan ajaibnya, orang-orang yang dulu mengejek, merendahkan, dan menyepelekanku kini justru tercengang. Mereka mulai mencariku, memohon pertolongan untuk membereskan masalah-masalah mistis yang mereka hadapi.

Namun, luka di hati tidak semudah itu disembuhkan. Kata maaf saja tidak cukup untuk menghapus kalimat-kalimat menusuk yang pernah mereka lontarkan.

Suatu hari, guru masa kecilku yang dulu merendahkanku datang mencariku dengan penuh keputusasaan:

"Wulan... tolong ibu, Wulan. Ibu mohon, ibu diteror nenek-nenek di pojok lorong sekolahan... Ibu capek, Lan..." pungkasnya sambil menangis ketakutan.

Dengan dingin kutatap dia, "Aku juga capek, Bu... melihat hal itu setiap hari. Tapi dulu, ibu tidak sedikit pun percaya sama aku. Ibu baru percaya pas ada buktinya, kan? Kalau tidak ada bukti, mana mungkin ibu mau memohon seperti ini kepada saya?"

Aku meninggalkannya dalam kekecewaan yang mendalam.

Cita-cita yang Dihiraukan

Sejak kecil, aku punya impian yang begitu mulia: menjadi seorang bidan. Bagiku, menolong orang melahirkan dan mengobati yang sakit adalah pekerjaan paling terhormat, bukan sekadar mencari uang, melainkan ladang pengabdian.

Namun, impian itu harus kubunuh dalam-dalam karena orang tuaku mentah-mentah menolak keinginanku masuk sekolah kebidanan.

"Alah, buat apa kamu masuk sekolah kebidanan? Sayang-sayang uang aja! Otak enggak pernah pintar juga, sok-sokan mau masuk kebidanan!"

Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Tanpa peduli pada isi hatiku, mereka justru memasukkanku ke sekolah yang sama sekali bukan pilihanku. Mereka menganggapku tidak punya otak, memaksa seorang anak yang punya mata batin tajam untuk tunduk pada kehendak mereka.

Dibuang ke STM

Akhirnya, aku disekolahkan ke sebuah lingkungan yang terkenal keras, berisik, dan didominasi oleh kaum lelaki—sebuah sekolah teknik (STM).

Setiap hari kepulanganku diwarnai air mata. Alih-alih belajar tentang dunia medis dan pengobatan yang kuimpikan, aku malah dicekoki dengan bau baut, oli, dan mesin kotor. Pendidikan pilihan orang tuaku bukanlah batu loncatan kebaikan, melainkan awal dari fase kerusakannya.

Namun, waktu terus berjalan. Di tengah lelah dan kecewa yang sudah mencapai ubun-ubun, air mataku perlahan mengering. Aku mulai terbiasa, lalu beradaptasi, hingga akhirnya merasa nyaman di dunia bengkel.

Dari jiwa yang rapuh, aku ditempa menjadi wanita kuat. Cita-citaku bermetamorfosis; mimpi besar di dunia medis kurelakan, berganti dengan mimpi baru di dunia otomotif.

Dari Ruang Bersalin ke Bengkel

Aku bertekad membuktikan kepada mereka yang mencapku "otak kosong" dan "tidak becus", bahwa aku punya kapasitas yang luar biasa.

Aku mendalami dunia racing dan balap. Dari korban keadaan, aku menjelma menjadi wanita tomboi berjaket kebesaran yang berbicara to the point, tangguh, dan tidak mau lagi diinjak-injak. Ternyata, aroma oli di bengkel jauh lebih jujur dibandingkan bau cairan infus di rumah sakit.

Pertama kali turun ke jalan untuk uji coba balap liar di tengah keramaian, jantungku berdegup kencang. Namun, dengan tekad bulat, helm terpasang rapat di kepala, dan jaket tebal melindungiku, aku menarik gas dalam-dalam—menandai kemenangan pertamanya sebagai seorang pembalap jalanan.

Tak lama kemudian, aku dimasukkan ke sirkuit resmi. Dan benar saja, aku mencetak sejarah sebagai wanita pertama dan pembalap termuda di kotaku yang berjaya di sirkuit tersebut. Di hadapan orang-orang yang dulu meremehkan, aku berteriak dalam hati:

"Dulu kalian bilang kalau aku tidak ada isinya!" 
"Sekarang, aku isi sendiri hidupku!" 
"Dulu kalian tidak percaya aku bisa menyembuhkan!"
"Oke... sekarang aku yang menyembuhkan diriku sendiri!"

Berhenti Demi Mereka dan Realita Mesin ATM

Aku akhirnya memutuskan berhenti dari dunia balap dan sekolahku, semata-mata karena merasa tidak enak pada orang tuaku—meskipun mereka tidak pernah memfasilitasi kemauanku dengan tulus. Aku berpikir agar tidak ada lagi biaya besar yang membebani mereka.

Namun, reaksi mereka kembali di luar dugaan. Alih-alih diapresiasi, aku kembali dihina:

"Dasar anak tidak tahu diuntung! Apa kata ku, dia itu tidak akan jadi apa-apa, malah jadi buang-buang biaya saja!"

Lelah mencari validasi, aku memutuskan masuk ke dunia kerja yang normal. Aku melamar ke salah satu pabrik terbesar. Tanpa skill awal, berkat rasa ingin tahu yang tinggi dan sifat otodidak, aku cepat menguasai bidang itu.

Bertahun-tahun aku bekerja mati-matian, bukan untuk membahagiakan diriku sendiri, melainkan untuk orang tuaku agar mereka tidak perlu lagi bersusah payah mencari uang. Tapi apa balasannya? Tidak pernah ada kata cukup. Yang ada hanyalah rentetan tuntutan dan kemauan tanpa henti.

Aku diperlakukan seperti mesin ATM berjalan. Kerja rodi dari pagi hingga malam, badan hancur kesakitan, tanpa ada yang peduli sedikit pun. Saat mereka butuh, mereka datang memohon. Saat tidak butuh, aku dicampakkan.

Hidupku dari kecil hingga dewasa seolah dipenuhi kepedihan yang dirancang semesta agar aku tidak pernah merasakan kebahagiaan barang sedetik pun. Semua luka itu, sekali lagi, kutumpahkan di dalam buku harian yang setia menjadi saksi bisu perjalananku.

Dan inilah sepenggal kisahku... Jika pembaca ingin kisah ini dilanjutkan, aku tidak akan pernah ragu untuk menceritakannya kembali.