Yang Lain Tidak Lihat
Aku lahir ke dunia membawa sebuah "kelebihan" yang tidak pernah kuminta, dan banyak orang lain tidak tahu. Di usiamu yang baru menginjak 7 tahun—usia di mana anak-anak lain sedang lucu-lucunya menikmati masa kecil—aku justru mulai diperlihatkan hal-hal yang tak kasat mata.
Beban itu terlalu berat untuk pundak anak seusiaku. Alih-alih dipenuhi rasa ingin tahu yang polos, hari-hariku diwarnai ketakutan, kepedihan, dan kesepian yang pekat. Seharusnya aku menghabiskan waktu bermain bersama teman sebaya, tertawa lepas menikmati hari-hari yang ceria.
Namun, semuanya sirna dalam sekejap. Hidupku meredup. Bukan teman manusia yang menemaniku bermain, melainkan makhluk-makhluk lain dari dimensi berbeda. Bukan tawa bahagia yang keluar dari bibirku, melainkan tangisan ketakutan yang tertahan.
Yang membuat semuanya terasa lebih menyesakkan adalah ketidakadilan di sekitarku. Setiap kali aku mencoba menceritakan apa yang kulihat, respons yang kudapat hanyalah hempasan tangan dan penolakan mentah-mentah. Mereka tidak pernah percaya.
Seringnya Diremehkan
Melihat sosok nenek tua di pojokan ruangan, anak kecil yang berlari di area kuburan, atau wanita berambut panjang yang duduk termenung di atas pohon—semua pemandangan itu hanya berbalas satu kalimat singkat yang menyakitkan:
"Jangan berbohong!"
Orang-orang yang tidak pernah mengerti apa yang kulihat dan kurasakan dengan mudah menyimpulkan bahwa semua ucapanku hanyalah bualan besar. Bukan hanya keluarga, guru dan teman-teman di sekolah pun bersikap sama. Tidak ada satu pun yang mau mendengar penjelasanku. Semuanya sepakat menjulukiku: anak aneh, halu, dan anak dukun.
Hingga suatu hari, sebuah peristiwa besar terjadi di sekolahku. Jauh sebelum musibah itu datang, aku sudah memperingatkan guru di sana:
"Bu... maaf. Tadi ada orang berambut kusut masuk ke ruang guru. Dia mau membakar sekolah ini, Bu..."
Jawaban guruku saat itu sangat menusuk hati: "Sudah yah, Wulan! Jangan bikin ibu emosi terus. Ibu sudah capek sama halusinasi kamu!"
Kutelan bulat-bulat kata-kata itu dalam diam. Aku memilih menutup rapat mulutku dan tidak mau lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
Tak lama kemudian, kenyataan menampar mereka semua. Ruang guru sekolahku terbakar hebat hingga hangus tak bersisa. Di tengah kekacauan itu, guru yang sempat tidak percaya kepadaku datang menghampiriku dengan wajah pucat:
"Wulan... maafkan ibu ya. Gara-gara ibu tidak percaya sama kamu, ibu jadi tidak sempat menyelamatkan tas ibu yang ada di ruang guru..."
Namun, apa daya? Hati yang telanjur kecewa dan jiwa yang sudah terbiasa diremehkan tidak bisa disembuhkan dengan kata maaf yang terlambat. Manusia memang selalu begitu—mereka baru akan percaya setelah melihat bukti di depan mata, bukan saat peringatan itu pertama kali disampaikan.
Capeknya Ditahan Sendiri
Kehidupan yang penuh tekanan membuatku lelah menanggung semuanya seorang diri. Selama bertahun-tahun, aku menutupi dan memendam sendiri rasa takut itu. Hingga pada suatu titik di mana kesabaranku habis, aku melampiaskan seluruh unek-unek itu ke dalam sebuah buku diary.
Di buku itulah aku mencurahkan kesedihan dan ketakutanku setiap hari: melihat bayangan besar yang mengerikan, mendengar jeritan anak kecil di kamar mandi, hingga mendapati wanita berwajah hancur duduk di atas lemariku.
Di dunia nyata, aku hanya bisa menjerit dan menangis di setiap waktu. Ironisnya, keluargaku justru melabeliku sebagai anak pembuat onar. Orang tuaku muak mendengar jeritanku yang sering datang tiba-tiba. Mereka bahkan tega mengusirku dan menyuruhku mencari tempat kos agar rumah mereka bisa tenang, kata mereka.
Padahal, jika boleh memilih, tidak pernah sedikit pun terbesit dalam hatiku untuk dilahirkan dengan kemampuan aneh seperti ini.
Titik Pecah dan Karma yang Berputar
Dua dekade—20 tahun lamanya—aku menjalani hidup dengan kelebihan yang kian pekat. Semua ketakutan itu akhirnya melebur menjadi sebuah jalan hidup yang mau tidak mau harus kutelan.
Aku mulai menutup diri dan membiasakan diri. Dari yang tadinya histeris setiap kali melihat makhluk lain, aku berubah menjadi berani. Kemampuan itu kiasah, diasah, dan didalami hingga membuatku jauh lebih tangguh.
Dan ajaibnya, orang-orang yang dulu mengejek, merendahkan, dan menyepelekanku kini justru tercengang. Mereka mulai mencariku, memohon pertolongan untuk membereskan masalah-masalah mistis yang mereka hadapi.
Namun, luka di hati tidak semudah itu disembuhkan. Kata maaf saja tidak cukup untuk menghapus kalimat-kalimat menusuk yang pernah mereka lontarkan.
Suatu hari, guru masa kecilku yang dulu merendahkanku datang mencariku dengan penuh keputusasaan:
"Wulan... tolong ibu, Wulan. Ibu mohon, ibu diteror nenek-nenek di pojok lorong sekolahan... Ibu capek, Lan..." pungkasnya sambil menangis ketakutan.
Dengan dingin kutatap dia, "Aku juga capek, Bu... melihat hal itu setiap hari. Tapi dulu, ibu tidak sedikit pun percaya sama aku. Ibu baru percaya pas ada buktinya, kan? Kalau tidak ada bukti, mana mungkin ibu mau memohon seperti ini kepada saya?"
Aku meninggalkannya dalam kekecewaan yang mendalam.
Cita-cita yang Dihiraukan
Sejak kecil, aku punya impian yang begitu mulia: menjadi seorang bidan. Bagiku, menolong orang melahirkan dan mengobati yang sakit adalah pekerjaan paling terhormat, bukan sekadar mencari uang, melainkan ladang pengabdian.
Namun, impian itu harus kubunuh dalam-dalam karena orang tuaku mentah-mentah menolak keinginanku masuk sekolah kebidanan.
"Alah, buat apa kamu masuk sekolah kebidanan? Sayang-sayang uang aja! Otak enggak pernah pintar juga, sok-sokan mau masuk kebidanan!"
Kata-kata itu terus berputar di kepalaku. Tanpa peduli pada isi hatiku, mereka justru memasukkanku ke sekolah yang sama sekali bukan pilihanku. Mereka menganggapku tidak punya otak, memaksa seorang anak yang punya mata batin tajam untuk tunduk pada kehendak mereka.
Dibuang ke STM
Akhirnya, aku disekolahkan ke sebuah lingkungan yang terkenal keras, berisik, dan didominasi oleh kaum lelaki—sebuah sekolah teknik (STM).
Setiap hari kepulanganku diwarnai air mata. Alih-alih belajar tentang dunia medis dan pengobatan yang kuimpikan, aku malah dicekoki dengan bau baut, oli, dan mesin kotor. Pendidikan pilihan orang tuaku bukanlah batu loncatan kebaikan, melainkan awal dari fase kerusakannya.
Namun, waktu terus berjalan. Di tengah lelah dan kecewa yang sudah mencapai ubun-ubun, air mataku perlahan mengering. Aku mulai terbiasa, lalu beradaptasi, hingga akhirnya merasa nyaman di dunia bengkel.
Dari jiwa yang rapuh, aku ditempa menjadi wanita kuat. Cita-citaku bermetamorfosis; mimpi besar di dunia medis kurelakan, berganti dengan mimpi baru di dunia otomotif.
Dari Ruang Bersalin ke Bengkel
Aku bertekad membuktikan kepada mereka yang mencapku "otak kosong" dan "tidak becus", bahwa aku punya kapasitas yang luar biasa.
Aku mendalami dunia racing dan balap. Dari korban keadaan, aku menjelma menjadi wanita tomboi berjaket kebesaran yang berbicara to the point, tangguh, dan tidak mau lagi diinjak-injak. Ternyata, aroma oli di bengkel jauh lebih jujur dibandingkan bau cairan infus di rumah sakit.
Pertama kali turun ke jalan untuk uji coba balap liar di tengah keramaian, jantungku berdegup kencang. Namun, dengan tekad bulat, helm terpasang rapat di kepala, dan jaket tebal melindungiku, aku menarik gas dalam-dalam—menandai kemenangan pertamanya sebagai seorang pembalap jalanan.
Tak lama kemudian, aku dimasukkan ke sirkuit resmi. Dan benar saja, aku mencetak sejarah sebagai wanita pertama dan pembalap termuda di kotaku yang berjaya di sirkuit tersebut. Di hadapan orang-orang yang dulu meremehkan, aku berteriak dalam hati:
"Dulu kalian bilang kalau aku tidak ada isinya!"
"Sekarang, aku isi sendiri hidupku!"
"Dulu kalian tidak percaya aku bisa menyembuhkan!"
"Oke... sekarang aku yang menyembuhkan diriku sendiri!"
Berhenti Demi Mereka dan Realita Mesin ATM
Aku akhirnya memutuskan berhenti dari dunia balap dan sekolahku, semata-mata karena merasa tidak enak pada orang tuaku—meskipun mereka tidak pernah memfasilitasi kemauanku dengan tulus. Aku berpikir agar tidak ada lagi biaya besar yang membebani mereka.
Namun, reaksi mereka kembali di luar dugaan. Alih-alih diapresiasi, aku kembali dihina:
"Dasar anak tidak tahu diuntung! Apa kata ku, dia itu tidak akan jadi apa-apa, malah jadi buang-buang biaya saja!"
Lelah mencari validasi, aku memutuskan masuk ke dunia kerja yang normal. Aku melamar ke salah satu pabrik terbesar. Tanpa skill awal, berkat rasa ingin tahu yang tinggi dan sifat otodidak, aku cepat menguasai bidang itu.
Bertahun-tahun aku bekerja mati-matian, bukan untuk membahagiakan diriku sendiri, melainkan untuk orang tuaku agar mereka tidak perlu lagi bersusah payah mencari uang. Tapi apa balasannya? Tidak pernah ada kata cukup. Yang ada hanyalah rentetan tuntutan dan kemauan tanpa henti.
Aku diperlakukan seperti mesin ATM berjalan. Kerja rodi dari pagi hingga malam, badan hancur kesakitan, tanpa ada yang peduli sedikit pun. Saat mereka butuh, mereka datang memohon. Saat tidak butuh, aku dicampakkan.
Hidupku dari kecil hingga dewasa seolah dipenuhi kepedihan yang dirancang semesta agar aku tidak pernah merasakan kebahagiaan barang sedetik pun. Semua luka itu, sekali lagi, kutumpahkan di dalam buku harian yang setia menjadi saksi bisu perjalananku.
Dan inilah sepenggal kisahku... Jika pembaca ingin kisah ini dilanjutkan, aku tidak akan pernah ragu untuk menceritakannya kembali.